<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Syariah Publications &#187; Sejarah</title>
	<atom:link href="http://syariahpublications.com/category/artikel/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syariahpublications.com</link>
	<description>Publikasi Opini Syariah dan Khilafah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 03:22:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Sultan Abdul Hamid II: Sang Pembela Sejati Palestina</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2010/07/14/sultan-abdul-hamid-ii-sang-pembela-sejati-palestina/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2010/07/14/sultan-abdul-hamid-ii-sang-pembela-sejati-palestina/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 04:17:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[sultan abdul hamid]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=2152</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA-Sejak zaman Kesultanan Turki Utsmani, bangsa Israel sudah berusaha tinggal di tanah Palestina. Kaum zionis itu menggunakan segala macam cara, intrik, maupun kekuatan uang dan politiknya untuk merebut tanah Palestina. Di masa Sultan Abdul Hamid II, niat jahat kaum Yahudi itu begitu terasa. Kala itu, Palestina masih menjadi wilayah kekhalifahan Turki Utsmani. Sebagaimana dikisahkan dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/07/sultan-abdul-hamid-ii.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2153" title="sultan-abdul-hamid-ii" src="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/07/sultan-abdul-hamid-ii-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>JAKARTA-Sejak zaman Kesultanan Turki Utsmani, bangsa Israel sudah berusaha tinggal di tanah Palestina. Kaum zionis itu menggunakan segala macam cara, intrik, maupun kekuatan uang dan politiknya untuk merebut tanah Palestina. <span id="more-2152"></span></p>
<p>Di masa Sultan Abdul Hamid II, niat jahat kaum Yahudi itu begitu terasa. Kala itu, Palestina masih menjadi wilayah kekhalifahan Turki Utsmani. Sebagaimana dikisahkan dalam buku Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II karya Muhammad Harb, berbagai langkah dan strategi dilancarkan oleh kaum Yahudi untuk menembus dinding Kesultanan Turki Utsmani, agar mereka dapat memasuki Palestina.</p>
<p>Pertama, pada 1892, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan kepada Sultan Abdul Hamid II, untuk mendapatkan izin tinggal di Palestina. Permohonan itu dijawab Sultan dengan ucapan ”Pemerintan Utsmaniyyah memberitahukan kepada segenap kaum Yahudi yang ingin hijrah ke Turki, bahwa mereka tidak akan diizinkan menetap di Palestina”. Mendengar jawaban seperti itu kaum Yahudi terpukul berat, sehingga duta besar Amerika turut campur tangan.</p>
<p>Kedua, Theodor Hertzl, Bapak Yahudi Dunia sekaligus penggagas berdirinya Negara Yahudi, pada 1896 memberanikan diri menemui Sultan Abdul Hamid II sambil meminta izin mendirikan gedung di al-Quds. Permohonan itu dijawab sultan, ”Sesungguhnya Daulah Utsmani ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri”.</p>
<p>Melihat keteguhan Sultan, mereka kemudian membuat strategi ketiga, yaitu melakukan konferensi Basel di Swiss, pada 29-31 Agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan Khilafah Utsmaniyyah. Karena gencarnya aktivitas Zionis Yahudi akhirnya pada 1900 Sultan Abdul Hamid II mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi di Palestina untuk tinggal di sana lebih dari tiga bulan, dan paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas khilafah terkait. Dan pada 1901 Sultan mengeluarkan keputusan mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina.</p>
<p>Pada 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap Sultan Abdul Hamid II. Kedatangan Hertzl kali ini untuk menyogok sang penguasa kekhalifahan Islam tersebut. Di antara sogokan yang disodorkan Hertzl adalah: uang sebesar 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan; Membayar semua hutang pemerintah Utsmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling; Membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta frank; Memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga; dan Membangun Universitas Utsmaniyyah di Palestina.</p>
<p>Namu, kesemuanya ditolak Sultan. Sultan tetap teguh dengan pendiriannya untuk melindungi tanah Palestina dari kaum Yahudi. Bahkan Sultan tidak mau menemui Hertzl, diwakilkan kepada Tahsin Basya, perdana menterinya, sambil mengirim pesan, ”Nasihati Mr Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka.”</p>
<p>Sultan juga mengatakan, ”Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.”</p>
<p>Sejak saat itu kaum Yahudi dengan gerakan Zionismenya melancarkan gerakan untuk menumbangkan Sultan. Dengan menggunakan jargon-jargon “liberation”, “freedom”, dan sebagainya, mereka menyebut pemerintahan Abdul Hamid II sebagai “Hamidian Absolutism”, dan sebagainya.</p>
<p>”Sesungguhnya aku tahu, bahwa nasibku semakin terancam. Aku dapat saja hijrah ke Eropa untuk menyelamatkan diri. Tetapi untuk apa? Aku adalah Khalifah yang bertanggungjawab atas umat ini. Tempatku adalah di sini. Di Istanbul!” Tulis Sultan Abdul Hamid II dalam catatan hariannya. (republika.co.id, 14/7/2010)</p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=2152&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2010/07/14/sultan-abdul-hamid-ii-sang-pembela-sejati-palestina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebijakan Administratif Khalifah Mu’awiyah bin Abi Shafyan</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2010/06/06/kebijakan-administratif-khalifah-mu%e2%80%99awiyah-bin-abi-shafyan/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2010/06/06/kebijakan-administratif-khalifah-mu%e2%80%99awiyah-bin-abi-shafyan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 16:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[administratif]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[muawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=1943</guid>
		<description><![CDATA[Sejak Khalifah ‘Umar bin Khatthab memperkenalkan kebijakan tentang Diwan, yaitu tata administrasi dan pencatatan, maka Khalifah Mu’awiyah telah melakukan pengembangan dan penyesuaian yang diperlukan. Untuk melaksanakan tugas ini, Mu’awiyah telah memanfaatkan jasa sejumlah orang Kristen, yang sebelumnya bekerja pada pemerintahan Bizantium, seperti Sarjun bin Manshur dan anaknya, Manshur bin Sarjun, untuk mengurus Diwan al-Mal (Hallaq, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak Khalifah ‘Umar bin Khatthab memperkenalkan kebijakan tentang Diwan, yaitu tata administrasi dan pencatatan, maka Khalifah Mu’awiyah telah melakukan pengembangan dan penyesuaian yang diperlukan. Untuk melaksanakan tugas ini, Mu’awiyah telah memanfaatkan jasa sejumlah orang Kristen, yang sebelumnya bekerja pada pemerintahan Bizantium, seperti Sarjun bin Manshur dan anaknya, Manshur bin Sarjun, untuk mengurus Diwan al-Mal (Hallaq, Dirasah fi Tarikh al-Hadharah al-Islamiyyah, hal. 34).  <span id="more-1943"></span></p>
<p>Mu’awiyah pun memulai dengan dua bidang, yaitu Diwan al-Khatim (Stempel) dan Diwan al-Barid (Pos). Sebelumnya, kaum Muslim sudah mengenal Diwan al-Jundi (Tentara), Diwan al-Kharaj (Kharaj) dan Diwan Rasail (Surat). Mu’awiyah sengaja membentuk Diwan Khatim ini agar tidak ada satu pun surat keluar, yang tanpa stempel, sehingga isinya pun hanya diketahui oleh Khalifah, serta tidak bisa dipalsukan dan diubah-ubah. Mengingat, sebelumnya ada kasus dimana surat Khalifah dipalsukan di belakang sang Khalifah. Selain itu, Diwan Khatim ini juga menerima laporan yang dikirimkan oleh para wali (pimpinan daerah) kepada Khalifah (at-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Mulk, juz VI, hal. 184).</p>
<p>Sementara Diwan al-Barid dibentuk oleh Mu’awiyah ketika wilayah Khilafah sudah sedemikian luas, dan mulai dirasakan perlunya pengiriman surat-surat dengan cepat agar hubungan antara Khalifah dengan para walinya di daerah-daerah bisa berjalan dengan cepat. Diwan ini mempunyai dua fungsi: Pertama, mengirimkan surat dari dan kepada Negara Khilafah. Kedua, Para pegawai Diwan al-Barid ini juga bisa menjadi mata bagi Khalifah untuk mengawasi para wali dalam menjalankan tugas dan langkah mereka. Para pegawai Diwan ini bisa menyampaikan perihal aktivitas dan langkah para wali kepada Khalifah, sehingga Khalifah mengetahui kondisi wilayahnya dan peristiwa yang tengah terjadi di sana.</p>
<p>Mu’awiyah telah mengeluarkan dana besar untuk mengembangkan Diwan ini, dan mengaktifkannya, dengan menyediakan sejumlah pegawai dan pos-pos yang dilengkapi berbagai fasilitas yang diperlukan untuk mengirimkan berita. Diwan ini kemudian menjelma menjadi sarana penting dalam pengelolaan urusan negara. Namun, tetap harus dicatat di sini, bahwa Diwan ini hanya melakukan aktivitas resmi dan mengirimkan laporan-laporan resmi dari negara, bukan yang lain.</p>
<p>Semua kebijakan Mu’awiyah ini akhirnya memperkuat pemerintahan Negara Khilafah, sehingga pada zaman Khilafah ‘Amawiyyah inilah, dikenal dengan Era Penaklukan besar-besaran. Semuanya ini tidak lepas dari jasa Khalifah Mu’awiyah bin Abi Shafyan. (Hafidz Abdurrahman  dari berbagai sumber)</p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=1943&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2010/06/06/kebijakan-administratif-khalifah-mu%e2%80%99awiyah-bin-abi-shafyan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Potret Gemilang Islam di Era Abbasiyah</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2010/04/09/potret-gemilang-islam-di-era-abbasiyah/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2010/04/09/potret-gemilang-islam-di-era-abbasiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 22:57:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[kejayaan islam]]></category>
		<category><![CDATA[kejayaan khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah abbasiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=1751</guid>
		<description><![CDATA[Tak hanya terobosan dalam tata pemerintahan, pada masa Abbasiyah, tradisi keilmuan berkembang pula. Salah satu yang terlihat jelas adalah metode penulisan sejarah. Philip K Hitti dalam History of the Arabs menyatakan, pada masa Abbasiyah, metode penulisan sejarah telah matang untuk melahirkan karya sejarah formal. Pada masa sebelumnya, penulisan sejarah dilakukan berdasarkan legenda dan anekdot pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/04/abbasiyah.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-1752" title="abbasiyah" src="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/04/abbasiyah-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Tak hanya terobosan dalam tata pemerintahan, pada masa Abbasiyah, tradisi keilmuan berkembang pula. Salah satu yang terlihat jelas adalah metode penulisan sejarah. Philip K Hitti dalam History of the Arabs menyatakan, pada masa Abbasiyah, metode penulisan sejarah telah matang untuk melahirkan karya sejarah formal.</p>
<p>Pada masa sebelumnya, penulisan sejarah dilakukan berdasarkan legenda dan anekdot pada masa pra-Islam. Pun, didasarkan pada tradisi keagamaan yang berkisar pada nama dan kehidupan Nabi. Namun, saat Dinasti Abbasiyah berkuasa, penulisan sejarah mengalami kemajuan. Penulisan dilekatkan pada legenda, tradisi, biografi, geneologi, dan narasi.<span id="more-1751"></span></p>
<p>Sejarah juga diriwayatkan melalui penuturan para saksi atau orang yang sezaman dengan penulis. Ini dilakukan melalui sejumlah mata rantai para saksi sejarah. Metode ini dinilai telah menjamin keakuratan data bahkan hingga penanggalan kejadian, meliputi bulan dan hari kejadian.</p>
<p>Sejarawan formal pertama pada masa itu adalah Ibn Qutaybah yang bernama lengkap Muhammad ibn Muslim Al Dinawari. Ibn Qutaybah meninggal dunia di Baghdad pada 889 Masehi setelah menuntaskan penulisan bukunya, Kitab Al Maarif atau Buku Pengetahuan.</p>
<p>Sejarawan ternama lainnya yang sezaman dengannya adalah Abu Hanifah Ahmad ibn Dawud Al Dinawari. Ia tinggal di Isfahan. Karya utama Al Dinawari adalah Al Akhbar Al Thiwal (Cerita Panjang), yang merupakan sejarah dunia dari sudut pandang Persia. Di kemudian hari, muncul nama Abu Al Hasan Ali Al Mas’udi.</p>
<p>Di kalangan sejarawan Muslim, ia mendapat julukan Herodotus bangsa Arab. Sebab, Al Mas’udi dianggap sekelas dengan sejarawan Yunani, Herodotus yang hidup pada abad ke-5 Masehi. Al Mas’udi oleh para pemikir dianggap telah memprakarsai metode tematis dalam penulisan karya-karya sejarah.</p>
<p>Metode yang Al Mas’udi gunakan tidak seperti metode yang digunakan sejarawan ternama, Al Thabari, yang dalam menyusun karya sejarah berdasarkan tahun kejadian. Dalam menulis, ia mengelompokkan berbagai peristiwa sejarah berdasarkan dinasti, raja, serta masyarakatnya.</p>
<p>Metode tersebut kemudian diikuti oleh para ahli sejarah lain, seperti Ibn Khaldun. Al Mas’udi juga merupakan orang yang pertama kali menggunakan anekdot-anekdot sejarah. Ia berkelana mencari ilmu hingga ke Baghdad, Asia, dan Zanzibar. Pada dekade terakhir kehidupannya, Al Mas’udi berada di Suriah dan Mesir untuk menulis 30 jilid buku yang berjudul Muruj al Dzahab wa Ma’adin al Jawhar (Padang Emas dan Tambang Batu Mulia). Ini karya geografis bergaya ensiklopedia.</p>
<p>Pada bagian awal karyanya, Al Mas’udi mengatakan daerah-daerah yang tandus pada mulanya adalah lautan dan daerah yang sekarang lautan pada mulanya adalah daerah tandus. Menurut dia, hal tersebut terjadi karena kekuatan alam. Sedangkan dalam karyanya yang berjudul Al Tanbih wa Al Isyraf, Al Mas’udi mengungkapkan pemikirannya tentang filsafat sejarah dan alam. Ia juga mengutip sejumlah pendapat ahli filsafat pada masa itu. (republika.co.id, 7/4/2010)</p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=1751&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2010/04/09/potret-gemilang-islam-di-era-abbasiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perlakuan Terhadap Yahudi dalam Masa Khilafah Usmani di Abad ke-19</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2010/04/09/perlakuan-terhadap-yahudi-dalam-masa-khilafah-usmani-di-abad-ke-19/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2010/04/09/perlakuan-terhadap-yahudi-dalam-masa-khilafah-usmani-di-abad-ke-19/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 05:55:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[kafir dzimmii]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=1748</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah tim dikirim Departemen Luar Negeri AS tahun 1877 untuk menilai perlakuan terhadap orang-orang Yahudi dalam Masa Khilafah Usmani. Temuan mereka bahwa orang-orang Yahudi itu diperlakukan dengan sangat baik dan tidak dianiaya digambarkan dalam sebuah artikel berita di bawah ini yang diterbitkan pada hari Rabu tanggal 23 Agustus 1877 oleh the New York Times. “Menteri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/04/ny-times-jews-ottomans.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-1749" title="ny-times-jews-ottomans" src="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/04/ny-times-jews-ottomans-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Sebuah tim dikirim Departemen Luar Negeri AS tahun 1877 untuk menilai perlakuan terhadap orang-orang Yahudi dalam Masa Khilafah Usmani. Temuan mereka bahwa orang-orang Yahudi itu diperlakukan dengan sangat baik dan tidak dianiaya digambarkan dalam sebuah artikel berita di bawah ini yang diterbitkan pada hari Rabu tanggal 23 Agustus 1877 oleh the New York Times.</p>
<p>“Menteri Amerika Serikat mengatakan bahwa keadilan yang diberikan Turki memaksanya untuk mengakui bahwa orang-orang Israel diperlakukan lebih baik oleh Khilafah Usmani daripada oleh banyak kekuatan Barat dan sehingga memberi kesan bahwa mereka diperlakukan lebih baik oleh Imperium itu dibandingkan perlakukan oleh orang-orang Kristen.”<span id="more-1748"></span></p>
<p>ORANG-ORANG ISRAEL DI TURKI.STATISTIK YANG DIPEROLEH DARI MENTRI AMERIKA SERIKAT.TERDAPAT 500.000 ORANG IBRANI DI IMPERIUM USMANI.MEREKA DIPERLAKUKAN DENGAN LEBIH BAIK OLEH ORANG-ORANG TURKI DARIPADA PERLAKUAN YANG DIBERIKAN OLEH ORANG-ORANG KRISTEN.PERLINDUNGAN OLEH PARA PEJABAT AMERIKA DIPERPANJANG.</p>
<p>WASHINGTON, 22 Agustus. Suatu delegasi yang dikirim Departemen Luar Negeri Menteri Amerika Serikat ke<br />
Turki memberikan rincian menarik tentang jumlah, status, dan penganiayaan atas orang-orang Israel pada Imperium Ottoman. Jumlah orang-orang Israel yang ada di Kekaisaran itu adalah 500.000 orang. Dari jumlah ini, orang Israel Rumania sebanyak 250.000 orang, Israel Asia Turki 80.000 orang, Israel Eropa Turki<br />
75.000 orang. Israel Serbia 2.000 orang.. Menteri Amerika Serikat mengatakan bahwa keadilan di Turki memaksanya untuk mengakui bahwa orang-orang Israel diperlakukan lebih baik oleh Imperium Ottoman daripada oleh banyak kekuatan Barat dan yang memberikan kesan bahwa mereka mendapat perlakuan lebih baik di Imperium itu dibandingkan perlakuan dari orang-orang Kristen. Mereka diakui sebagai komunitas keagamaan independen yang memiliki hak-hak istimewa dengan aturan keagamaan mereka sendiri, dengan memiliki Kepala Rabi di Turki, yang disebut Chacham Bashi, dan sebagai akibat dari fungsinya itu, memiliki pengaruh yang besar.</p>
<p>Menteri Luar Negeri Turki melakukan protes kepada Maynard dimana ketika dalam zaman pemerintahan Turki orang-orang Israel selalu menikmati setiap hak istimewa dan kekebalan yang diberikan oleh undang-undang Usmani. Penganiayaan terhadap orang-orang Israel yang menjadi perhatian Kedutaan Amerika Serikat di Konstantinopel selama kunjungan resmi Maynard, hanyalah terhadap Rabi Sneersohn, seorang warga negara Amerika. Pada tanggal 28 November 1874, Rabi itu diserang oleh sejawat seagamanya, orang-orang Yahudi di Tiberias, dengan merampok uangnya dalam jumlah besar, dan yang paling memalukan adalah karena dia dipenjarakan, dilempari batu, ditelanjangi, dan dalam kondisi compang-camping itu dia melalui jalan-jalan Tiberias, dan nyaris tewas. Konsul Amerika Serikat di Beyrout kemudian pergi ke Tiberias dan menangkap para pelakunya.<br />
