ABSURDITAS DEMOKRASI

Oleh : Mia Endriza Y.,S.P.

 
Syariah Publications. Kini genderang pemurnian penerapan demokrasi kembali ditabuh.  Penindasan dan penzaliman rakyat oleh kesewenangan pemerintah kian hari kian memanas. Junta Militer vs Bhiksu serta rakyat pro-demokratik, Bush vs rakyat anti global war on terrorism dan Patriot Act, Indonesia vs aktivis pro demokrasi, adalah bukti pengingkaran dari pelaksanaan demokrasi oleh negara. Vox populi vox dei is die !

         Demokrasi pun menjadi opini yang hangat untuk didiskusikan dan bahan analisa bagi publik.  Bahkan, di Kota Seribu Sungai yang terkenal religius menjadikan demokrasi sebagai bahan diskusi pada saat acara buka puasa bersama. 

         Menarik untuk dicermati bila pemikiran demokrasi yang lahir dari pemikir Yunani ini lalu dipopulerkan oleh para pemikir sekularis Barat seperti Montesquie, JJ Roseau dan kawan-kawan hingga membobol dark age Barat dengan Revolusi Prancisnya dikatakan sama dengan sistem pemerintahan Islam.  Dimana persamaannya ? Persamaannya terletak pada mengakui persamaan, kebebasan dan musyawarah dalam mengambil keputusan (Radar Banjarmasin, 30 September 2007).

         Unsur persamaan antara demokrasi dan Islam dimana mengakui persamaan, kebebasan dan musyawarah dalam mengambil keputusan memang ada benarnya.  Namun, bila dianalisa lebih jeli maka sebenarnya ada 2 poin yang tidak dapat diganggu gugat.  Demokrasi berpegang kepada kedaulatan rakyat, sedangkan Islam berpegang kepada kedaulatan syara’.  Sehingga bila terjadi sinkretisme antara Islam dan Demokrasi maka Islam tak lagi murni sebagaimana Islam yang semestinya, demikian pula demokrasi tak akan murni sebagai demokrasi yang sebenarnya. 

         Pelaksanaan dalam kehidupan jelas akan terjadi kontradiksi, baik antara Islam dan demokrasi.  Sehingga apa yang awalnya dikatakan memiliki persamaan, pada hakikiknya persamaan antara Islam dan Demokrasi akan terpisah dalam 2 kutub yang berbeda dikarenakan Islam yang memegang teguh kedaulatan Syara’ artinya Islam berjalan sebagaimana yang diatur syara’ sedangkan Demokrasi berpegang teguh pada kedaulatan rakyat artinya demokrasi berjalan sebagaimana yang dikehendaki rakyat sebagaimana slogan demokrasi Vox Populi Vox Dei yang mengakibatkan apapun yang dikehendaki rakyat maka negara harus menghormati dan mewujudkannya. 

         Lalu mengapa demokrasi itu absurd ?

         Demokrasi itu absurd sebab mengharapkan pemerintahan berkedaulatan rakyat, karena pada hakikinya rakyat tidak akan pernah berdaulat, rakyat pun tidak akan pernah mampu membuat aturan, rakyat hanya memahami bahwa mereka harus diayomi oleh pemerintahnya.  Bila memimpikan rakyat adalah pihak yang berdaulat maka yang bermain adalah kepentingan penguasa dan golongan saja dengan mengatasnamakan keinginan rakyat.  Bila memimpikan rakyat adalah pemegang kedaulatan, maka pemerintah yang memang sejatinya adalah abdi rakyat sama saja tidak memahami sisi baik dan benar dari yang diinginkan oleh rakyatnya karena manut dan tunduk kepada kedaulatan rakyat, apapun yang rakyat inginkan lalu dituruti.  Aturan pun dibuat sendiri oleh manusia tanpa ada rasa ketergantungan kepada Al-Khalik karena memang demokrasi tidak berlandaskan agama.

         Dalam pemerintahan Islam, ide kuno macam demokrasi yang populer akibat kompromi antar rakyat, pemerintah dan gereja dari Westphalia Agreement demi golnya sekulerisme bukanlah ide yang shahih untuk dijadikan solusi kehidupan karena pada dasarnya hanya Syari’ (Sang Pembuat Hukum) yang memahami apa yang terbaik bagi seluruh makhluk-Nya.  Islam sebagai dien yang sempurna dalam kehidupan dan telah terlaksana sebagai ideologi dalam pemerintahan sejak kepemimpinan Rasulullah Saw. hingga Utsmaniyah pada 3 Maret 1924 mengayomi berbagai macam ragam suku, ras, bahasa, bahkan agama hingga menembus batas geografis.  Maka jelas sudah, the perfect solution is Dari Sang Khalik, Oleh Sang Khalik, Untuk Seluruh Makhluk Semesta Alam.

         Umat Islam sebagai umat yang diberi potensi ketinggian berpikir sebaiknya mampu menganalisa ide-ide yang ditawarkan sebagai solusi kesejahteraan hidup.  Cerdaskan diri, cerdaskan imani.  Koreksilah dengan ma’ruf segala pernyataan maupun kebijakan para petinggi dan intelektual baik lokal maupun internasional bila telah menyimpang dari Islam yang adalah ideologi agung  tiada taranya.

         Jadikan Ramadhan sebagai starting point untuk kembali kepada Islam.  Allahu Akbar ! Wallahu’alam bish shawab. (www.syariahpublications.com)

         (*Aktivis Aliansi Penulis Pro Syariah

 Kalimantan Selatan

Leave a Comment

Note: Email will not be displayed. Comments auto-close after 14 days.

XHTML: Line-breaks are automatic. Available tags are <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Home Tentang Kita Album Foto Buku Tamu Download Hubungi Kami Produk Tim Redaksi
There are currently 325 posts and 213 comments, contained within categories.