POSISI PENEGAKKAN DAULAH DI ANTARA TAHAPAN-TAHAPAN DAKWAH

Oleh : Titok Priastomo 

Syariah Publications. BismillaahirRahmaan irRahiim, alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin, washsholaatu wassalaamu ‘alaa rasuulillaahi wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa mawwaalaah, ammaa ba’du,

 As-Syaikh `Abdurrahman Ad Dimasyqiyyah -hafidzohullaahu Ta’alaa- berkata : “Mereka ingin agar kita meloncati tahapan awal dalam dakwah, yaitu tarbiyah, dan memulainya dengan khilafah, sebagai tahapan yang paling awal. Tapi mereka tidak akan berhasil, mereka akan gagal. Sebab tahapan awal dalam berdakwah yang dilakukan oleh para shahabat adalah tarbiyah, sebab membawa nama Islam di pundak kita membutuhkan kesabaran dan lain-lain. Tapi hal yang dekat untuk dilakukan oleh mereka hanyalah untuk menegakkan khilafah dan tidak berbicara tentang selainnya, seperti membicarakan dosa dan lain-lain”.. .. Beliau juga berkata : “Kebiasaan tergesa-gesa pada kelompok ini akan menyebabkan mereka mati dengan cepat, mereka tidak mempunyai kesabaran dan kebijaksanaan. Mereka tidak memikirkan bagaimana tahapan dakwah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam mulai dari awal sampai akhir. Mereka mengambil tahap akhir sebagai tahap awal. Apa yang akan terjadi bila kalian meminta tahap akhir menjadi di awal? Apa yang akan terjadi? kalian akan habis!”.

                                                       Dikutip dari artikel Membongkar Selubung Hizbut Tahrir

 

A. Sebuah Kritik Di Atas Kritik

            Tulisan ini akan menjawab kritik yang dilancarkan oleh Syaikh Ad Dimasyqiyah di atas, dengan tanpa mengurangi sikap hormat kami terhadap penulisnya, semoga Allah memberi penjagaan terhadap beliau. Kritik beliau terhadap gerakan yang saat ini getol memperjuangkan kembalinya Khilafah Islamiyah berpijak pada pemahaman mengenai tahapan dakwah rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-. Syaikh Abdurahman Ad Dimasyqiyah berpendapat bahwa menyerukan pendirian khilafah pada saat ini adalah tindakan yang tergesa-gesa. Tapi beliau sendiri tidak memberi batasan yang konkret mengenai kapan khilafah itu mulai layak untuk diperjuangkan. Syaikh kita ini juga mengatakan bahwa tahapan dakwah yang pertama adalah tarbiyah, sedangkan khilafah adalah tahapan paling akhir. Akan tetapi beliau tidak menjelaskan pada kondisi seperti apa kita bisa beranjak dari tahapan pertama menuju tahapan-tahapan selanjutnya, dan dengan parameter seperti apa tahap pertama ini dinyatakan berhasil sehingga kita dianggap pantas untuk beranjak dari tahap tarbiyah ke tahap berikutnya.

            Atas dasar pemahaman beliau mengenai tahapan dakwah itu, beliau mengatakan bahwa Hizbut Tahrir -satu gerakan yang selalu sibuk memperjuangkan khilafah- tidak memahami tahapan dakwah yang dilakukan oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- dari awal hingga akhir, padahal dalam kritiknya, beliau sendiri tidak menjelaskan tahapan apa pun kecuali apa yang belaiu sebut sebagai tahap “tarbiyah“. Kami tidak membantah kebenaran yang beliau ucapkan, bahwa tarbiyah (tatsqiif) adalah tahapan awal. Tapi penjelasan kronologis mengenai dakwah rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-, mulai dari nol sampai berhasil membersihkan kesyirikan dan kejahiliyahan di seluruh Jazirah Arab, tidak beliau jelaskan sama sekali. Beliau hanya menyebut bahwa tarbiyah merupakan tahap awal, sedangkan khilafah merupakan tahap akhir. Tahapan yang harus dijalankan saat ini adalah tarbiyah, sedangkan khilafah belum tepat untuk diurusi. Tapi beliau tidak memberi penjelasan mengenai: apa saja tahapan dakwah yang harus dilewati, bagaimana karakter dari masing-masing tahapan, target apa saja yang ingin diwujudkan dalam tiap-tiap tahap, dan ukuran seperti apa yang membuat dakwah harus bergeser dari satu tahapan ke tahapan berikutnya. Ya, semuanya itu tidak kita dapati dalam artikel beliau itu.

            Atas dasar itu, kami menganggap bahwa kritik beliau mengenai tahapan dakwah, tidaklah memuaskan. Justru sebaliknya, gerakan yang dikritik, yakni Hizbut Tahrir, dalam berbagai tempat  telah merinci metode yang dia tempuh berdasarkan penelaahannya terhadap metode dakwah yang dijalankan oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-. Mereka mempelajari tahapan-tahapan apa saja yang ditempuh oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- dengan memperhatikan karakter dan target spesifik dari masing-masing tahapan, dan juga mencermati kondisi-kondisi apa yang membuat dakwah dinilai layak untuk berpindah dari suatu tahapan ke tahapan berikutnya. Semua yang dijelaskan oleh HT tidak kita dapati pembandingnya dalam kritik yang dilancarkan oleh, yang kami hormati, As Syaikh Abdur Rahman Ad Dimasyqiyah. Dengan begitu, kita tidak bisa melakukan studi banding.  Wallahu a’lamu bish showaab

            Maka dari itu, kami ingin sedikit menyuplik apa yang kami pahami dari pendapat HT mengenai metode dakwah yang ditempuh oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-. Sekaligus membantah anggapan bahwa mereka menjalankan dakwahnya tanpa disertai pengetahuan mengenai metode dakwah yang dicontohkan oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-. Wallaahul musta’aan

B. Misi Yang Diemban Nabi Muhammad -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-

            Kita tahu, bahwa dalam segala urusan yang terkait dengan penegakkan agama ini, maka satu-satunya rujukan bagi kita adalah rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-. Tapi, sebelum kami mengutarakan apa yang kami pahami mengenai metode dakwah yang dijalankan oleh nabi -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-, kami ingin mengajak saudara sekalian untuk mencermati hal-hal berikut ini secara seksama:

            Pertama: Sebagaimana risalah yang dibawa oleh nabi yang lain, Islam yang dibawa oleh Muhammad -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- adalah agama tauhiid, yakni agama yang mengajak dan menunjuki manusia untuk memurnikan penyembahan semata-mata kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan prinsip dari ajaran yang dibawa oleh nabi -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- yang tidak bisa ditawar dan dikompromikan. Maka dari itu, amanah yang diemban oleh rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- ini adalah amanah yang sangat berat. Pasalnya, dunia saat itu dipenuhi dengan kesyirikan. Beliau sendiri hidup di tengah budaya kesyirikan yang merjalela dan mendarah daging. Kesyirikan merupakan adat-tradisi yang dipertahankan mati-matian oleh kaum di sekeliling beliau. Sebab, berhala bagi bangsa Arab merupakan identitas diri yang mereka gigit dengan erat. Tradisi itu mereka lindungi dengan benteng, kekuasaan, para pemimpin, para ksatria, dan pedang. Dengan begitu, mendakwahkan tauhid berarti menantang adat-tradisi kaum beliau sendiri, melawan arus budaya masyarakat, dan menyulut permusuhan kepada seluruh Bangsa Arab. Itu berarti apa yang beliau bawa merupakan perkara yang sangat besar untuk dihadapi oleh seorang manusia. Ingat, bangsa Arab bisa mengobarkan perang suku selama 35 tahun hanya gara-gara seekor unta betina (ingat perang al basus), lantas bagaimana mungkin usaha menghinakan latta, uzza, hubbal, dan manat, yang dipuja-puja oleh orang arab itu, bisa dianggap urusan yang sepele? Dalam pandangan bangsa arab, apa yang dibawa oleh rasuulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- adalah urusan yang sangat besar.