Sebagian pelakunya itu mendapatkan perlindungan Inggris, dan kemudian lolos dari negara itu dengan terbang ke luar negeri. Teman-temannya yang lain berkumpul, menyergap pihak berwenang, dan kemudian menyelamatkan mereka. Kedutaan AS di Konstantinopel kemudian mengambil alih masalah itu, dan kemudian didorong-secepat mungkin kedalam situasi- yakni ketika Rabi sang korban itu, yang pasti sangat lelah dan menjadi miskin, pergi ke Perancis dan karena ketidakhadirannya itu tidak dapat dilakukan tindakan lebih lanjut.</p>
<p>Posisi yang dipegang oleh orang-orang Israel Imperium itu, karena kompleksnya sistem dan situasi, dan adanya heterogenitas ras, kondisi peradaban dan adanya permusuhan agama, kewenangan kecil yang dilakukan oleh Pemerintah Ottoman atas provinsi-provinsi bahkan pada saat biasa, (memprotes pernyataan<br />
bahwa negara itu seharusnya tidak dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran-pelanggaran di provinsi-provinsi itu,) membuat sulitnya solusi atas seluruh masalah, bahkannya sulitnya penjelasan. Sebagian orang-orang Israel itu mengklaim berada di bawah perlindungan Inggris, sebagian yang lain mengatakan<br />
berada di bawah perlindungan Rusia. Banyak juga dari mereka yang menganggap mereka adalah orang-orang yang merdeka, yang tidak perlu kesetiaan kepada Pemerintah manapun, dan hanya ketika mereka dianiaya atau merasa marahlah maka mereka mencari perlindungan dari setiap orang yang memiliki kekuasaan. Sementara semua pemerintahan, terutama Pemerintah Amerika Serikat, adalah yang paling ingin memberikan simpati dan perlindungan, memberikan pertanyaan-pertanyaan internasional dan kesamaan dimata hukum<br />
menjadi terganggu dan mencegah perlindungan penuh atas mereka seandainya mereka adalah warga tetap dari Pemerintah manapun.</p>
<p>Menteri Amerika Serikat di Konstantinopel telah meminta petugas konsuler dari pemerintahannya, melalui Imperium Usmani, untuk mengamati dengan seksama kondisi orang-orang Israel dalam sebagian yurisdiksi mereka, dan melaporkan kepada kedutaannya di Konstantinopel tanpa penundaan kasus-kasus penganiayaan atas orang-orang itu yang mungkin terjadi. (khilafah.com, 5/4/2010)</p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=1748&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2010/04/09/perlakuan-terhadap-yahudi-dalam-masa-khilafah-usmani-di-abad-ke-19/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muhammad al-Fatih Secrets Revealed</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2009/10/26/muhammad-al-fatih-secrets-revealed/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2009/10/26/muhammad-al-fatih-secrets-revealed/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 07:09:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[felix siaw]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=794</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Felix Siauw Bisyarah adalah sebuah kabar gembira yang Allah turunkan kepada ummatnya, baik melalui al-Qur’an ataupun melalui ucapan rasulullah. Bisyarah adalah perlambang janji Allah dan menjadi penyemangat kaum muslim selama berabad-abad lamanya, keyakinan akan janji ALlah ini terpatri kuat di dalam jiwa kaum muslim dan menjadi harapan ditengah-tengah kepuusasaan, menjadi pengingat dalam kealpaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]><br />
<mce :style>< !  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} --></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Oleh : Felix Siauw </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30812851&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=295669000283&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=295669000283&amp;id=1312117588"><span style="font-size: 12pt; text-decoration: none; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: blue;"><!--[if gte vml 1]><v :shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600"  o:spt="75" o:preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f"  stroked="f"> <v :stroke joinstyle="miter" /> </v><v :formulas> <v :f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0" /> <v :f eqn="sum @0 1 0" /> <v :f eqn="sum 0 0 @1" /> <v :f eqn="prod @2 1 2" /> <v :f eqn="prod @3 21600 pixelWidth" /> <v :f eqn="prod @3 21600 pixelHeight" /> <v :f eqn="sum @0 0 1" /> <v :f eqn="prod @6 1 2" /> <v :f eqn="prod @7 21600 pixelWidth" /> <v :f eqn="sum @8 21600 0" /> <v :f eqn="prod @7 21600 pixelHeight" /> <v :f eqn="sum @10 21600 0" /> </v> <v :path o:extrusionok="f" gradientshapeok="t" o:connecttype="rect" /> <o :lock v:ext="edit" aspectratio="t" /> <v :shape id="Picture_x0020_1" o:spid="_x0000_i1028" type="#_x0000_t75"  alt="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs072.snc3/13938_1276060104241_1312117588_30812851_6117252_a.jpg"  href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30812851&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=295669000283&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=295669000283&amp;id=1312117588" mce_href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30812851&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=295669000283&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=295669000283&amp;id=1312117588"  style='width:135pt;height:141pt;visibility:visible;mso-wrap-style:square'  o:button="t"> <v :imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\FARIDM~1\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\FARIDM~1\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.jpg"   o:title="13938_1276060104241_1312117588_30812851_6117252_a" /> </v>< ![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Bisyarah adalah sebuah kabar gembira yang Allah turunkan kepada ummatnya, baik melalui al-Qur’an ataupun melalui ucapan rasulullah. Bisyarah adalah perlambang janji Allah dan menjadi penyemangat kaum muslim selama berabad-abad lamanya, keyakinan akan janji ALlah ini terpatri kuat di dalam jiwa kaum muslim dan menjadi harapan ditengah-tengah kepuusasaan, menjadi pengingat dalam kealpaan dan menjadi sebuah sumber energi yang tidak terbatas sampai kapanpun juga. Dengan bisyarah inilah kaum muslim berjuang dan menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban dunia.</span><span id="more-801"></span></p>
<p><a href="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2009/10/k1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-798" title="k1" src="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2009/10/k1-286x300.jpg" alt="" width="286" height="300" /></a>Salah satu bisyarah yang dapan menginspirasi setiap muslim adalah bisyarah rasulullah yang disampakan oleh Abdullah bin Amru pada shahabat:</p>
<p>???? ??? ???? ????? ??? ??? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ???? ?? ??? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ?? ????????? ???? ???? ????????? ?? ????? ???? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ????? ???? ???? ???? ???? ?????????</p>
<p>Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, &#8220;bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba beliau SAW ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, &#8220;Kota Heraklius terlebih dahulu (maksudnya Konstantinopel) (HR Ahmad)</p>
<p>?????? ??????????? ????? ?????? ?????? ????? ????? ??? ?????</p>
<p>Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat Amir (panglima perang) adalah Amir-nya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya (HR Ahmad)</p>
<p>Ini adalah sebuah bisyarah, petunjuk dan kabar gembira bagi kaum muslim bahwa dua pilar peradaban barat pada waktu itu yang dijadikan simbol yaitu: Kota Roma (Romawi Barat) dan Kota Konstantinopel (Romawi Timur) akan diberikan dan dibebaskan oleh kaum muslim.</p>
<p>Dan hal ini menjadi penyemangat para Khalifah untuk melakukan futuhat, tercatat dalam sejarah bahwa Abu Ayyub al-Anshari (44 H) pada Khalifah Muawiyyah bin Abu Sufyan adalah orang yang pertama kali ingin merealisasikan janji Allah tersebut, namun karena kondisi fisik beliau tidak mampu memenuhinya, walaupun begitu, beliau meminta agar jasadnya dikuburkan di bawah kaki pasukan kaum muslim terdepan pada saat ekspedisi itu sebagai sebuah milestone bagi mujahid selanjutnya. Lalu Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik (98 H) pada masa Kekhalifahan Umayyah, Khalifah Harun al-Rasyid (190 H) masa Kekhalifahan Abasiyyah, Khalifah Beyazid I (796 H) masa Kekhalifahan Utsmanityyah, Khalifah Murad II (824 H) masa Kekhalifahan Utsmaniyyah juga tercatat dalam usaha penaklukan konstantinopel, tetapi karena satu dan lain hal, Allah belum mengizinkan kaum muslim memenangkan pertempuran itu.</p>
<p>Konstantinopel merupakan salah satu kota terpenting di dunia, kota ini memiliki benteng yang tidak tertembus yang dibangun pada tahun 330 M. oleh Kaisar Byzantium yaitu Constantine I. Konstaninopel memiliki posisi yang sangat penting di mata dunia. Sejak didirikannya, pemerintahan Byzantium telah menjadikannya sebagai ibukota pemerintahan Byzantium. Konstantinopel merupakan salah satu kota terbesar dan benteng terkuat di dunia saat itu, dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus, Laut Marmarah dan Tanduk Emas (golden horn) yang dijaga dengan rantai yang sangat besar, hingga tidak memungkinkan untuk masuknya kapal musuh ke dalamnya. Pentingnya posisi konstantinopel ini digambarkan oleh napoleon dengan kata-kata &#8220;&#8230;..kalaulah dunia ini sebuah negara, maka Konstantinopel inilah yang paling layak menjadi ibukota negaranya!&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><a href="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2009/10/konstantinopel2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-800" title="konstantinopel2" src="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2009/10/konstantinopel2-233x300.jpg" alt="" width="233" height="300" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; line-height: normal;">
<p>Adalah Muhamamd II atau selanjutnya dikenal sebagai Muhammad al-Fatih, yang akan menaklukan kota ini, sejak kecil dia telah dididik oleh ulama-ulama besar pada zamannya, khususnya Syaikh Aaq Syamsuddin yang tidak hanya menanamkan kemampuan beragama dan ilmu Islam, tetapi juga membentuk mental pembebas pada diri Mumammad al-Fatih. Beliau selalu membekali al-Fatih dengan cerita dan kisah para penakluk, kisah syahid dan mulianya para mujahid, dan selalu mengingatkan Muhammad II tentang bisyarah rasulullah dan janji Allah yang menjadikan seorang anak kecil bernama Muhammad II memiliki mental seorang penakluk.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30812873&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=295669000283&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=295669000283&amp;id=1312117588"><span style="font-size: 12pt; text-decoration: none; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: blue;"><!--[if gte vml 1]><v :shape id="Picture_x0020_3" o:spid="_x0000_i1026"  type="#_x0000_t75" alt="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs072.snc3/13938_1276068384448_1312117588_30812873_6981640_a.jpg"  href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30812873&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=295669000283&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=295669000283&amp;id=1312117588" mce_href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30812873&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=295669000283&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=295669000283&amp;id=1312117588"  style='width:135pt;height:184.5pt;visibility:visible;mso-wrap-style:square'  o:button="t"> <v :imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\FARIDM~1\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image003.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\FARIDM~1\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image003.jpg"   o:title="13938_1276068384448_1312117588_30812873_6981640_a" /> </v>< ![endif]--><!--[if !vml]--><span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Maka tidak mengherankan ketika berumur 23 tahun, al-Fatih telah menguasai 7 bahasa dan dia telah memimpin ibukota Khilafah Islam di Adrianopel (Edirne) sejak berumur 21 tahun (ada yang memberikan keterangan dia telah matang dalam politik sejak 12 tahun). Sebagian besar hidup al-Fatih berada diatas kuda, dan beliau tidak pernah meninggalkan shalat rawatib dan tahajjudnya untuk menjaga kedekatannya dengan Allah dan memohon pertolongan dan idzinnya atas keinginannya yang telah terpancang kuat dari awal: Menaklukan Konstantinopel.</span></p>
<p><a href="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2009/10/muhammad-al-fatih.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-802" title="muhammad-al-fatih" src="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2009/10/muhammad-al-fatih.jpg" alt="" width="180" height="246" /></a>Diapun sadar untuk menaklukkan konstantiopel dia membutuhkan perencanaan yang baik dan orang-orang yang bisa diandalkan, maka diapun membentuk dan mengumpulkan pasukan elit yang dinamakan Janissaries, yang dilatih dengan ilmu agama, fisik, taktik dan segala yang dibutuhkan oleh tentara, dan pendidikan ini dilaksanakan sejak dini, dan khusus dipersiapkan untuk penaklukan konstantinopel. 40.00 orang yang loyal kepada Allah dan rasul-Nya pun berkumpul dalam penugasan ini. Selain itu dia juga mengamankan selat bosphorus yang menjadi nadi utama perdagangan dan transportasi bagi konstantinopel dengan membangun benteng dengan 7 menara citadel yang selesai dalam waktu kurang dari 4 bulan.</p>
<p>Tetapi konstantinopel bukanlah kota yang mudah ditaklukkan, kota ini menahan serangan dari berbagai penjuru dunia dan berhasil menetralkan semua ancaman yang datang kepadanya karena memiliki sistem pertahanan yang sangat maju pada zamannya, yaitu tembok yang luar biasa tebal dan tinggi, tingginya sekitar 30 m dan tebal 9 m, tidak ada satupun teknologi yang dapat menghancurkan dan menembus tembok ini pada masa lalu. Dan untuk inilah al-Fatih menugaskan khusus pembuatan senjata yang dapat mengatasi tembok ini.</p>
<p>Setelah mempersiapkan meriam raksasa yang dapat melontarkan peluru seberat 700 kg, al-Fatih lalu mempersiapkan 250.000 total pasukannya yang terbagi menjadi 3, yaitu pasukan laut dengan 400 kapal perang menyerang melalui laut marmara, kapal-kapal kecil untuk menembus selat tanduk, dan sisanya melalui jalan darat menyerang dari sebelah barat konstantinopel, awal penyerangan ini dilakukan pada tanggal 6 April 1453, yang terkenal dengan The Siege of Constantinple.</p>
<p>Keseluruhan pasukan al-Fatih dapat direpotkan oleh pasukan konstantinopel yang bertahan di bentengnya, belum lagi serangan bantuan dari negeri kristen lewat laut menambah beratnya pertempuran yang harus dihadapi oleh al-Fatih, sampai tanggal 21 April 1453 tidak sedikitpun tanda-tanda kemenangan akan dicapai pasukan al-Fatih, lalu akhirnya mereka mencoba suatu cara yang tidak terbayangkan kecuali orang yang beriman. Dalam waktu semalam 70 kapal pindah dari selat bosphorus menuju selat tanduk dengan menggunakan tenaga manusia. Yilmaz Oztuna di dalam bukunya Osmanli Tarihi menceritakan salah seorang ahli sejarah tentang Byzantium mengatakan:</p>
<p>“kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al-Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang lautan. Sungguh kehebatannya jauh melebihi apa yang dilakukan oleh Alexander yang Agung,”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><a href="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2009/10/konstantinopel31.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-803" title="konstantinopel31" src="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2009/10/konstantinopel31-300x187.jpg" alt="" width="300" height="187" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">70 Kapal al-Fatih dipindahkan dari Selat Bosphorus ke Selat Tanduk melalui Pegunungan Galata dalam waktu 1 malam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;">
<p>Pengepungan ini terus berlanjut sampai dengan tanggal 27 Mei 1453, melihat kemenangan sudah dekat, Muhamamad al-Fatih mengumpulkan para pasukannya lalu berkhutbah didepan mereka:</p>
<p>Jika penaklukan kota Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits ini, yang berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu didepan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran</p>
<p>Subhanallah, ini sebuah penegasan pada pasukannya bahwa kemenangan tidak akan bisa dicapai dengan mengandalkan kekuatan belaka, bukan pula karena kecerdasan dan strategi perang, Muhammad al-Fatih sangat memahami bahwa kemenangan hanya akan tercapai dengan izin dan pertolongan Allah.</p>
<p>Maka ia meminta seluruh pasukannya bermunajat pada Allah, menjauhkan diri dari maksiat, bertahajjud pada malam harinya dan berpuasa pada esok harinya. Pada tanggal 29 Mei 1453, serangan terakhir dilancarkan, dan sebelum Ashar, al-Fatih sudah menginjakkan kakinya di gerbang masuk konstantinopel. Berakhirlah pengepungan selama 52 hari lamanya dan penantian panjang akan janji Allah selama 825 tahun lamanya. Konstantinopel dibebaskan kaum muslim melalui tangan al-Fatih!</p>
<p>Bayangkan, kekuatan seperti apa yang bisa menjaga semangat, persatuan, dan kesabaran selama 52 hari perang dan lintas generasi dalam 825 tahun lamanya? Kekuatan seperti apa yang dapat menjadikan anak muda berumur 23 tahun menaklukan sebuah peradaban besar?</p>
<p>Inilah yang dinamakan kekuatan percaya pada janji Allah dan bisyarah rasul-Nya. Kemampuan melihat tidak dengan mata tetapi dengan keimanan, kekuatan yang melebihi apapun, Beyond the Inspiration.</p>
<p>They believe in something that can&#8217;t be seen by eyes! Allahuakbar!</p>
<p>Konstantinopel telah takluk dan itu tidak akan terulang kembali karena posisi yang mulia dalam bisyarah rasulullah telah ditempati oleh Muhammad al-Fatih. Penaklukan kota Roma hanya menunggu waktu dan posisi kemuliaan itupun akan ditempati oleh satu orang. Tetapi ada satu bisyarah lagi yang rasulullah sampaikan pada kita, yang mengajak kita semuanya untuk merealisasikan itu.</p>
