Syariah Publications

Publikasi Opini Syariah dan Khilafah

Ismail Yusanto, Founding Father FSLDK

Posted by admin On April - 21 - 2007

(EXCLUSIVE INTERVIEW)


Syariah Publications. Mencari solusi dari suatu permasalahan dapat dilakukan salah satunya dengan membuka tabir sejarah, belajar dari sejarah dan dari mereka yang telah membuat sejarah, orang-orang yang sudah makan asam garam, atau setidaknya yang paham tentang sejarah, hingga suatu pelajaran dapat dipetik, dijadikan refleksi dan sumber referensi untuk memperkaya khazanah keilmuan maupun menyelesaikan masalah.

ismail yusantoIsmail Yusanto adalah salah satu tokoh yang ikut mendirikan FSLDK, saat ini menjabat sebagai presiden Hizbut Tahrir Indonesia. Al-Manär berupaya melakukan wawancara dengan Ismail Yusanto demi menemukan secercah titik terang, harapan dan nasehat-nasehat yang bijak dari salah seorang “pelaku sejarah” yang tentunya memiliki sekian banyak pengalaman, gagasan serta pengharapan tentang FSLDK itu sendiri.

Wawancara dilakukan pada hari Sabtu, 29 Mei 2004 di STIE Hamfara Yogyakarta setelah hari itu beliau menjadi pembicara dalam sebuah seminar tentang Islam Progresif di Hotel Cakra Kembang. Tidak banyak yang bisa Al-Manär tanyakan dalam wawancara tersebut karena keterbatasan waktu.

Berikut ini adalah hasil wawancara Al-Manär dengan Ismail Yusanto.

Mei : Bapak ikut ngonsep pertama kali FSLDK itu?

Ismail : Ya ikut

Mei : Gimana Pak, format, konsep ideal yang pertama kali dibangun.

Ismail : Jadi gini, itu dilakukan pada tahun 1985. 1985/1986 saya lupa. Di dalam situasi dimana ada ketegangan antara umat Islam dengan pemerintah. Setelah asas tunggal kemudian tragedi Tanjung Priok 1984, lalu di kampus-kampus ada NKK /BKK, maka tumbuhlah apa yang disebut dengan lembaga dakwah kampus itu. Yang bentuknya bermacam-macam. Kalau di UGM itu UKKI kan, Unit kegiatan Kerohanian Islam Jamaah Shalahuddin. Kemudian di IPB ada BKI, di Unair ada UKKI, kemudian di Undip ada BDI, Badan Dakwah Islam., kemudian di Malang itu juga ada BDI. Macam-macam lah bentuknya. Itu tumbuh di kampus-kampus utama di Jawa pada waktu itu. Ada di UGM, UI, Trisakti, IPB, ITB, kemudian UNY, Semarang, Malang, Jember, Surabaya… nah bentuk kelembagaan seperti ini itu, dia mampu menjadi alternatif di tengah-tengah setting situasi sosial politik yang tadi saya ceritakan. Karena kan HMI harus asas tunggal, kemudian pecah HMI. Lalu PII juga gitu. Kemudian secara internal LDK ini juga mampu menjadi third party diantara dikotomi yang sangat kental pada waktu itu. Diantara organisasi ekstra kampus kayak GMNI, HMI, pertentangan kan kenceng sekali waktu itu. Jadi kalo Islam itu identik dengan HMI, kalo yang nasional itu identik

dengan GMNI. Akibatnya kegiatan keislaman itu selalu dikonotasikan dengan HMI, meski sebenarnya itu bukan HMI. Nah hadirnya Jamaah Shalahudin misalnya di UGM, itu menepis itu semua. Bisa menetralisir ini semua dan menjadi semacam meeting point dan melting point dari semua kelompok-kelompok apa namanya, organisasi-organisasi mahasiwa Islam itu. Karena yang HMI tentu tidak sungkan disitu, GMNI juga tidak sungkan, IMM, PMII, PII juga. Kita lihat memang Shalahudin pada waktu itu. Nah ini secara internal bagus. Secara internal dua fungsi tadi ya, dia bisa menjadi semacam katalisator untuk ketegangan politik yang diciptakan oleh pemerintah tadi, kemudian yang kedua dia menjadi meeting point dan melting point dari kelompok-kelompok mahasiswa, organisasi mahasiswa

