Oleh: Fathiy Syamsuddin Ramadhan An Nawiy
SyariahPublications.Com — Pada hakekatnya, tidak ada pembuktian terbalik di dalam Islam, baik dalam kasus yang mengharuskan adanya penggugat maupun tidak. Seorang hakim atau qadliy dilarang menjatuhkan vonis hukum sebelum ada bukti syar’iy yang jelas. Seorang hakim tidak boleh menghukum atau memvonis seseorang jika tidak ada bukti syar’iy. Adapun dalil yang menunjukkan tidak adanya pembuktian terbalik dalam Islam adalah sebagai berikut;
Pertama, Al Quran telah mewajibkan penggugat untuk menghadirkan saksi di hadapan majelis peradilan. Allah swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلَّا تَرْتَابُوا إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah Mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. [TQS Al Baqarah (2):282]
Imam Ibnu Katsir menjelaskan frase [wastasyhiduu syaahidain min rijaalikum], “Ini adalah perintah untuk menghadirkan saksi (al-isyhaad) bersama dengan tulisan untuk menambah kepercayaan”. [Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, al-Baqarah:282]
Imam Abu Ja’far Ath Thabariy menyatakan, “Bersaksilah atas hak-hakmu dengan dua orang saksi”. [Imam Thabariy, Tafsir Ath Thabariy, QS. 2:282]
Perintah untuk menghadirkan saksi bagi orang-orang yang ingin menuntut haknya menunjukkan bahwa seorang Muslim wajib menghadirkan bukti atas setiap tuntutannya. Adapun bukti yang secara syar’iy absah digunakan sebagai alat bukti adalah kesaksian dari saksi yang adil, sumpah, pengakuan (iqrar), dan dokumen-dokumen tertulis.
Kedua, perilaku Nabi saw yang tidak menjatuhkan sanksi atau vonis sebelum ada bukti yang jelas.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ هِلَالَ بْنَ أُمَيَّةَ قَذَفَ امْرَأَتَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَرِيكِ ابْنِ سَحْمَاءَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيِّنَةُ أَوْ حَدٌّ فِي ظَهْرِكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذَا رَأَى أَحَدُنَا عَلَى امْرَأَتِهِ رَجُلًا يَنْطَلِقُ يَلْتَمِسُ الْبَيِّنَةَ فَجَعَلَ يَقُولُ الْبَيِّنَةَ وَإِلَّا حَدٌّ فِي ظَهْرِكَ
“Dari Ibnu ‘Abbas ra dituturkan bahwasanya Hilal bin Umayyah menuduh isterinya berbuat zina (qadzaf) dengan Syarik bin Sahma` di hadapan Nabi saw. Nabi saw bersabda, “(Kamu mengajukan bukti) atau had (dera) di punggungmu”. Hilal bin Umayyah berkata, “Ya Rasulullah jika seorang di antara kami melihat isterinya bersama dengan seorang laki-laki harus pergi dan mencari bukti. Maka, hal itu menjadikan beliau bersabda, “(Kamu mengajukan) Bukti atau had akan dijatuhkan di atas punggungmu”.[HR. Imam Bukhari]
Imam Tirmidziy menuturkan sebuah hadits dari Wail bin Hujr dari bapaknya, bahwasanya ia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ وَرَجُلٌ مِنْ كِنْدَةَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الْحَضْرَمِيُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هَذَا غَلَبَنِي عَلَى أَرْضٍ لِي فَقَالَ الْكِنْدِيُّ هِيَ أَرْضِي وَفِي يَدِي لَيْسَ لَهُ فِيهَا حَقٌّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْحَضْرَمِيِّ أَلَكَ بَيِّنَةٌ قَالَ لَا قَالَ فَلَكَ يَمِينُهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ فَاجِرٌ لَا يُبَالِي عَلَى مَا حَلَفَ عَلَيْهِ وَلَيْسَ يَتَوَرَّعُ مِنْ شَيْءٍ قَالَ لَيْسَ لَكَ مِنْهُ إِلَّا ذَلِكَ قَالَ فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ لِيَحْلِفَ لَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أَدْبَرَ لَئِنْ حَلَفَ عَلَى مَالِكَ لِيَأْكُلَهُ ظُلْمًا لَيَلْقَيَنَّ اللَّهَ وَهُوَ عَنْهُ مُعْرِضٌ