            Kedua: Nabi Muhammad -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- diutus oleh Allah untuk menyampaikan agama Islam itu kepada seluruh umat manusia di dunia. Artinya, beliau tidak diutus untuk sekedar mengIslamkan keluarga dan tetangga dekat beliau, tapi risalah yang beliau bawa dituntut untuk sampai ke seluruh pelosok bumi, tanpa mengenal batas sosial, kebangsaan, dan masalah geografis. Bahkan risalah ini dirancang untuk mengalahkan semua diin yang ada di dunia. Masalah yang kedua ini bukan hanya besar, tapi juga “aneh”. Bagaimana tidak aneh, Allah hanya mengutus seorang manusia untuk seluruh umat manusia di berbagai pelosok bumi? Bagaimana bisa seseorang melakukannya? Sedang pada saat itu, orang-orang Makkah untuk sampai ke Syam saja membutuhkan waktu berminggu-minggu? Belum lagi tiap bangsa di dunia telah memiliki keyakinan, budaya, dan norma-norma yang telah mapan. Bahkan tradisi mereka ada yang ditopang dengan imperium raksasa seperti Bizantium dan Persia. Keduanya adalah negara adidaya yang menjadi penjaga praktek kesyirikan dan kebathilan. Bizantium telah mencampuradukkan agama nasrani dengan kepercayaan- kepercayaan bathil. Sedangkan Persia merupakan negara penyembah api sebagai simbol dari kekuatan cahaya. Maka, mendakwahkan tauhid berarti menentang keyakinan-keyakinan imperium-imperium besar di dunia. Sebab, agama  merupakan identitas penting bagi bangsa-bangsa itu. Bagaimana tidak aneh jika Allah menghendaki untuk menghancurkan kebathilan raksasa yang dibentengi dengan kekuasaan semacam itu dengan hanya mengutus seorang rasul?

            Ketiga: Bahwa beliau adalah rasul akhir zaman. Artinya, beliau tidak hanya diutus kepada manusia yang hidup sejaman dengan beliau, tapi Muhammad -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- dibebani tugas untuk menjadi rasul dan panutan bagi manusia yang hidup sejak dirinya diangkat sebagai rasul sampai manusia terakhir yang hidup di dunia. Maka poin ini tak kalah “anehnya” dengan poin sebelumnya. Sebab, bagaimana bisa rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- menjalankan tugasnya untuk menjadi penyampai wahyu, pembawa berita gembira dan ancaman; menjadi agen penjelas; dan menjadi uswatun hasanah untuk semua manusia yang hidup setelah beliau wafat sampai hari kiamat? Padahal beliau tidak diberi tambahan umur sebagaimana yang Allah berikan kepada iblis.

            Terakhir, kami akan bertanya, apakah anda mau ikut memikirkan apa yang mungkin difikirkan oleh rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-? Sebab, siapa saja yang berada dalam posisi beliau sangat pantas untuk bertanya-tanya, paling tidak mengenai tiga hal:

            Pertama, metode seperti apa yang ditempuh untuk dapat mencabut pola kehidupan yang dibentuk oleh adat istiadat yang penuh dengan kesyirikan dan kejahiliyahan itu, untuk kemudian diganti dengan kehidupan yang berasaskan pada aqidah Islam dan dijalankan menurut syariah yang diturunkan oleh Allah? Padahal, sebagaimana disebutkan dalam poin satu, mencabut kesyirikan dan kejahiliyahan bukanlah urusan mudah. Misi itu sama artinya dengan menentang Bangsa Arab. Padahal, mereka punya pemimpin dan kaum yang siap membela tradisi nenek moyang sampai mati.

            Kedua, metode seperti apa yang akan ditempuh untuk dapat menyebarluaskan Islam ke seluruh pelosok bumi? Padahal, mencabut tradisi bangsa Arab yang telah mengurat saja sudah sulit untuk dibayangkan. Ditambah lagi, dunia bukan sekedar dihuni oleh manusia-manusia yang lugu. Dunia bukanlah ruang kosong. Di atas permukaan bumi berdiri banyak peradaban yang telah memiliki keyakinan-keyakinan , norma-norma, dan pola kehidupan masing-masing, seperti bangsa Arab, Bizantium, Persia, Mesir, China, Turki, India, Bar-bar dll. Dan masing-masing peradaban dilindungi oleh otoritas politik yang memiliki kekuasaan dan kekuatan. Menyebarkan Islam berarti berhadapan langsung dengan semua itu. Apakah rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- harus menjalani misi berat itu seorang diri sebagai seorang pribadi? Ini baru dari satu sisi. Dari sisi yang lain, secara teknis apa metode yang bisa dipakai untuk dapat merealisasikan misi itu? Apakah beliau seorang diri harus berjalan mengelilingi bumi dan menyampaikan risalah yang beliau bawa kepada setiap manusia yang beliau temui? Atau duduk dibalik mimbar untuk menyampaikan fatwa dan nasehat kepada siapa saja yang mau datang dan mendengarkan? Atau piye?

            Ketiga, bagaimana agar Islam yang beliau bawa itu bisa senantiasa hidup, dipeluk oleh banyak manusia dari generasi ke generasi sampai akhir zaman. Sebab, beliau adalah penutup para nabi yang diutus untuk seluruh umat manusia sampai akhir zaman. Padahal, beliau tidak diberi umur panjang. Bagaimana beliau menyusun langkah agar Islam yang belaiu rintis itu bisa berkelanjutan dan bertahan?

            Ketiga hal di atas pantas untuk kita fikirkan. Sebab, menjalankan tugas besar dan berat seperti itu tidak mungkin dilakukan dengan metode yang serampangan dan asal jalan. Jika beliau mentargetkan keberhasilan, maka mencabut tradisi umat manusia yang penuh kesyirikan dan kejahiliyahan tidak mungkin hanya dengan bermodal kebenaran dan keberanian. Mengemban risalah ke seluruh pelosok bumi mustahil hanya berbekal “mulut” dan seekor unta tunggangan. Mengemban risalah agar awet sampai akhir zaman tidak mungkin hanya mengandalkan nafas seorang manusia yang hanya bertahan beberapa puluh tahun saja.

            Nah sekarang, apakah semua pertanyaan tadi bisa dipuaskan hanya dengan mengatakan  bahwa “rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- dan para shohabat (radliyallaahu ‘anhum) memulai dakwah dengan tarbiyah”? Apakah kata “tarbiyah” bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan tuntas tanpa menyisakan kekaburan?

            Maka semua pertanyaan kita mengerucut pada satu masalah, yakni metode dakwah seperti apa yang dilakukan oleh rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- untuk memfungsikan peran beliau sebagai rasul yang bertugas menegakkan agama tauhid untuk seluruh umat manusia sampai akhir zaman. Inilah pembahasan mengenai thoriqoh dakwah rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-, begitu kami menyebutnya. Dan semua itu tidak akan terjawab hanya dengan mengatakan “kita harus mengawali dakwah dengan tarbiyah” titik, tanpa ada pembahasan lebih lanjut. Allaahu Ta’alaa a’lam

C. Islam Bisa Mengalahkan Kesyirikan Tidak Hanya Melalui Tarbiyah: Studi kasus Islamisasi Periode Makkah

            Setelah menerima tugas berat dari Tuhanya, rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- menjalani kehidupan dakwah, mengemban risalah yang dibebankan oleh Allah kepada beliau, selama kurang-lebih 22 tahun, 12 tahun di Makkah dan 10 di Madinah. Dan dalam waktu yang relatif singkat itu -jika dibandingkan dengan besarnya amanah yang beliau pikul-  beliau sanggup meraih hasil yang begitu gemilang. Sampai tahun terakhir kenabian, penyembahan berhala telah menjadi barang langka di seluruh Jazirah Arab. Dan kehidupan jahiliyah pun telah tergantikan oleh kehidupan yang Islami yang berjalan di atas apa yang diturunkan oleh Allah. Padahal, sebelumnya, penyembahan berhala merupakan tradisi turun-temurun yang telah mendarah-daging selama berabad-abad. Bangasa Arab pun sebelumnya membela tradisi itu mati-matian. Pernahkah anda berfikir, bagaimana tradisi itu berhasil dilenyapkan dalam satu masa saja oleh dakwah? Perhatikan, ini merupakan perubahan paling spektakuler dalam sejarah umat manusia.

            Mungkin di antara kita ada yang menjawab, bahwa hasil gemilang itu didapat karena kesabaran dan keuletan Nabi -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- dalam berdakwah. Tidak diragukan lagi, memang Nabi -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- selalu ulet dan bersabar dalam berdakwah. Tapi, kesabaran dan keuletan dalam hal yang bagaimana sehingga dakwah yang beliau jalankan bisa membasmi paganisme di sebuah jazirah yang teramat luas itu? Apakah kesabaran dan keuletan yang dimaksud terbatas pada usaha dalam memberi nasehat dan pelajaran secara lisan kepada manusia? Apakah Beliau menghabiskan 22 tahun itu untuk menemui manusia satu per satu, dari rumah ke rumah, dalam rangka memberi nasehat dan ilmu kepada mereka? Sehingga, dengan nasehat dan pelajaran yang beliau sebarkan selama 22 tahun itu, seluruh tindak kesyirikan di Jazirah Arab bisa terhapuskan? apakah ini yang disebut dengan “metode tarbiyah”?