<p>??????? ???????????? ??????? ??? ????? ????? ???? ??????? ????? ??????????? ????? ????? ???? ??????????? ????? ??????? ????????? ????? ????????? ???????????? ????????? ??? ????? ????? ???? ??????? ????? ??????????? ????? ????? ????? ???? ??????????? ????? ??????? ??????? ??????? ????????? ??? ????? ????? ???? ??????? ????? ??????????? ????? ????? ???? ??????????? ????? ??????? ??????? ??????????? ????????? ??? ????? ????? ???? ??????? ????? ??????????? ????? ????? ???? ??????????? ????? ??????? ????????? ????? ????????? ????????????</p>
<p>&#8220;Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian&#8221;. (HR. Ahmad)</p>
<p>Pragmatisme pasti akan menafikkan Idealisme<br />
Pragmatisme meniscayakan Kompromisme</p>
<p>Sedangkan,<br />
Idealisme menafikkan Pragmatisme<br />
Idealisme meniscayakan Keyakinan akan Bisyarah Allah dan Rasul</p>
<p>Perbedaan orang kafir dan mukmin adalah:<br />
Orang mukmin yakin dahulu lalu mereka (pasti) akan melihat<br />
Orang kafir butuh melihat dulu lalu (mungkin) akan yakin</p>
<p>Pilih mana?!</p>
<p>Allah saksikanlah, Felix Siauw adalah telah mendaftarkan diri menyambut Khilafah &#8216;ala minhajin nubuwwah yang akan segera tegak!</p>
<p>*Notes ini adalah makalah mendadak orasi di KMII, Lapangan depan Basket Indoor, 18 Oktober 2009</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p></mce></p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=801&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2009/10/26/muhammad-al-fatih-secrets-revealed/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kronologi Sejarah Palestina</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2009/01/27/kronologi-sejarah-palestina/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2009/01/27/kronologi-sejarah-palestina/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 16:52:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[al aqsha]]></category>
		<category><![CDATA[gaza]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[palestina]]></category>
		<category><![CDATA[zionis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=583</guid>
		<description><![CDATA[Palestina Tanah Yang (Pernah) Dijanjikan 2000 SM &#8211; 1500 SM: Ibrahim as. melahirkan Ismail as. (Bapak bangsa Arab) dan Ishak as. Ishak melahirkan Ya’kub as. alias Israel. Ya’kub punya anak Yusuf as, yang ketika kecil dibuang oleh saudaranya, namun belakangan menjadi bendahara kerajaan Mesir. Ketika dilanda paceklik, Ya’kub as. sekeluarga atas undangan Yusuf berimigrasi ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><span style="font-size: 10pt;">Palestina Tanah Yang (Pernah) Dijanjikan</span></strong></h2>
<h2><span style="font-size: 10pt; font-weight: normal;">2000 SM &#8211; 1500 SM: Ibrahim as. melahirkan Ismail as. (Bapak bangsa Arab) dan Ishak as. Ishak melahirkan Ya’kub as. alias Israel. Ya’kub punya anak Yusuf as, yang ketika kecil dibuang oleh saudaranya, namun belakangan menjadi bendahara kerajaan Mesir. Ketika dilanda paceklik, Ya’kub as. sekeluarga atas undangan Yusuf berimigrasi ke Mesir. Populasi anak keturunan Israel (bani Israel atau bangsa Israel) membesar.</span><span id="more-583"></span></h2>
<p><a name="more-383"></a><span style="font-size: 10pt;">1550 SM &#8211; 1200 SM: Politik di Mesir berubah. Bani Israel dianggap problem, dan akhirnya oleh Fir’aun statusnya diubah menjadi budak.<br />
1200 SM &#8211; 1100 SM: Musa as. memimpin bangsa Israel meninggalkan Mesir, mengembara di padang Sinai menuju tanah yang dijanjikan, bila mereka taat kepada Allah. Namun saat mereka diperintah memasuki Filistin (Palestina), mereka membandel dan mengatakan:</span></p>
<p><em>“</em><em><span style="font-size: 10pt;">Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi ada orang-orang yang gagah perkasa di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”. </span></em><span style="font-size: 10pt;">(QS. 5:24)</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">Akibatnya mereka dikutuk dan hanya berputar-putar saja di sekitar Palestina. Belakangan agama Musa as disebut “Yahudi” &#8211; menurut nama salah satu marga Israel yang paling banyak berketurunan, yakni Yehuda, dan bani Israel -tanpa memandang warga negara atau tanah air- disebut juga orang-orang Yahudi.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1000 SM &#8211; 922 SM: Daud as. mengalahkan Goliath dari Filistin. Palestina berhasil direbut. Daud dijadikan raja. Wilayah kerajaannya membentang dari tepi Nil hingga Efrat di Iraq. Sekarang ini Yahudi tetap memimpikan kembali kebesaran Israel raya Raja Daud. Bendera Israel adalah dua garis biru (Nil dan Efrat) dan bintang Daud. Daud diteruskan Sulaiman as. Masjidil Aqsha dibangun.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">922 SM &#8211; 800 SM: Sepeninggal Sulaiman Israel dilanda perang saudara yang berlarut, hingga kerajaan tersebut terbelah dua: utara bernama Israel beribukota Samaria dan selatan bernama Yehuda beribukota Yerusalem.<br />
800 SM &#8211; 600 SM: Karena kerajaan Israel sudah terlalu durhaka kepada Allah swt. maka kerajaan itu dihancurkan lewat tangan kerajaan Asyiria.</span></p>
<p><em>Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israel, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini hawa nafsu mereka, maka sebagian rasul-rasul itu mereka dustakan atau mereka bunuh.</em> (QS. 5:70)</p>
<p><span style="font-size: 10pt;">Hal ini juga bisa dibaca di Bible: Kitab Raja-raja ke-I 14:15, dan Kitab Raja-raja ke-II 17:18.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">600 SM &#8211; 500 SM: Kerajaan Yehuda dihancurkan lewat tangan Nebukadnezar dari Babylonia. Dalam Bible Kitab Raja-raja ke-II 23:27 dinyatakan bahwa mereka tidak mempunyai hak lagi atas Yerusalem. Mereka diusir dari Yerusalem dan dipenjara di Babylonia.<br />
500 SM &#8211; 400 SM: Cyrus Persia meruntuhkan Babylonia dan mengijinkan bani Israel kembali ke Yerusalem.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">330 SM &#8211; 322 SM: Israel diduduki Alexander Agung dari Macedonia (Yunani). Ia melakukan Hellenisasi terhadap bangsa-bangsa taklukannya. Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi Israel, sehingga nantinya Injil pun ditulis dalam bahasa Yunani, dan bukan dalam bahasa Ibrani.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">300 SM &#8211; 190 SM: Yunani dikalahkan Romawi. Maka Palestina pun dikuasai imperium Romawi.<br />
1 &#8211; 100: Nabi Isa as. (Yesus) lahir, kemudian menjadi pemimpin gerakan melawan penguasa Romawi. Namun selain dianggap subversi oleh penguasa Romawi (dengan ancaman hukuman tertinggi yaitu disalib), ajaran Yesus sendiri ditolak oleh para rabi Yahudi. Namun setelah Isa tiada, bangsa Yahudi memberontak terhadap Romawi.</span></p>
<p><strong><span style="font-size: 10pt;">Palestina area bebas Yahudi</span></strong><br />
<span style="font-size: 10pt;">100 &#8211; 300: Pemberontakan berulang. Akibatnya Palestina dihancurkan dan dijadikan area bebas Yahudi. Mereka dideportasi keluar Palestina dan terdiaspora ke segala penjuru imperium Romawi. Namun demikian tetap ada sejumlah kecil pemeluk Yahudi yang tetap bertahan di Palestina. Dengan masuknya Islam serta dipakainya bahasa Arab di kehidupan sehari-hari, mereka lambat laun terarabisasi atau bahkan masuk Islam.<br />
313: Pusat kerajaan Romawi dipindah ke Konstantinopel dan agama Kristen dijadikan agama negara.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">500 &#8211; 600: Bangsa Yahudi merembes ke semenanjung Arabia (di antaranya di Khaibar dan sekitar Madinah), kemudian berimigrasi dalam jumlah besar ke daerah tersebut ketika terjadi perang antara Romawi dan Persia.<br />
619: Nabi Muhammad saw melakukan perjalanan ruhani: Isra’ dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha dan Mi’raj ke langit. Rasulullah menetapkan Yerusalem sebagai kota suci-3 ummat Islam, sholat di masjidil Aqsha dinilai 500 kali dibanding sholat di masjid yang lain selain masjidil Haram dan masjid Nabawi. Masjidil Aqsha juga menjadi kiblat ummat Islam sebelum dipindah ke ka’bah.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">622: Hijrah nabi ke Madinah dan pendirian negara Islam (yang seterusnya disebut khilafah). Nabi mengadakan perjanjian dengan penduduk Yahudi di Madinah dan sekitarnya, yang dikenal dengan “Piagam Madinah”.<br />
626: Pengkhianatan Yahudi dalam perang Ahzab (atau perang parit) dan berarti melanggar Piagam Madinah. Sesuai dengan aturan di Kitab Taurat mereka sendiri, mereka dibunuh atau diusir.</span></p>
<p><strong><span style="font-size: 10pt;">Palestina di bawah Daulah Islam</span></strong><br />
<span style="font-size: 10pt;">638: Di bawah Umar bin Khattab, seluruh Palestina dimerdekakan dari penjajah Romawi. Seterusnya seluruh penduduk Palestina, muslim maupun non muslim, hidup aman di bawah khilafah. Kebebasan beragama dijamin.<br />
700 &#8211; 1000: Wilayah Islam meluas dari Asia Tengah, Afrika hingga Spanyol. Di dalamnya, bangsa Yahudi mendapat peluang ekonomi dan intelektual yang sama. Ada beberapa ilmuwan yang terkenal di dunia Islam yang sesungguhnya adalah orang Yahudi.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1076: Yerusalem dikepung tentara salib dari Eropa. Karena pengkhianatan kaum munafik (sekte Drusiah yang mengaku Islam tapi ajarannya sesat), pada 1099 tentara salib berhasil menguasai Yerusalem dan mengangkat seorang raja Kristen. Penjajahan ini berlangsung hingga 1187, sampai Salahuddin al Ayubi membebaskannya, setelah ummat Islam yang terlena sufisme yang sesat bisa dibangkitkan kembali.</span></p>
<p><em>Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. …</em>(QS. 13:11)</p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1453: Setelah melalui proses reunifikasi dan revivitalisasi wilayah-wilayah khilafah yang tercerai berai setelah hancurnya Bagdad oleh tentara Mongol (1258), khilafah Utsmaniyah di bawah Muhammad Fatih menaklukkan Kontantinopel, dan mewujudkan nubuwwah Rasulullah. 700 tahun lebih kaum muslimin berlomba untuk menjadi mereka yang diramalkan Rasul dalam hadits berikut:</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">Hari kiamat tak akan tiba sebelum tanah Romawi di dekat al-A’maq atau Dabiq ditaklukkan. Sepasukan tentara terbaik di dunia akan datang … Maka mereka bertempur. Sepertiga dari mereka akan lari, dan Allah tak akan memaafkannya. Sepertiga lagi ditakdirkan gugur sebagai syuhada. Dan sepertiga lagi akan menang dan menjadi penakluk Konstantinopel. (HR Muslim, no. 6924)</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1492: Andalusia sepenuhnya jatuh ke tangan Kristen Spanyol (reconquista). Karena cemas suatu saat ummat Islam bisa bangkit lagi, maka terjadi pembunuhan, pengusiran dan pengkristenan massal. Hal ini tak cuma diarahkan pada muslim namun juga pada Yahudi. Mereka lari ke wilayah khilafah Utsmaniyah, di antaranya ke Bosnia. Pada 1992 raja Juan Carlos dari Spanyol secara resmi meminta maaf kepada pemerintah Israel atas holocaust 500 tahun sebelumnya.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1500-1700: Kebangkitan pemikiran di Eropa, munculnya sekularisme (pemisahan gereja &#8211; negara), nasionalisme dan kapitalisme. Mulainya kemajuan teknologi modern di Eropa. Abad penjelajahan samudera dimulai. Mereka mencari jalur alternatif ke India dan Cina, tanpa melalui daerah-daerah Islam. Tapi berikutnya mereka didorong semangat kolonialisme / imperialisme.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1529: Tentara khilafah berusaha menghentikan arus kolonialisme / imperialisme serta membalas reconquista langsung ke jantung Eropa dengan mengepung Wina, namun gagal. Tahun 1683 kepungan ini diulang, dan gagal lagi. Kegagalan ini terutama karena tentara Islam terlalu yakin pada jumlah dan perlengkapannya.</span></p>
<p><em>… </em><em><span style="font-size: 10pt;">yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa’at kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dan bercerai-berai. </span></em><span style="font-size: 10pt;">(QS. 9:25)</span></p>
<p><strong><span style="font-size: 10pt;">Barat memperalat Yahudi</span></strong><br />
<span style="font-size: 10pt;">1798: Napoleon berpendapat bahwa bangsa Yahudi bisa diperalat bagi tujuan-tujuan Perancis di Timur Tengah. Wilayah itu secara resmi masih di bawah khilafah.<br />
1831: Untuk mendukung strategi “devide et impera” Perancis mendukung gerakan nasionalisme Arab, yakni Muhammad Ali di Mesir, dan Pasya Basyir di Libanon. Khilafah mulai lemah dirongrong oleh nasionalisme.<br />
1835: Sekelompok Yahudi membeli tanah di Palestina, dan lalu mendirikan sekolah Yahudi pertama di sana. Sponsornya adalah milyuner Yahudi Inggris, Sir Moshe Monteveury, anggota Free Masonry. Ini adalah pertama kalinya sekolah berkurikulum asing di wilayah khilafah.<br />
1838: Inggris membuka konsulat di Yerusalem yang merupakan perwakilan Eropa pertama di Palestina.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1849: Kampanye mendorong imigrasi orang Yahudi ke Palestina. Pada masa itu jumlah Yahudi di Palestina baru sekitar 12000. Pada tahun 1948 jumlahnya sudah 716700, dan pada 1964 sudah hampir 3 juta. 1882: Imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina yang berselubung agama, simpati dan kemanusiaan bagi penderitaan Yahudi di Eropa saat itu.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1891: Para penduduk Palestina mengirim petisi kepada khalifah, menuntut dilarangnya imigrasi besar-besaran ras Yahudi ke Palestina. Sayang saat itu khilafah sudah “sakit-sakitan” (dijuluki “the sick man at Bosporus”), dekadensi pemikiran meluas, walau Sultan Abdul Hamid sempat membuat terobosan dengan memodernisir infrastruktur, termasuk memasang jalur kereta api dari Damaskus ke Madinah via Palestina !! Sayang, sebelum selesai, Sultan Abdul Hamid dipecat oleh Syaikhul Islam (Hakim Agung) yang telah dipengaruhi Inggris. PD-I meletus, dan jalur kereta tersebut dihancurkan.</span></p>
<p><strong><span style="font-size: 10pt;">Zionisme</span></strong><br />
<span style="font-size: 10pt;">1896: Theodore Herzl merampungkan sebuah doktrin baru Zionisme sebagai gerakan politik untuk mendirikan negara Yahudi Israel. Mereka mendapat inspirasi untuk “bekerjasama” dengan negara-negara besar (Amerika, Inggris, Perancis, Rusia) dalam realisasinya. Sebaliknya negara-negara besar itu berkepentingan dengan sumber alam di wilayah itu, dan memerlukan “agen” untuk melemahkan ummat Islam di sana.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1897: Theodore Herzl menggelar kongres Zionis dunia pertama di Basel, Swiss. Peserta Kongress-I Zionis mengeluarkan resolusi, bahwa ummat Yahudi tidaklah sekedar ummat beragama, namun adalah bangsa dengan tekad bulat untuk hidup secara berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi itu, kaum zionis menuntut tanah air bagi ummat Yahudi -walaupun secara rahasia- pada “tanah yang bersejarah bagi mereka”. Sebelumnya Inggris hampir menjanjikan tanah protektorat Uganda atau di Amerika Latin! Di kongres itu, Herzl menyebut, zionisme adalah jawaban bagi “diskriminasi dan penindasan” atas ummat Yahudi yang telah berlangsung ratusan tahun. Pergerakan ini mengenal kembali, bahwa nasib ummat Yahudi hanya bisa diselesaikan di tangan ummat Yahudi sendiri. Di depan Kongres Herzl berkata: “Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi !!!” Apa yang direncanakan Herzl menjadi kenyataan pada 1948.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1916: Perjanjian rahasia Sykes-Picot oleh sekutu &#8211; (Inggris, Perancis, Rusia) dibuat saat meletusnya PD-I, untuk mencengkeram wilayah-wilayah Arab dari khilafah Utsmaniyah dan membagi-bagi di antara mereka. PD-I berakhir dengan kemenangan sekutu. Inggris mendapat kontrol atas Palestina. Di PD-I ini, Yahudi Jerman berkomplot dengan sekutu untuk tujuan mereka sendiri (memiliki pengaruh atau kekuasaan yang lebih besar).</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1917: Menlu Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, dalam deklarasi Balfour, memberitahu pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh pemukiman Yahudi di Palestina dalam membantu pembentukan tanah air Yahudi. Lima tahun kemudian Liga Bangsa-bangsa (cikal bakal PBB) memberi mandat ke Inggris untuk menguasai Palestina.</span></p>
<p><strong><span style="font-size: 10pt;">Setelah Hancurnya Khilafah Islam</span></strong><br />
<span style="font-size: 10pt;">1924: Mustafa Kemal Ataturk &#8211; seorang Turki yang terdidik oleh Free Masonry, menganggap kemunduran khilafah itu karena Islam. Ia merasa jalan keluarnya adalah nasionalisme dan sekularisme seperti yang telah berhasil di Barat. Bersama tentara yang seide, ia merebut kekuasaan dan mengumumkan bahwa khilafah bubar. Dengan itu maka tidak ada lagi ikatan antar ummat Islam sedunia yang akan “take care” bila ada satu bumi Islam jatuh dalam penderitaan. Nasionalisme menggantikan solidaritas Islam (ukhuwah Islamiyah).</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1938: Nazi Jerman menganggap bahwa pengkhianatan Yahudi Jerman adalah biang keladi kekalahan mereka pada PD-I yang telah menghancurkan ekonomi Jerman. Maka mereka perlu “penyelesaian terakhir” (Endlösung). Ratusan ribu dikirim ke kamp konsentrasi atau lari ke luar negeri (terutama ke USA). Sebenarnya ada etnis lain serta kaum intelektual yang berbeda politik dengan Nazi yang bernasib sama, namun setelah PD-II Yahudi lebih berhasil menjual ceritanya karena menguasai banyak surat kabar atau kantor berita di dunia.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1944: Partei buruh Inggris yang sedang berkuasa secara terbuka memaparkan politik “Membiarkan orang-orang Yahudi terus masuk ke Palestina, jika mereka ingin jadi mayoritas. Masuknya mereka akan mendorong keluarnya pribumi Arab dari sana”. Kondisi Palestina memanas.<br />
