<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Syariah Publications &#187; Kritik</title>
	<atom:link href="http://syariahpublications.com/category/opini/kritik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syariahpublications.com</link>
	<description>Publikasi Opini Syariah dan Khilafah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 03:22:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Bukan Islam tapi Ideologi Blair-lah yang menjadi Ancaman Terbesar Dunia Saat Ini</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2010/09/07/bukan-islam-tapi-ideologi-blair-lah-yang-menjadi-ancaman-terbesar-dunia-saat-ini/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2010/09/07/bukan-islam-tapi-ideologi-blair-lah-yang-menjadi-ancaman-terbesar-dunia-saat-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 22:35:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[blair]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=2685</guid>
		<description><![CDATA[Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair telah menggambarkan “Islam radikal sebagai ancaman terbesar yang dihadapi dunia saat ini ‘ . Hal ini disampaikan Blair dalam wawancaranya saat mempromosikan memoarnya yang baru diterbitkan. Dalam wawancara dengan BBC, Blair menepis fakta yang sangat nyata bahwa apa yang dilakukan muslim Chechnya, Kashmir, Palestina, Irak dan Afganistan adalah melawan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/09/foto-tony-blair.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2686" title="foto-tony-blair" src="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/09/foto-tony-blair-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Mantan  Perdana Menteri Inggris Tony Blair telah menggambarkan “Islam radikal  sebagai ancaman terbesar yang dihadapi dunia saat ini ‘ . Hal ini  disampaikan Blair dalam wawancaranya  saat mempromosikan memoarnya yang baru diterbitkan.<span id="more-2685"></span></p>
<p>Dalam wawancara dengan BBC, Blair menepis fakta yang sangat nyata bahwa  apa yang dilakukan muslim  Chechnya, Kashmir, Palestina, Irak dan Afganistan adalah melawan pendudukan dan penjajahan  asing.</p>
<p>Dia juga ingin menimbulkan kesan seolah-olah perangBarat terhadap umat Islam dirancang  untuk menghadapi Islam radikal karena mereka “regresif, jahat dan  mundur”. Blair juga mengambil kesempatan untuk mempromosikan  perang terhadap Iran.</p>
<p>Mengomentari pernyataan Blair, Taji Mustafa, media wakil Hizbut Tahrir di Britania berkata: “komentar Blair, yang  agresif dan ofensif,  datang secara mengejutkan dari seorang  yang bertanggung jawab terhadap tertumpahnya darah ratusan ribu Muslim  di Irak dan Afghanistan akibat penjajahan Barat.</p>
<p>Blair juga merupakan orang yang sama yang menyatakan  Syariah  dan Khilafah sebagai ‘ideologi jahat’; yang pernah menyombongkan diri  bahwa Israel tidak punya teman yang lebih besar dari pemerintahannya,  dan yang menikmati keramahan diktator pembunuh seperti Muammar Gaddafi  dan Hosni Mubarak. “</p>
<p>“Namun, bukan Islam yang merupakan ancaman bagi dunia tetapi ideologi  Blair-lah yang mengancam dunia . Ideologi yang didedikasikan untuk  melayani kepentingan  perusahaan Barat dan untuk kepentingan bencana kapitalisme yang  merusak.”</p>
<p>“Bukan Islam yang memimpin dunia selama 100 tahun terakhir, dengan  dua perang dunia, dan perang-perang lainnya yang tak terhitung  jumlahnya. Bukan Islam yang merampok  kekayaan alam  India dan Afrika  selama  200 tahun terakhir, kemudian meninggalkan warisan sebagai negara  melemah, dan dipecahbelah dan terjerat dalam konflik yang  berkepanjangan.</p>
<p>Bukan Islam , yang menjatuhkan bom-bom  uranium  dan fosfor putih di Gaza, bukan Islam yang menjatuhkan bom nuklir di  Hiroshima atau Nagasaki. Bukan  Islam yang membiarkan elit dunia yang  kaya semakin kaya, sementara orang miskin di dunia semakin miskin. “</p>
<p>“kebohongan Blair terhadap Islam adalah upaya  mengalihkan  perhatian dari kejahatan Kapitalisme bukan hanya dimasa lalu tapi juga  sekarang. Blair sangat mencintai kapitalisme yangmenarik dengan cara  memaksa orang lain lewat laras senjata.</p>
<p>Sementara masyarakat melihat bagaimana kebobrokan  realita  kebebasan dan demokrasi Barat , disisi lain dunia Islam semakin nyaring  menyerukan Khilafah sebagai alternative bencana global kapitalisme.  (hizb.org.uk ; 6 September 2010 )</p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=2685&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2010/09/07/bukan-islam-tapi-ideologi-blair-lah-yang-menjadi-ancaman-terbesar-dunia-saat-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rintihan Seorang Mayor TNI AL di Indonesia Timur</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2010/09/05/rintihan-seorang-mayor-tni-al-di-indonesia-timur/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2010/09/05/rintihan-seorang-mayor-tni-al-di-indonesia-timur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 02:07:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[freeport]]></category>