“Seorang laki-laki dari Hadlramaut dan seorang laki-laki dari Kindah menemui Nabi saw. Orang Hadlramaut berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya laki-laki ini telah merebut tanah milikku”. Laki-laki dari Kindah menukas, “Tanah itu adalah milikku dan berada dalam penguasanku. Dia tidak memiliki hak atas tanah itu sedikitpun”. Nabi saw bertanya kepada orang Hadlramaut, “Apakah anda punya bukti? Lak-laki itu menjawab, “Tidak punya”. Nabi bersabda, “Maka, hak kamu adalah sumpahnya”. Laki-laki Hadlramaut itu berkata lagi, “Ya Rasulullah, dia ini adalah laki-laki fajir yang tidak pernah peduli dengan apa yang ia sumpahkan, dan dia tidak pernah berhati-hati terhadap sesuatu”. Nabi bersabda, “Kamu tidak punya hak darinya kecuali hal itu (sumpah)”. Perawi berkata, “Laki-laki itu pun maju dan bersumpah kepadanya”. Ketika laki-laki dari suku Kindah itu selesai bersumpah, Rasulullah saw bersabda, “Jika ia bersumpah kepada pemiliknya untuk memakan hartanya dengan cara dzalim, sungguh, ia akan menemui Allah swt dalam keadaan Dia berpaling darinya”.[HR. Imam Tirmidziy]
Imam Tirmidziy juga menuturkan sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas ra
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى أَنَّ الْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ أَنَّ الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِي وَالْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْهِ
“Rasulullah saw telah menetapkan bahwa sumpah itu wajib atas orang yang didakwa”. Abu ‘Isa berkata, “Hadits ini hasan shahih, dan diamalkan oleh ahli ilmu dari kalangan shahabat Nabi saw dan selain mereka, bahwasanya bukti itu wajb atas pendakwa dan sumpah itu wajib atas yang didakwa”.[HR. Imam Tirmidziy]
Imam Malik bin Anas ra, menuturkan sebuah hadits
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ الرَّجْمُ فِي كِتَابِ اللَّهِ حَقٌّ عَلَى مَنْ زَنَى مِنْ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ إِذَا أُحْصِنَ إِذَا قَامَتْ الْبَيِّنَةُ أَوْ كَانَ الْحَبَلُ أَوْ الْاعْتِرَافُ
“Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas dituturkan bahwasanya ia berkata, “Saya mendengar Umar bin Khaththab ra berkata, “Rajam di dalam Kitabullah adalah hak bagi laki-laki dan wanita muhshon yang berzina, jika telah tegak bukti, atau hamil, atau pengakuan“.[HR. Imam Malik ra dalam al-Muwatha']
Ketiga, dalam menindak suatu kasus, Nabi saw tidak mencukupkan hanya dengan apa yang beliau lihat dan saksikan, akan tetapi beliau juga memperjelas dengan pengakuan. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra tentang kecurangan yang dilakukan oleh pedagang makanan;
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
“Rasulullah saw tengah melintasi seonggok makanan. Lalu, beliau memasukkan tangannya ke dalam makanan tersebut. Jari-jari beliau mendapati sesuatu yang basah. Beliau pun bertanya, “Apa ini, wahai pemilik makanan?”. Penjual makanan itu menjawab, “Makanan itu tertimpa air hujan, Ya Rasulullah”. Rasulullah saw bersabda, “Mengapa makanan yang basah itu tidak kamu taruh di atas, agar orang-orang bisa melihatnya? Barangsiapa menipu maka ia bukan termasuk golonganku”.[HR. Muslim]
Riwayat di atas menunjukkan kepada kita bahwa seorang qadliy tidak boleh menghukum pelanggar dalam kasus-kasus delik umum, sebelum ada bukti yang jelas.