            Atau, apakah yang disebut dengan metode tarbiyah itu adalah setiap hari duduk dibalik sebuah meja dalam sebuah masjid, kemudian menyampaikan tawshiyah dan ta’lim kepada siapa saja yang bersedia datang dan mendengar? Atau apakah tarbiyah yang dilakukan oleh rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- itu adalah berteriak-teriak untuk mengumpulkan manusia, setelah mereka berkumpul, kemudian beliau menyampaikan Islam kepada mereka? Apakah hanya ini yang dilakukan oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- selama mengemban risalah yang beliau pikul dalam 22 tahun itu, tidak ada yang lain? Apakah hanya dengan metode seperti ini seluruh bangsa arab rela melepaskan tradisi kesyirikan yang sebelumnya mereka banggakan dan mereka bela mati-matian itu?

            Kami katakan “tidak”, rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak hanya melakukan hal-hal di atas. Rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- memang melakukan itu semua, tapi itu belum semua. Memberi pelajaran merupakan pekerjaan para guru. Rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- memang seorang guru bagi para shohabatnya, tapi dakwah yang beliau pikul tidak hanya menuntut beliau untuk menjadi guru. Risalah yang beliau pikul juga menuntut beliau untuk menjadi “perombak peradaban” dalam waktu yang relatif sempit. Untuk itu, mari kita buktikan, bahwa rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak hanya dituntut untuk menjadi guru yang hanya sebatas melakukan tarbiyah.

            Mari kita lihat dakwah beliau -sholawaatullaah wa salaamuhu ‘alaihi- di Makkah. Tidakkah anda ingat, bahwa pelajaran dan seruan yang beliau sampaikan kepada penduduk Makkah itu sudah jauh dari cukup. Dengan seruan yang beliau sampaikan, orang-orang kafir Quraisy menjadi sangat paham dengan aqidah yang dibawa oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-. Mereka sudah sangat memahami apa yang disebut dengan tauhid. Tapi anda tahu, sebagian besar dari mereka hatinya justru tertutup, mereka bosan dengan seruan dakwah, mereka benci dengan tauhid, mereka lebih cinta dengan kesyirikan, dan cinta terhadap kedudukan mereka dalam masyarakat jahiliyah. Lantas bagaimana rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- bisa dikatakan menaklukkan kesyirikan di jazirah Arab hanya dengan apa yang disebut “tarbiyah”? Padahal di Makkah saja, tarbiyah itu sudah dilakukan selama 12/13 tahun, dan orang-orang quraisy sudah faham benar dengan seruan rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-. Tapi karena mereka faham dengan agama yang dibawa oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- itu, mereka justru menentang dakwah. Sebab mereka tahu bahwa Islam itu bertentangan dengan keinginan mereka. Tidakkah anda ingat bagaimana kebencian, makian, siksaan, pemboikotan, penyiksaan, dan pembunuhan yang dilakukan oleh kafir Quraisy terhadap para pengemban dakwah pada periode Makkah? Semua itu terjadi bukan karena kafir Quraisy tidak faham dengan agama yang dibawa oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-. Rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- sudah berhasil memahamkan mereka, tapi fanatisme mereka terhadap tradisi, kecintaan mereka terhadap dunia, kegandrungan mereka terhadap kedudukan, harga diri mereka sebagai suku Quraisy, suku yang istimewa dalam pandangan tradisi jahiliyah, membuat mereka selalu pro terhadap status quo -yang telah memberi kenyamanan bagi mereka.

            Maka Makkah tetap dalam kondisi beku setelah dakwah mencapai umur 13 tahun. Negeri seperti ini terlalu keras untuk ditundukkan dengan hujjah. Negeri semacam ini tidak bisa diubah dari dalam dengan mulut saja. Mereka terlalu sombong untuk itu. Selama 13 tahun, posisi Islam tidak pernah berada di atas angin. Kejahiliyahan selalu dalam posisi dominan, sebab mereka menguasai sistem. Kaum muslim selalu di bawah tekanan, sehingga, alih-alih bisa hidup dalam kehidupan Islam, mereka justru tidak bisa leluasa dalam menampakkan keIslaman. Bahkan, di bawah tekanan itu, orang-orang menjadi takut dan berfikir panjang untuk menerima Islam. Sebab, masuk Islam berarti akan mendapat banyak permusuhan dan banyak kesulitan yang akan ditimpakan oleh kaum mereka sendiri. Itulah mengapa, sebagian dari mereka sampai hijrah ke Habsyah demi memelihara diri dan aqidahnya. Hanya orang-orang yang terbina dengan tarbiyah yang intensif saja yang kuat menghadapi tekanan semacam itu. Dan jumlah mereka itu tidak banyak. Sebab, tarbiyah yang intensif itu tidak mungkin dilakukan kepada seluruh penduduk Makkah. Maka, sampai tiga tahun pertama, rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- baru mendapat kurang dari 50 orang, atau sekitar empat puluhan. Sampai ujung fase Makkah, atau 13 tahun dari kenabian, kaum muslimin tidak mencapai angka 200 orang. Sebagai gambaran, jumlah kaum muslim yang hijrah dari Makkah ke Madinah hanya sekitar 70 keluarga, ditambah mereka yang masih berada di Habsyah, kami menduga kuat jumlahnya jauh lebih kecil dari angka 200. Itu adalah jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan penduduk Makkah waktu itu (yang turun dalam perang Badar saja mencapai 1.000, belum termasuk yang lain, seperti yang tinggal di Makkah dan rombongan Abu Sufyan).

            Ini jelas merupakan kondisi yang tidak sehat bagi dakwah. Dakwah tidak akan bisa berkembang jika tetap berkubang dalam tekanan dan dominasi kafir Quraisy. Dalam kondisi ini, tarbiyah terhadap penduduk Makkah sudah tidak ampuh lagi. Maka jelas, tarbiyah bukanlan satu-satunya metode untuk menyebarkan Islam. Sebab, ada kekuatan politis yang menjadi halangan bagi manusia untuk menerima Islam dengan leluasa tanpa tekanan. Maka menghilangkan hambatan politis yang menghalangi dakwah adalah salah satu agenda yang tidak boleh dilewatkan dan wajib dilalui jika dakwah ingin mengalami kemenangan.

            Tidakkah anda ingat, ketika rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- menyampaikan Islam kepada manusia yang datang dari berbagai kabilah saat musim haji? Saat itu, semua orang yang didatangi rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- justru termakan oleh propaganda buruk yang dilancarkan oleh Abu Jahal -dan kafir Quraisy yang lain- untuk mengabaikan seruan yang disampaikan nabi -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-? Sejak saat itu, berita mengenai Islam memang semakin menyebar dan membuat suasana semakin memanas. Tapi seluruh suku-suku Arab hanya menganggap dakwah sebagai angin lalu, atau sebagai suatu hal yang merecoki tradisi yang mereka agungkan. Mereka tidak mau menerima Islam karena tekanan status quo yang begitu kuat, karena kejahiliyahan dan kesyirikan jauh lebih populer, dan karena kebathilan jauh lebih mapan dan dominan. Dalam benak kabilah-kabilah yang didatangi oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- itu, menerima dakwah Islam berarti menerima permusuhan dari seluruh bangsa Arab.

            Dengarlah perkataan Bayharah ibn Faras dari Bani Amir bin Sho’sho’ah ketika menanggapi seruan rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-. Dia berkata: “Demi Allah, seandainya aku melindungi pemuda quraisy ini (Muhammad -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-), niscaya aku akan dibinasakan oleh Bangsa Arab!”.  Dengar juga perkataan Al Mutsni bin Harits: “kami melihat perkara yang engkau serukan kepada kami adalah sesuatu yang dibenci oleh para raja“. Demikianlah, dakwah tidak hanya menghadapi hati manusia, tapi ia menghadapi tradisi yang mengakar kuat, dan membentur benteng yang begitu tinggi dan tebal. Dakwah ternyata harus menghadapi arogansi para penguasa dan menghadapi arogansi para pemilik kekuatan. Dan selama arogansi itu masih tegak, maka dakwah tidak akan bisa bernafas dengan lega. Atas dasar itu arogansi yang menghalangi dakwah harus diruntuhkan, meski pun tarbiyah sudah tidak mempan.