		<category><![CDATA[papua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=2675</guid>
		<description><![CDATA[TRIBUNNEWS.COM- Melihat hubungan Indonesia dengan Malaysia yang memanas tidak begitu membuatnya risau karena yakin akan bisa diselesaikan dengan bijaksana. Kalaupun harus berperang maka TNI yakin menang dan sudah siap siaga karena dunia tahu kekuatan tentara Indonesia adalah terbaik ke-13 di dunia. Dan dunia mengakui bahwa Indonesia adalah negara cinta damai dan pemimpin ASEAN yang memayungi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/09/hutan_kalilmantan.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2676" title="hutan_kalilmantan" src="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/09/hutan_kalilmantan-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>TRIBUNNEWS.COM</strong>- Melihat hubungan Indonesia dengan Malaysia yang  memanas tidak begitu membuatnya risau karena yakin akan bisa  diselesaikan dengan bijaksana.</p>
<p>Kalaupun harus berperang maka TNI yakin menang dan sudah siap siaga karena dunia tahu kekuatan tentara Indonesia adalah <strong>terbaik ke-13 di dunia</strong>.  Dan dunia mengakui bahwa Indonesia adalah negara cinta damai dan  pemimpin ASEAN yang memayungi. Sehingga bisa dipastikan &#8220;tidak akan  terjadi&#8221; perang.<span id="more-2675"></span></p>
<p>Banyaknya aksi <strong>perampokan </strong>di darat serta berbagai isu <strong>terorisme </strong>tidak membuatnya sedih si Mayor TNI AL ini karena yakin hal-hal begitu <strong>bisa diselesaikan</strong> dengan baik dan tidak makan waktu lama.</p>
<p>Yang membuatnya sedih adalah kasus &#8220;<strong>perampokan</strong>&#8221; paling akbar oleh Amerika di bumi Papua Indonesia, <strong>pembalakan liar hutan</strong> hutan di Kalimantan dan Papua yang di-majikan-i orang Malaysia. Serta kasus <strong>penyelundupan</strong> besar-besaran dengan &#8216;kongkalikong&#8217; antara pelaku dengan instansi yang berwenang. Serta <strong>perdagangan senjata</strong> di perbatasan Filipina, Malaysia dan Australia yang tentu saja ada &#8220;becking&#8221;nya orang besar di Indonesia.</p>
<p>Untuk  keempat kasus tersebut si Mayor ini harus prihatin karena menahan  gejolak idealisme sebagai TNI yang harus mengamankan NKRI, tapi di sisi  lain &#8220;para pembesar&#8221; justru merusak negerinya sendiri. &#8220;Saya hanya  seorang mayor bisa berbuat apa?&#8221; kata si Mayor kepada tribunnews.com,  Sabtu (4/9/2010) malam.</p>
<p>Coba bayangkan kasus penambangan <strong>EMAS di PAPUA.</strong> Si Mayor pernah berhasil menyelinap masuk ke lokasi pertambangan itu  dan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Amerika mengeruk harta  karun Indonesia secara besar-besaran dan &#8220;dilegalkan&#8221; oleh pemerintah  dengan <strong>&#8220;kontrak&#8221; yang sangat merugikan rakyat Indonesia.</strong></p>
<p>Dalam  sehari saja, perusahaan Amerika itu bisa mengangkut sekitar 175.000 ton  biji pasir emas dari bumi Papua melewati perairan Samudera Pasifik.  Indonesia dapat apa?? tidak ada sama sekali uang masuk ke kas negara.  Kalau 20 persen saja dari jumlah emas yang diangkut itu untuk kas negara  maka sudah cukup untuk biaya pendidikan dan kesehatan <strong>GRATIS  seluruh Indonesia selama-lamanya.</strong></p>
<p>Penambangan  emas di Timika, terbesar di dunia, memang sejak awal sangat merugikan  rakyat Indonesia karena hanya 0% untuk kas negara.</p>
<p>Indonesia  sewajarnya mendapat manfaat yang proposional dari tambang yang dimilki.  Hal ini bisa dicapai jika kontrak kerja yang ditandatangani antara lain  berisi ketentuan-ketentuan yang adil, transparan, dan memihak  kepentingan negara dan rakyat. Ternyata pemerintah pada masa lalu,  hingga kini tidak mampu mengambil manfaat optimal.</p>
<p><strong>Hingga Tahun 1976</strong> perusahaan itu gratis atau setor ke negara 0%, enak kan?<br />
<strong>Tahun 1976-1983</strong> pemerintah kenakan (PPh) sebesar 35% (bukan produk yang dikenai pajak tapi hanya penghasilan !)<br />
<strong>Tahun 1984</strong> pemerintah dapat royalti 1% atas penjualan emas dan perak.<br />
<strong>Tahun 1994 </strong>pemerintah mengeluarkan  PP No.20/1994 belum maksimal.</p>
<p>Seharusnya  Presiden SBY bisa mengeluarkan PP  untuk menghilangkan berbagai  kerugian dengan menjadikan BUMN dan BUMD sebagai pemegang <strong>saham mayoritas di Freeport </strong>atau Timika</p>