1947: PBB merekomendasikan pemecahan Palestina menjadi dua negara: Arab dan Israel.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1948 14 Mei: sehari sebelum habisnya perwalian Inggris di Palestina para pemukim Yahudi memproklamirkan kemerdekaan negara Israel, melakukan agresi bersenjata terhadap rakyat Palestina yang masih lemah, jutaan dari mereka terpaksa mengungsi ke Libanon, Yordania, Syria, Mesir dll. Palestinian Refugees menjadi tema dunia. Namun Israel menolak existensi rakyat Palestina ini, dan menganggap mereka telah memajukan areal yang semula kosong dan terbelakang. Timbullah perang antara Israel dengan negara-negara Arab tetangganya. Namun karena para pemimpin Arab sebenarnya ada di bawah pengaruh Inggris, maka Israel mudah merebut daerah Arab Palestina yang telah ditetapkan PBB.</span></p>
<p><strong><span style="font-size: 10pt;">Setelah Negara Israel Berdiri</span></strong><br />
<span style="font-size: 10pt;">1948 2 Desember: Protes keras Liga Arab atas tindakan USA dan sekutunya berupa dorongan dan fasilitas yang mereka berikan bagi imigrasi zionis ke Palestina. Pada waktu itu, Ikhwanul Muslimin (IM) di bawah Hasan Al-Bana mengirim 10000 mujahidin untuk berjihad melawan Israel. Usaha ini kandas bukan karena mereka dikalahkan Israel, namun karena Raja Farouk yang korup dari Mesir takut bahwa di dalam negeri, IM bisa kudeta. Akibatnya, tokoh-tokoh IM dipenjara atau dihukum mati.<br />
1952: Para perwira Mesir di bawah Jamal Abdul Nasser melakukan kudeta terhadap Raja Farouk.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1953: Harakah Islam Hizbut Tahrir berdiri di Yerusalem dengan tujuan mengembalikan kehidupan Islam ketengah masyarakat dan membentuk khilafah Islam yang menerapkan sistem Islam dan membebaskan seluruh dunia dari penghambaan kepada selain Allah. Metode yang ditempuh dalam membentuk khilafah adalah dakwah untuk merubah opini masyarakat.<br />
1956: Nasser menasionalisasikan terusan Suez. Hal ini membangkitkan harga diri pada bangsa Arab, sehingga tak sedikit yang kemudian “memuja” Nasser.<br />
1956 29 Oktober: Israel dibantu Inggris dan Perancis menyerang Sinai untuk menguasai terusan Suez.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1964: Para pemimpin Arab membentuk PLO (Palestina Liberation Organitation). Dengan ini secara resmi, nasib Palestina diserahkan ke pundak bangsa Arab-Palestina sendiri, dan tidak lagi urusan ummat Islam. Masalah Palestina direduksi menjadi persoalan nasional.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1967: Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syiria selama 6 hari dengan dalih pencegahan. Israel berhasil merebut Sinai dan jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania). Israel dengan mudah menghancurkan angkatan udara musuhnya karena informasi dari CIA. Sementara itu angkatan udara Mesir ragu membalas serangan Israel, karena Menhan Mesir ikut terbang dan memerintahkan untuk tidak melakukan tembakan selama dia di udara.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1967 Nopember: Dewan keamanan PBB mengeluarkan resolusi nomor 242, untuk perintah penarikan mundur Israel dari wilayah yang direbutnya dalam perang enam hari, pengakuan semua negara di kawasan itu dan penyelesaikan secara adil masalah pengungsi Palestina.<br />
1969: Yasser Arafat dari faksi Al-Fatah terpilih sebagai ketua komite eksekutif PLO dengan markas di Yordania.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1970: Berbagai pembajakan pesawat sebagai publikasi perjuangan rakyat Palestina membuat PLO dikecam oleh opini dunia, dan Yordania dikucilkan. Karena ekonomi Yordania sangat tergantung dari USA, maka akhirnya Raja Hussein mengusir markas PLO dari Yordania. PLO pindah ke Libanon.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1973 6 Oktober: Mesir dan Syiria menyerang pasukan Israel di Sinai dan dataran tinggi Golan pada hari puasa Yahudi Yom Kippur. Pertempuran ini dikenal dengan Perang Oktober. Mesir dan Syria hampir menang, kalau Israel tidak tiba-tiba dibantu USA. Anwar Sadat terpaksa berkompromi, karena dia cuma “siap untuk melawan Israel, namun tidak siap berhadapan dengan USA”. Arab membalas kekalahan itu dengan menutup keran minyak. Akibatnya harga minyak melonjak pesat.<br />
1973 22 Oktober: Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi 338, untuk gencatan senjata, pelaksanaan resolusi 242 dan perundingan damai di Timur Tengah.</span></p>
<p><strong><span style="font-size: 10pt;">Ditipu sejak Camp David</span></strong><br />
<span style="font-size: 10pt;">1977: Pertimbangan ekonomi (perang memboroskan kas negara) membuat Presiden Mesir Anwar Sadat pergi ke Israel tanpa berkonsultasi dengan Liga Arab. Ia menawarkan perdamaian, jika Israel mengembalikan seluruh Sinai. Negara-negara Arab merasa dikhianati. Karena politiknya ini, belakangan Sadat dibunuh (1982).</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1978 September: Mesir dan Israel menandatangani perjanjian Camp David yang diprakarsai USA. Perjanjian itu menjanjikan otonomi terbatas kepada rakyat Palestina di wilayah-wilayah pendudukan. Sadat dan PM Israel Menachem Begin dianugerahi Nobel Perdamaian 1979. Namun Israel tetap menolak perundingan dengan PLO dan PLO menolak otonomi. Belakangan, otonomi versi Camp David ini tidak pernah diwujudkan, demikian juga otonomi versi lainnya. Dan USA sebagai pemrakarsanya juga tidak merasa wajib memberi sanksi, bahkan selalu memveto resolusi PBB yang tak menguntungkan Israel.</span></p>
<p><em>Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti keinginan mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.</em> (QS. 2:120)</p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1979: Ayatullah Khumaini memaklumkan Revolusi Islam di Iran yang menumbangkan rezim korup pro Barat Syah Reza Pahlevi. Referendum menghasilkan pembentukan Republik Islam, yang salah satu cita-citanya adalah mengembalikan bumi Palestina ke ummat islam dengan menghancurkan Israel. Iran mensponsori gerakan anti Israel “Hizbullah” yang bermarkas di Libanon.<br />
1980: Israel secara sepihak menyatakan bahwa mulai musim panas 1980 kota Yerusalem yang didudukinya itu resmi sebagai ibukota.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1980: Pecah perang Iraq-Iran selama 8 tahun. Perang ini direkayasa oleh Barat untuk melemahkan gelombang revolusi Islam dari Iran. Negara-negara Arab dipancing fanatisme sunni terhadap Iran yang syiah. Iraq mendapat bantuan senjata yang luar biasa dari Barat.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1982: Israel menyerang Libanon dan membantai ratusan pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila. Pelanggaran atas batas-batas internasional ini tidak berhasil dibawa ke forum PBB karena veto USA. Belakangan Israel juga dengan enaknya melakukan serangkaian pemboman atas instalasi militer dan sipil di Iraq, Libya dan Tunis.</span></p>
<p><strong><span style="font-size: 10pt;">Intifadhah</span></strong><br />
<span style="font-size: 10pt;">1987: Intifadhah, perlawanan dengan batu oleh orang-orang Palestina yang tinggal di daerah pendudukan terhadap tentara Israel mulai meledak. Intifadhah ini diprakarsai oleh HAMAS, suatu harakah Islam yang memulai aktivitasnya dengan pendidikan dan sosial.<br />
1988 Desember: USA membenarkan pembukaan dialog dengan PLO setelah Arafat secara tidak langsung mengakui existensi Israel dengan menuntut realisasi resolusi PBB no. 242 pada waktu memproklamirkan Republik Palestina di pengasingan di Tunis.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1990 Agustus: Invasi Iraq ke Kuwait. Arafat menyatakan mendukung Iraq. Terjadi lagi perpecahan antar Arab. Perang ini juga direkayasa Barat untuk melemahkan Iraq, yang setelah perang dengan Iran arsenalnya dinilai terlalu besar dan bisa membahayakan Israel. Dan Barat sekaligus bisa lebih kuat menancapkan pengaruhnya di negera-negara Arab. Pemerintah diktatur di negara-negara Arab ditakut-takuti dengan “Islam fundamentalis”.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1991 Maret: Presiden USA George Bush menyatakan berakhirnya perang teluk-II dan membuka kesempatan “tata dunia baru” bagi penyelesaian konflik Arab-Israel.Yasser Arafat menikahi Suha, seorang wanita Kristen. Sebelumnya Arafat selalu mengatakan “menikah dengan revolusi Palestina”.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1993 September: PLO-Israel saling mengakui existensi masing-masing dan Israel berjanji memberi hak otonomi kepada PLO di daerah pendudukan. Motto Israel adalah “land for peace” (=tanah untuk perdamaian). Pengakuan itu dikecam keras dari pihak ultra-kanan Israel maupun kelompok di Palestina yang tidak setuju. Namun negara-negara Arab (Saudi Arabia, Mesir, Emirat dan Yordania) menyambut baik perjanjian itu. Mufti Mesir dan Saudi mengeluarkan “fatwa” untuk mendukung perdamaian. Setelah kekuasaan di daerah pendudukan dialihkan ke PLO, maka sesuai perjanjian dengan Israel, PLO harus mengatasi segala aksi-aksi anti Israel. Dengan ini maka sebenarnya PLO dijadikan perpanjangan tangan Yahudi.<br />
Yasser Arafat, Yitzak Rabin dan Shimon Peres mendapat Nobel Perdamaian atas usahanya tersebut.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1995: Rabin dibunuh oleh Yigal Amir, seorang Yahudi fanatik. Sebelumnya, di Hebron, seorang Yahudi fanatik membantai puluhan muslim yang sedang sholat shubuh. Hampir tiap orang dewasa di Israel, laki-laki maupun wanita, pernah mendapat latihan dan melakukan wajib militer. Gerakan Palestina yang menuntut kemerdekaan total menteror ke tengah masyarakat Israel dengan bom “bunuh diri”. Dengan ini diharapkan usaha perdamaian yang tidak adil itu gagal. Sebenarnya “land for peace” diartikan Israel sebagai “Israel dapat tanah, dan Arab Palestina tidak diganggu (bisa hidup damai)”.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">1996: Pemilu di Israel dimenangkan secara tipis oleh Netanyahu dari partai kanan, yang berarti kemenangan Yahudi yang anti perdamaian. Netanyahu mengulur-ulur pelaksanaan perjanjian perdamaian. Ia menolak adanya negara Palestina. Palestina agar tetap sekedar daerah otonom di dalam Israel. Ia bahkan ingin menunggu / menciptakan konstelasi baru (pemukiman di daerah pendudukan, bila perlu perluasan ke Syria dan Yordania) untuk sama sekali membuat perjanjian baru. USA tidak senang bahwa Israel jalan sendiri di luar garis yang ditetapkannya. Namun karena lobby Yahudi di USA terlalu kuat, maka Bill Clinton harus memakai agen-agennya di negara-negara Arab untuk “mengingatkan” si “anak emasnya” ini. Maka sikap negara-negara Arab tiba-tiba kembali memusuhi Israel. Mufti Mesir malah kini memfatwakan jihad terhadap Israel. Sementara itu Uni Eropa (terutama Inggris dan Perancis) juga mencoba “aktif” jadi penengah, yang sebenarnya juga hanya untuk kepentingan masing-masing dalam rangka menanamkan pengaruhnya di wilayah itu. Mereka juga tidak rela bahwa USA “jalan sendiri” tanpa “bicara dengan Eropa”.</span></p>
<p><strong><span style="font-size: 10pt;">Khatimah</span></strong><br />
<span style="font-size: 10pt;">Negara Israel adalah kombinasi dari sedang lemahnya ummat Islam, oportunisme Zionis Yahudi serta rencana Barat untuk mengontrol bumi dan ummat Islam.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">Di Palestina berhasil didirikan negara Yahudi setelah sebelumnya ummat Islam berhasil diinflitrasi dengan pikiran-pikiran yang tidak islami, sehingga dapat dipecah belah bahkan sampai dilenyapkan khilafahnya.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">Nabi berkata: Kunci Timur dan Barat telah ditunjukkan Allah untukku dan kekuasaan ummatku akan mencapai kedua ujungnya. Telah kumohon kepada Rabbku agar ummatku tidak dihancurkan oleh kelaparan maupun oleh musuh-musuhnya. Rabbku berkata: Apa yang telah Ku-putuskan tak ada yang bisa merubahnya. Aku menjamin bahwa ummatmu tak akan hancur oleh kelaparan atau oleh musuh-musuhnya, bahkan jika seluruh manusia dari segala penjuru dunia bekerja bersama-sama untuk itu. Namun di antara ummatmu akan ada yang saling membunuh atau memenjarakan. (HR Muslim no. 6904)</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">Karena itu baik strategi Zionis maupun Barat adalah menimbulkan permusuhan di kalangan ummat Islam sendiri. Namun sementara itu sesungguhnya Zionis atau Barat sendiri juga saling bersaing demi kepentingannya. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat.</span></p>
<p><em>Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.</em> (QS. 59:14)</p>
<p><span style="font-size: 10pt;">Yang jelas, sang perampok Israel tidak bisa diusir dalam kondisi ummat Islam dewasa ini. Terlebih dahulu mereka harus menata aqidah dan menegakkan khilafah. Bukan PLO dan bukan negara-negara Arablah yang akan membebaskan kembali Palestina dan Yerusalem, namun ummat Islam bersama khilafahnya yang berhak melakukan tugas mulia itu, serta (insya Allah) memenuhi salah satu nubuwwat Rasulullah berikut ini:</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">Tidak datang hari Kiamat, sebelum kamu memerangi kaum Yahudi, hingga mereka lari ke belakang sebuah batu, dan batu itu berkata: “ada orang Yahudi di belakangku, datanglah, dan bunuhlah” (HR Bukhari Vol. 4 Kutub 52 no. 176 dan HR Muslim no. 6985)</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">Nubuwwah ini sepertinya baru akan terjadi di zaman “total digital”, yang baru akan tiba, di mana rumah kita, sejak dari pintu hingga tong sampah, semua “ber-chip”, dan bisa berkomunikasi dengan manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=583&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2009/01/27/kronologi-sejarah-palestina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>How Khilafah was Destroyed</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2008/08/27/how-khilafah-was-destroyed/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2008/08/27/how-khilafah-was-destroyed/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 21:52:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[Syariah Publications.Com – Video yang menjelaskan bagaimana Khilafah telah dihancurkan oleh orang-orang kafir. Sangat penting untuk diketahui. A documentary produced by Hizb ut Tahrir Australia for the first ever such campaign in Australia, entitled the “Rajab Campaign”. The Documentary covers the following areas: * The rise of Islam and its dominion. * The crusader hatred [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Syariah Publications.Com</strong></em> –<span id="RemainvidDesc--op2bDLp_Q" style="display: inline;"> Video yang menjelaskan bagaimana Khilafah telah dihancurkan oleh orang-orang kafir. Sangat penting untuk diketahui.<br />
A documentary produced by Hizb ut Tahrir Australia for the first ever such campaign in Australia, entitled the “Rajab Campaign”. The Documentary covers the following areas: * The rise of Islam and its dominion. * The crusader hatred and battle for Jerusalem. * The decline of the Muslims. * The cultural invasion. * The Physical occupation; all culminating in: * The destruction of the Khilafah. </span><span id="more-357"></span><span id="RemainvidDesc--op2bDLp_Q" style="display: inline;">For more details, be sure to visit the official page of Hizb ut-Tahrir Australia: http://www.hizb-australia.org/</span><br />
<a href="http://www.syariahpublications.com" target="_blank">(www.syariahpublications.com)</a> <span id="MorevidDesc--op2bDLp_Q" class="smallText" style="display: none;">(<a class="eLink" onclick="showDiv('RemainvidDesc--op2bDLp_Q'); hideDiv('MorevidDesc--op2bDLp_Q'); hideDiv('BeginvidDesc--op2bDLp_Q'); showDiv('LessvidDesc--op2bDLp_Q'); return false;" href="http://www.youtube.com/results?search_query=how+khilafah+destroyed&amp;search_type=&amp;aq=-1&amp;oq=how+khilafah+destroye#">more</a>)</span></p>
<p style="text-align: center;">
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="349" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/--op2bDLp_Q&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;border=1" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="349" src="http://www.youtube.com/v/--op2bDLp_Q&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;border=1" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=357&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2008/08/27/how-khilafah-was-destroyed/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak Syariah dan Khilafah di Indonesia</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia-2/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 23:23:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[penerapan syariah di indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/index.php/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia-2/</guid>
		<description><![CDATA[Adalah sangat jelas dalam sejarah Indonesia, bahwa syariah Islam pernah secara formal diterapkan di bumi Nusantara . Saat itu para Sultan menerapkan hukum Islam sebagai hukum negara. Hal ini membantah pendapat segelintir orang dari kelompok liberal, bahwa di Indonesia tidak pernah diterapkan syariah Islam secara formal oleh negara. Tidak hanya itu, kesultanan di Indonesia memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="entry">
<p class="Section1">