itu. Nah tapi disisi lain, dia memiliki kelemahan, ini kan hanya bekerja di kampus, di dalam sebuah kampus bahkan. Sehingga daya pengaruh, ruang concern, daerah kerja, itu sebatas kampus. Padahal tantangan dakwah kan bukan hanya datang dari kampus. Ada tantangan dakwah regional, global bahkan nasional gitu. Itu satu, kemudian yang kedua juga tidak ada jejaring struktural dia, sehingga LDK itu tidak dimungkinkan tumbuh estafet kepemimpinan. Kepemimpinan mahasiswa Islam. Kalo HMI kan ada pimpinan pusat, ini kan udah. Oleh karenanya kemudian kita memikirkan adanya forum. Forum, waktu itu diawali dengan namanya Sarasehan Lembaga Dakwah Kampus. Kebetulan saya yang bersama teman-teman yang menginisiasi itu. Disitu ada Agus Priyono itu ketua umum JS. Saya sendiri sekretaris umumnya. Kemudian ada Ahmad Kabul, ada Mursalin gitu. Untuk apa? Untuk membangun komunikasi, informasi diantara LDK di berbagai kota itu agar tumbuh kekuatan dakwah secara global. Maka dibuatlah sarasehan LDK itu, yang diikuti oleh 16 LDK, di selenggarakan di Pesantren Budi

Mulia, dibuka oleh pak Amien. Dari barat ya, Trisakti, UI, kemudian ITB, UIKA, IAIN bandung, Unpad, IPB, IKIP Yogja, UGM, Undip, Unair, ITS, IKIP Surabaya, IKIP Malang, Brawijaya, Universitas Jember. Enam belas. Hasilnya ternyata memang mereka sudah merasakan kebutuhan itu. Jadi itu pertemuan yang pertama, dan pertemuan itu kita rahasiakan betul. Karena khawatir situasi

politik tahun 1985-an itu kan masih dipengaruhi oleh ketegangan seperti yang tadi saya ceritakan. Tidak ada publikasi, tidak ada spanduk. Pembukaannya sangat rahasia. Orang juga tidak tahu tempatnya dimana. Masing-masing dua orang jadi 32 yang hadir. Dan itu merupakan pertemuan pertama antara aktivis lembaga dakwah kampus di Jawa. Yang kelak kemudian berkembang ke seluruh Indonesia. Jadi sekali lagi mereka merasa bahwa ini memang harus ada. Perlu. Saya kira itu

awalnya.

Mei : Lalu apakah proses selanjutnya, idealisme itu menurut Bapak sendiri, masih dipertahankan bahwa kita butuh, butuh forum itu untuk ketemu

Ismail : Ya, bahkan meningkat. Pertemuan kedua ini kalo tidak salah kan di Unair, kemudian di ITB, lalu di Solo. Nah yang ketiga di Solo itu mulai ada semacam kegelisahan. Ini mau kemana, untuk apa, dsb. Nah lahirlah khittah LDK. Nah khittah itu mengamanatkan semacam mafahim, maka dibuatlah mafahim LDK. Ada aqidah, syariah, dakwah. Kebetulan saya sendiri yang menyusun juga. Disusun oleh mantan LDK. Nah mulai itu sudah ada mantan LDK, saya koordinator mantan LDK yang pertama.

Mei : Mantan LDK, maksudnya?

