<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: MENUNGGU PRIA YANG BELUM SIAP MENIKAHI, ATAU MENCARI PRIA LAIN?</title>
	<atom:link href="http://syariahpublications.com/2007/02/28/menunggu-pria-yang-belum-siap-menikahi-atau-mencari-pria-lain-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syariahpublications.com/2007/02/28/menunggu-pria-yang-belum-siap-menikahi-atau-mencari-pria-lain-2/</link>
	<description>Publikasi Opini Syariah dan Khilafah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 08:47:06 +0700</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: nickname</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2007/02/28/menunggu-pria-yang-belum-siap-menikahi-atau-mencari-pria-lain-2/comment-page-1/#comment-118</link>
		<dc:creator>nickname</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 09:12:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=99#comment-118</guid>
		<description>Ustadz saya mo numpang Tanya:
Assalamualaikum.........
saya seorang perempuan, dulu saya sempat mengagumi seorang pria, waktu di smu. kami satu angkatan. pada saat itu Kekaguman saya hanya sebatas simpati dan tidak berharap untuk memilikinya. rasa simpati ini sampai sekarang hanya di dalam hati saja, tidak pernah saya utarakan karena saya berusaha  untuk menjaga diri saya.
entah kenapa sejak saat itu saya sering bertemu org itu secara tidak sengaja.terkadang saya tidak menyadarinya, karena saya tidak terlalu meimkirkan org tersebut dan hanya sebatas simpati bukan berharap memilikinya.
sampai akhirnya kami lulus dan kuliah di daerah berbeda. setelah lulus saya benar2 tidak mengetahui kabarnya hingga suatu saat teman saya mengajak saya untuk ikut FS dan disanalah kami bertemu. sebelumnya saya benar-benar tidak ingin ikut FS tapi akhirnya saya menerima ajakan teman saya dan teman saya membuatkan FS untuk saya.
tiba-tiba org yg pernah saya kagumi di smu itu yg pertama nge-add saya, dan akhirnya saya tersadar bahwa dulu saya pernah mengaguminya. dan saat ini saya berniat untuk menikah. sebelum saya bertemu dg org yg sy kagumi itu saya pernah berdoa untuk dipertemukan dg sesorang untuk menikah.
yang ingin saya tanyakan apakah org itu adalah pilihan Allah atau bukan?, saya sudah membicarakan ttg org tersebut kpd ortu, jika memang dia jodoh saya, saya hendak mengungkapkan isi hati saya untuk menikah, dan ortu setuju dg pendapat saya. sampai saat ini dia tdk mengetahui bgmn perasaan sy kpdnya.
saya mempertimbangkan org tersebut karena selain dulu sy pernah mengaguminya, tp saya tetap menjaga diri (tdk berpacaran) dan dulu saya pernah berucap kpd teman saya: &quot;saya ingin mendapat tipe seperti dia (pria yg saya kagumi di smu)&quot;, saya tidak berharap mendapatkan dirinya tapi hanya tipenya saja.
Dan tanpa disadari sy dipertemukan dg org itu setelah bertahun2 tidak mengetahui kabar dan tidak pernah bertemu, seolah-olah Allah mempertemukan saya dengan org itu kembali.
bagaimana saya harus menyikapi semua jalan yag telah ditentukan oleh Allah ini,saya benar-benar bingung harus memaknai ap.
Mohon sarannya ustadz, temikasih sebelumnya...
Wassalamualaikum.............</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ustadz saya mo numpang Tanya:<br />
Assalamualaikum&#8230;&#8230;&#8230;<br />
saya seorang perempuan, dulu saya sempat mengagumi seorang pria, waktu di smu. kami satu angkatan. pada saat itu Kekaguman saya hanya sebatas simpati dan tidak berharap untuk memilikinya. rasa simpati ini sampai sekarang hanya di dalam hati saja, tidak pernah saya utarakan karena saya berusaha  untuk menjaga diri saya.<br />
entah kenapa sejak saat itu saya sering bertemu org itu secara tidak sengaja.terkadang saya tidak menyadarinya, karena saya tidak terlalu meimkirkan org tersebut dan hanya sebatas simpati bukan berharap memilikinya.<br />
sampai akhirnya kami lulus dan kuliah di daerah berbeda. setelah lulus saya benar2 tidak mengetahui kabarnya hingga suatu saat teman saya mengajak saya untuk ikut FS dan disanalah kami bertemu. sebelumnya saya benar-benar tidak ingin ikut FS tapi akhirnya saya menerima ajakan teman saya dan teman saya membuatkan FS untuk saya.<br />
tiba-tiba org yg pernah saya kagumi di smu itu yg pertama nge-add saya, dan akhirnya saya tersadar bahwa dulu saya pernah mengaguminya. dan saat ini saya berniat untuk menikah. sebelum saya bertemu dg org yg sy kagumi itu saya pernah berdoa untuk dipertemukan dg sesorang untuk menikah.<br />
yang ingin saya tanyakan apakah org itu adalah pilihan Allah atau bukan?, saya sudah membicarakan ttg org tersebut kpd ortu, jika memang dia jodoh saya, saya hendak mengungkapkan isi hati saya untuk menikah, dan ortu setuju dg pendapat saya. sampai saat ini dia tdk mengetahui bgmn perasaan sy kpdnya.<br />
saya mempertimbangkan org tersebut karena selain dulu sy pernah mengaguminya, tp saya tetap menjaga diri (tdk berpacaran) dan dulu saya pernah berucap kpd teman saya: &#8220;saya ingin mendapat tipe seperti dia (pria yg saya kagumi di smu)&#8221;, saya tidak berharap mendapatkan dirinya tapi hanya tipenya saja.<br />
Dan tanpa disadari sy dipertemukan dg org itu setelah bertahun2 tidak mengetahui kabar dan tidak pernah bertemu, seolah-olah Allah mempertemukan saya dengan org itu kembali.<br />
bagaimana saya harus menyikapi semua jalan yag telah ditentukan oleh Allah ini,saya benar-benar bingung harus memaknai ap.<br />
Mohon sarannya ustadz, temikasih sebelumnya&#8230;<br />
Wassalamualaikum&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ardiansyah</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2007/02/28/menunggu-pria-yang-belum-siap-menikahi-atau-mencari-pria-lain-2/comment-page-1/#comment-117</link>
		<dc:creator>Ardiansyah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2007 09:43:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=99#comment-117</guid>
		<description>Maaf saya seorang pembaca yang kebetulan mampir, bukan ustadznya, tapi tergelitik untuk mengkomentari, mengingat kasus seperti ini banyak sekali. saya mencoba menyoroti hal ini bukan dari sisi syariah, karena itu tugas ustadz dan kelihatannya antum juga sudah paham hukumnya.
Saya cuma mengajak untuk berfikir realistis seperti ini :