<p class="MsoNormal"><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2008/08/sultan-aceh.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2189" title="sultan-aceh" src="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2008/08/sultan-aceh.jpg" alt="" width="111" height="80" align="right" /></a><span style="font-family: Verdana;">Adalah sangat jelas dalam sejarah Indonesia, bahwa syariah Islam pernah secara formal diterapkan di bumi Nusantara . Saat itu para Sultan menerapkan hukum Islam sebagai hukum negara. Hal ini membantah pendapat segelintir orang dari kelompok liberal, bahwa di Indonesia tidak pernah diterapkan syariah Islam secara formal oleh negara. Tidak hanya itu, kesultanan di Indonesia memiliki hubungan yang jelas dengan Khilafah Islam.</span><span id="more-312"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Tegaknya syariat Islam tidak lepas dari keberadaan penguasa kaum Muslim yang menerapkan hukum Islam, menjaga akidah Islam, melindungi kepentingan umat Islam, dan melakukan dakwah Islam. Penguasa tersebut sering disebut sebagai khalifah, imam, amirul mukminin, atau sultan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Terlepas dari soal penamaan ini, penguasa kaum Muslim pada dasarnya adalah penguasa otoritatif yang diakui keberadaannya oleh kaum Muslim; mereka menjaga dan membela kaum Muslim dari berbagai pihak yang mencoba menganggu eksistensi kaum Muslim serta memelihara kaum Muslim sedunia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Para</span><span style="font-family: Verdana;"> ahli sejarah mengakui, Kekhilafahan Islam itu memang ada dan menjadi kekuatan politik real umat Islam. Setelah masa Khulafaur Rasyidin, di belahan Barat Asia muncul kekuatan politik yang mempersatukan umat Islam dari Spanyol sampai Sind di bawah Kekhilafahan Bani Umayah (660-749 M), dilanjutkan oleh Kekhilafahan Abbasiyah kurang lebih satu abad (750-870 M), serta Kekhilafahan Utsmaniyah sampai 1924 M. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Adanya kekuatan politik di Asia Barat yang berhadapan dengan Cina telah mendorong tumbuh dan berkembangnya perdagangan di Laut Cina Selatan, Selat Malaka, dan Samudra Hindia.<a name="_ednref1" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn1"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[1]</span><!--[endif]--></a></span> Hal ini dengan sendirinya memberi dampak bagi penyebaran Islam dan tumbuhnya kekuatan ekonomi, karena banyaknya pendakwah Islam yang sekaligus berprofesi sebagai pedagang.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Tulisan ini akan mengkaji pengaruh keberadaan Khilafah Islam yang berpusat di Timur Tengah, khususnya pada masa Utsmaniyah, terhadap kehidupan umat Islam di Nusantara. Kajian didasarkan pada suatu kerangka analisis bahwa dengan adanya Khilafah, umat Islam berada di bawah satu kepemimpinan. Khalifah merupakan pelindung kaum Muslim. Para penguasa kaum Muslim di berbagai belahan dunia dengan sendirinya akan mengakui dan tunduk pada Khalifah. Gangguan terhadap umat Islam di suatu negeri dianggap sebagai gangguan terhadap seluruh kaum Muslim; Khalifah akan berperan aktif mengamankannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Secara faktual, pada abad 16 dan 17, umat Islam di Kepulauan Nusantara sedang menghadapi serangan penjajah asing, khususnya Portugis dan Belanda. Kedatangan Portugis, sebagaimana diketahui, memiliki tujuan: merampas kekayaan umat Islam (gold), menjalankan tugas suci kristenisasi (gospel), dan melakukan pembalasan terhadap kaum Muslim yang telah menduduki Spanyol dan Portugal sejak zaman Kekhilafahan Bani Umayah (glory). Portugis ingin mewujudkan dominasi militer terhadap komunitas umat Islam.<a name="_ednref2" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn2"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[2]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Bertolak dari fakta-fakta inilah, penulis melihat adanya hubungan antara Kekhilafahan Islam dan para Sultan di Kepulauan Nusantara. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Dua Pucuk Surat Pengakuan </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Pengaruh keberadaan Khilafah </span><span> </span>Islam terhadap kehidupan politik Nusantara sudah terasa sejak<span> </span>masa-masa awal berdirinya Daulah Islam. Keberhasilan umat Islam melakukan penaklukan (futûhât) terhadap Kerajaan Persia serta menduduki sebagian besar wilayah Romawi Timur, seperti Mesir, Syria, dan Palestina di bawah kepemimpinan Umar bin al-Khaththab telah menempatkan Khilafah Islam sebagai superpower dunia sejak abad ke-7 M.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Ketika kekhilafahan berada di tangan Bani Umayyah (660-749 M), penguasa di Nusantara—yang masih beragama Hindu sekalipun—mengakui kebesaran Khilafah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Pengakuan terhadap kebesaran Khilafah dibuktikan dengan adanya dua pucuk surat yang dikirimkan oleh Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah masa Bani Umayah. Surat pertama dikirim kepada Muawiyah dan surat kedua dikirim kepada Umar bin Abdul Aziz.<a name="_ednref3" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn3"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[3]</span><!--[endif]--></a></span><span> </span>Surat pertama ditemukan dalam sebuah diwan (arsip, pen.) Bani Umayah oleh Abdul Malik bin Umair yang disampaikan kepada Abu Ya‘yub ats-Tsaqafi, yang kemudian disampaikan kepada Haitsam bin Adi. Al-Jahizh yang mendengar surat itu dari Haitsam menceriterakan pendahuluan surat itu sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Dari Raja al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar yang mengairi pohon gaharu, kepada Muawiyah….<a name="_ednref4" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn4"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[4]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Surat</span><span style="font-family: Verdana;"> kedua didokumentasikan oleh Abd Rabbih (246-329/860-940) dalam karyanya, Al-Iqd al-Farîd. Potongan surat tersebut ialah sebagai berikut: </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Dari Raja Diraja…, yang adalah keturunan seribu raja.…kepada Raja Arab (Umar bin</span><span> </span>Abdul Aziz) yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.<a name="_ednref5" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn5"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[5]</span><!--[endif]--></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Ibnu Tighribirdi, yang juga mengutip surat ini dalam karyanya, An-Nujûm azh-Zhâhirah fî Mulûk Mishr wa al-Qâhirah, memberikan kalimat tambahan pada akhir surat ini, yakni, “Saya mengirimkan hadiah kepada Anda berupa bahan wewangian, sawo, kemenyan, dan kapur barus. Terimalah hadiah itu, karena saya adalah saudara Anda dalam Islam.”<a name="_ednref6" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn6"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[6]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Namun demikian, sekalipun ada kalimat, “Saudara Anda dalam Islam,” belum ada indikasi Maharaja Sriwijaya memeluk Islam. Maharaja yang berkuasa pada masa itu ialah Sri Indravarman, yang disebut sumber-sumber Cina sebagai Shih-li-t’o-pa-mo. Nama ini mengisyaratkan bahwa ia belum menjadi pemeluk Islam.<a name="_ednref7" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn7"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[7]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Sultan Rum, Khâdim al-Haramayn </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Munculnya Kekhilafahan Islam Turki Utsmani, terutama setelah berhasil melakukan penaklukan atas Konstantinopel yang merupakan ibu kota Romawi Timur pada 857/1453, menyebabkan nama Turki melekat di hati umat Islam Nusantara. Nama yang terkenal bagi Turki di Nusantara ialah “Sultan Rum.”<a name="_ednref8" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn8"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[8]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Sebelum kebangkitan Turki Utsmani, istilah Rum mengacu pada Byzantium, dan kadang-kadang juga pada Kerajaan Romawi. Akan tetapi,setelah kemunculan Turki Utsmani, istilah Rum beredar untuk menyebut Kesultanan Turki Utsmani. Mulai masa ini, supremasi politik dan kultural Rum (Turki Utsmani) menyebar ke berbagai wilayah Dunia Muslim, termasuk ke Nusantara.<a name="_ednref9" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn9"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[9]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Kekuatan politik dan militer Kekhilafahan Turki Utsmani mulai terasa di kawasan Lutan India pada awal abad ke-16. Sebagai penguasa kaum Muslim, Khalifah Turki Utsmani memiliki posisi sebagai khâdim al-Haramayn (penjaga dua tanah haram, yakni Makkah dan Madinah). Pada posisi ini, para penguasa Turki Utsmani mengambil langkah-langkah khusus untuk menjamin keamanan bagi perjalanan haji. Seluruh rute haji di wilayah kekuasaan Utsmani di tempatkan di bawah kontrolnya. Kafilah haji dengan sendirinya dapat langsung menuju Makkah tanpa hambatan berarti atau rasa takut menghadapi gangguan Portugis. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Pada tahun 954/1538, Sultan Sulaiman I (berkuasa 928/1520-66) melepas armada yang tangguh di bawah komando Gubernur Mesir, Khadim Sulaiman Pasya, untuk membebaskan semua pelabuhan yang dikuasai Portugis guna mengamankan pelayaran haji ke Jeddah.<a name="_ednref10" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn10"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[10]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Turki Utsmani juga mengamankan rute haji dari wilayah sebelah Barat Sumatera dengan menempatkan angkatan lautnya di Samudera Hindia. Kehadiran angkatan laut Utsmani di Lautan Hindia setelah 904/1498</span><span> </span>tidak hanya mengamankan perjalanan haji bagi umat Islam Nusantara, tetapi juga mengakibatkan semakin besarnya saham Turki dalam perdagangan di kawasan ini. Pada gilirannya, hal ini memberikan konstribusi penting bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi sebagai dampak sampingan perjalanan ibadah haji.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Pada saat yang sama, Portugis juga meningkatkan kehadiran armadanya di Lautan India, tetapi angkatan laut Utsmani mampu menegakkan supremasinya di kawasan Teluk Persia, Laut Merah, dan Lautan India sepanjang abad ke-16. <a name="_ednref11" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn11"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[11]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Dalam kaitan dengan pengamanan rute haji,</span><span> </span>Selman Reis (w 936/1528), laksanama Turki di Laut Merah, terus memantau gerak maju pasukan Portugis di Lautan Hindia, dan melaporkannya ke pusat pemerintahan Khilafah di Istambul. Salah satu bunyi laporan yang dikutip Obazan ialah sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">(Portugis) juga menguasai pelabuhan (Pasai) di pulau</span><span> </span>besar yang disebut Syamatirah (Sumatera)….Dikatakan, mereka mempunyai 200 orang kafir di sana (Pasai). Dengan 200 orang kafir, mereka juga menguasai pelabuhan Malaka yang berhadapan dengan Sumatera….Karena itu, ketika kapal-kapal kita sudah siap dan, insya Allah, bergerak melawan mereka, maka kehancuran total mereka tidak terelakkan lagi, karena satu benteng tidak bisa menyokong yang lain, dan mereka tidak dapat membentuk perlawanan yang bersatu.<a name="_ednref12" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn12"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[12]</span><!--[endif]--></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Laporan ini memang cukup beralasan, karena pada tahun 941/1534, sebuah skuadron Portugis yang dikomandoi Diego da Silveira menghadang sejumlah kapal asal Gujarat dan Aceh di lepas Selat Bab el-Mandeb pada Mulut Laut Merah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Membebaskan Malaka dan Menaklukan Daerah Batak </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Sebagaimana disebutkan dalam berbagai buku sejarah, Semenanjung Malaka diduduki Portugis pada Abad ke-16. Ternyata hal ini juga menjadi perhatian Turki Utsmani. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Pada tahun 925/1519, Portugis di Malaka digemparkan oleh kabar tentang pelepasan armada Utsmani untuk membebaskan Muslim Malaka dari penjajahan kafir. Kabar ini, tentunya, sangat menggembirakan kaum Muslim setempat.<a name="_ednref13" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn13"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[13]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Ketika Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar naik tahta Aceh pada tahun 943/1537, ia kelihatan menyadari kebutuhan Aceh untuk meminta bantuan militer kepada Turki, bukan hanya untuk mengusir Portugis di Malaka, tetapi juga untuk melakukan futûhât ke wilayah-wilayah yang lain, khususnya daerah pedalaman Sumatera, seperti daerah Batak. Al-Qahhar menggunakan pasukan Turki, Arab, dan Abesinia.<a name="_ednref14" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn14"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[14]</span><!--[endif]--></a></span> Pasukan Turki terdiri dari 160 orang, ditambah 200 orang tentara dari Malabar. Mereka membentuk kelompok elit angkatan bersenjata Aceh. Selanjutnya al-Qahhar dikirim untuk menaklukkan wilayah Batak di pedalaman Sumatera pada tahun 946/1539.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Mendez Pinto, yang mengamati perang antara pasukan Aceh dan Batak, melaporkan kembalinya armada Aceh di bawah komando seorang Turki bernama Hamid Khan, keponakan Pasya Utsmani di Kairo.<a name="_ednref15" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn15"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[15]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Seorang sejarahwan Universitas Kebangsaan Malaysia, Lukman Thaib, mengakui adanya bantuan Turki Utsmani untuk melakukan futûhât terhadap wilayah sekitar Aceh. Menurut Thaib, hal ini merupakan ekspresi solidaritas umat Islam yang memungkinkan bagi Turki melakukan serangan langsung terhadap wilayah sekitar Aceh.<a name="_ednref16" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn16"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[16]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Demikianlah, hubungan Aceh dengan Turki sangat dekat. Aceh seakan-akan merupakan bagian dari wilayah Turki. Persoalan umat Islam Aceh dianggap Turki sebagai persoalan dalam negeri yang harus segera diselesaikan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Nuruddin ar-Raniri, dalam Bustân as-Salâthîn, meriwayatkan, bahwa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar mengirim utusan ke Istambul untuk menghadap ‘Sultan Rum’. Utusan ini bernama Husain Effendi yang fasih berbahasa Arab. Ia datang ke Turki setelah menunaikan ibadah haji.<a name="_ednref17" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn17"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[17]</span><!--[endif]--></a></span> Pada Juni 1562, utusan Aceh tersebut tiba di Istambul untuk meminta bantuan militer Utsmani guna menghadapi Portugis. Ketika duta itu berhasil lolos dari serangan Portugis dan sampai di Istambul, ia berhasil mendapat bantuan Turki, yang menolong Aceh membangkitkan kebesaran militernya sehingga memadai untuk menaklukkan Aru dan Johor pada 973/1564.<a name="_ednref18" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn18"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[18]</span><!--[endif]--></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Khalifah dan Gubernurnya di Aceh </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Dalam kaitan dengan utusan Aceh tersebut, Farooqi menemukan sebuah arsip Utsmani yang berisi sebuah petisi dari Sultan Alauddin Riayat Syah kepada Sultan Sulaiman al-Qanuni yang dibawa Husain Effendi. Dalam surat ini Aceh mengakui penguasa Utsmani sebagai khalifah Islam. Selain itu, surat ini melaporkan tentang aktivitas militer Portugis yang menimbulkan masalah besar terhadap para pedagang Muslim dan jamaah haji dalam perjalanan ke Makkah. Karena itu, bantuan Utsmani sangat mendesak untuk menyelamatkan kaum Muslim yang terus dibantai Farangi (Portugis) kafir.<a name="_ednref19" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn19"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[19]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Khalifah Sulaiman al-Qanuni wafat tahun 974/1566. Akan tetapi, petisi Aceh mendapat dukungan Sultan Salim II (974-82/1566-74), yang mengeluarkan perintah Kekhilafahan untuk melakukan ekspedisi besar militer ke Aceh. Sekitar September 975/1567, Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis, diperintahkan berlayar menuju Aceh dengan sejumlah ahli senapan api, tentara, dan artileri. Pasukan ini diperintahkan berada di Aceh selama masih dibutuhkan oleh Sultan.<a name="_ednref20" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn20"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[20]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Namun, dalam perjalanan, armada besar ini hanya sebagian yang sampai Aceh karena dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman yang berakhir pada tahun 979/1571.<a name="_ednref21" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn21"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[21]</span><!--[endif]--></a></span> Menurut catatan sejarah, pasukan Turki yang tiba di Aceh pada tahun 1566-1577 sebanyak 500 orang, termasuk para ahli senjata api, penembak, dan para teknisi. Dengan bantuan ini, Aceh menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1568.<a name="_ednref22" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn22"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[22]</span><!--[endif]--></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Kehadiran Kurtoglu Hizir Reis bersama armada dan tentaranya dengan sendirinya disambut dengan sukacita oleh umat Islam Aceh. Mereka disambut dengan upacara besar. Kurtoglu Hizir Reis kemudian diberi gelar sebagai gubernur (wali) Aceh,<a name="_ednref23" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn23"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[23]</span><!--[endif]--></a></span> yang merupakan utusan resmi Khalifah yang ditempatkan di daerah Aceh.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Bendera Turki di Kapal Aceh </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Hubungan Aceh dengan Turki Utsmani terus berlanjut, terutama untuk menjaga keamanan Aceh dari serangan Portugis. Menurut seorang penulis Aceh, pengganti al-Qahhar kedua, yakni Sultan Mansyur Syah (985-98/1577-88)</span><span> </span>memperbarui hubungan politik dan militer dengan Utsmani.<a name="_ednref24" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn24"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[24]</span><!