Keempat, Nabi saw tidak memutuskan suatu perkara berdasarkan apa yang beliau ketahui, namun berdasarkan bukti-bukti syar’iy. Imam Abu Dawud menuturkan sebuah hadits dari Aisyah ra:
َ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ أَبَا جَهْمِ بْنَ حُذَيْفَةَ مُصَدِّقًا فَلَاجَّهُ رَجُلٌ فِي صَدَقَتِهِ فَضَرَبَهُ أَبُو جَهْمٍ فَشَجَّهُ فَأَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا الْقَوَدَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكُمْ كَذَا وَكَذَا فَلَمْ يَرْضَوْا فَقَالَ لَكُمْ كَذَا وَكَذَا فَلَمْ يَرْضَوْا فَقَالَ لَكُمْ كَذَا وَكَذَا فَرَضُوا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي خَاطِبٌ الْعَشِيَّةَ عَلَى النَّاسِ وَمُخْبِرُهُمْ بِرِضَاكُمْ فَقَالُوا نَعَمْ فَخَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ هَؤُلَاءِ اللَّيْثِيِّينَ أَتَوْنِي يُرِيدُونَ الْقَوَدَ فَعَرَضْتُ عَلَيْهِمْ كَذَا وَكَذَا فَرَضُوا أَرَضِيتُمْ قَالُوا لَا فَهَمَّ الْمُهَاجِرُونَ بِهِمْ فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَكُفُّوا عَنْهُمْ فَكَفُّوا ثُمَّ دَعَاهُمْ فَزَادَهُمْ فَقَالَ أَرَضِيتُمْ فَقَالُوا نَعَمْ قَالَ إِنِّي خَاطِبٌ عَلَى النَّاسِ وَمُخْبِرُهُمْ بِرِضَاكُمْ قَالُوا نَعَمْ فَخَطَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرَضِيتُمْ قَالُوا نَعَمْ
“Nabi saw mengutus Abu Jahm bin Hudzaifah ra sebagai pengumpul zakat. Lalu, ada seorang laki-laki bertengkar dengannya dalam urusan zakatnya. Abu Jahm memukul laki-laki itu hingga terluka. Lalu, keluarganya mendatangi Nabi saw dan berkata, “Qishash Ya Rasulullah”. Nabi saw menjawab, “Kalian memiliki hak begini dan begini”. Namun, mereka tidak rela. Nabi saw bersabda lagi, “Kalian memiliki hak begini dan begini”. Namun mereka tidak rela. Nabi bersabda lagi, “Kalian memiliki hak begini dan begini”. Mereka akhirnya rela. Lalu Nabi saw bersabda, “Aku akan menyampaikan khuthbah kepada manusia petang hari, dan memberitahu mereka mengenai kerelaan kalian”. Mereka menjawab, “Iya”. Rasulullah saw segera berkhuthbah, dan bersabda, “Sesungguhnya mereka mendatangiku untuk meminta qishash. Namun aku menawarkan mereka begini dan begini, dan mereka pun rela. Lalu, apakah kalian (wali korban) rela? Namun mereka (wali korban) berkata, “Tidak!”. Kaum Muhajirin pun berhasrat menyerang mereka. Rasulullah saw menahan kaum Muhajirin untuk tidak menyerang mereka. Kaum Muhajirin pun segera menahan diri. Lalu, Nabi saw memanggil mereka (wali korban) kembali dan memberi tambahan diyat kepada mereka. Nabi saw bertanya, “Apakah kalian rela? Mereka menjawab, “Iya”. Nabi saw pun bersabda, “Saya akan berkhuthbah di hadapan manusia dan memberitahu kepada mereka mengenai keridloan kalian”. Wali korban menjawab, “Iya”. Nabi saw segera berkhuthbah, dan bersabda, “Apakah kalian rela? Mereka menjawab, “Iya”. [HR. Imam Abu Dawud]
Hadits di atas menjelaskan bahwa seorang qadliy tidak boleh memberikan keputusan berdasarkan pengetahuannya saja, akan tetapi harus berdasarkan bukti yang disampaikan di hadapan majelis peradilan. Seandainya beliau saw diperbolehkan memutuskan berdasarkan pengetahuannya, niscaya beliau saw segera menjatuhkan vonis diyat, tatkala wali korban menyetujui diyat. Namun, ketika persetujuan wali korban dibatalkan di hadapan majelis peradilan, Nabi saw tidak menolak pembatalan mereka, dan menunda vonis. Namun, setelah diyatnya ditambah, dan wali korban menyatakan kerelaannya di hadapan majelis peradilan, barulah Nabi saw memutuskan vonis diyat.
Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas ra bahwasanya Rasulullah saw pernah melaksanakan li’an antara al-‘Ajlani dan isterinya. Kemudian berkatalah Syaddad bin al-Had bahwa wanita itu adalah wanita yang dikatakan Rasulullah saw:
لَوْ كُنْتُ رَاجِمًا امْرَأَةً مِنْ غَيْرِ بَيِّنَةٍ قَالَ لَا تِلْكَ امْرَأَةٌ أَعْلَنَتْ
‘Sekiranya aku boleh merajam seseorang tanpa bukti, niscaya wanita itu telah aku rajam’. Syaddad berkata, ‘Tidak, sebab wanita itu telah menyatakan masuk Islam”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim]
Jika seorang qadliy dilarang memutuskan perkara berdasarkan pengetahuan dan indikasi yang kuat, lebih-lebih lagi tanpa ada bukti.
Dalil-dalil di atas menunjukkan tidak adanya pembuktian terbalik dalam peradilan Islam. Seseorang baru absah dijatuhi sanksi hukum, jika pelanggarannya bisa dibuktikan dengan salah satu bukti syar’iy.
Menepis Syubhat
Di dalam riwayat shahih dituturkan bahwasanya Khalifah Umar bin Khaththab pernah menyita harta para gubernurnya. Riwayat-riwayat tersebut, oleh sebagian orang dijadikan dalil untuk membenarkan adanya pembuktian terbalik.
