Le Croissant, Paus Benedictus XVI dan Penghinaan terhadap Diri Sendiri
Oleh : Nopriadi
(Urang Banjar, Staf Pengajar di Universitas Gadjah Mada,
Syariah Publications
Croissant simbol pelecehan dan keberuntungan Eropa
Le croissant adalah sejenis roti kecil berbentuk bulan sabit. Di Perancis, negara yang memiliki populasi muslim terbesar di Eropa, orang biasa menyantapnya bersama secangkir kopi di pagi hari. Makanan asli
Tahun 1683 pasukan muslim mengepung
Demikianlah, croissant bukan sekedar ungkapan lega Eropa lepas dari ancaman kekalahan, tapi merupakan simbol pelecehan.
Benedictus dan kepercayaan diri Barat
Lain Croissant, lain pula pelecehan yang diberikan The West pasca kemunduran dunia Islam. Setelah Barat merasa kuat dan berhasil melemahkan dunia (Islam), maka mereka tidak sungkan-sungkan untuk secara terbuka melakukan penghinaan terhadap kaum muslimin. Kita bisa melihat rentetan penghinaan ini mulai tahun 1989, ketika terbit buku yang menggemparkan dunia, The Satanic Verses, tulisan Salman Rusdi. Buku ini menggambarkan al-Qurán sebagai ayat-ayat setan. Penulis yang divonis mati oleh Imam Khomeini ini sampai sekarang dilindungi oleh Inggris. Berikutnya Juli 1997, seorang wanita Yahudi yang bernama Talyana Suskin membuat dan menyebarkan 20 poster yang berisi penghinaan terhadap Islam dan Muhammad saw. Diantara karyanya adalah poster seekor babi yang mengenakan kafiyeh ala
Tahun 2005 dan 2006 adalah tahun dimana Eropa mengukuhkan keberanian dan kepercayaan dirinya menghina secara terbuka umat Islam dengan menyebarkan kartun dan tulisan yang berisi penghinaan terhadap Rasulullah saw di berbagai media. Koran Jyllands-Posten misalnya, pada September 2005 mempublikasikan kartun yang menggambarkan Muhammad saw dengan wajah bengis, membawa pedang dan menenteng ‘bom’. Kartuni ini kemudian dirilis oleh media-media Barat.
Selain itu Le Figaro memuat opini Robert Redeker, seorang filosof Prancis dan guru sekolah menengah atas, dengan kalimat penghinaan: ” Prajurit tak kenal ampun, penjarah, pembunuh Yahudi dan poligamis — begitulah Muhammad menggambarkan dirinya di dalam Al-Quran… Kebencian dan kekerasan hidup di dalam buku yang dipelajari setiap muslim, Al-Quran”.
Penghinaan Barat terhadap dunia Islam, seolah diamini secara religius, ketika dengan artikulasi lantang Paus Benedictus XVI menghina Islam dan Muhammad saw pada 12 September 2006 di sivitas akademika Universitas of Regensburg, Jerman. Sang Paus mengutip pernyataan Kaisar Byzantium Manuel II Paleologos dengan ungkapan : ‘’Tunjukkan padaku apa yang baru dari Muhammad, dan yang kau temukan hanyalah hal yang berbau iblis (evil) dan tak manusiawi, seperti perintahnya untuk menyebarkan agama dengan pedang‘’.
Bila croissant adalah pelecehan yang muncul sebagai ungkapan rasa beruntung bisa menggagalkan futúh dunia Islam (super power dunia saat itu), maka pelecehan bertubi paca runtuhnya Khilafah Islamiyah tahun 1924 adalah pelecehan-pelecehan untuk menunjukkan dominasi kekuatan Barat terhadap dunia Islam.