--[endif]--></a> Hal ini dibenarkan oleh sumber-sumber historis Portugis. Uskup Jorge de Lemos, sekretaris Raja Muda Portugis di Goa, pada tahun 993/1585 melaporkan kepada Lisbon bahwa Aceh telah kembali berhubungan dengan Khilafah Utsmaniyah untuk mendapatkan bantuan militer guna melancarkan serangan baru terhadap Portugis. Penguasa Aceh berikutnya, Sultan Alauddin Riayat Syah (988-1013/1588-1604) juga dilaporkan telah melanjutkan hubungan politik dengan Turki. Dikatakan, Khilafah Utsmaniyah bahkan telah mengirimkan sebuah bintang kehormatan kepada Sultan Aceh dan memberikan izin kepada kapal-kapal Aceh untuk mengibarkan bendera Turki.<a name="_ednref25" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn25"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[25]</span><!--[endif]--></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Kapal-kapal atau perahu yang dipakai Aceh dalam setiap peperangan terdiri dari kapal kecil yang gesit dan kapal-kapal besar. Kapal-kapal besar atau jung yang mengarungi lautan hingga Jeddah berasal dari Turki, India, dan Gujarat. Dua daerah terakhir ini merupakan bagian dari wilayah Kekhilafahan Turki Utsmani. Menurut Court, kapal-kapal ini cukup besar, berukuran 500 sampai 2000 ton.<a name="_ednref26" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn26"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[26]</span><!--[endif]--></a></span> Kapal-kapal besar yang berasal dari Turki, yang dilengkapi meriam dan persenjataan lainnya dipergunakan Aceh untuk menyerang penjajah dari Eropa yang menganggu wilaya-wilayah Muslim di Nusantara.<a name="_ednref27" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn27"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[27]</span><!--[endif]--></a> Aceh benar-benar tampil sebagai kekuatan besar yang sangat ditakuti Portugis karena diperkuat oleh para ahli persenjataan dari Kekhilafahan Turki sebagai bantuan Khalifah terhadap Aceh.<a name="_ednref28" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn28"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[28]</span><!--[endif]--></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Menurut sumber-sumber Aceh, Sultan Iskandar Muda (10116-46/1607-36) mengirimkan armada kecil yang terdiri dari tiga kapal, yang mencapai Istambul setelah dua setengah tahun pelayaran melalui Tanjung Harapan. Ketika misi ini kembali ke Aceh, mereka diberi bantuan sejumlah senjata, 12 pakar militer, dan sepucuk surat yang merupakan keputusan Khilafah Utsmaniyah tentang persahabataan dan hubungan dengan Aceh. Kedua belas pakar militer tersebut disebut pahlawan di Aceh. Mereka dikatakan sangata ahli sehingga mampu membantu Sultan Iskandar Muda tidak hanya dalam membantu membangun benteng tangguh di Banda Aceh, tetapi juga istana kesultanan.<a name="_ednref29" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn29"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[29]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">As-Singkeli dan Qanun Syariah di Aceh </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Sebagai bagian Khilafah Islam, Aceh menerapkan syariat Islam sebagai patokan kahidupan bermasyarakat dan bernegara. Selain itu, Aceh banyak didatangi para ulama dari berbagai belahan Dunia Islam lainnya. Syarif Makkah mengirimkan ke Aceh utusannya, seorang ulama bernama Syaikh Abdullah Kan’an sebagai guru dan muballig. Sekitar tahun 1582, datang dua orang ulama besar dari negeri Arab, yakni Syaikh Abdul Khair dan Syaikh Muhammad Yamani. Di samping itu, di Aceh sendiri lahir sejumlah ulama besar, seperti Syamsuddin as-Sumatrani dan Abdur Rauf as-Singkeli. <a name="_ednref30" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn30"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[30]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Abdur Rauf Singkel</span><span> </span>mendapat tawaran dari Sultan Aceh, Safiyatuddin Shah untuk menduduki jabatan kadi/ hakim (qâdhi) dengan sebutan Qadhi al-Malik al-Adil yang sudah lowong beberapa lama karena Nuruddin ar-Raniri kembali ke Ranir (Gujarat). Setelah melakukan berbagai pertimbangan, Abdur Rauf menerima tawaran tersebut.<a name="_ednref31" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn31"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[31]</span><!--[endif]--></a> Karena itu, ia resmi menjadi kadi/hakim (qâdhi) dengan sebutan Qadhi al-Malik al- Adil. Selanjutnya, sebagai seorang kadi/hakim, Abdur Rauf diminta Sultan untuk menulis sebuah kitab sebagai patokan (qânûn) penerapan syariat Islam.<a name="_ednref32" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn32"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[32]</span><!--[endif]--></a> Buku tersebut kemudian diberi judul Mir’ah al-Thullâb.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Menurut Abdur Rauf, naskah Mir’ah ath-Thullâb mengacu pada kitab Fath al-Wahhâb karya Abi Yahya Zakariyya al-Ansari (825-925 H). Sumber lain yang digunakan untuk menulis buku ini ialah: Fath-al-Jawwâd, Tuhfah al-Muhtâj, Nihâyah al-Muhtâj, Tafsîr al-Baydawi, al-Irsyâd, dan Sharh Shahîh Muslim.<a name="_ednref33" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#_edn33"><span><!--[if !supportFootnotes]--></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">[33]</span><!--[endif]--></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Mir’ah ath-Tullâb mengandung semua hukum fikih Imam asy-Syafi’i, kecuali masalah ibadah. Peunoh Daly dalam disertasinya hanya menguraikan sebagian kandungan Mir’ah ath-Thullâb, terdiri dari: Hukum Nikah, Talak, Rujuk, Hadanah (Penyusuan), dan Nafkah. </span><span> </span>Namun, terlepas dari itu, Aceh sebagai bagian dari Khilafah Islam memiliki qânûn (undang-undang) penerapan syariat Islam yang ditulis oleh Abdur Rauf as-Singkeli.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Penutup </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Verdana;">Banyak bukti yang menunjukkan adanya hubungan</span><span> </span>yang dekat antara Aceh dan Khilafah Utsmani. Aceh seakan-akan dianggap sebagai bagian dari wilayah Turki Utsmani. Persoalan yang menimpa umat Islam di Aceh seakan-akan dianggap sebagai persoalan umat Islam secara keseluruhan. Khilafah Utsmani melindungi wilayah Aceh serta membantu Aceh melakukan futûhât dan dakwah. Wallâh a’lam bi ash-shawâb. [Maman Kh.kandidat doktor dan staf pengajar UIN Syarief Hidayatullah)</p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=312&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2008/08/05/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AS MEMBANGUN REZIM ORDE BARU</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2008/02/13/as-membangun-rezim-orde-baru/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2008/02/13/as-membangun-rezim-orde-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2008 13:12:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/index.php/2008/02/13/as-membangun-rezim-orde-baru/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Farid Wadjdi Syariah Publications. Entah sengaja atau tidak,  tidak lama setelah Soeharto meninggal, dokumen yang berisi hubungan AS dan rezim Soeharto dipublikasikan di Amerika Serikat. Dokumen yang dipublikasi oleh Arsip Keamanan Nasional atau The National Security Archives menggambarkan bagaimana pemerintah AS tidak berbuat banyak terhadap pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan oleh Soeharto di saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal" align="center"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Oleh : Farid Wadjdi<o :p></o></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Syariah Publications.</span></em></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> Entah sengaja atau tidak,  tidak lama setelah Soeharto meninggal, dokumen yang berisi hubungan AS dan rezim Soeharto dipublikasikan di Amerika Serikat. Dokumen yang dipublikasi oleh Arsip Keamanan Nasional atau <em>The National Security Archives</em> menggambarkan bagaimana pemerintah AS tidak berbuat banyak terhadap pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan oleh Soeharto di saat memerintah di <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1>. Kritik keras Amerika Serikat terhadap  Soeharto hanya muncul tahun 1998, ketika Indonesia diguncang kerusuhan akibat krisis moneter (<a href="http://www.dw-world.de/dw/article/"><span style="color: windowtext">www.dw-world.de/dw/article/</span></a>). </span><span id="more-249"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"><strong>Dalam</strong> dokumen  itu terdapat transkripsi pertemuan Soeharto dengan Presiden AS seperti Richard Nixon, Gerald Ford dan pejabat tinggi AS seperti Henry Kissingger yang saat itu menjadi menlu AS . Terungkap  pula, <st1 :city w:st="on">surat</st1> Menlu AS kepada Nixon yang menyatakan AS tidak memiliki masalah dengan <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1>. Ketika bertemu dengan Nixon dan Kissinger pada 26 mei 1970, terdapat tanya jawab yang antara lain berdapat laporar Soeharto bahwa dia telah menumpas pendukung komunis, melakukan indoktrinasi paham Orde Baru. Nixon kemudian memuji Soeharto sebagai pemimpin salah satu Negara demokrasi terbesar di dunia.  Saat bertemu dengan Soeharto,   <st1 :place w:st="on"></st1><st1 :city w:st="on">Presiden</st1> <st1 :state w:st="on">AS</st1> saat ituGerald Ford juga tidak memberikan tanggapan ketika Soeharto memaparkan kebijakannya tentang Timor Timur.  </span><span><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Dokumen</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> ini menunjukan adanya keterhubungan antara pemerintahan Soeharto dengan AS.  Selama ini , jarang sekali diungkap bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil Soeharto bukanlah semata-mata karena factor pribadi   sebagai pemimpin. Akan tetapi ada dukungan, pengaruh bahkan campur tangan yang kuat dari AS untuk mendesain system politik dan ekonomi <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1>. Hal itu tampak dari berbagai kebijakan yang diambil Soeharto saat itu yang sangat kapitalistik dalam berbagai bidang baik ekonomi, politik, agama maupun budaya.</span><span><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Hal ini</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> bisa dimaklumi, mengingat sejak awal pembentukan pemerintahan yang dikenal sebagai rezim orde Baru campur tangan AS sangat kuat.  Konstelasi politik saat itu menggambarkan bagaimana AS harus mencari ‘sekutu’ baru di <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1>, setelah Soekarno  dianggap semakin ke kiri (pro Komunis).  Soekarno kemudian tumbang setelah terjadinya peristiwa yang dikenal dengan pemberontakan G30s PKI. Soeharto pun muncul sebagai pemimpin baru di <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1> lewat -yang oleh banyak pihak-  disebut konspirasi politik tingkat tinggi. Berbagai dokumen rahasia AS yang kemudian dipublikasikan secara terbuka menggambarkan  campur tangan AS.   Raplh Mc Gehee, seorang pejabat operasi senior CIA menggambarkan kondisi teror saaat Soeharto mengambil alih <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1> tahun 60-an  mirip dengan model operasi  CIA di Chili, saat AS mendukung kudeta di Negara Amerika Latin itu. Menurutnya, Kedubes AS di Jakarta memberikan daftar data yang dituduh sebagai anggota PKI yang kemudia menjadi target untuk ditahan atau dibunuh. </span><span><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Jatuhny</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">a Soekarno  merupakan kondisi sangat kondusif bagi AS untuk bermain secara langsung dalam politik dan ekonomi <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1>. David Ramson dalam tulisannya <em>Mafia Barkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia</em>, mengutip pernyataan seorang pejabat Bank Dunia tentang situasi politik di <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1> : “ Kejadian di Indonesia pada tahun 1965 merupakan kejadian yang terbaik bagi kepentingan Uncle Sam sejak perang Dunia II”. Hal senada diungkap oleh Presiden Richard Nixon pada tahun 1967 yang mengatakan “ <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1> adalah  ‘hadiah terbesar’ (the greatest prize) di wilayah Asia Tenggara”. </span><span><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Kebijakan Pro Liberal </span></strong><span><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> <st1 :place w:st="on"></st1><st1 :city w:st="on">Peran</st1>  <st1 :state w:st="on">AS</st1></span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">  membangun rezim Soeharto sangat menonjol dalam bidang ekonomi.  AS membantu  membentuk Tim Ekonomi yang dikenal  dengan Mafia <st1 :city w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Berkeley</st1>. Tim inilah yang kemudian merancang kebijakan ekonomi <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1> yang kapitalistik, liberal dan sesuai dengan kepentingan AS.  Tim istimewa ini ditempatkan dalam pemerintahan baru yang menguasai perekonomian.  Dan hal itu kemudian terbukti, pada juni 1969, Soeharto  bertemu dengan tim ini yang kemudian menjadi menteri dalam kabinet pembangunan. </span><span><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Dalam</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> kabinet ini hampir sebagian besar pejabat ekonominya adalah hasil didikan AS terutama dari   Mafia <st1 :city w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Berkeley</st1> . Terdapat  Widjojo Nitisastro (alumnus Berkeley)  sebagai ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Emil Salim (alumnus Berkeley)sebagai wakilnya, Subroto sebagai dirjen pemasaran dan perdagangan  (alumnus Harvard), menteri  keuangan Ali Wardhana (Berkeley), ketua Penanaman Modal Asing Moh. Sadli (MIT). </span><span><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Kebijakan </span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">ekonomi pro liberal sejak saat itu diterapkan.  Ditandai dengan kebijakan yang pro pasar, mengundang investasi asing, meminjam hutang luar negeri.  Dampaknya sangat luar biasa. Kebijakan investasi asing ditandai dengan penjualan kekayaan alam <st1 :country-region w:st="on">Indonesia</st1> kepada perusahaan asing sebagai kompensasi dari bantuan hutang luar negeri <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1>.  Sementara hutang luar negeri kemudian menjadi alat tekanan negara donor  yang semakin menjerat <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1>.  Akibat jebakan hutang ini Indonesiapun harus patuh terhadap instruksi IMF dan Bank Dunia, yang alih-alih menyelesaikan krisis ekonomi, tapi malah membuat krisis ekonomi makin parah.</span><span><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Jhon Pilger</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> dalam The New Rulers of World menggambarkan bagaimana kekayaan alam <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1> dibagi-bagi bagaikan rampasan perang oleh perusahaan asing pasca jatuhnya Soekarno .  Menurut Jhon Pilger, pada November 1967  The Time Life Corporation mengadakan konferensi istimewa di Jenewa Swiss selama tiga hari. Agendanya,  fokus pada bagaimana strategi mengambil alih <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1>. Pesertanya,  pengusaha kapitalis paling pengaruh di dunia antara lain David Rockefeller. Perusahaan multinasional raksasa (terutama minyak dan gas) dan bank internasional pun hadir dalam konferensi itu.  </span><span><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Sementara</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> di seberang meja, hadir ekonom-ekonom The Berkeley Mafia yang menjual <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1> dengan tawaran tenaga buruh murah, cadangan dan sumber alam yang melimpah dan pasar yang besar. Pada hari kedua, masih menurut Pilger, kekayaan alam <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1> pun dibagi-bagi.  <st1 :city w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Freeport</st1> mendapat emas di Papua Barat, sebuah perusahaan konsorsium Eropa mendapat Nikel di Papua Barat, perusahaan lain mendapat hutan tropis.</span><span><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Tidak </span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">jauh beda dengan ekonomi,  kebijakan politik <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1> di masa rezim Soeharto sulit dikatakan  murni hasil pikiran Soeharto. Format politik saat itu sangat dipengaruhi oleh Ideologi Kapitalisme. Sejak era Soeharto kebijakan politik yang sekuler samakin menguat. Dalam konteks ini, bisa dimengerti kenapa Soeharto tampak bersikap sangat keras terhadap kelompok-kelompok Islam yang ingin memperjuangkan syariah Islam atau negera Islam. Disamping , kekuatan Islam dianggap sebagai ancaman politiknya secara pribadi, kekhawatiran kelompok Islam merubah asas sekuler dari negara juga menjadi pertimbangan. Sama seperti isu perang melawan terorisme sekarang, isu membendung kelompok radikal merupakan isu yang layak dijual untuk mendapat kepentingan negara-negara Barat.  </span><span><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><st1 :city w:st="on"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Bagi</span></strong></st1><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> </span></strong><st1 :state w:st="on"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">AS</span></st1><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> dan negara-negara Barat lainnya, kebijakan Soeharto yang mengokohkan sekulerisme di <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1> dengan membendung kekuatan kelompok Islam  tentu akan mengamankan posisi ideologis Barat. Sejak dulu hingga saat ini, ada kekhawatiran yang besar dari negera-negara Barat, bahwa <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1> dengan jumlah penduduk yang mayoritas muslim akan menjadi negara yang menegakkan syariah Islam secara formal. </span><span><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Bisa </span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">dimengerti kenapa AS tidak terlampau mempersoalkan kebijakan Seoharto yang cendrung represif terhadap lawan politiknya. Dalam kasus asas tunggal yang banyak misalkan, Soehrato kemudian menjerat lawan politiknya dengan alasan menentang ideologi negara. Tindak represif pun terjadi dibanyak tempat.   