Pertama, antum masih kuliah, darimana biaya kuliah antum? masih dari orang tua? lalu kalau menikah, bagaimana akan memberi nafkah istri?

Kedua, Seandainya antum sudah bekerja dan punya penghasilan baiknya pertimbangkan walimahan yang sesederhana mungkin, walaupun kelihatannya ini akan bermasalah dari pihak keluarga akhwat.  Tapi bulatkan tekad dan berusaha. Biar Allah yang menentukan hasilnya. Jika pernikahan bisa terlaksana, siapkan mental istri antum bahwa tahun2 pertama dalam kehidupan pernikahan akan menjadi sulit. Ingat kata kuncinya &quot;berjuang&quot; dan &quot;berjuang&quot;.

Ketiga, persiapkan hati antum. Memang kalau sudah terjebak cinta (yang memang ghariza) biasanya akan berat sekali jika kehilangan. Tapi mungkin antum mungkin memang harus merasakan itu untuk mengerti bahwa &quot;kita tidak selalu mendapatkan yang kita inginkan&quot;. Jadi kalau  nanti antum berdoa, jangan mengajukan nama seseorang kepada Allah untuk dikabulkan, tapi mintalah jodoh yang terbaik.

Namun ini bukan berarti antum harus menyerah begitu saja. Jika segala usaha ke pernikahan telah dilakukan dan tidak terlaksana, bersabarlah. Bisa jadi itu bukan jodoh antum. Hubungan pertemanan tetap bisa dilanjutkan dalam batas2 syar&#039;i seperti kata ustadz diatas.