Ismail : Mereka-mereka yang dulunya aktif di LDK , yang ikut dalam forum yang dulu berhimpun itu, yang ketemu itu. Kan kemudian pada lulus, nah itu berhimpun lagi, sebagai mantan LDK. Nah itu yang membuatkan khittah, membuatkan mafahim. Dan ini udah makin besar, menyertakan juga teman-teman dari luar jawa. Dari Sumatra, dari kalimantan, dari Sulawesi gitu. Tetapi, jadi idealisme tetap jalan, mulai kerasa bahwa memang membutuhkan komunikasi, informasi itu mutlak. Dan ada mulai tumbuh kesadaran global, terhadap perlunya kekuatan dakwah bersama. Nah cuma memang belakangan ada semacam pertentangan, gitu. Waktu itu antara apa yang disebut jamaah tarbiyah, dengan apa yang disebut Hizbut Tahrir. Dan itu yang kemudian menimbulkan friksi-friksi.

Mei : Mulai kapan pak, terjadinya?

Ismail : Sebenernya sejak pertemuan di Malang, FSLDK di Malang tahun 1988 gitu, 88, 89. eh sorry, 90. karena mantan LDK itu bertemu akhir 89, di Ngruki. Nah Ngruki, waktu itu serem betul itu, dan mereka bertemu itu gak ada yang tau tempatnya dimana. Ada yang nyari sampai 5 jam, ada yang nyari sampai 6 jam, ada yang 2 jam, ada yang tiga jam.

Mei : Gimana, proses pertentangannya kayak apa?

Ismail : ya..itu kan prejudice gitu ya, semacam seperti anak lagi puber gitu kan. anak kecil yang olok-olokan. Kalo saya boleh bayangkan sekarang gitu. Jadi, kalo ini hasil bukan dari kita, ini kan rasanya kayak gimana, walaupun ini sebenarnya enak juga.

Mei : Bapak ngikutin yang terakhir itu?

Ismail : Ya, ikut. Emang ada beberapa pertemuan yang saya ga bisa ikut tapi secara keseluruhan, ya mungkin tinggal saya saja yang mengikuti terus sampai terakhir itu.

Mei : Kemarin kita sudah sampai ke puskomnas gitu, ternyata jaringannya masih belum bagus. Banyak hal yang masih perlu dibenahi. Terutama ya karena kepungurusan LDK kan ganti-ganti terus dan transfer informasi antar generasi itu buruk banget.

Ismail : Ya..ya..kita akui. Dan makin lama kemudian itu makin kurang, relevansinya makin menurun. Setelah ada muncul partai politik Islam, PKS muncul, kemudian Hizbut Tahrir cukup terbuka. Itu kebutuhan yang seperti dulu kita rasakan itu ga ada lagi. Karena sekarang iklimnya kan sudah terbuka. Setelah reformasi lha itu, kebutuhan untuk itu rasanya mulai turun.

Mei : Lalu akan tetap diadakan FSLDK itu?

Ismail : Menurut saya, skala kebutuhannya yang berbeda. Jadi menurut saya, itu tetap penting untuk adik-adik yang aktif di LDK sekarang. Sebab kalo itu tidak diadakan, mereka akan kehilangan nilai globalitas. Akan kehilangan bagaimana membangun networking. Jadi menurut saya tetap harus diadakan, dilakukan. Jangan sampai hilang.

Mei : Dengan catatan, banyak yang harus dibenahi.

Ismail : Ya tentu

Mei : Kemarin kami juga sempat wawancara dengan teman dari Indonesia timur. Dia juga bilang masalah-masalah LDK salah satunya sekarang, orang-orang itu malah lari ke ekstra.

Ismail : Ya, ke KAMMI, HMI

Mei : Ya.

Ismail : Ingat ya, kita punya tanggung jawab sejarah. Dalam artian begini, mungkin kita ini sudah established, tapi ada banyak kampus yang belum punya. Jadi FSLDK itu ternyata memberikan inspirasi, tumbuhnya lembaga dakwah kampus di sejumlah kota besar di luar Jawa. Misalnya, saya pernah datang ke Palu, di Kendari, Banjarmasin, Samarinda, bahkan juga di Pekan Baru, di Medan. Itu tumbuh itu, karena terinspirasi oleh gerakan ini. Nah ini kan menujukan bahwa kebutuhan itu tidak semata-mata dibaca dalam konteks kita, tetapi juga dalam konteks di luar kita. Yang sesungguhnya itu adalah bagian dari kita. Gitu..

