“Kembali ke Asas Tunggal, Untuk Apa?” ; Dokumentasi FKSK
Asas Tunggal Bentuk Ketakutan akan Partai Islam
JAKARTA — Keinginan Partai Golkar (PG), Partai Demokrat (PD) dan PDIP dalam mengusulkan asas tunggal, merupakan bentuk ketakutan mereka terhadap partai politik (parpol) Islam. Pernyataan ini disampaikan pengamat politik Fachry Ali dalam diskusi bertajuk ‘Wacana Asas Tunggal Pancasila’ di pressroom DPR, Jakarta, Jumat (21/9).
”Jelas ada ketakutan dari kelompok sekuler terhadap kekuatan politik Islam. Kelompok-kelompok sekuler ini mempunyai kekhawatiran, kelompok Islam tidak tulus dalam menjalankan demokrasi,” kata Fachry Ali. Hadir sebagai pembicara Wakil Ketua MPR AM Fatwa, Ketua Pansus RUU Parpol dari FPDIP Ganjar Pranowo, dan anggota FPG Idrus Marham.
Menurut Fachry, dalam fenomena ini memang terlihat ada keganjilan. Kelompok sekuler ini ternyata lebih suka memilih tentara melakukan kudeta militer, bila dibandingkan membiarkan kelompok Islam menang dalam pemilu. Dan adanya keinginan diberlakukannya kembali asas tunggal merupakan bentuk manuver yang ingin memberangus demokrasi.
Sedangkan, AM Fatwa, melihat upaya menyeragamkan asas parpol tidak lebih dari bentuk ‘jualan’ politik yang dilakukan PDIP, PD, maupun PG. ”Kalau sebatas jualan politik boleh-boleh saja. Tapi kalau asas tunggal Pancasila ini diarahkan mengembalikan seperti masa orde baru, hal ini sangat berbahaya.”
Menurut Fatwa, di masa Orde Baru asas tunggal Pancasila ibarat hantu yang menakutkan semua orang. Asas tunggal dijadikan senjata bagi penguasa untuk menggebuk pihak yang dianggap lawannya. Tak heran jika pada masa ini, banyak tokoh-tokoh yang masuk penjara karena dianggap menentang Pancasila. Siapapun yang tidak sepaham dengan pemerintah, langsung ditunjuk sebagai anti Pancasila.
Menanggapi pernyataan itu, Wakil Ketua Pansus RUU Parpol dari FPG, Idrus Marham, mengaku tidak sepakat dengan model asas tunggal seperti Orde Baru. Dalam konteks dulu, Pancasila diseragamkan untuk kepentingan rezim. Usulan yang ditawarkan PG adalah Pancasila sebagai asas bersama dalam kehidupan politik bangsa.
Usulan yang akan ditawarkan PG ke RUU Parpol adalah memilih antara ideologi bangsa dan ideologi partai. Rumusan yang ditawarkan itu berbunyi: Pancasila adalah common platform yang merupakan asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk parpol. Di ayat berikutnya, ditawarkan berbunyi parpol memiliki ideologi (ciri dan karakter) yang tidak bertentangan dengan Pancasila sebagai common platform bangsa. ”Dengan menjadikan asas bersama parpol, tidak berarti memberangus keragaman, ciri dan karakter yang ada,” tegas Idrus..
Ganjar Pranowo juga mempunyai gagasan seperti Idrus. Politisi PDIP tersebut menawarkan agar dipisah antara asas parpol dan asas perjuangan parpol. Dalam asas perjuangan, parpol bisa mencantumkan ciri dan identitas mereka.
Di tempat terpisah, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Suryadharma Ali, berharap jangan ada lagi usaha untuk memperhadapkan antara Islam dan Pancasila. Apalagi, Pancasila itu sebenarnya produk dari nilai Islam juga.
”Jika wacana tersebut dipaksakan, maka terjadi suatu pemikiran yang sangat mundur. Maka, persoalan itu tidak perlu diungkit kembali. Kayak gak ada kerjaan saja diributin. Pancasila kan sumbangan umat Islam. Jadi soal asas tunggal telah selesai,” katanya.
Source : http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=307924&kat_id=43
Galeri Foto :
Idrus Marham (FPG), Idham (FPDIP), Luthfie Hakim (Host), Lukman Hakiem (FPPP), Ismail Yusanto (HTI)
Mari berdiskusi dengan konseptual
Peserta FKSK
Munarman, SH
KH. Cholil Ridwan
Bapak Suparwan Parikesit
Peserta berbuka puasa bersama
(sumber : Web HTI)
Ini adalah trailer dari VCD dokumentasi acara FKSK yang diadakan tanggal 24/09 yang lalu.
“Kembali ke Asas Tunggal, Untuk Apa?”
http://fauzimubarok.multiply.com/video/item/7/Dokumentasi_Forum_Kajian_Sosial_Kemasyarakatan_FKSK_Ke_-_31