Sedikit berbagi pengalaman, saya pernah mengalami perasaan demikian terhadap seorang akhwat, namun saya musnahkan secara sistematis (antum belum tahu kan rasa pedih nya seperti apa?hehe) mengingat secara realistis saya berada dalam posisi tidak siap menikah (secara materil karena saya belum bekerja dan sedang kuliah). Tapi setelah tiga tahun kemudian Allah mempertemukan saya dengan akhwat lain ketika saya sudah siap untuk menikah. Saya yakin bahwa itulah yang terbaik bagi saya.

Menikah bukan hanya masalah perasaan, tapi lebih ke tanggung-jawab. Perisapan materi penting, ini bukan berarti antum harus punya rumah dulu, tetapi minimal antum punya planning bagaimana akan menghidupi istri antum. Bisa dengan bekerja atau rencana-rencana usaha lainnya yang mendukung.


Yakinlah niat untuk menyegerakan menikah adalah niat baik, dan Allah akan membantu. Tetap berprasangka baik dengan Allah..

Maaf, jangan tersinggung ya, saya cuma berbagi pengalaman dan memberikan pertimbangan, bukan menasehati.
Semoga Allah akhirnya akan memberikan yang terbaik bagi antum. Ingat, jodoh antum tidak akan berubah dan tidak akan ketukar :-)..

Semangat ya...saya disini berdoa untuk antum dan yang lainnya yang memiliki masalah yang sama.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf saya seorang pembaca yang kebetulan mampir, bukan ustadznya, tapi tergelitik untuk mengkomentari, mengingat kasus seperti ini banyak sekali. saya mencoba menyoroti hal ini bukan dari sisi syariah, karena itu tugas ustadz dan kelihatannya antum juga sudah paham hukumnya.<br />
Saya cuma mengajak untuk berfikir realistis seperti ini :</p>
<p>Pertama, antum masih kuliah, darimana biaya kuliah antum? masih dari orang tua? lalu kalau menikah, bagaimana akan memberi nafkah istri?</p>
<p>Kedua, Seandainya antum sudah bekerja dan punya penghasilan baiknya pertimbangkan walimahan yang sesederhana mungkin, walaupun kelihatannya ini akan bermasalah dari pihak keluarga akhwat.  Tapi bulatkan tekad dan berusaha. Biar Allah yang menentukan hasilnya. Jika pernikahan bisa terlaksana, siapkan mental istri antum bahwa tahun2 pertama dalam kehidupan pernikahan akan menjadi sulit. Ingat kata kuncinya &#8220;berjuang&#8221; dan &#8220;berjuang&#8221;.</p>
<p>Ketiga, persiapkan hati antum. Memang kalau sudah terjebak cinta (yang memang ghariza) biasanya akan berat sekali jika kehilangan. Tapi mungkin antum mungkin memang harus merasakan itu untuk mengerti bahwa &#8220;kita tidak selalu mendapatkan yang kita inginkan&#8221;. Jadi kalau  nanti antum berdoa, jangan mengajukan nama seseorang kepada Allah untuk dikabulkan, tapi mintalah jodoh yang terbaik.</p>
<p>Namun ini bukan berarti antum harus menyerah begitu saja. Jika segala usaha ke pernikahan telah dilakukan dan tidak terlaksana, bersabarlah. Bisa jadi itu bukan jodoh antum. Hubungan pertemanan tetap bisa dilanjutkan dalam batas2 syar&#8217;i seperti kata ustadz diatas.</p>
<p>Sedikit berbagi pengalaman, saya pernah mengalami perasaan demikian terhadap seorang akhwat, namun saya musnahkan secara sistematis (antum belum tahu kan rasa pedih nya seperti apa?hehe) mengingat secara realistis saya berada dalam posisi tidak siap menikah (secara materil karena saya belum bekerja dan sedang kuliah). Tapi setelah tiga tahun kemudian Allah mempertemukan saya dengan akhwat lain ketika saya sudah siap untuk menikah. Saya yakin bahwa itulah yang terbaik bagi saya.</p>
<p>Menikah bukan hanya masalah perasaan, tapi lebih ke tanggung-jawab. Perisapan materi penting, ini bukan berarti antum harus punya rumah dulu, tetapi minimal antum punya planning bagaimana akan menghidupi istri antum. Bisa dengan bekerja atau rencana-rencana usaha lainnya yang mendukung.</p>
<p>Yakinlah niat untuk menyegerakan menikah adalah niat baik, dan Allah akan membantu. Tetap berprasangka baik dengan Allah..</p>
<p>Maaf, jangan tersinggung ya, saya cuma berbagi pengalaman dan memberikan pertimbangan, bukan menasehati.<br />
Semoga Allah akhirnya akan memberikan yang terbaik bagi antum. Ingat, jodoh antum tidak akan berubah dan tidak akan ketukar <img src='http://syariahpublications.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> ..</p>
<p>Semangat ya&#8230;saya disini berdoa untuk antum dan yang lainnya yang memiliki masalah yang sama.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: vais</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2007/02/28/menunggu-pria-yang-belum-siap-menikahi-atau-mencari-pria-lain-2/comment-page-1/#comment-116</link>
		<dc:creator>vais</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Feb 2007 16:08:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=99#comment-116</guid>
		<description>Assalamuâ€™alaikum Wr. Wb.