Mei : FSLDK kalo saya baca, sekarang hanya dijadikan event pertemuan saja.

Ismail : Oh ya, saya kira pada tahap minimal, atau paling sedikit, memang untuk itu.

Mei : Untuk bertemu, setidaknya untuk bertemu?

Ismail : Ya bertemu. Itu pun sebenarnya sudah cukup bagus. Itu kan mereka jadi ngerti kan, kayak semacam jambore gitu kan. Impressinya apa, impressinya bahwa saya pernah bertemu, bertukar pikiran, dengan mereka disana. Gitu lho.., tanpa sadar mungkin saja kelak dia akan bertemu lagi, dalam sebuah profesi, dalam sebuah idealisme, dan sebagainya. Dan ternyata betul, sampai sekarang misalnya yang dulu aktif, sampai sekarang masih terus itu, dalam profesi yang berbeda-beda. Masih terus itu kawan-kawan yang 16 LDK itu.

Mei : Di FSLDK itu ada komisi-komisi, beberapa ada yang mengatakan bahwa tidak ada follow up, akhirnya sebatas agenda lalu di-print, sudah gitu.

Ismail : Ya memang problem eksekusi nantinya.

Mei : Karena ga ada kewenangan yang jelas?

Ismail : Ya itu, kemudian yang kedua juga ada kendala jarak, dana, sarana, macammacam. Itu kan mahasiswa. Mobilitas juga sangat terbatas. Di samping mereka ketika pulang juga kemudian disibukkan dengan lembaganya masing-masing.

Mei : Tapi masih mungkin untuk terus ya?

Ismail : Saya kira mungkin, karena kita tidak tahu ya, situasi yang akan datang kayak apa. Tiba-tiba tertutup kembali, itu menjadi…

Mei : Kalau menurut Bapak sendiri, idealnya baiknya kalo kita melihat kultur lembaga dakwah, saya kemarin sempat ke Solo, selain JS juga, itu masih tertutup sekali soal berbagi dokumen dengan teman-teman baik di LDK sendiri maupun di luar LDK.

Ismail : kalau menurut saya mestinya tidak begitu. Karena semangat kita dulu, semangat share, semangat berbagi, semangat memberi, semangat untuk bagaimana kita make influences, kepada kawan, kepada lembaga yang lain, untuk mereka juga bisa maju, gitu.

Mei : Ya ada sih, contohnya ketika kami datang pun masih ditanyai macam-macam. Dalam artian ini dari mana, kalau bukan lembaga dakwah ya ngga bisa donk evaluasi kita. Ngga ada logikanya orang di luar jaringan, mengevaluasi kami. Tapi menurut kami kan gak masalah ya mengingatkan.

Ismail : Ya, mungkin ada kecurigaan atau apa.

Mei : Bapak pernah denger FSLDK tandingan yang di Sulawesi?

Ismail : Ya itu tadi yang saya ceritakan. Sebenarnya gak ada FSLDK tandingan. Tapi kalau ada forum lain serupa LDK itu mungkin saja. Tapi kita gak bisa sebut itu FSLDK tandingan. Karena sebenarnya kan masing-masing itu boleh memilih, wong gak ada paksaan. Anda mau ikut, mau datang atau nggak itu nggak ada masalah. Jadi kalau misalnya ada orang lain yang bikin lalu kita datang ya gak apaapa.

Tapi dulu itu rasanya kita bisa satu.

Mei : Kira-kira gimana?

Ismail : Kalau saya sih gak terlalu concern di situ, dalam arti apakah ini kemudian akan menjadi satu saja, atau nanti ada versi yang lain, itu monggo. Karena yang penting kan gini, bahwa satu, you ndak bisa kerja sendiri, anda harus punya perhimpunan cabang, untuk menghadapi masalah-masalah bersama. Yang kedua, pada saat yang sama juga anda harus menyadari bahwa ada orang lain yang juga bisa menjadi serupa kita. Partai banyak, majalah banyak, gak apa-apa.

