Kapan Inul Bisa Merdeka?
Oleh : Akmal Sjafril
Dulu, ketika sang raja dangdut Rhoma Irama menegurnya, Inul menangis sejadi-jadinya dan menyatakan diri akan bertaubat dari goyang ngebor yang penuh maksiat itu. Pertemuan diakhiri dengan acara cium tangan, menunjukkan itikad baik Inul sebagai ‘warga dangdut’ yang taat pada rajanya. Pada hari itu, seolah-olah Inul telah mendapat inspirasi agung yang membuatnya yakin bahwa ia bisa sukses di jalur dangdut tanpa harus mengeksploitasi pinggulnya.
Sayang, episode pertaubatan yang sangat mengharukan itu sirna begitu saja setelah Inul bertemu dengan Gus Dur. Tokoh spesialis kontroversi yang satu ini memang gemar dengan segala hal yang ditentang oleh jumhur ulama. Jika para ulama menentang eksploitasi syahwat di atas panggung musik, maka Gus Dur justru mendukungnya. Dengan dukungan (a)moral dari Gus Dur, Inul pun kembali mantap bergoyang. Apalagi saat itu ia sudah tidak lagi sendirian di genre musik plus syahwat ini. Sudah banyak juniornya yang bermunculan, baik yang namanya besar di level nasional maupun yang baru bisa manggung dari desa ke desa.
Prestasi Inul sebagai pelopor memang luar biasa. Bisa dibilang, Inul adalah lokomotif penarik gerbong yang sangat perkasa. Di belakangnya ada Anisa Bahar, Dewi Perssik, dan lain-lain. Belum lagi para penari erotis yang manggung dari desa ke desa tanpa pernah diliput pers. Barangkali Inul pun tak tahu bahwa ‘adik-adik kelasnya’ begitu gencar bergerilya di desa-desa. Jika fans Inul yang di kota-kota besar ikut bergoyang bersamanya, maka orang-orang desa hanya bisa terbengong-bengong menyaksikan para penari erotis menginvasi kampungnya. Mulai dari orang tua sampai anak kecil, semua ikut menyaksikan, tak ubahnya seperti pagelaran wayang kulit saja.
Mereka yang tinggal di
Diantara orang-orang yang dibikin susah hidupnya oleh para penari erotis itu, ada yang tidak sabar dan mengambil jalan pintas. Prosesnya halus dan bertahap. Mulai dari rajin mendatangi panggung-panggung dangdutan, kemudian menyisihkan uang untuk membeli majalah-majalah yang menampilkan foto-foto seronok, membeli VCD porno yang dijual bebas tanpa harus takut dengan aparat keamanan, mencari pacar yang bisa dijadikan objek, sampai akhirnya gelap mata jika sang pacar tak mau menuruti keinginannya. Tidak terjadi dalam semalam. Tidak ada yang tiba-tiba, dan tidak ada kebetulan.
Bagaimana pun, fitrah seorang Inul Daratista yang lahir dan besar sebagai seorang Muslimah tetap nyaring berbunyi. Terbukti, Inul masih rindu dengan Baitullah. Seperti artis-artis pada umumnya, Inul pun tidak lupa untuk datang menengok rumah yang paling sering dikunjungi manusia sedunia itu. Di Tanah Suci, saya yakin, setiap Muslim pasti akan bergetar hatinya. Bahkan Snouck Hugronje pun pasti bergetar hatinya di
Kini, Inul terombang-ambing kembali dengan sikap keras sebagian pejabat
Saya membayangkan, suatu hari nanti, Inul bisa sepenuhnya merdeka menentukan jalannya sendiri. Dengan demikian, ia tak perlu lagi mengkhianati hati kecilnya yang sudah berteriak-teriak minta diperhatikan. Namun masalah belum selesai. Jika Inul dan hati kecilnya telah merdeka, saya sulit membayangkan betapa pedih perasaannya ketika akhirnya ia menyadari betapa besarnya masalah yang ditimbulkan oleh aksi goyang yang dipopulerkannya ke seluruh pelosok negeri. Duhai, pedihnya penyesalan! (www.syariahpublications.com)
Sumber : http://akmal.multiply.com/journal/item/684
Diposting pada tanggal : 23-July-2008
dalam kategori Renungan.
Komentar: none
Tulis Komentar