Awas ! Penghinaan terhadap diri sendiri
Untuk itu kita perlu mengenali ideologi ini agar tidak terjebak pada pelecehan terhadap diri sendiri. Liberalisme, menurut kesepakatan para pakar, diartikan sebagai kebebasan atau liberte individu. Ia berisi tawaran konsep tentang manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya rasional dan mampu menjalankan urusannya tanpa memerlukan pengawasan dari gereja dan raja (Ian Adams, Political Politcs Today :1993). Liberalisme, sejajar dengan komunisme dan Islam, merupakan ideologi sistematik dan koheren yang memiliki kode tersendiri tentang moralitas dan doktrin keadilan politik dan sosial. Ketiganya memiliki sifat universal, menjangkau semua manusia sebagai manusia dan bukan hanya untuk anggota dari kelompok etnis atau bangsa tertentu(Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man :1992) Jadi, liberalisme, sering juga disebut sebagai kapitalisme dan sekulerisme, merupakan ideologi menyeluruh yang mengatur aspek ekonomi,sosial, politik, hukum, budaya bahkan pemikiran.
Bila croissant dimakan dan dicerna kemudian terurai menjadi senyawa-senyawa yang dibutuhkan tubuh, sebagian menjadi vitamin untuk memperlancar metabolisme, sebagian menjadi protein untuk pertumbuhan sel dan sebagian berupa karbohidrat sebagai energi untuk melakukan aktifitas, maka liberalism akan berbeda cara kerjanya. Ia bukanlah protein atau kabohidrat yang bermanfaat untuk tubuh, namun lebih sebagai racun akal budi. Bila ia dimasukan ke dalam pikiran, dipelajari dengan ridha’, dipahami dengan antusias, diterima dengan lapang dada, maka akibatnya ia akan menjadi persepsi, menjadi standar dan diterima secara bulat serta diamalkan dalam perbuatan. Dampaknya, terlalu banyak mengkonsumsi liberalism maka tidak membuat kulit menjadi putih, melainkan pikiran dan tabiat, meminjam istilah mas Amien Rais, akan mengalami westoxiation.
Perlu diwaspadai ! Pemikiran liberal saat ini sangat digandrungi oleh sebagian kalangan anak muda yang sejatinya terlahir dari rahim seorang muslimlah. Makanan yang berbentuk ideologi ini membuat mereka menjadi sangat militan, radikal, berani dan juga kurang ajar. Mereka mengalami apa yang disebut oleh Abul Hassan Bani Sadr sebagai westomania, sejenis penyakit kejiwaan yang menganggap Barat adalah segala-galanya.
Pemikiran liberalisme yang sudah masuk dalam diri anak-anak muda ini menjadikan penganutnya merasa memiliki hak dan kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri, terutama dalam urusan publik. Seorang liberal cenderung untuk menafikan aturan Allah SWT dalam kehidupan manusia. Kalo dia beragama, yang membedakannya dengan atheis, maka ia akan memilih-milih aturan Al-Khaliq yang layak menurut akalnya. Sampai-sampai dalam masalah agama sebagian mereka membuat kaidah ushul fiqh palsu yang berbunyi Tanqíh nushush bi’aql al-mujtama’ (boleh mengoreksi teks dengan akal [pendapat] publik)(Lihat www.islamlib.com publikasi 24/12/2003). Artinya, bila goyang nge-bor dan pakaian tidak senonoh diterima oleh masyarakat
Sesuatu yang paling berharga bagi diri umat Islam adalah harga diri. Harga diri yang paling utama adalah ketaatan kepada Allah swt dalam segala hal. Umat Islam adalah umat yang menempatkan diri sebagai hamba, mengabdi, tunduk dan patuh terhadap Allah swt. Besarnya harga diri umat terletak pada seberapa patuh dan taatnya mereka pada aturan Allah swt. Tidak ada yang paling menyakitkan selain tercerabutnya ketaatan, keyakinan dan identitas ini pada diri umat. Namun, ternyata Barat secara sistematis menyuntikan virus kedurhakaan pada diri umat. Ini dilakukan oleh barat dengan menyebarkan ide-ide liberalisme ke dunia Islam dengan berbagai macam cara. Sehingga, harus kita ingat, mengadosi nilai dan pemikiran ini menunjukkan tercerabutnya harga diri umat karena berpaling dari Allah swt kepada mereka (Barat). Untuk itu perlu kita waspadai dan membentengi umat terhadap pelecehan terhadap diri sendiri. Wallahu’alam. (www.syariahpublications.com)