            Itulah mengapa kami katakan bahwa Islam ini tidak mungkin menuai kemenangan hanya dengan tarbiyah saja. Tidak mungkin kekuatan kafir Quraisy dan suku-suku Arab yang lain bisa ditaklukkan hanya dengan hujjah yang keluar dari mulut saja. Pasalnya, mereka sudah tahu dan memahami apa yang keluar dari mulut dakwah Islam. Dan mereka tidak mau menyerahkan diri kepada Allah meski pun mereka telah melihat kebenaran dengan jelas. Maka, mencukupkan dakwah dengan tarbiyah dan pengajaran saja, serta tidak memberi batasan jelas kapan dakwah berpindah dari fase tarbiyah ke fase berikutnya adalah langkah yang tidak sesuai dengan realitas dan tantangan yang dihadapi oleh dakwah. Sebab, tarbiyah adalah kunci untuk meluluhkan akal dan hati, tapi tarbiyah tidak bisa menghancurkan halangan politis, arogansi, kekuasaan, dan kekuatan. Allaahu a’lam

            Lantas bagaimana rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- menghadapi semua realitas yang dihadapi oleh dakwah? Bagaimana dakwah Islam bisa keluar dari tekanan dan dominasi kekuatan kebathilan? Sehingga dakwah Islam bisa berhasil membuat perubahan yang sedemikian dahsyat di seluruh Jairah Arab? Berikut ini uraian singkat mengenai metode dakwah yang dijalankan oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-.

D. Metode Dakwah Rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-

            Rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- memang melakukan aktivitas seperti mendatangi kerabat dan sahabat dekat beliau untuk beliau tarik ke dalam Islam. Pada tiga tahun pertama dakwah, beliau memang tidak melakukan aktivitas apa pun kecuali aktivitas seperti itu. Beliau hanya mendatangi orang-orang dekat yang punya prospek untuk menerima Islam, kemudian berdiskusi, mendatangkan hujjah, memberikan peringatan, dan membacakan Al Qur’an kepada orang-orang yang beliau datangi itu. Begitu pula yang dilakukan oleh Abu Bakar -radliyallahu ‘anhu-. Kemudian, setelah orang yang didakwahi itu telah menerima Islam, maka rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- melakukan pembinaan lebih lanjut terhadap mereka. Tapi, hal seperti itu tidak berlangsung selamanya. Itu hanya merupakan fase awal dari perjalanan dakwah. Pada fase ini, rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- berhasil mengIslamkan sekitar 40 orang.

            Atas dasar itu, kami sepakat bahwa pembinaan merupakan hal yang paling awal. Tapi, meski pun tarbiyah itu terus dilakukan selama 22 tahun, rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak menghabiskan waktu 22 tahun untuk mentarbiyah para shahabatnya saja. Tidak mungkin mengIslamkan seluruh jazirah Arab dan menghancurkan seluruh kesyirikan di dalamnya hanya dengan menjadi seorang guru. Dan ingat, tarbiyah yang dilakukan oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- ini berbeda dengan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru kepada murid-muridnya di sekolah mau pun di madrasah. Tarbiyah yang dilakukan oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- juga bukan sekedar kajian fiqh yang diberikan oleh seorang ahli fiqih kepada muridnya. Juga bukan sekedar kajian tafsir yang diberikan oleh seorang mufassir. Rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak hanya mencetak ulama. Lebih dari itu, rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- membina para shohabat untuk menjadi ulama sekaligus muharik, seorang aktivis pergerakan yang akan ikut menggulirkan sebuah perubahan. Majelis rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- di Daarul Arqom bukan sekedar majelis ilmu, seperti pesantren, tapi selain itu juga merupakan ajang pembekalan, pembinaan, dan penempaan kader.

            Fase awal dakwah ini kami sebut sebagai marhalah tatsqiif, tahap pembinaan. Tujuan fase ini adalah mendapatkan kader-kader yang mau diIslamkan dan siap dibina dengan aqidah dan tsaqofah Islam, sehingga terbentuk orang-orang yang memiliki kepribadian Islam. Rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- mengajarkan aqidah Islam kepada mereka, menjelaskan hukum-hukumnya, membacakan Al Qur’an kepada mereka, membina loyalitas mereka, memupuk kesabaran mereka, menancapkan keberanian dalam dada mereka, memantapkan gambaran mengenai akhirat hingga terbentuk pribadi-pribadi muslim yang tanggguh.

            Kemudian pribadi-priabdi tersebut disiapkan sebagai da’i yang akan ikut memikul dakwah. Jadi dakwah pada fase ini bukan sekedar membuat orang memeluk Islam, kemudian perkaranya selesai. Dakwah pada fase ini juga bukan sekedar aktivitas menuntut ilmu seperti di sekolah. Tapi, yang dilakukan adalah memasukkan mereka ke dalam Islam sekaligus menjadikan mereka sebagai bagian dari “pergerakan dakwah”. Mereka melakukan aktivitas membina dan dibina, direkrut dan merekrut. Artinya, rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak hanya bergerak untuk mencari orang yang mau memeluk Islam, tapi sekaligus beliau juga merekrut orang-orang yang mau ikut memikul dakwah dalam bingkai sebuah gerakan yang terorganisir di bawah kepemimpinan rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-. Inilah langkah pertama yang dijalankan oleh rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- untuk menaklukkan Bangsa Arab, yaitu membentuk gerakan dakwah jama’i yang terorganisir dan terpimpin.

            Langkah ini ditempuh karena mendakwahkan Islam merupakan tugas yang sangat berat. Mendakwahkan Islam berarti menghendaki perubahan yang sangat radikal, yakni menumpas tradisi jahiliyah yang telah mapan begitu lama. Di sisi lain, orang-orang arab sangat menghormati tradisi mereka, mereka akan senantiasa menjaga tradisi mereka, meski dengan pertumpahan darah. Oleh karena itu, untuk merealisasikan perubahan yang diinginkan oleh Islam, tidaklah mungkin dilakukan dengan dakwah secara individual. Maka Allah menghendaki dakwah ini dipikul oleh jama’ah yang bergerak secara terorganisir.

            Untuk itulah rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- menyiapkan tubuh jama’ah yang beliau pimpin selama kurang lebih tiga tahun. Dalam fase itu, meskipun orang-orang Quraisy dan sebagian suku-suku yang lain telah mendengar seruan dakwah, dan mereka bisa merasakan aktivitas rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat beliau dalam berdakwah, tapi mereka tidak tahu di mana gerakan ini berkumpul, siapa saja orang-orang yang bergabung dalam gerakan yang mendakwahkan agama baru tersebut, dan mereka juga tidak tahu persis apa saja aktivitas yang mereka lakukan. Itulah mengapa fase ini disebut juga sebagai fase dakwah siriyah. Poinnya di sini adalah: dakwah Islam sebenarnya bukanlah sekedar dakwah perorangan, tapi rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- telah mengkader shahabat-shahabat beliau untuk membentuk sebuah mesin dakwah, berupa jamaah yang teorganisir, dalam rangka menjalankan dakwah itu.

            Dan setelah tubuh gerakan itu telah terbentuk dengan mantap, orang-orangnya telah memiliki kepribadian Islam yang kuat, dan siap menanggung resiko dalam berdakwah, maka Allah memerintahkan kepada rasulNya untuk menampakkan diri dalam bentuk jama’ah. Ini bukan berarti bahwa sebelumnya rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak menampakkan dakwah. Rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- telah menampakkan dakwah sejak awal, setelah beliau menerima wahyu “kum fa andzir”. Buktinya, Abu Dzar Al Ghifari -radliyallahu ‘anhu- yang termasuk salah satu tokoh yang pertama masuk Islam, telah mendengar dakwah nabi -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- dari kejauhan, yakni dari suku Ghifar, suku yang sering dilalui kafilah dagang Quraisy. Setelah mendengar berita tentang aktivitas rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-, yang mengaku sebagai nabi itu, Abu Dzar pun mendatangi Makkah untuk bertemu dengan beliau. Ini membuktikan bahwa berita tentang aktivitas dakwah rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- telah tersebar luas jauh sebelum diturunkannya perintah dakwah secara terang-terangan, sebab Abu Dzar telah masuk Islam sebelum turun perintah tersebut.

