Mempertanyakan Harmonisasi Rusia-Indonesia

Rusia , Alutsista dan Minyak.         

          Baru saja EPA diteken, Indonesia kembali kedatangan tamu dari Rusia.  Selama 20 jam, pertemuan itu membahas relasi bilateral antara Rusia-Indonesia.  Kesepakatan yang begitu menonjol adalah kerjasama alutsista (alat utama sistem persenjataan) berupa pemberian kredit dari Rusia sebanyak  US$ 1 milyar kepada Indonesia untuk membeli persenjataan Rusia termasuk enam pesawat tempur Sukhoi-30 (Kompas, 6/9/07).

         Rincian pembelanjaan alutsista kepada Rusia meliputi ;

1.

TNI AD :

-  10 Helikopter MI-17 VS dengan senjata lengkap

-     5 helikopter MI-35 P dengan senjata lengkap

2.

TNI AL :

-  2 kapal selam dilengkapi rudal ke darat

-     20 kendaraan infanteri tempur BMP- 3F

 

*) kerjasama yang diteken Sekjen. Dephan Sjafrie Sjamsoeddin senilai USD 355 juta (Jawa Pos, 7/9/07).

Republika (7/9/07) menyebutkan 6 Sukhoi  SU-27 SKM dan SU-30 MKM dibeli seharga USD 330 juta menggunakan kredit bank komersial.

         Selain kerjasama alutsista, Putin menyatakan bahwa ke depan Rusia bisa menjadi mitra strategis bagi Indonesia terutama di sektor perminyakan, pipa gas dan infrastruktur, termasuk eksplorasi mineral dan pertambangan (Kompas, 7/9/07).

         Mengapa Indonesia masih selalu mempercayai asing dalam pembelian senjata ? Padahal, di Indonesia sudah memiliki indusri senjata sendiri.  Rasanya aneh, untuk sebuah pertahanan negara, mempercayakan pembelian senjata justru kepada asing.  Toh, jadi ketahuan apa saja senjata dari pertahanan Indoneisa.  Sebab, senjata yang hakikinya adalah alat pertahanan seharusnya adalah ’rahasia dalam negeri’ sebuah negara. 

         Kesepakatan dari alutsista ternyata merambah kepada infrastruktur serta eksplorasi mineral dan pertambangan.  Saat EPA diteken, Jepang menginginkan kontrak eksploitasi gas diperpanjang demikian pula dengan volume gas yang diimpor oleh Jepang yaitu sebanyak 12 juta ton gas (//hariansib.com/2007/08/21). Ternyata, Rusia pun menginginkan eksplorasi mineral dan pertambangan.  Lukoil (perusahaan raksasa minyak Rusia) akan bekerjasama dengan Pertamina dalam eksplorasi minyak bumi.  Apakah akan menjurus kepada eksploitasi, wallahu’alam.

 

Kembali Kepada Sejarah

 

         Flashback dalam sejarah, Putin menegaskan bahwa Rusia saat di bawah Uni Soviet adalah yang pertama-tama mengakui kemerdekaan RI bahkan mengirimkan ahli Soviet membangun pabrik baja Krakatau Steel, jalan di Kalimantan, Rumah Sakit Persahabatan dan Gelora Bung Karno di Jakarta.  Bahkan saat tsunami melanda Aceh pada tahun 2004 lalu, Rusia pun turut memberikan bantuan (Kompas, 6/9/07).

         Bila harus kembali menengok sejarah masa lalu, ideologi yang diemban oleh Rusia di bawah kediktatoran Uni Soviet justru memberikan tragedi yang begitu mendalam bagi Indonesia.  Penetrasi komunisme yang khas diktatorial berlumur darah pun berkembang malang melintang di Indonesia.  Banyak kaum Muslim pun menjadi korban. 

         Mungkin sejarah berdarah itu telah termaafkan oleh bapak negara kita saat ini, selain Rusia tak lagi murni menganut Komunisme-Sosialisme karena telah mencanangkan paham demokrasi pada negaranya serta telah dibukanya keran penanaman modal asing dan terjunnya Indonesia dalam pasar bebas lebih memotivasi beliau untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.  Terbukti dengan ditandatanganinya kerjasama antar Bank Mandiri dan Alfa Bank (Rusia) yang diharapkan menjamin diakuinya keberadaan bank di Indonesia di mata dunia (Kompas, 8/9/07). 

 

Islam dan Alutsista

 

         ”Siapkanlah oleh kalian untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang; (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian, dan orang-orang selain mereka yang tidak kalian ketahui sedangkan Allah mengetahuinya” (Al-Anfal : 60)

         Rasulullah dalam mempersiapkan kekuatan persenjataan telah mendirikan industri manjaniq (senjata pelontar) dengan Salman Al Farisi sebagai direktur industri senjata terebut, selain itu Rasulullah juga memproduksi dababah (tank dari kayu).  Segala upaya ini dilakukan untuk mempersenjatai pasukan Daulah Islam secara mandiri untuk menggentarkan musuh tanpa campur tangan atau intervensi asing.

         Dalam kitab Ajhizatu Ad-Daulah Al-Khilafah dijelaskan bahwa Daulah Islam tidak boleh menggantungkan keperluan senjata dengan membeli dari negara-negara lain.  Sebab akan mempermudah posisi negara pemasok senjata dalam mendikte daulah bahkan mengendalikan kehendak mereka terhadap persenjataan daulah entah itu jumlah pasokan senjata, tata cara penggunaan senjata serta syarat-syarat pembelian.  Ketergantungan negara pembeli kepada negara pemasok membuat kendali negara pemasok semakin kuat dan negara pembeli dalam posisi tunduk di bawah negara pemasok.

         Berarti, dalam syariah, industri senjata memang wajib didirikan, dimiliki dan dikelola oleh negara demi kekuatan pertahanan negara tersebut.  Apakah PT. DI dan Pindad sebagai industri alutsista Indonesia sudah tidak mumpuni ?

 

Permainan Kapitalisme Global

         Sebagai salah satu negara adidaya, memang Rusia mulai menebarkan jaring penetrasi meraih untung di Indonesia.  Prinsip yang diterapkan, ‘Anda bisa beli dari saya, bila anda tak punya uang untuk membelinya maka anda bisa berhutang uang kepada saya tentunya dengan bunga, untuk membeli barang yang saya jual kepada anda ’ adalah prinsip kapitalisme global yang kembali menjerat Indonesia.

         Ah..lagi-lagi Indonesia masuk perangkap. (www.syariahpublications.com)

 

Wallahu’alam bishshawab.

 

                                                       (freelance writer & MP’er @ miamey.multiply.com

Leave a Comment

Note: Email will not be displayed. Comments auto-close after 14 days.

XHTML: Line-breaks are automatic. Available tags are <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Home Tentang Kita Album Foto Buku Tamu Download Hubungi Kami Produk Tim Redaksi
There are currently 325 posts and 213 comments, contained within categories.