Mei : dalam FSLDK itu kan tidak ada hubungan struktural yang mengikat, sehingga tidak ada wewenang dan distribusi otoritas yang rigid dan ternyata itu menimbulkan masalah juga.

Ismail : Itu sebabnya evaluasi agak-agak sulit karena soal begitu. Dan memang menurut saya itu ndak bisa diharap lebih. Ibaratnya ini desain sepeda, jangan memimpikan bahwa ini akan menjadi kendaraan 100 Km/jam gitu lho. Jadi skill capacity-nya ada di sana. Kalau saya gak terlalu risau. Yang terpenting adalah gagasan dasar tadi itu dimengerti. Kemudian masih bisa dijalankan atau tidak.

Mei : kemungkinan untuk duduk bersama, menghilangkan perbedaan-perbedaan tadi

Ismail : Sekarang kan begini, misalnya ya, saya kan menginisisasi FSLDK dulu. Nah itu kan ada tumbuh semangat persaudaraan kebersamaan. Nah ketika saya menjadi pimpinan hizbut tahrir, semangat itu tumbuh lagi dan itu kemudian merembes untuk konteks yang berbeda. Kita juga membawa hizbut tahrir itu supaya lebih erat bergandeng dengan PKS. Misalnya kayak gitu. Itu kan sebenarnya pelajaran dari apa yang kita alami dulu. Bahwa itu bisa. Berawal dari apa? Dari komunikasi, dari kunjungan, dari kontak individu. Sarasehan yang awal itu tadi sebenarnya dari

kontak-kontak individu beberapa person kunci. Kalau HT, PKS bisa, itu nanti ini bisa menjadi ring utama dari ikatan-ikatan atau komunikasi yang lebih luas lagi. Nah ini kan, dulu FSLDK itu dalam konteks mahasiwa, belajar, di kampus, muda, anak-anak, gitu. Sekarang kita dalam konteks yang lebih serius, dewasa, tidak main-main, umat, kan gitu konteksnya.

Mei : Itu suatu saat nanti juga temen-temen di LDK itu akan belajar?

Ismail : Iya, karena jiwa muwahid itu harus dipupuk, kalo ga dia akan selalu memandang either you’re with us, or with another. Gitu kan? selalu dulu konteks berpandangan seperti itu. Dia tidak dalam konteks muwahid. Apalagi ini antar LDK yang relatif sama.

Mei : Ya..apa masalahnya dengan perbedaan yang seperti itu

Ismail : Ya

Mei : Tapi bapak sendiri sepakat dengan konsep open resources, dalam artian ya kita terbuka dan berbagi apa saja.

Ismail : Ya, karena dari situ kita bisa belajar dari orang lain. Gagasannya itu bahwa pikiran kita benar, ada kemungkinan salah. Pikiran orang lain salah ada kemungkinan benar. Kan gitu..

Mei : Walaupun dari pihak lain gitu, dalam artian mungkin dari jaringan lain

Ismail : Ya, sesama Muslim apalagi.

(www.syariahpublications.com)

Sumber :

Special Report Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004

Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär

Popularity: 4% [?]

PDF Download    Download artikel PDF; dikirim via email

No Responses to “Ismail Yusanto, Founding Father FSLDK”

  1. Ari Fahry says:

    Salam ukhuwah dari Palu…
    Subhanallah perjuangan para perintis FSLDK, ghirah, serta militansi perjuangan yang saat ini mungkin telah terkikis sedikit demi sedikit, perpecahan yang terjadi di tubuh LDK jujur mebuat kita kampus-kampus kecil, yang nota benenya berada jauh dari tmn-tmn dijawa menjadi bingung, harus berlabuh kemana, padahal menurut kami, LDK adalah lembga independent, bukan milik si A atau Si B, sebab dia berdiri dilingkungan kampus, jadi sangat tidak logis klw ada LDK yang mewarnai dirinya, Alhamdullah kami yg berada dpalu tetap dpt bersinergi dgn backround yg berbeda, kami hax pux hrapan kelak tidak ada lgi sekat yg terjdi dtbuh LDK, klw ada yg mengklaim LDK ini adalah milik si A knpa tdk bwt orgnisasi ekstra aja tnpa mengatsnamkan LDK. Syukron JZ