            Terbentuknya jama’ah yang terorganisir secara sempurna dan mulai dirasakannya kedatangan Islam oleh masyarakat, merupakan gerbang yang mengharuskan dakwah bergeser dari fase tatsqiif ke fase kedua, yakni perjuangan untuk menyeru masyarakat secara umum. Perbedaan fase kedua dengan fase sebelumnya adalah, jika fase sebelumnya masyarakat baru sekedar mencium aktivitas dakwah yang bergerak di bawah tanah, sekarang tubuh jama’ah dakwah mulai dimunculkan  ke permukaan sehingga masyarakat mulai melihat jelas siapa para aktivis dakwah dan apa saja aktivitas dakwah yang dilakukan oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- dan para shohabatnya. Fase ini juga kami sebut dengan fase interaksi dan perjuangan politik. Disebut fase interaksi karena dakwah mulai menyeru masyarakat secara terang-terangan, dan menyerang tradisi kemusyrikan. Dan disebut perjuangan politik karena dakwah mulai mengadakan pertarungan untuk meruntuhkan arogansi pemimpin-pemimpin Quraisy  dan melakukan persaingan untuk merebut simpati publik dengan mereka. Pertarungan dan perebutan antara kekuatan Islam dengan kekuatan kebathilan itu tidak lain merupakan pertarungan yang membuat atmosfer politik menjadi panas.

            Bagaimana tidak terjadi pergolakan? Allah menelanjangi kebobrokan bangsa arab dengan menurunan ayat-ayat yang menggugat kebodohan mereka dalam menyembah berhala. Turun juga ayat-ayat yang menyerang kerusakan mereka dalam mengubur anak-anak perempuan, penipuan, kecurangan dalam timbangan, kebejatan moral, dan juga ayat yang menyerang tokoh-tokoh keji yang memusuhi dakwah (Seperti Abu Lahab). Islam juga membodoh-bodohkan akal tradisi, dan  menjelek-jelekkan patung-patung sesembahan. Artinya, rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- beserta jama’ahnya menampakkan permusuhan terhadap aqidah dan tradisi jahiliyah, sekaligus menyerukan sebuah perombakan aqidah berikut tatanan sosialnya. Maka terjadilah pertarungan antara haq dan bathil. Manusia pun terpisah, segolongan menjadi golongan Allah dan rasulNya, dan segolongan lagi memihak kepada syetan. Pertarungan yang dilancarkan oleh jama’ah ini ditujukan untuk membuka fikiran bangsa arab agar mereka mau lepas dari peradaban jahiliyah, sekaligus mendemonstrasikan diri, bahwa umat Islam adalah pihak yang berlepas diri dari kehidupan jahiliyah, dan menghendaki kehidupan yang dibangun atas dasar akidah yang lain, yakni Islam.

            Fase ini kami sebut dengan tahap interaksi dengan masyarakat dan perjuangan politik (tafa’ul wa kifah). Poin dalam fase ini adalah bahwa pembinaan perorangan secara intensif masih terus dilakukan, tapi dakwah tidak lagi sekedar memburu target perorangan, dakwah telah menjadikan masyarakat Makkah secara umum sebagai objek seruannya. Dakwah dalam fase ini bukan saja dijalankan untuk mengIslamkan individu, tapi dakwah juga mempunyai terget untuk mengIslamkan kehidupan sosial, mengIslamkan peradaban manusia. Bukan hanya menciptakan muslim yang sholeh, tapi juga mengincar terciptanya peradaban yang sholeh. Hal itu dilakukan dengan menyuarakan fikrah yang memberi masyarakat sebuah aqidah dan nilai-nilai baru sekaligus menyerang dan meruntuhkan aqidah dan nilai-nilai peradaban jahiliyah.

            Target utama pada fase ini adalah, jika aqidah dan nilai-nilai baru yang didakwahkan oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- berhasil menguat dan dominan, maka tatanan sosial yang lama akan diruntuhkan dan diganti dengan tatanan sosial baru atas dasar aqidah Islam. Caranya bukan dengan membuat semua penduduk Makkah mau berangkat ngaji, itu mustahil, tapi cukup dengan membuat Islam memiliki pengikut dan pendukung yang banyak dan kuat, yang memiliki syakhshiyah yang matang, yang memiliki pengaruh kuat dalam masyarakat, yang siap dan cukup untuk mengendalikan hukum dan kekuasaan. Itulah mengapa, serangan-serangan Islam terhadap tradisi jahiliyah kami katakan diarahkan untuk merebut simpati publik, agar publik mengetahui  dengan jelas bahwa Islam adalah haq, dan yang selainnya adalah bathil. Dengan itu, publik akan menaruh kepercayaan kepada Islam dan pengembannya, seraya ikut melawan kebathilan dan pembelanya. Kekuatan yang tidak tunduk dengan hujjah akan ditundukkan dengan kekuatan. Hanya dengan metode seperti itulah tradisi lama bisa ditumpas dan kehidupan Islam bisa terwujud. Tidak terbatas pada tarbiyah di dalam masjid. Tapi juga mencari kekuasaan dan kekuatan untuk dapat menerapkan Islam dan menjadikan dakwah Islam sebagai kebijakan politik dari kekuasaan tersebut dalam berinteraksi dengan penduduknya dan dengan kekuasaan yang lain.

            Apakah langkah untuk mengincar kekuasaan ini ditempuh oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- ketika di Makah? Jawabnya “ya”! Ingat apa yang disabdakan rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- ketika berhadapan dengan Abu Tholib dan para pemuka Quraisy, yang notabene adalah penguasa-penguasa Makkah. Rasuulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada paman beliau di hadapan Abu Jahal dkk: “kami ingin satu kalimat yang kalian berikan kepada kami yang dengan kata itu bangsa Arab akan tunduk dan orang-orang a’jam akan membayar jizyah kepada kalian”,  Mereka berkata: “apa kalimat itu?”, rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “laa ilaaha illallaah”. Dari percakapan ini jelas, rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- telah menjadikan kalimat tauhiid bukan sebatas aqidah ruhiyah saja, tapi juga sebagai aqidah politik, yakni sebuah kalimat yang akan dijadikan alasan untuk menaklukkan bangsa-bangsa a’jam. Selain pembicaraan mengenai aqidah, sabda rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- kepada pemimpin Quraisy ini juga merupakan pembicaraan politik. Tujuannya adalah agar pemuka-pemuka Quraisy itu mau memeluk aqidah tauhiid dan mau mendukung dakwah dengan kekuasaan yang mereka miliki untuk menaklukkan bangsa-bangsa lain. Ini sesuai dengan sabda beliau -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada ilaah melainkan Allaah dan bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah, mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, jika mereka mengerjakannya, maka selamatlah darah dan harta mereka dari seranganku, kecuali dengan haknya, dan perhitungannya terserah Allah”. Secara lazim dipahami bahwa sabda beliau ini telah mengaitkan dakwah Islam dengan kekuatan dan kekuasaan. Sebab, tidak mungkin memerangi manusia dengan membawa bendera tauhid kecuali dengan kekuasaan. Beliau juga pernah bersabda sebelum berdirinya Daulah Islam di Madinah: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikan dunia ini terkumpul bagi saya. Oleh karena itu, aku dapat melihat seluruh isi dunia dari timur sampai barat. Sementara itu, wilayah kekuasaan umatku sunggh telah mencapai batas dunia tesebut sebagaimana yang kulihat”. Dengan ini jelas, rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- sejak awal telah berbicara mengenai kekuasaan yang akan menopang dakwah.

            Ketika dakwah di Makkah mengalami kebuntuan, letak kebuntuannya adalah tidak adanya tanda-tanda bahwa pemimpin-pemimpin Makkah akan memeluk Islam dan mengadopsi dakwah Islam sebagai urusan mereka, malah mereka justru terus melancarkan serangan terhadap dakwah. Maka dalam kondisi itu rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- berpaling kepada kabilah-kabilah lain dalam mencari kekuatan yang bisa menopang dan melindungi dakwah Islam. Dr.  Muhammad Khoir Haikal melihat, pencarian nushrah ke kabilah-kabilah selain Quraisy ini hanya dilakukan ketika interaksi dengan Quraisy memang sudah tidak bisa diharapkan lagi. Ini menujukkan target yang jelas, bahwa yang beliau cari adalah kesediaan para pemilik kekuasaan dan kekuatan untuk memeluk Islam dan mengadopsi kepentingan dakwah. Dan apabila kita cermati bahan pembicaraan rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- dengan para pemimpin kabilah itu, maka akan semakin jelas, bahwa beliau tidak hanya memberi nasehat dan peringatan kepada mereka untuk memeluk Islam. Tidak, urusan beliau tidak berhenti sampai di situ. Tapi pembicaraan beliau berlanjut sampai urusan kekuasaan yang dapat digunakan untuk membangun kehidupan Islam dan untuk  menopang penyebaran Islam melalui kekuatan politis.