‘Abdullah bin ‘Umar ra, putera Umar bin Khaththab ra, pernah melaporkan bahwasanya Khalifah Umar bin Khaththab ra memerintahkan pencatatan kekayaan para kepala daerah (wali), diantaranya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash ra. Jika ada kelebihan kekayaan, maka beliau memerintahkan untuk membagi dua, separoh untuk pejabat tersebut, dan separohnya diserahkan ke Baitul Mal.[al-Hafidz al-Suyuthiy, Taarikh al-Khulafaa', hal. 132].
Di dalam kitab Syahid al-Mihrab dituturkan, bahwasanya Abu Bakrah ra pernah memprotes tindakan Umar yang menyita separoh harta kekayaannya. Abu Bakrah ra berkata, “Aku tidak bekerja kepada anda”. Khalifah Umar ra menjawab, “Ya benar. Akan tetapi, saudaramu bekerja sebagai pengurus Baitul Mal dan bagi hasil tanah garapan di Ubullah -suatu tempat yang terletak di Bashrah, Iraq–; dan ia meminjamkan uang dari Baitul Mal kepadamu untuk berdagang! Khalifah Umar ra lalu mengambil 10.000 dinar dan dibagi dua, dan Abu Bakrah mengambil separohnya”.[Syahid al-Mihrab, hal. 284]
Khalifah ‘Umar juga pernah menyita uang dan barang-barang yang dibawa oleh Abu Sofyan setelah pulang dari Syam mengunjungi anak lelakinya, Mu’awiyah yang saat itu menjabat sebagai wali daerah Syam. Ketika itu, Abu Sofyan menyampaikan salam kepada Umar. Setelah itu, ‘Umar berkata -sedangkan di dalam hatinya ia menduga Muawiyyah telah membekali ayahnya (Abu Sofyan) dengan uang dan barang-barang berharga–, “Hai Abu Sofyan, berilahkami oleh-oleh”. Abu Sofyan menjawab, “Kalau kami mendapat sesuatu, tentu Anda akan kuberi oleh-oleh”. Khalifah ‘Umar ra mengulurkan tangannya ke sebuah cincin yang berada di tangan Abu Sofyan, lalu diambilnya. Kemudian, Umar ra mengutus seorang membawa cincin itu kepada Hindun, isteri Abu Sofyan. Utusan itu dipesan supa berkata kepada Hindun atas nama Abu Sofyan, “Lihatlah dua wadah yang baru anda terima dan kirimkanlah kedua-duanya.” Utusan itu kembali membawa dua buah wadah, ternyata di dalamnya terdapat uang sebanyak sepuluh ribu dirham. Uang itu disita oleh Umar dan diserahkan kepada Baitul Mal.
Ketetapan Umar bin Khaththab ra untuk menyita harta bawahannya bukanlah semata-mata dikarenakan kecurigaan atau dugaan beliau semata, akan tetapi berdasarkan bukti syar’iy, yakni pencatatan yang beliau lakukan. Ini bisa dimengerti karena Umar bin Khaththab ra adalah seorang pemimpin yang sangat ketat dalam mengawasi dan mengontrol bawahannya. Ibnu Sa’ad di dalam kitab Thabaqat menuturkan kesaksian dari al-Syi’biy, bahwasanya, Umar bin Khaththab ra, setiap kali mengangkatr kepala daerah, beliau selalu mencatat kekayaan orang tersebut”. Berdasarkan catatan-catatan inilah dan penyidikan yang beliau lakukan, Umar bin Khaththab ra menyita kelebihan harta kekayaan pejabat-pejabat yang diragukan perolehannya. Kadang-kadang kelebihan harta tersebut dibagi dua. Separoh disita dan dimasukkan ke dalam Baitul Mal, separohnya lagi diserahkan kepada pejabat bersangkutan. Khalifah Umar bin Khaththab ra selalu menghitung dan mencatat kekayaan seseorang sebelum diangkat menjadi pejabat negara atau penguasa daerah. Jika masa tugasnya sudah berakhir, maka beliau ra mencatat kembali kekayaan pejabat tersebut. Jika dalam pencatatan itu ditemukan kelebihan harta yang meragukan, beliau menyita harta tersebut, atau dibagi menjadi dua; separoh untuk pejabat bersangkutan dan separohnya lagi untuk Baitul Mal. [Wallahu al-Haadiy al-Muwaffiq ila Aqwaam ath-Thariiq] (www.syariahpublications.com)
Sumber : www.hizbut-tahrir.or.id
Popularity: 7% [?]




