Leave a Reply

*

VIDEO

TAG CLOUD

abu bakar baasyir Afghanistan Ahmadiyah Anak Bank Century CIA dakwah kampus demokrasi Doa feminisme Fitnah gaza gender hari raya hilal Hizbut Tahrir hti idul adha Israel jihad jilbab khilafah konferensi rajab korupsi kpk kurban libya Mesir obama pakistan palestina pks pornografi qaddafi raMADHAN revolusi riba rukyat sekolah seks bebas Sri Mulyani syariat terorisme ulama yahudi Afghanistan (7)
Afrika Selatan (1)
Aktivis (3)
Amerika Serikat (28)
Anak (13)
Analisis (14)
Aqidah (8)
Arab Saudi (4)
Audio (2)
Australia (1)
Bangladesh (2)
Belgia (1)
Berita (104)
Bisnis (4)
Bosnia Herzegovina (2)
Buku (6)
Chechnya (1)
Cina (3)
Dakwah (19)
Dakwah Islam (3)
Dari Redaksi (20)
Denmark (1)
Doa (7)
Ekonomi (24)
Fikih (15)
Fikrah (12)
Film (4)
Hadis (4)
Harakah (16)
Hukum (9)
Ibadah (16)
Ibadah (10)
Ijtimai (14)
Indonesia (135)
Inggris (11)
Inspiratif (4)
Internet (5)
Iqtishodi (18)
Iran (1)
Israel (9)
Jerman (1)
Kegiatan (4)
Keimanan (12)
Kesehatan (4)
Khalifah (4)
Komputer (3)
Konsultasi (5)
Kontemporer (2)
Kritik (66)
Kuwait (1)
Kyrgystan (1)
Lebanon (3)
Libya (7)
Mathumat (2)
Mesir (6)
Movie (23)
Muda (6)
Nafsiyah (3)
Nafsiyah (5)
Nisa (9)
Norwegia (2)
Opini (1)
Pakistan (7)
Palestina (18)
Pemerintahan (22)
Penampilan (2)
Pendidikan (12)
Perancis (3)
Politik (36)
Politik LN (1)
Politis (6)
Radio (1)
Renungan (16)
Rumah Tangga (3)
Rusia (3)
Samara (10)
Sanksi (1)
Sejarah (21)
SEO (1)
Serbia (1)
Siyasah (8)
SMS (5)
Swiss (2)
Tafsir (1)
Tafsir Al Quran (5)
Tajikistan (2)
Teknologi (2)
Televisi (12)
Tokoh Jahat (1)
Turki (3)
Ulama (3)
Umum (12)
Ushul Fikh (1)
Uzbekistan (6)
Wawancara (11)
Web Design (1)
Yordania (2)

WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.

Sponsors
  • Partner links

  • About Me

    Syariah Publications.Mengopinikan wajibnya penerapan syariah dan khilafah. Memberitakan informasi terbaru seputar dunia Islam.

    Twitter

      Photos

      Erwin Permana2Dr Ing Fahmi Amhar memberikan ceramah2Dwi CondroFahmi LuqmanMahasiswa dari BaliMahasiswa dari PapuaRombongan Mahasiswi dari Malang jatimRombongan mahasiswa Yogya
      10 visitors online now
      2 guests, 8 bots, 0 members
      Max visitors today: 68 at 01:48 am WIT
      This month: 68 at 02-05-2012 01:48 am WIT
      This year: 68 at 02-05-2012 01:48 am WIT
      All time: 221 at 04-03-2011 08:58 pm WIT