            Berikut ini adalah beberapa cuplikan riwayat yang kutip oleh Dr. Muhammad Khair Haikal -dalam buku beliau tentang jihad- yang menunjukkan aktivitas rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- dalam berinteraksi dengan kabilah-kabilah yang beliau kontak:

            Jabir radliyallaahu ‘anhu berkata: rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- telah menawarkan diri kepada banyak orang tentang sikap tertentu, seraya bersabda: “apakah masih ada orang yang bisa membawaku kepada kaumnya?, sebab, Quraisy telah menghalangiku menyampaikan firman tuhanku. Jabir berkata: Beliau kemudian didatangi oleh seorang laki-laki dari Bani Hamdan, seraya berkata:”Aku” . Beliau lalu bertanya:”Apakah kaummu memiliki kekuatan?”.. . Dari sini jelas, rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak hanya berusaha mengIslamkan suku-suku yang beliau kontak, tapi beliau juga menginginkan kekuatan yang bisa melindungi dan menopang kepentingan dakwah Islam.

            Ketika beliau mendatangi Bani Amir bin Sho’sho’ah, maka salah seorang pemimpin bani itu berkata: “Bagaimana pandanganmu bila kami mengikutimu untuk membela urusanmu, kemudian Allah memenangkanmu atas orang-orang yang menentangmu, apakah urusan itu (kekuasaan) akan menjadi milik kami setelah engkau? Mendengar pertanyaan itu, belaiu -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- menjawab: “Urusan ini (kekuasaan) terserah Allah, dan Dialah yang akan menetapkannya sesuai kehendakkanya” . Dari petikan ini juga jelas, bahwa arah pembicaraannya adalah kekuasaan, tidak berhenti pada ajakan untuk berIslam saja.

            Dengar juga pembicaraan beliau dengan Bani Bakar bin Wail. Dalam pertemuan itu beliau -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- bertanya kepada mereka: “Bagaimana dengan jumlah kalian? Mereka menjawab: Banyak, bagai embun pagi. Beliau bertanya: Bagaimana kekuatannya? , Mereka menjawab: tanpa kekuatan, kami bertetangga dengan Persia, dan kami tidak mampu mempertahankan diri dari mereka”.

            Dengar juga perkataan Al Mutsni bin Harits dari Bani Syaybaan yang merasa tidak mampu menanggung apa yang diminta oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- karena kedekatan daerah mereka dengan kekuatan Persia: “kami melihat perkara yang engkau serukan kepada kami adalah sesuatu yang dibenci oleh para raja. Jika engkau menghendaki agar kami bisa menerima permintaanmu, dan menolongmu, termasuk perairan Arab, pasti akan kami lakukan. Mendengar perkataan itu rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “kalian tidak menolak dengan carqa yang buruk, sebab kalian sangat jelas dalam mengutarakan kejujuran. Tapi sesungguhnya agama ini tidak akan pernah Dia tolong kecuali oleh pihak yang berkuasa secara penuh”. Di dalam pembicaraan ini, rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak menghendaki pihak yang akan menolong dakwah adalah pihak yang berada pada posisi lemah, yakni di bawah dominasi kekuatan politik tertentu, seperti Persia. Maka jelas, urusan yang sedang beliau bicarakan dengan bani Syaiban adalah urusan politik. Rasulullaah saw tidak kecewa dengan penolakan mereka, sebab, yang mereka tolak bukan Islamnya, melainkan permintaan kekuatan.

            Simak juga perkataan orang-orang pertama yang bertemu rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- dari kalangan anshor sebelum baiatul ‘aqobah yang pertama.  Orang yang bertemu dengan rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- ini adalah orang yang telah memeluk Islam. Maka, pembicaraan rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- kepada mereka pun sudah tidak ditujukan untuk mengajak mereka kepada Islam. Mereka berkata kepada rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam-: “Kami akan menasehati engkau sesuai dengan apa yang menjadi pandangan kami. Maka, atas nama Allah, kami berharap engaku tenang, hingga kami kembali ke tengah-tengah kamu kami. Kami akan memberi tahu mereka tentang dirimu, mengajak mereka kepada Allah dan rasulNya, semoga saja Allah berkehendak memperbaiki hubungan di antara kami, dan mendamaikan urusan kami. Saat ini kami sama-sama saling menjauhi dan saling membenci. Jika sekarang engkau datang ke tempat kami, sementara kami belum berdamai, maka kami tidak akan memiliki satu kelompok pun yang akan membelamu. Kami berjanji untuk menemuimu pada musim haji tahun depan. Dalam riwayat lain di katakan bahwa orang-orang anshor itu berkata: “jika kelak Allah berkenan mendamaikan mereka melalui engkau, maka tidak akan ada seorang pun yang lebih mulia dari engkau“. Jelas juga di sini, bahwa yang dilakukan oleh rasulullah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak sebatas mengajak mereka untuk memeluk Islam, tapi beliau juga bicara mengenai kekuatan yang bisa membela dakwah dan memuliakan Islam, melepaskan Islam dari dominasi kekufuran. Sebab, tidak mungkin mendamaikan Aus dan Khazraj kecuali dengan “kepemimpinan yang menyatukan Aus dan Khazraj”. Di sini rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- bukan fihak yang memberi nasehat, justru sebaliknya, orang-orang Yatsrib yang memberi masukan. Ini tentu karena mereka tidak sedang bicara mengenai risalah, tapi bicara tentang strategi agar sampai pada kepemimpinan yang diinginkan.

            Dan di antara indikasi paling kuat bahwa rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- juga melakukan aktivitas politik dan menggalang kekuatan untuk meraih kekuasaan atas nama Islam adalah diangkatnya rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- sebagai kepala negara setibanya beliau di Madinah. Padahal, sebagaian penduduk Yatsrib pada waktu itu telah bersiap mengangkat Abdullah bin ‘Ubay bin Salul untuk menjadi pemimpin. Maka dari itu, kami yakin bahwa pengangkatan rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- ini telah dibicarakan dan dipersiapkan dengan baik. Orang-orang Islam pasti telah menyusun strategi dan manuver politik untuk meredam aktivitas Abdullaah bin Ubay, dan mengalahkan pengaruhnya. Hal itu jelas menunjukkan bahwa rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- telah memiliki dukungan politik di kalangan penduduk Yatsrib. Sebab, jika tidak, bagaimana mungkin pengangkatan Abdullah bin ‘Ubay bisa dibatalkan dan tidak memiliki legalitas? Padahal, pengikut Abdullaah bin Ubay tidak bisa dikatakan sedikit. Peristiwa menjelang perang uhud buktinya, dia mampu memimpin sekitar 300 orang untuk “ngambek” jama’i. Ini menunjukkan bahwa pendirian negara Islam yang pertama di Madinah dilakukan dengan usaha yang serius dan bukan suatu berkah yang kebetulan tanpa perencanaan dan strategi. Wallaahu a’lam

            Memang benar, diangkatnya rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- oleh penduduk Yatsrib sebagai pemimpin dan berdirinya Daulah Islam di sana tidak lepas dari keberhasilan tarbiyah yang dilakukan oleh Mus’ab bin Umair -radliyallahu ‘anhu- dan tokoh-tokoh muslim awal di Yatsrib. Tapi, ada hal yang perlu diperhatikan, yakni,   ketika Daulah Islam di Madinah tegak, tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa semua penduduknya telah menerima tarbiyah secara intensif, bahkah realitas menunjukkan yang sebaliknya, masih ada musyrik, ahli kitab, dan munafik. Dan jumlah mereka tidak sedikit, untuk itulah di buat Piagam Madinah. Piagam itu ditetapkan untuk mengikat pihak-pihak di luar Islam agar mereka tunduk kepada Islam. Saat Daulah Islam di Madinah berdiri, kabilah-kabilah lain juga masih musyrik. Bahkan, sebagian kerabat rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutholib di Makkah juga masih musyrik. Ini menunjukkan bahwa pendirian Daulah Islam itu tidak menunggu setelah semua orang menerima Islam. Cukup dengan kekuatan politik Islam yang mampu mengalahkan kekuatan politik dari fihak-fihak yang menjadi saingannya, seperti kekuatan Abdullah bin Ubay.