Kok pas banget ya kasusnya dengan saya, sayapun mengalami permasalahan yang sama, namun disini bedanya saya yang berposisi sebagai lelaki/ikhwannya yang tanpa proses pacaran terlebih dahulu. Memang permasalahan yang terjadi ada pada ketiadaan biaya dalam proses walimahan sehingga saya belum berani mengkhitbah lewat keluarga akhwat tadi, tapi secara personal telah saya sampaikan maksud keinginan untuk menikah ke akhwat tadi melalui interaksi/komunikasi dakwah yang selama ini berlangsung, karena kebetulan akhwat tersebut teman satu Tsanawiah/SMP yang timbul perasaan gharijatul Nauâ€™ setelah aktif di satu mahaliyah di Bogor.

Target yang saya buat Insya Alloh tahun depan saya berniat untuk melangsungkan pernikahan dengan segala persiapan yang di mulai dari sekarang, namun melihat beban hidup yang setiap hari tidak menentu; ditambah sekarang sedang menjalani kuliah, rasanya semakin mengkikis harapan saya untuk melangkah kesana.

Menyambung pertanyaan dari saudari Sifa, saya minta masukannya Ustadz:
1.	Apa yang harus saya lakukan pada saat ini untuk menuju proses pernikahan yang saya rencanakan pada tahun depan sedangkan melihat kenyataan sekarang ini dirasa makin sulit saja beban hidup yang harus saya jalani ?
2.	Apakah saya harus tawakal dengan hasil yang nanti akan saya terima kalau rencana-rencana tadi belum berhasil atau terlaksana ?
Terima kasih Ustadz sebelumnya atas jawabannya.

Assalamuâ€™alaikum Wr. Wb.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamuâ€™alaikum Wr. Wb.</p>
<p>Kok pas banget ya kasusnya dengan saya, sayapun mengalami permasalahan yang sama, namun disini bedanya saya yang berposisi sebagai lelaki/ikhwannya yang tanpa proses pacaran terlebih dahulu. Memang permasalahan yang terjadi ada pada ketiadaan biaya dalam proses walimahan sehingga saya belum berani mengkhitbah lewat keluarga akhwat tadi, tapi secara personal telah saya sampaikan maksud keinginan untuk menikah ke akhwat tadi melalui interaksi/komunikasi dakwah yang selama ini berlangsung, karena kebetulan akhwat tersebut teman satu Tsanawiah/SMP yang timbul perasaan gharijatul Nauâ€™ setelah aktif di satu mahaliyah di Bogor.</p>
<p>Target yang saya buat Insya Alloh tahun depan saya berniat untuk melangsungkan pernikahan dengan segala persiapan yang di mulai dari sekarang, namun melihat beban hidup yang setiap hari tidak menentu; ditambah sekarang sedang menjalani kuliah, rasanya semakin mengkikis harapan saya untuk melangkah kesana.</p>
<p>Menyambung pertanyaan dari saudari Sifa, saya minta masukannya Ustadz:<br />
1.	Apa yang harus saya lakukan pada saat ini untuk menuju proses pernikahan yang saya rencanakan pada tahun depan sedangkan melihat kenyataan sekarang ini dirasa makin sulit saja beban hidup yang harus saya jalani ?<br />
2.	Apakah saya harus tawakal dengan hasil yang nanti akan saya terima kalau rencana-rencana tadi belum berhasil atau terlaksana ?<br />
Terima kasih Ustadz sebelumnya atas jawabannya.</p>
<p>Assalamuâ€™alaikum Wr. Wb.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