Sebab, asas tunggal yang ditawarkan Soeharto saat itu  akan memperkokoh sekulerisme di Indonesia, sekaligus mengurangi potensi ancaman ideologis dari kekuatan kelompok Islam.   </span><span><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Walhasil</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> bisa dikatakan kebijakan Soeharto saat memerintah yang kemudian menimbulkan banyak masalah baik secara politik maupun ekonomi, tidak bisa dilepaskan dari campur tangan AS saat itu.  Kondisi yang sama tentu tidak diharapkan terjadi dalam pemerintahan saat ini karena akan menimbulkan biaya (cost) politik  maupun ekonomi yang besar.. </span><span><o :p></o></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana">Pelajaran</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana"> dari rezim Soeharto, sikap tunduk pada konsepsi ideologi dan kebijakan negara Barat, secara politik telah menimbulkan berbagai pelanggaran kemanusiaan atas nama ideologi negara yang dimanipulasi. Secara ekonomi , tunduk pada <em>design</em> ekonomi asing yang pro liberal akan berbuah pada krisis ekonomi, kebijakan yang memberatkan rakyat, dan perampokan terhadap kekayaan alam <st1 :country-region w:st="on"></st1><st1 :place w:st="on">Indonesia</st1> atas nama investasi . Kita khawatir, sama seperti yang terjadi dengan rezim Soeharto, kemudian berakhir pada kerusuhan sosial.(<a href="http://www.syariahpublications.com/">www.syariahpublications.com</a>)</span><span>  </span>   <span><o :p></o></span></p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=249&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2008/02/13/as-membangun-rezim-orde-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak Syariah Dan Khilafah Di Indonesia</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2007/10/02/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2007/10/02/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 06:13:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/index.php/2007/10/02/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Syariah Publications. Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dengan berimannya orang perorang. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang rame dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani umayyah di Asia Barat sejak abad 7 . Menurut sumber-sumber Cina menjelang akhir perempatan ketiga abad [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal"><strong><em><span style="font-size: 12pt; font-family: "Times New Roman","serif"">Syariah Publications. </span></em></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: "Times New Roman","serif"">Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dengan berimannya orang perorang. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang rame dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani umayyah di Asia Barat sejak abad 7 . Menurut sumber-sumber Cina menjelang akhir perempatan ketiga abad 7, seorang pedagang Arab menjadi pemimpin pemukiman Arab muslim di pesisir pantai Sumatera.</span><span id="more-188"></span><br />
<span style="font-size: 12pt; font-family: "Times New Roman","serif""><br />
<img src="http://images.hayatulislam.multiply.com/image/2/photos/upload/300x300/Rmui3QoKCnEAAArjKU41/jejak%20syariah%20dan%20khilafah%20di%20indonesia.jpg?et=sj4Vnd6OfMbSdoeI25XQJg" align="right" height="300" width="195" /> Islam pun memberikan pengaruh kepada institusi politik yang ada. Hal ini nampak pada Tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dari Khilafah Bani Umayah meminta dikirimkan da`i yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Surat itu berbunyi: “Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang isterinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.” Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam. Sayang, pada tahun 730 M Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha.</p>
<p>Penerapan Syariat Islam</p>
<p>Islam terus mengokoh menjadi kekuatan/institusi politik yang mengemban Islam. Misalnya, sebuah kesultanan Islam bernama Kesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M. Contoh lain adalah Kerajaan Ternate. Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440. Rajanya seorang Muslim bernama Bayang Ullah. Walaupun rajanya sudah masuk Islam namun belum menerapkan Islam sebagai institusi politik. Kesultanan Ternate baru menjadi institusi politik Islam setelah Kerajaan Ternate menjadi Kesultanan Ternate dengan Sultan pertamanya Sultan Zainal Abidin pada tahun 1486. Kerajaan lain yang menjadi representasi Islam di Maluku adalah Tidore dan kerajaan Bacan. Selain itu, berkat dakwah yang dilakukan kerajaan Bacan, banyak kepala-kepala suku di Papua yang memeluk Islam. Institusi Islam lainnya di Kalimantan adalah Kesultanan Sambas , Pontianak , Banjar , Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai. Di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak, Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang. Adapun kesultanan di Jawa antara lain: kesultanan Demak yang dilanjutkan oleh kesultanan Jipang, lalu dilanjutkan kesultanan Pajang dan dilanjutkan oleh kesultanan Mataram. Sementara Cirebon dan Banten didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Sementara di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima.</p>
<p>Setelah Islam berkembang dan menjelma menjadi sebuah institusi maka hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik. Hal ini nampak dalam bidang peradilan dengan diterapkannya hukum Islam sebagai hukum negara yg menggantikan hukum adat yang telah dilaksanakan di Aceh (Samudera Pasai) pada abad 17. A.C Milner mengatakan bahwa Aceh dan Banten kerajaan Islam di nusantara yang paling ketat melaksanakan hukum Islam sebagai hukum Negara. Sementara kerajaan Mataram tidak ketat melaksanakannya karena masih dipengaruhi oleh adat, Budha atau Hindu. Demikian pula di Banten, hukuman terhadap pencuri dengan memotong tangan kanan, kaki kiri, tangan kiri dan seterusnya berturut-turut bagi pencurian senilai 1 gram emas telah dilakukan di Banten pada tahun 1651-1680 M di bawah sultan Ageng Tirtayasa. Sejarah Banten menyebut syaikh tertinggi dengan sebutan kyai Ali atau ki Ali yang kemudian disebut dengan kali (Qadhi yang dijawakan). Orang yang memegang jabatan ini sekitar tahun 1650 diberi gelar Fakih Najmuddin. Gelar inilah yang dikenal selama dua abad selanjutnya. Qadhi pada permulaan dijabat oleh seorang ulama dari Mekah, tetapi belakangan setelah tahun 1651 qadhi yang diangkat berasal dari keturunan bangsawan Banten. Qadhi di Banten mempunyai peranan yang besar dalam bidang politik misalnya penentuan pengganti maulana Yusuf.</p>
<p>Demikian pula, Sultan Iskandar Muda menerapkan hukum rajam terhadap puteranya sendiri yang bernama Meurah Pupok yang berzina dengan isteri seorang perwira. Sultan berkata: &#8216;mati anak ada makamnya, mati hukum kemana hendak dicari&#8221;. Kerajaan Aceh Darussalam mempunyai UUD Islam bernama Kitab Adat Mahkota Alam. Sultan Alaudin dan Iskandar Muda memerintahkan pelaksanaan kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam dan ibadah puasa secara ketat. Hukuman dijalankan kepada mereka yang melanggar ketentuan.</p>
<p>Kesultanan Demak sebagai kesultanan Islam I di Jawa sudah ada jabatan qodi di kesultanan yang dijabat oleh Sunan Kalijaga. De Graff dan Th Pigeaud juga mengakui adanya jabatan tersebut dengan sunan kalijaga sebagai pejabatnya. Di kerajaan Mataram pertama kali dilakukan perubahan tata hukum dibawah pengaruh hukum Islam oleh Sultan Agung. Dialah yang mengubah peradilan pradata (hindu) menjadi peradilan surambi karena peradilan ini bertempat di serambi masjid agung. Perkara kejahatan yang menjadi urusan peradilan ini dihukumi menurut kitab Kisas yaitu kitab undang-undang hukum Islam pada masa Sultan Agung. Penghulu pada masa sultan Agung itu mempunyai tugas sebagai mufti, yaitu penasehat hukum Islam dalam sidang-sidang pengadilan negeri, sebagai qadi atau hakim, sebagai imam masjid raya, sebagai wali hakim dan sebagai amil zakat.</p>
<p>Dalam bidang ekonomi Sultan Iskandar Muda mengeluarkan kebijakan riba diharamkan. Menurut Alfian deureuham adalah mata uang Aceh pertama. Istilah deureuham dari bahasa Arab dirham. Beratnya 0,57gram kadar 18 karat diameter 1 cm, berhuruf Arab di kedua sisinya. Selain itu di Kesultanan Samudera Pasai pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir (1297/1326) telah mengeluarkan mata uang emas yang ditilik dari bentuk dan isinya menunjukkan hasil teknologi dan kebudayaan yang tinggi. Secara umum di wilayah-wilayah Kesultanan Nusantara juga berlaku sistem kelembagaan kemitraan dagang (syarikah mufawadhah) dan sistem commenda atau kepemilikan modal (arab: qirad, mudharabah, mugharadhah). Berbagai hukum tersebut adalah bagian hukum perekonomian Islam. Ini menunjukkan diterapkannya sistem ekonomi Islam pada masa kesultanan-kesultanan di Nusantara.</p>
<p>Dalam bidang hubungan luar negeri, TW Arnold menyebutkan bahwa Sultan Samudera Pasai III, Sultan Ahmad Bahian Syah Malik az-Zahir cucu dari Malikus Saleh menyatakan perang kepada kerajaan-kerajaan tetangga yang non Muslim agar mereka tunduk dan diharuskan membayar jizyah atau pajak kepada kerajaan.</p>
<p>Dalam bidang keluarga dan sosial kemasyarakatan, Hikayat Raja-Raja Pasai menceritakan bahwa Malikus Saleh melaksanakan perintah yang dianjurkan ajaran Islam seperti merayakan kelahiran anaknya dengan melakukan akikah dan bersedekah kepada fakir miskin, mengkhitankan anaknya dan melakukan tata cara penguburan mayat mulai memandikan, mengkafani, sampai menguburkannya. Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari menulis buku Kitabun Nikah yang khusus menguraikan tentang fikih muamalah dalam bidang hukum perkawinan berdasarkan fikih mazhab syafi&#8217;i. Kitab ini telah dicetak di Turki. Uraian singkat kitab ini dijadikan pegangan dalam bidang perkawinan untuk seluruh wilayah kerajaan.</p>
<p>Dalam bidang pertanahan, terutama tentang hak pemilikan, penguasaan dan penggunaan tanah Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari telah menjelaskan ketentuannya dalam kitab Fathul Jawad yang isinya memuat ketentuan fikih yang diantarannya ihyaul mawat. Dalam pasal 28 UU Sultan Adam Kerajaan Banjar, dijelaskan bahwa tanah pertanian yang subur di daerah Halabiu dan Negara adalah dibawah kekuasaan kerajaan. Karena itu, tidak boleh seorangpun melarang orang lain menggarap tanah tersebut kecuali memang diatas tanah itu ada tanaman atau bukti lainnya bahwa tanah itu sudah menjadi milik penggarap terdahulu. Ketentuan ini memang sesuai dengan ketentuan fikih Islam yang menyatakan bahwa tanah liar atau tanah yang belum digarap adalah dibawah kekuasaan raja (negara) dan siapa saja yang menggarapnya adalah yang memilikinya. Dengan demikian nampak jelas bahwa Islam dan syariatnya sudah menyatu dan terimplementasi secara menyeluruh dan sistemis.</p>
<p>Hubungan dengan Khilafah</p>
<p>Institusi politik yang ada di Nusantara ini kelihatan memiliki hubungan dengan Khilafah Islamiyah. Diantara yang menunjukkan hal ini adalah saat Islam masuk ke Indonesia diantara para pengemban dakwahnya merupakan utusan langsung yang dikirim oleh khalifah melalui walinya. Misalnya, pada tahun 808H/1404M pertama kali para ulama utusan Sultan Muhammad I (juga dikenal sebagai Sultan Muhammad Jalabi atau Celebi dari Kesultanan Utsmani) ke pulau Jawa (dan kelak dikenal dengan nama walisongo). Setiap periode ada utusan yang tetap dan ada pula yang diganti. Pengiriman ini dilakukan selama lima periode.</p>
<p>Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim ahli tata pemerintahan negara dari Turki, Maulana Ishaq dari Samarqand yang dikenal dengan nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari Palestina, Maulana Aliyuddin dari Palestina, dan Syekh Subakir dari Persia. Sebelum ke tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai. Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah penguasa Samudra-Pasai antara tahun 1349-1406 M yang mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa. Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati). Mulai tahun 1463M makin banyak da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu Putri Prabu Menak Sembuyu Raja Blambangan, Raden Said (Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban, Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) dan Raden Qasim (Sunan Drajad) dua putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit. Banyaknya gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian yang berarti Tuanku di kalangan para wali, menunjukkan bahwa dakwah Islam sudah terbina dengan subur di kalangan elit penguasa Kerajaan Majapahit. Sehingga terbentuknya sebuah kesultanan tinggal tunggu waktu.</p>
<p>Hubungan tersebut juga nampak antara Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah. Bernard Lewis menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istambul untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan bahwa sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia masuk agama Islam jika kekhalifahan Utsmaniyah mau menolong mereka. Saat itu kekhalifahan Utsmaniyah sedang disibukkan dengan berbagai masalah yang mendesak, yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria, dan kematian Sultan Sulaiman Agung. Setelah tertunda selama dua bulan, mereka akhirnya membentuk sebuah armada yang terdiri dari 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya yang mengangkut persenjataan dan persediaan untuk membantu masyarakat Aceh yang terkepung. Namun, sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Banyak dari kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan dan memperluas kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Ada satu atau dua kapal yang tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut selain membawa pembuat senjata, penembak, dan teknisi juga membawa senjaata dan peralatan perang lainnya, yang langsung digunakan oleh penguasa setempat untuk mengusir Portugis. Peristiwa ini dapat diketahui dalam berbagai arsip dokumen negara Turki.</p>
<p>Hubungan ini nampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan diantaranya Abdul Qadir dari Kesultanan Banten misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu. Demikian pula Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar Sultan dari Syarif Mekah tahun 1051 H (1641 M ) dengan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. Pada tahun 1638 M sultan Abdul Kadir Banten berhasil mengirim utusan membawa misi menghadap syarif Zaid di Mekah. Hasil misi ke Mekah ini sangat sukses, sehingga dapat dikatakan kesultanan Banten sejak awal memang meganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada dibawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari syarif mekah.</p>
<p>Hubungan erat ini nampak juga dalam bantuan militer yang diberikan oleh Khilafah Islamiyah. Dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer berupa senjata disertai instruktur yang mengajari cara pemakaiannya dari Khilafah Turki Utsmani (1300-1922). Tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke khilafah Turki Utsmani untuk meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan orang Turki beserta sejumlah besar alat tembak (meriam) dan amunisi. Tahun 1567 Sultan Salim II mengirim sebuah armada ke Sumatra, meski armada itu lalu dialihkan ke Yaman. Bahkan snouck Hourgroye menyatakan, &#8220;Di Kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk muslimin di Indonesia.&#8221; Bahkan pada akhir abad 20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan al-Quran atas nama Sultan Turki. Di istambul juga dicetak tafsir al-Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili yang pada halaman depannya tertera &#8220;dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam&#8221;. Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki. Pada masa itu, yang disebut-sebut sultan Turki tidak lain adalah Khalifah pemimpin Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Selain itu Snouck Hurgrounye sebagaimana yang dkutip oleh Deliar Noer mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, terutama mereka yang tinggal di pelosok-pelosok yang jauh di penjuru tanah air, melihat stambol [Istambul, kedudukan Khalifah Usmaniyah] masih senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang mukmin yang kekuasaannya mungkin agaknya untuk sementara berkurang oleh adanya kekuasaan orang-orang kafir tetapi masih dan tetap [dipandang] sebagai raja dari segala raja di dunia. Mereka juga berpikir bahwa “sultan-sultan yang belum beragama mesti tunduk dan memberikan penghormatannya kepada khalifah.” Demikianlah, dapat dikatakan bahwa Islam berkembang di Indonesia dengan adanya hubungan dengan Khilafah Turki Utsmani.</p>
<p>Dengan demikian, keterkaitan Nusantara sebagai bagian dari Khilafah, baik saat Khilafah Abbasiyah Mesir dan Khilafah Utsmaniyah telah nampak jelas pada pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra-Pasai Darussalam oleh Utusan Syarif Mekkah, dan pengangkatan Sultan Abdul Kadir dari Kesultanan Banten dan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram oleh Syarif Mekkah. Dengan mengacu pada format sistem kehilafahan saat itu, Syarif Mekkah adalah Gubernur (wali) pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk kawasan Hijaz. Jadi, wali yang berkedudukan di Mekkah bukan semata penganugerahan gelar melainkan pengukuhannya sebagai sultan. Sebab, sultan artinya penguasa. Karenanya, penganugerahan gelar sultan oleh wali lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam. Sementara itu, kelihatan Aceh memiliki hubungan langsung dengan pusat khilafah Utsmaniyah di Turki.</p>
<p>Redupnya Penerapan Islam</p>