            Demikianlah, rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama-, yang merupakan orang yang paling bertaqwa kepada Allah, telah mencari dukungan politik untuk mengusung Islam sampai pada panggung kekuasaan. Dan itu beliau lakukan ketika kesyirikan masih merajalela di seluruh Jazirah Arab, bahkan dunia. Rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- membicarakan permasalahan keimanan dan kekuasaan, dengan para pemimpin kabilah, di saat kafir Quraisy masih menentang dakwah dengan gigihnya. Usaha pendirian daulah itu sudah dimulai sejak jumlah kaum muslimin baru mencapai angka seratusan. Atas dasar itu, perkataan bahwa Daulah itu tidak dibicarakan ketika masih luasnya kesyirikan adalah perkataan yang tidak benar.

            Pekataan bahwa daulah tidak usahakan kecuali setelah pendidikan tauhid dan tarbiyah  berhasil dijalankan merupakan perkataan yang masih terlalu global dan kabur. Ia tidak memiliki batasan yang jelas kapan tarbiyah itu dianggap berhasil. Sehingga, perkataan itu juga tidak menjelaskan kapan dan dalam kondisi yang seperti apa daulah itu sudah pantas untuk ditegakkan. Jika demikian, maka kita tidak akan pernah beranjak dari sini, walau sampai hari kiamat. Sebab kita tidak punya ukuran. Karena, kebutuhan tarbiyah, dalam arti memperdalam agama melalui majelis ilmu, itu merupakan kebutuhan yang tidak habis dipenuhi sampai kapan pun. Kapan proses tarbiyah selesai? ya tidak ada selesainya. Kapan usaha mendidik umat itu selesai? ya sampai kiamat. Bahkan, sampai kiamat pun akan tetap ada orang musyrik, kafir, dan munafik. Atas dasar itu, pertarungan Haq dan bathil itu terus berlanjut. Maka, jika kita hanya boleh membicarakan daulah Islam saat tarbiyah selesai, ya sama artinya dengan melarang manusia untuk mendirikan daulah sampai kiamat.

            Kita kembali membicarakan perjalanan dakwah rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama-. Setelah Daulah Islam tegak, maka dakwah rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallam- memasuki tahap ketiga, yakni penegakkan hukum Islam dan penyebaran Islam ke kabilah-kabilah Arab. Yang pertama merupakan kebijakan dalam negeri Daulah Islam, sedang yang kedua merupakan kebijakan luar negeri Daulah Islam. Target yang ditetapkan pada fase ini adalah tegaknya kehidupan Islam -melalui hukum yang ditegakkan oleh negara- dan tersebarnya Islam ke seluruh penjuru alam, melalui dakwah antar negara, hubungan diplomasi, dan jihad untuk menggempur kekuatan politis-fisik yang meghalangi dakwah.

            Sejak saat itu, dakwah tidak hanya diemban oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- maupun para shahabat rodliyallaahu ‘anhum selaku individu maupun jama’ah, tapi dakwah juga diemban oleh “Madinah”. Madinah didesain sebagai sebuah negara yang berfungi menopang kepentingan penegakkan Islam dan dakwahnya. Jadi, Madinah merupakan “mesin dakwah” yang baru. Dengannya, dakwah memasuki tahap baru dan menghadapi objek-objek yang baru pula. Jika sebelumnya dakwah hanya melakukan perekrutan individual dan seruan umum kepada masyarakat dengan menggunakan tubuh jama’ah, maka pada fase ini dakwah berhadapan langsung dengan  institusi politik seperti berbagai kabilah di Jazirah Arab dan negara di sekitarnya, seperti Yaman, Mesir, Persia, dan Bizantium, dengan menggunakan kekuatan politik negara. Maka posisi dakwah menjadi semakin kuat.

            Pada fase inilah rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama-, selaku kepala negara,  memimpin umat Islam untuk melakukan jihad -yang sebelumnya masih dilarang. Pada fase itu pula Rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- mengirim surat dan delegasi kepada para pemimpin dan penguasa. Pada fase ini juga rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- menjalin hubungan politik dengan institusi lain, baik berupa persekutuan, hubungan perang, maupun gencatan senjata dan perjanjian damai. Dengan langkah itu, satu persatu kabilah-kabilah arab ditaklukkan, dan penduduknya diIslamkan. Satu-persatu mereka mengirim delegasi ke Madinah untuk menyatakan tunduk dan masuk Islam. Dengan langkah itu pula, rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- meraih kemenangan besar, yakni takluknya kota Makkah, pada tahun VIII Hijrah. Dengan metode seperti inilah Islam menuai kemenangan dan manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah.

            Dengan kekuasaan daulah ini, seluruh tindak kesyirikan dimusnahkan, lata, uza, manat, dll dihancurkan, Baitullaah disucikan, penyembah berhala diusir, ahli kitab tunduk dengan membayar jizyah, pencuri dipotong tangannya, kecurangan dalam timbangan diluruskan, pezina didera atau dirajam, pemabuk dipukul, orang murtad dibunuh, perampok diperangi, pemberontak dibasmi, nabi palsu dikalahkan, sholat ditegakkan, zakat diserahkan, bendera Islam dikibarkan, dan kemuliaan Islam ditegakkan. Maka tertunaikan sudah amanah rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- dalam menegakkan agama tauhid.

            Tidak hanya sampai di situ. Kisah tentang Islam tidak berakhir dalam 22 tahun. Setelah rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- wafat, Islam masih tetap tegak. Abu Bakar -radliyallaahu ‘anhu- menggantikan posisi beliau -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- sebagai pemimpin negara. Dengan kepemimpinannyalah -atas izin Allah- kemurtadan yang tersebar di seluruh jazirah pasca kewafatan nabi -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- diperangi dan dikembalikan ke pangkuan Islam. Orang-orang yang enggan membayar zakat pun diperangi. Tidak bisa dibayangkan jika Islam tidak ditopang oleh negara. Mungkin ceritanya akan usai tatkala banyak kabilah arab yang murtad dan atau membangkang. Demikianlah, dengan negara yang dibangun oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- beliau bisa mempertahankan Islam dari serangan dalam dan luar. Dan negara yang belaiu warisi telah menjalankan fungsi perlindungan terhadap Islam itu sampai berabad-abad kemudian. Maka, dengan negara itu rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- benar-benar telah mempertahankan risalah yang beliau pikul agar bisa sampai kepada manusia hingga akhir zaman.

            Dengan daulah, penyebaran Islam terus dilakukan pasca kewafatan Nabi -shollallaahu ‘alaihi wa sallama-. Dengan daulah itu, Mesir dan Syam -termasuk Baitul Maqdis- dibebaskan dari tangan Bizantium. Sehingga penduduk Mesir dan Syam pun meninggalkan agama moyang mereka, dan memasuki Islam dengan berbondong-bondong. Di bawah perintah Umar -radliyallaahu ‘anhu-, kaum muslimin membebaskan wilayah Persia dan meruntuhkan imperium kafir yang telah berjaya selama berabad-abad itu. Setelah itu, satu-per-satu negeri-negeri kufur dibebaskan, dan penduduknya diIslamkan. Hingga Islam mampu melingkupi wilayah yang sangat luas, dan bertahan selama berabad-abad. Islam pernah membentang dari sebagian wilayah India sampai Maroko. Ini merupakan kekuasaan terbesar dalam sejarah.

            Begitulah peran daulah Islam dalam menyebarkan Islam. Tanpa metode seperti itu, Islam tidak mungkin keluar dari dominasi Quraisy, apalagi mendominasi dunia. Atas dasar itu, jelas bagi kita bahwa Daulah Islamiyah di Madinah tidak tepat jika dikatakan sebagai hal yang terakhir. Justru sebaliknya, Daulah merupakan kendaraan untuk bisa mengIslamkan Jazirah Arab dan negeri-negeri yang lain. Ia merupakan modal besar untuk bisa meraih kesuksesan dalam dakwah. Dengan kendaraan daulah itulah, Islam bisa tersebar ke berbagai pelosok bumi dan bertahan sampai berabad-abad. Dengan daulah itu, rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- berhasil memenuhi tugas beliau untuk menyebarkan Islam keseluruh umat manusia, dan mempertahankannya sampai sekarang.

