Site menu:

Komentar Pengunjung

Kalender

July 2008
S M T W T F S
« Jun   Aug »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Meta

Site search

Kategori

Artikel yang lalu

Statistik

Kapan Inul Bisa Merdeka?

Oleh : Akmal Sjafril

Syariah Publications. Sesungguhnya, setiap kali melihat wajah Inul Daratista, saya merasakan iba yang sangat mendalam.  Dari sorot mata yang masih memancarkan sebentuk kepolosan itu, kelihatannya banyak hal yang belum ia mengerti di dunianya sendiri.  Inul tidak lebih dari sebuah boneka yang dipermainkan oleh banyak tangan perkasa di sekitarnya.  Fitrahnya ingin merdeka, namun dunia hiburan yang penuh ilusi telah menjadikannya budak yang bergelimang harta.  Biarpun kaya raya, ia tetaplah budak yang tak bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.

 
Dulu, ketika sang raja dangdut Rhoma Irama menegurnya, Inul menangis sejadi-jadinya dan menyatakan diri akan bertaubat dari goyang ngebor yang penuh maksiat itu.  Pertemuan diakhiri dengan acara cium tangan, menunjukkan itikad baik Inul sebagai ‘warga dangdut’ yang taat pada rajanya.  Pada hari itu, seolah-olah Inul telah mendapat inspirasi agung yang membuatnya yakin bahwa ia bisa sukses di jalur dangdut tanpa harus mengeksploitasi pinggulnya.

 

Sayang, episode pertaubatan yang sangat mengharukan itu sirna begitu saja setelah Inul bertemu dengan Gus Dur.  Tokoh spesialis kontroversi yang satu ini memang gemar dengan segala hal yang ditentang oleh jumhur ulama.  Jika para ulama menentang eksploitasi syahwat di atas panggung musik, maka Gus Dur justru mendukungnya.  Dengan dukungan (a)moral dari Gus Dur, Inul pun kembali mantap bergoyang.  Apalagi saat itu ia sudah tidak lagi sendirian di genre musik plus syahwat ini.  Sudah banyak juniornya yang bermunculan, baik yang namanya besar di level nasional maupun yang baru bisa manggung dari desa ke desa.

 

Prestasi Inul sebagai pelopor memang luar biasa.  Bisa dibilang, Inul adalah lokomotif penarik gerbong yang sangat perkasa.  Di belakangnya ada Anisa Bahar, Dewi Perssik, dan lain-lain.  Belum lagi para penari erotis yang manggung dari desa ke desa tanpa pernah diliput pers.  Barangkali Inul pun tak tahu bahwa ‘adik-adik kelasnya’ begitu gencar bergerilya di desa-desa.  Jika fans Inul yang di kota-kota besar ikut bergoyang bersamanya, maka orang-orang desa hanya bisa terbengong-bengong menyaksikan para penari erotis menginvasi kampungnya.  Mulai dari orang tua sampai anak kecil, semua ikut menyaksikan, tak ubahnya seperti pagelaran wayang kulit saja.

 

Mereka yang tinggal di kota mungkin merasa biasa-biasa saja menyaksikan para penyanyi dangdut melenggak-lenggokkan pinggulnya yang dibalut celana superketat di atas panggung.  Sebagian bahkan merasa jijik karena sudah muak dengan eksploitasi sensualitas semacam itu yang dijumpainya di mana-mana ; di TV, majalah, bioskop, bahkan di tempat kerja.  Tapi bagaimana dengan orang-orang desa yang begitu polos, yang selama ini belum pernah dibakar bara syahwat sehebat itu?  Mereka yang selama ini hidupnya begitu sederhana, begitu bersahaja, sekedar mencari isi perut untuk kini dan esok, kini hidupnya dibikin rumit dengan imajinasi-imajinasi liar yang tak mau sirna sebelum benar-benar diwujudkan nyata.  Pemuda-pemuda yang selama ini dibesarkan dengan sekolah, kesibukan membantu orang tua di sawah-ladang, dan mengaji di surau, sementara matanya telah terbiasa melihat lawan jenis yang tertib menutup auratnya, kini dibikin susah hidupnya dengan tontonan seronok semalam suntuk.

 

Diantara orang-orang yang dibikin susah hidupnya oleh para penari erotis itu, ada yang tidak sabar dan mengambil jalan pintas.  Prosesnya halus dan bertahap.  Mulai dari rajin mendatangi panggung-panggung dangdutan, kemudian menyisihkan uang untuk membeli majalah-majalah yang menampilkan foto-foto seronok, membeli VCD porno yang dijual bebas tanpa harus takut dengan aparat keamanan, mencari pacar yang bisa dijadikan objek, sampai akhirnya gelap mata jika sang pacar tak mau menuruti keinginannya.  Tidak terjadi dalam semalam.  Tidak ada yang tiba-tiba, dan tidak ada kebetulan.

 

Bagaimana pun, fitrah seorang Inul Daratista yang lahir dan besar sebagai seorang Muslimah tetap nyaring berbunyi.  Terbukti, Inul masih rindu dengan Baitullah.  Seperti artis-artis pada umumnya, Inul pun tidak lupa untuk datang menengok rumah yang paling sering dikunjungi manusia sedunia itu.  Di Tanah Suci, saya yakin, setiap Muslim pasti akan bergetar hatinya.  Bahkan Snouck Hugronje pun pasti bergetar hatinya di sana.  Hanya saja, terasa atau tidaknya getaran itu sepulang dari Tanah Suci adalah hal yang lain lagi.  Banyak sekali manusia yang menangis-nangis di hadapan Ka’bah dan mendeklarasikan taubat nasuha, namun sepulangnya dari sana, kembalilah ia pada profesi sebagai model seronok, politikus bejat, bahkan tukang tipu tanah pun ada.

 

Kini, Inul terombang-ambing kembali dengan sikap keras sebagian pejabat Malaysia yang melarangnya tampil.  Tidak ada toleransi sedikitpun pada seorang Inul.  Ketika ia mendarat di Malaysia, kabar itu langsung dilemparkan ke wajahnya.  Maka Inul pun kembali menangis sejadi-jadinya di depan kamera.  Ia kembali kebingungan, sebagaimana yang sudah-sudah.  Fitrahnya mengatakan bahwa apa yang dilakukannya selama ini salah, tapi sponsor terus mengalir.  Dukungan (a)moral terus datang dari para ‘seniman’, dan selalu ada saja yang memiliki cukup uang untuk memastikannya bisa tampil.  Entah dimana.

 

Saya membayangkan, suatu hari nanti, Inul bisa sepenuhnya merdeka menentukan jalannya sendiri.  Dengan demikian, ia tak perlu lagi mengkhianati hati kecilnya yang sudah berteriak-teriak minta diperhatikan.  Namun masalah belum selesai.  Jika Inul dan hati kecilnya telah merdeka, saya sulit membayangkan betapa pedih perasaannya ketika akhirnya ia menyadari betapa besarnya masalah yang ditimbulkan oleh aksi goyang yang dipopulerkannya ke seluruh pelosok negeri.  Duhai, pedihnya penyesalan! (www.syariahpublications.com)

 

Sumber : http://akmal.multiply.com/journal/item/684

 

Tulis Komentar