<p>Berkembangnya dan diterapkannya syariat Islam oleh hampir seluruh kesultanan Islam di Indonesia menyebabkan pemerintah Belanda berupaya sekuat tenaga untuk menghancurkannya. Upaya-upaya sistematis segera disusun untuk merealisir rencana tersebut. Salah satu langkah penting yang dilakukannya adalah infiltrasi pemikiran dan politik melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama melainkan Islam sebagai doktrin politik. Selain itu juga Snouck Hurgronye, dalam ceramahnya di depan Civitas akademika NIBA (Nederlands Indische Bestuurs Academie), Delft tahun 1911 memberikan penjelasan tentang politik Islam, yaitu: (1) Terhadap dogma dan perintah hukum yang murni agama hendaknya pemerintah bersikap netral, (2) Masalah perkawinan dan pembagian warisan dalam Islam menuntut penghormatan (3) Tiada satu pun bentuk Pan Islam boleh diterima oleh kekuasaan Eropa. Doktrin ketiga ini yang akhirnya mengilhami pemerintah Belanda memberangus setiap kelompok atau gerakan Islam yang berbasis pada politik.</p>
<p>Dari pandangan Snouck tersebut selanjutnya diformulasikan strategi yang dipakai untuk melemahkan dan menghancurkan Islam yang meliputi 3 kategori. Pertama: memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan oleh VOC. Setelah VOC dibubarkan tahun 1799, dan diambilalih langsung oleh Pemerintah Hindia Belanda, maka keluarlah Ordonansi yang mencabut penerapan Islam di Banten, dan bahkan kemudian menghapuskan kekuasaan Kesultanan Banten. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial.</p>
<p>Kedua, melalui kerjasama antara raja/sultan dengan penjajah Belanda. Pelaksanaan syariat Islam tergantung pada sikap sultannya. Di kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.</p>
<p>Ketiga: Soft power, yakni dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasehat pemerintah dalam masalah pribumi). Secara kasat mata nampak memperhatikan umat, tapi banyak mengeluarkan ordonansi (UU) yang seakan-akan Islami padahal mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye. Kantor ini selanjutnya mengeluarkan Ordonansi-ordonansi yang menghambat Islam dan perkembangannya. Sebagai contoh adalah Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882 yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri masalah agama (sekulerisasi). Ordonansi Perkawinan tahun 1905 yang memberikan kesempatan seseorang kawin di catatan sipil, mewajibkan seseorang beristri satu dengan menutup pintu poligami, sedang perceraian hanya jatuh bila dilakukan melalui peradilan. Ordonansi Pendidikan yang bertujuan menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi. Pendidikan barat diformulasikan sebagai faktor yang akan menghancurkan kekuatan Islam di Indonesia. Islam dianggap tidak pernah ada usaha ke arah kemajuan, melainkan justeru menuju kebekuan. Peraturan Islam dianggap merupakan rintangan paling besar. Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam untuk meminta dan memperoleh ijin terlebih dahulu, sebelum melaksanakan tugasnya sebagai guru agama. Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923 merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar.</p>
<p>Demikianlah secara langsung maupun tidak, syariat Islam mulai diganti. Dalam bidang Politik, pemerintahan dan kriminal pemerintah Belanda langsung mengganti Syariat Islam dengan memberlakukan hukum Hindia Belanda. Sedangkan hal-hal yang bersifat privasi menggunakan ordonansi yang fungsinya melemahkan syariat Islam, mulai pernikahan hingga pendidikan.</p>
<p>Perhatian Ulama dan Politikus Islam Terhadap Khilafah</p>
<p>Belanda terus menghancurkan Islam. Namun, semangat dan persatuan Islam tak pudar. Tatkala Khilafah Islamiyah dihancurkan oleh Inggris melalui konspirasi jahatnya dengan Mustafa Kemal, dunia Islam mengalami kegoncangan. Upaya-upaya mengembalikan kembali Khilafah pun diupayakan. Tak ketinggalan juga ulama-ulama dari Indonesia. Untuk menyatukan langkah dalam menghadapi perjuangan, para ulama Indonesia pada tahun 1922 mengadakan konggres Islam di Cirebon dan pada tahun 1924 di Garut. Berikutnya, pada tahun 1926 di adakan Muktamar Alam Islamy Far&#8217;ul Hindias Syarqiyah (MAIFHS, Konferensi Dunia Islam Cabang Hindia Timur) di Bogor sebagai respon atas undangan Konggres Islam Sedunia yg diselenggarakan oleh Ibnu Saud. Tahun 1924, Syarif Husein Amir Makkah membentuk Dewan Khilafah yang terdiri dari 9 orang sayyid di tambah 19 orang perwakilan daerah/negara lainnya. Dua orang perwakilannya berasal dari Jawi (Indonesia). Pada tanggal 13-19 Mei 1926 diadakan Konggres Dunia Islam di kairo. Dari Indonesia hadir H. Abdullah Ahmad dan H. Rasul. Bulan depannya, 1 Juni 1926 diselenggarakan Konggres Khilafah di Makkah. Saat itu Indonesia mengirimkan 2 orang utusan, yaitu H.O.S Tjokroaminoto (Central Sarekat Islam) dan KH. Mas Mansur (Muhammadiyah). Penunjukkan mereka ditetapkan dalam Konggres Al Islam ke-4 di Yogyakarta (21-27 Agustus 1925) dan Konggres ke-5 di Bandung (6 Februari 1926). Mereka berdua berangkat dari Tanjung Perak Surabaya dengan kapal rondo dan dielu-elukan oleh masyarakat. Sesampainya di Tanjung Priuk banyak pemimpin Islam yang menyambut mereka, bahkan memerlukan diri datang ke pelabuhan. Tahun 1927 berlangsung Konggres Khilafah kedua di Makkah. Indonesia diwakili oleh Haji Agus Salim (Sarekat Islam). Hasilnya Raja Saud (dalam sambutannya) tidak menginginkan dibicarakannya masalah khilafah dalam konggres tersebut. Sehingga konggres tersebut gagal. Ini semua menggambarkan bahwa para ulama dan tokoh politik Indonesia ketika itu menaruh perhatian besar terhadap khilafah. Bukan hanya ulama, bahkan orang Islam Indonesia tertarik pada persoalan khilafah ini semenjak Perang Dunia I berakhir. Kaum Muslim Indonesia memandang kekuasaan Sultan Turki sebagai Khalifah.</p>
<p>Perjuangan Tak Pernah Padam</p>
<p>Perjuangan terus berlanjut. Pada tanggal 16 Oktober 1905 berdirilah Sarekat Islam, yang sebelumnya Sarekat Dagang Islam. Inilah mestinya tonggak kebangkitan Indonesia, bukan Budi Utomo yang berdiri 1908 dengan digerakkan oleh para didikan Belanda. KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah tahun 1912 dengan melakukan gerakan sosial dan pendidikan. Sementara Taman Siswa didirikan Ki Hajar Dewantara pada 1922. Sejatinya, KH Ahmad Dahlanlah sebagai bapak pendidikan.</p>
<p>Perjuangan terus berlanjut hingga menjelang kemerdekaan. Terjadilah perdebatan sengit antara pejuang Islam yang menghendaki negara Islam dengan kalangan sekuler yang menolak penyatuan agama dengan negara. Ringkas cerita, yang terjadi adalah kompromi dengan lahirnya Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang menyebutkan bahwa negara dibentuk berdasar kepada, ”Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Sekalipun demikian, Ki Bagus Hadikusumo, pemimpin Muhammadiyah, menegaskan beliau tidak menyetujui rumusan tersebut. Kata-kata ’bagi pemeluk-pemeluknya’ harus dihapus. Cukup, ’dengan kewajiban menjalankan syariat Islam’. Tetapi, rumusannya tetap seperti itu. Jadi, perjuangan Islam berhasil dengan menetapkan pemerintah wajib menjalankan syariat Islam bagi umat Islam saja. Diantara tokoh Islam yang menandatanganinya adalah Abikoesno Tjokrosujoso (Partai Syarikat Islam Indonesia), Abdul Kahar Muzakir (Muhammadiyah), Haji Agus Salim (Partai Penyadar), dan KH A. Wahid Hasyim (Nahdhatul Ulama). Diproklamasikanlah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Ternyata, usianya hanya 1 hari. Sebab, pada 18 Agustus 1945 tujuh kata ’dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ dalam Piagam Jakarta dicoret oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Kejadian yang menyolok mata ini, dirasakan umat Islam sebagai suatu permainan sulap yang diliputi kabut rahasia. Pada 3 Januari 1946M Urusan Islam hanya diurusi oleh satu kementrian. Didirikanlah Kementrian Agama sebagai konsesi kepada kaum Muslim. Berikutnya, 27 Januari 1953M Presiden Soekarno berpidato di Amuntai bahwa bila negara yang didirikan berdasarkan Islam maka banyak daerah berpenduduk nonMuslim akan lepas. Pidato ini mendapatkan respons keras dari para tokoh dan organisasi Islam. Diantaranya, NU, Front Mubaligh Islam, Partai Islam Perti, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, dan Persatuan Islam. PB NU yang diketuai KHA Wahid Hasyim menulis: “… Pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak akan dapat memelihara persatuan bangsa dan akan menjauhkan Irian, menurut pandangan hukum Islam adalah merupakan perbuatan munkar yang tidak dibenarkan syariat Islam dan wajib tiap-tiap orang Muslimin menyatakan inkar atau tidak menyetujuinya …”. Tanggal 5 Juli 1959M keluarlah Dekrit Presiden tentang kembali kepada UUD 1945. Didalamnya ditetapkan juga, ‘…. Bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut …’.</p>
<p>Syariat Islam terus disingkirkan. Berikutnya, perjuangan Islam makin berat. Masyumi dibubarkan. Pada jaman orde baru Islam dimarjinalkan. Siapapun yang tegas-tegas menyuarakan Islam dituduh subversif dan dipandang musuh negara.<br />
Sekalipun diintimidasi, perjuangan Islam terus bertahan. Pesantren merupakan benteng pertahanan terkuat. Berikutnya era 1980-an mulailah Islam menggeliat di kampus dan kota besar seiring dengan tahun 1401H sebagai abad kebangkitan Islam. Islam semakin semarak. Sejak momentum reformasi, sekalipun sekulerisme kapitalisme makin dihunjamkan, suara Islam makin nyaring. Seruan menerapkan syariat Islam bergema di berbagai daerah. Muncullah perda-perda yang bernuansa Syariat Islam. Seruan penyatuan umat kedalam khilafah pun semakin terdengar.</p>
<p>Penutup</p>
<p>Syariat Islam pernah diterapkan di Indonesia sejak masuknya Islam pada abad ke-7. Sejak muncul kesultanan Islam abad ke-9, Islam diterapkan melalui institusi politik. Sekalipun Islam terus diporakporandakan, khususnya di bidang politik, ruh Islam tetap bergolak hingga masa kemerdekaan tahun 1945. Mereka ingin Islam diterapkan oleh negara. Namun, akhirnya terpaksa harus berkompromi dengan munculnya Piagam Jakarta yang mewajibkan pemeluk-pemeluk Islam menjalankan syariat Islam. Lagi-lagi umat Islam dikhianati, pada tanggal 18 Agustus 1945 tujuh kata ”Kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dihapus. Setelah itu, sekulerisme-kapitalisme makin mencengkeram.</p>
<p>Jelas, sejarah mencatat Islam dan umatnya di Indonesia tidak terpisah dari umat Islam lainnya. Bahkan, perhatian para ulama dan tokohnya dahulu terhadap persatuan Islam dalam khilafah begitu besar. Karenanya, upaya penolakan terhadap syariat Islam dan khilafah merupakan sikap dan tindakan ahistoris.[] (<a href="http://www.syariahpublications.com/">www.syariahpublications.com</a>)</p>
<p>Catatan Kaki:</p>
<p>1. Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, 2005, Rajawali Press, hal. 8-9; Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah, 1998, cet. IV, Mizan, hal. 92-93; A. Hasymi, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia: Kumpulan prasaran pada seminar di Aceh, 1993, cet. 3, al-Ma&#8217;arif, hal. 7; Hadi Arifin, Malikussaleh: Mutiara dari Pasai, 2005, PT. Madani Press, hal. Xvi; Ensiklopedia Tematis Dunia Islam Asia Tenggara, Kedatangan dan Penyebaran Islam oleh Dr. Uka Tjandrasasmita, 2002, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, hal 9-27. Dalam beberapa literatur lain disebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia abad ke 9. Ada juga yang menyebutkan abad ke 13. Namun, sebenarnya Islam masuk ke Indonesia abad 7M, lalu berkembang menjadi institusi politik sejak abad 9M, dan pada abad 13M kekuatan politik Islam menjadi amat kuat.</p>
<p>2. Musyrifah Sunanto, op cit. hal 6.</p>
<p>3. Ayzumardi Azra mengutip dari Ibnu Abi Rabbih, Jaringan Ulama, 2005, cet. II, Prenada Media, hal. 27-29</p>
<p>4. Hadi Arifin, Malikussaleh: Mutiara dari Pasai, 2005, PT. Madani Press, hal. xxxvi</p>
<p>5. Sejarah Emas Muslim Indonesia, Sabili, No.9 Th XI, hal. 18.</p>
<p>6. Machrus Effendi, Riwayat Hidup dan Perjuangan Syekh Muhammad Basyiuni Imam Sambas, PT. Dian Kemilau, Jakarta. 1995</p>
<p>7. Hasanuddin, dkk., Pontianak 1771 – 1900: Suatu Tinjauan Sejarah Sosial Ekonomi, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak. 2000</p>
<p>8. Abu Daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Skretariat Madrasah “Sullamul ‘Ulum” Dalam Pagar Martapura, 1996. 259 hal.</p>
<p>9. Syahzaman Hasanuddin, Sintang Dalam Lintasan Sejarah, Romeo Grafika Pontianak.</p>
<p>10. Tentang beberapa kesultanan Islam di Nusantara dapat lihat : Ensiklopedia Tematis Dunia Islam : Khilafah dalam bagian “Dunisa Islam Bagian Timur”, PT. Ichtiar Baru Vab Hoeve, Jakarta. 2002.</p>
<p>11. Musyrifah Sunanto, sejarah peradaban Islam Indonesia, hal. 133-134, Rajawali press, 2005. Pendapat A.C Milner ini merupakan opini sejarah, penggunaan kata kerajaan juga keliru, karena setelah beralih ke Islam, kerajaan hindu budha dikonversi menjadi Kesultanan.</p>
<p>12. Ibid, hal. 135, 142. Hukum seperti ini merupakan hukum Islam tentang pencurian, yakni siapa saja yang mencuri ¼ dinar (1 dinar kira-kira setara dengan 4,125 gram emas) atau lebih maka pelakunya dihukum potong tangan hingga pergelangan. Namun, bila melakukan pembegalan maka hukumannya dengan hukuman silang, yakni dipotong tangan kanan dan kaki kiri.</p>
<p>13. Ibid. hal 154.</p>
<p>14. Ibid. hal. 154-155</p>
<p>15. Musytrifah Sunanto, Sejarah peradaban Islam Indonesia, hal. 138, Rajawali Press, 2005. Hukuman rajam merupakan hukum Islam bagi pezina yang sudah/pernah menikah. Sementara pezina yang belum menikah hukumannya dicambuk 100 kali. Hukum seperti ini tidak dikenal sebelumnya. Ini menegaskan bahwa hukuman tersebut merupakan hukuman yang digali dari syariat Islam.</p>
<p>16. Ibid. hal. 153, 157, 158</p>
<p>17. Ibid. hal. 140.</p>
<p>18. A. Hadi Arifin, Malikus Saleh Mutiara dari Pasai, hal. 97</p>
<p>19. Ekonomi Masa Kesultanan; Ensiklopedia Tematis Dunia Islam : Khilafah dalam bagian “Dunia Islam Bagian Timur”, PT. Ichtiar Baru Vab Hoeve, Jakarta. 2002. Hal. 275.</p>
<p>20. Ibid, hal. 283</p>
<p>21. A. Hadi Arifin, op. cit.,. hal 124. Dalam hukum Islam sebenarnya amat berbeda antara jizyah dengan ‘pajak’ (dharibah). Jizyah merupakan harta yang dikeluarkan oleh kaum kafir dzimmi (nonMuslim yang menjadi warga negara Islam). Sementara, dharibah merupakan harta yang hanya ditarik pada saat kas negara kosong, itu pun hanya diminta dari warga negara yang kaya saja.</p>
<p>22. Ibid hal 118.</p>
<p>23. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Propinsi Kalimantan Selatan, Sejarah Banjar, 2004. Hal. 147</p>
<p>24. Ibid. Hal. 148.</p>
<p>25. Hukum ihya`u mawat merupakan hukum Islam yang termaktub dalam hadits Nabi. Siapa saja yang menghidupkan tanah mati maka ia berhak menjadi pemiliknya. Hukum ini jelas-jelas merupakan penerapan syariat Islam, sebab hukum ihya`u mawat tidak dikenal apalagi diterapkan sebelumnya.</p>
<p>26. Ketika itu nama Indonesia belum digunakan. Nama yang dikenal adalah Nusantara.</p>
<p>27. Rahimsyah, Kisah Wali Songo, tanpa tahun, Karya Agung Surabaya, hal. 6</p>
<p>28. Sebelum menjadi Islam, pemimpin institusi pemerintahan disebut raja dan pemerintahannya disebut kerajaan. Namun, setelah menjadi Islam namanya disebut kesultanan Islam yang dipimpin oleh seorang sultan. Jadi, ketika Lewis dan penulis lain yang menyebut istilah raja dan kerajaan pada kekuasaan Islam harus dibaca sebagai sultan dan kesultanan. Sebab, kerajaan menerapkan hukum yang berasal dari titah raja. Sedangkan dalam Islam, hukum berasal dari Allah SWT.</p>
<p>29. Bernard Lewis, Apa Yang Salah? Sebab-sebab Runtuhnya Khilafah dan Kemunduran Umat Islam (Terj.), 2004, PT. Ina Publikatama, Jakarta, hal. 16-17.</p>
<p>30. Ensiklopedia Tematik Dunia Islam Asia Tenggara, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta. 2002. Hal. 54</p>
<p>31. Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, Struktur Politik dan Ulama: Kesultanan Banten, , PT. Ichtiar Baru Vab Hoeve, Jakarta. 2002. Hal. 98.<br />
32. Rahimsyah, Kisah Wali Songo, tanpa tahun, Karya Agung Surabaya. hal. 143</p>
<p>33. Ensiklopedia Tematis Dunia Islam. Kesultnan, hal. 52-53, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta. 2002.</p>
<p>34. H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, cet ke-2, 1986, hal.<br />
96</p>
<p>35. Ibid. Dalam Footnote hal 203.</p>
<p>36. Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, cetakan keenam, LP3ES, 1991, hal. 34. Deliar Noer dalam footnotenya menyatakan bahwa dalam perang dunia I, khalifah di Turki menyatakan perang jihad kepada musuh-musuhnya dan berseru kepada semua orang islam termasuk ornag islam di Indonesia untuk memerangi musuh-musuhnya itu.</p>
<p>37. H. Aqib Suminto, op. cit., hal. 11.</p>
<p>38. Ibid. hal. 13. Pan Islam yang dimaksud sebenarnya adalah Khilafah, meski sesungguhnya Pan Islam tidak dapat disamakan dengan Khilafah</p>
<p>39. Ibid. Hal 29 &#8211; 62</p>
<p>40. Ibid. Hal. 32</p>
<p>41. Ibid. Hal. 32; Lihat juga Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah; Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, Mizan, cetakan ke empat, 1998. hal 227</p>
<p>42. Ibid. Hal. 86 &#8211; 89. Kilasan cerita tentang kongres ini dapat juga disinggung juga oleh Deliar Noor, opcit., hal. 242 – 243.</p>
<p>43. Deliar Noer, opcit., hal. 242.</p>
<p>44. H. Endang Saefuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, PUSTAKA Perpustakaan Salman ITB, 1983, hal. 4 – 6; Lihat juga, Ahmad Mansur Suryanegara.</p>
<p>45. Ibid, hal. 34. Pendapat tegas pemimpin Muhammadiyah ini menunjukkan bahwa tokoh pendahulu organisasi tersebut merupakan pejuang tegaknya Syariat Islam.</p>
<p>46. Kenyataan ini menegaskan bahwa NU sebagai organisasi para ulama adalah salah satu pendukung pemerintahan Islam dan pejuang syariat Islam. Cukup mengherankan bila ada yang membawa-bawa nama NU tetapi keras menentang syariat Islam. Betapa tidak, para tokoh NU dahulu berada di garda terdepan dalam menegakkan syariat dan pemerintahan Islam.</p>
<p>47. H. Endang Saefuddin Anshari, op.cit., hal. 25 – 69.<o :p></o></span>
</p>
<p class="MsoNormal"><o :p> </o></p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=188&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2007/10/02/jejak-syariah-dan-khilafah-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