            Demikianlah, alur yang terlihat jelas dalam perjalanan dakwah rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama-. Metode seperti inilah yang seharusnya kita teladani. Rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- tidak hanya mendirikan majelis ta’lim dalam rangka mengajari para shabatnya dengan aqidah dan hukum syara’, tanpa batasan jelas kapan beranjak menuju fase berikutnya. Tarbiyah memang senantiasa dijalankan dalam semua fase, tapi rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- selama hidupnya bukan sekedar melalukan apa yang dilakukan oleh para ulama, tapi beliau juga berperan sebagai pemimpin sebuah gerakan yang revolusioner, dalam artian, melancarkan usaha perubahan yang mendasar secara serius dan sistematis. Pertanyaannya, kalau rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- berusaha dan membangun daulah pada tahun ke 13 atau ke 12 dari kenabian, lantas kapan kita akan mulai berfikir untuk membangunnya?

E. Khotimah: Daulah Bukan Urusan Terakhir!

            Dengan apa yang telah kami telah sampaikan, jelas bahwa Daulah bukanlah tujuan dakwah, tapi dia juga bukan hasil akhir dari dakwah. Justru tegaknya daulah itu merupakan gerbang baru bagi dakwah, Islam mulai lepas dari tekanan, menggelembungkan kekuatan, serta melebarkan sayap kesegenap arah. Rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- mengendarai daulah itu untuk menerapkan Islam dan menaklukkan bangsa Arab. Dengannya Islam disebarkan, kejahiliyahan dan kesyirikan dihapuskan. Padahal, sebelum pendirian daulah itu, Islam dalam keadaan lemah. Maka kami menganggap bahwa pendirian  daulah Islam merupakan salah satu tahapan dalam metode syar’i untuk merealisasikan dan menyebarkan agama tauhid itu sendiri. Walau daulah bukan tahap yang pertama, dan pendiriannya membutuhkan proses yang panjang, tapi rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- tidak menempatkannya pada urutan terakhir. Bahkan beliau menjadikannya sebagai kendaraan untuk meraih kemenangan atas kesyirikan. Keberhasilan beliau dalam mengIslamkan seluruh Bansa Arab dan wilayah lain tidak terjadi kecuali setelah berdirinya Daulah. Lantas bagaimana jika kita menjadikan usaha mencari kendaraan itu sebagai episode terakhir dari sebuah perjalanan? Apalagi dengan tidak pernah mendiskripsikan secara jelas seperti apa ujung dari perjalanan itu. Padahal rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- -sesuai petunjuk Allah- telah berusaha mencari kendaraan dakwah yang bisa memuluskan perjalanan dakwah beliau, meskipun, perjuangan memperoleh kendaraan itu bukan suatu yang sederhana. Apakah tidak pantas jika kita ingin mencontoh metode yang beliau jalankan? Wallaahu a’alam

            Sekarang, Daulah itu telah tiada. Tak ada lagi negara yang mengemban dakwah Islam sebagaimana Madinah mengemban dakwah itu kepada negara-negara tetangga melalui diplomasi  dan jihad. Tak ada lagi negara yang bertanggunjawab untuk memerangi kekufuran, sebagaimana dulu Daulah Islam menaklukkan Makkah, Mesir, Syam, dan Persia, sehingga saat ini -tanpa daulah- sekulerisme senantiasa berjaya, menghinakan kaum muslimin.

            Maka, kita butuh perubahan. Yang kita butuhkan saat ini adalah para ulama yang tidak membatasi aktivitasnya dalam dunia ilmiah di masjid-masjid dan ma’had-ma’had saja. Kita membutuhkan para ulama yang terdiri dari para imam, mujtahid, fuqohaa, mufassiruun, muhaditsuun, insinyur, dll yang kesemuanya melibatkan diri dalam usaha melakukan perubahan menuju kehidupan yang Islami, sebagaimana usaha yang telah ditempuh oleh rasulullaah -shollallaahu ‘alaihi wa sallama- dan para shohabat ridlwanullaah ‘alaihim. Artinya, disamping membina diri dan umat dengan kajian-kajian ilmiah di berbagai majlis, kita juga masih butuh gerakan menuju perubahan dan kebangkitan.

            Zaman “jahiliyah”, yang dikendalikan oleh kapitalisme- sekuler ini, tidak akan berubah hanya dengan mencetak banyak ulama, selama ulama-ulama itu tidak memiliki batasan yang jelas kapan mereka akan melakukan gerakan praktis untuk merealisasikan perubahan menuju kehidupan Islam. Sebab, di luar sana selalu ada kekuatan kebathilan yang tidak mungkin dihancurkan dengan hujjah dan lisan. Mereka senatiasa memelihara  peradaban sekuler dengan kekuatan dan kekuasaan yang mereka miliki. Sampai hari kiamat pun syaithon-syathon itu tidak akan luluh dengan tarbiyah, bahkan mereka tidak pernah mau mencium bau para ulama yang ikhlash. Mereka selalu mengerahkan segenap daya dan upaya untuk meredam Islam. Mereka tidak akan terkalahkan walau kita telah menghasilkan jutaan ulama yang sholeh, yang menghafal seluruh warisan intelektual Islam yang tesimpan dalam jutaan kitab para ulama, baik  salaf maupun kholaf. Kecuali jika para ulama -panutan umat itu- ikut bergerak. Sebab musuh Islam yang arogan hanya bisa dikalahkan dengan kekuatan yang lebih besar. Untuk itulah, ada saatnya kita harus keluar untuk melakukan perubahan dengan mengendarai kekuatan politik, tentu saja juga dengan membawa ilmu yang kita serap dari para ulama.

            Ayyuhal ikhwah…! Apakah waktu untuk bergerak itu belum juga tiba? Wahai ribuan ulama yang tersebar di seluruh pelosok bumi! Apa yang anda tunggu? Apakah hari ini masih terlalu pagi bagi anda? Apakah jumlah kita belum cukup untuk bersuara? Apakah umat masih terlalu bodoh untuk memahami? Kapan khilafah ini akan kita perjuangkan? Apakah anda menunggu ajal sampai di tenggorokan? Jika anda tidak bergerak, maka orang lain akan bergerak dan meninggalkan anda di belakang! Jika agama ini tidak anda tolong, maka akan ada orang lain yang menolongnya! Jika hari ini anda dan murid-murid anda tidak berfikir serius untuk menegakan khilafah, maka yang menegakkan khilafah itu memang bukan anda, dan juga bukan murid-murid anda! Sebab, khilafah ini tidak akan didirikan kecuali oleh orang yang menyusun dan menjalankan langkah pendiriannya dengan matang dan serius. Alangkah malangnya jika anda hanya menyaksikan! Alaa hal balaghtu Allaahumma fasyhad…!! ! ***

            Sayyid Quthb -rahimahullaahu- mengatakan: “Agama ini adalah suatu gerakan yang diarahkan kepada kenyataan hidup manusia, diarahkan dengan cara-cara yang sesuai dengan wujud eksistensinya. Agama ini sekarang sedang menghadapi kejahiliyahan idiologis-konseptua l, yang di atasnya dibangun sistem-sistem (jahiliyah) yang realistis-praktis. Sistem (jahiliyah) ini didukung oleh kekuasaan yang memiliki kekuatan-kekuatan fisik… Islam menghadapinya dengan kekuatan dan jihad untuk menghilangkan sistem-sistem kekuasaan yang berdasarkan kepercayaan dan konsepsi yang salah itu, yang selama ini telah menjadi penghalang bagi umat manusia untuk meluruskan kembali penyelewengan- penyelewengan yang terjadi dalam aqidah dan konsepsi… Islam adalah suatu gerakan yang tidak cukup hanya dengan memberikan keterangan-keterang an (lisan) di hadapan kekuatan fisik itu. Tapi Islam juga tidak mempergunakan kekuatan fisik dalam menghadapi hati nurani manusia. Kedua hal ini sama-sama dipergunakan dalam agama ini“.  (www.syariahpublications.com)

                                                                                                                  _Ma’alimu Fii Ath-Thoriq_

____wa shollallaahu ‘alaa Sayyidinaa Muhammad, walhamdulillaahi Rabbil’aalamiin_ ___

 

 

Jogja, 4 Mei 2007, Titok Priastomo

http://www.titok. wordpress. com

Leave a Comment

Note: Email will not be displayed. Comments auto-close after 14 days.

XHTML: Line-breaks are automatic. Available tags are <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Home Tentang Kita Album Foto Buku Tamu Download Hubungi Kami Produk Tim Redaksi
There are currently 325 posts and 213 comments, contained within categories.