<p>Perusahaan yang melakukan kontrak kerja dengan pemerintah untuk <strong>mengeruk emas terbesar di dunia itu</strong>,  diduga ada  penyelewengan, manipulasi, dugaan KKN, tekanan politik, dan  jauh dari kaidah-kaidah bisnis dan negara yang terpuji dan beradab.  Coba hitung lagi jika di bawah emas itu terdapat cadangan URANIUM  terbesar di dunia. Berapa nilainya?? Harga <strong>URANIUN </strong>berapa kali lipat dari harga emas?? Indonesia itu <strong>SANGAT KAYA</strong>!</p>
<p>Selama  42 tahun periode tambang (1967-2009) bangsa Indonesia tidak mendapatkan  hasil yang optimal dan sebanding dari potensi tambang Timika.</p>
<p>Dan jika Presiden tidak melakukan perubahan dengan PP maka harta karun di Papua itu akan <strong>terus dikeruk hingga tahun 2041</strong>. Menagislah rakyat Indonesia tanpa sadar kekayaannya diangkut ke Amerika.</p>
<p>Padahal  kalau rakyat tahu, berbagai manipulasi data dilakukan oleh perusahaan  tersebut untuk mengelabuhi pajak kepada pemerintah. Katakanlah ada 100  kapal yang mengangkut emas dari Papua ke Amerika maka yang dilaporkan  hanya 10 kapal saja agar pajak royalti 1% itu bisa diperkecil lagi  nominalnya. (<em>narasumber dirahasiakan demi keamanan</em>) (www.syariahpublications.com)</p>
<div>
<div>Penulis : widodo</div>
<div>Editor : widodo</div>
<div>Sumber : <a href="http://www.tribunnews.com/2010/09/05/rintihan-seorang-mayor-tni-al-di-indonesia-timur" target="_blank">www.tribunnews.com</a></div>
</div>
<div></div>
<div><em>Komentar : Saatnya Indonesia kembali kepada syariah dan usir penjajah.</em></div>
<div>
<div></div>
</div>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=2675&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2010/09/05/rintihan-seorang-mayor-tni-al-di-indonesia-timur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agenda Sinting Peringatan 11 September dan Hipokritnya Barat</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2010/08/28/agenda-sinting-peringatan-11-september-dan-hipokritnya-barat/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2010/08/28/agenda-sinting-peringatan-11-september-dan-hipokritnya-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 05:18:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[pembakaran al quran]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan 11 september]]></category>
		<category><![CDATA[wtc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=2605</guid>
		<description><![CDATA[(Buah Simalakama Demokrasi) Oleh : Harits Abu ulya (Ketua Lajnah Siyasiyah DPP-HTI) SyariahPublications.Com &#8212; Babak demi babak dunia terbuka matanya, terhadap kebesaran Islam dan kaum muslimin. Berhadapan dengan sikap hipokritnya barat dengan demokrasinya yang makin terjun kedasar jurang irrasionalitas dalam berfikir dan bersikap. Isu yang paling panas menggelinding tanpa terbendung saat ini; polah tingkah rencana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: center;">(Buah Simalakama Demokrasi)</h2>
<p style="text-align: center;"><strong>Oleh : Harits Abu ulya (Ketua Lajnah Siyasiyah DPP-HTI)</strong></p>
<p><a href="http://syariahpublications.com/" target="_blank"><strong></p>
<div id="attachment_2758" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/08/kaos-hina-islam.jpg"><strong><img class="size-thumbnail wp-image-2758" title="kaos hina islam" src="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/08/kaos-hina-islam-150x150.jpg" alt="menghina Islam" width="150" height="150" /></strong></a><p class="wp-caption-text">menghina Islam</p></div>
<p>SyariahPublications.Com</strong></a> &#8212; Babak  demi babak dunia terbuka matanya, terhadap kebesaran Islam dan kaum  muslimin. Berhadapan dengan sikap hipokritnya barat dengan demokrasinya  yang makin terjun kedasar jurang irrasionalitas dalam berfikir dan  bersikap. Isu yang paling panas menggelinding tanpa terbendung  saat  ini; polah tingkah rencana sekelompok kaum salibis (nasrani) yang di  motori oleh pendeta Terry Jones, 58 tahun, pemimpin Gereja Dove World  Outreacch Center di Gainesville, Florida, AS. Dengan lantang dia  menyerukan kesuluruh gereja didunia; “Pada 11 September 2010, pukul  06.00-09.00,kita akan membakar al Qur’an untuk mengenang korban 11  September dan untuk berdiri melawan kejahatan Islam. Islam itu dari  setan!”.</p>
<h2 style="text-align: center;"></h2>
<p><span id="more-2605"></span>(<a href="http://loganswarning.com/2010/07/13/us-church-starts-international-burn-a-koran-day/">http://loganswarning.com/2010/07/13/us-church-starts-international-burn-a-koran-day/</a>)  Sebuah gagasan yang terinspirasi dari laman Facebook dengan titel  “Everybody Drow Muhammad Day”, bahkan dikabarkan pendeta Terry sudah membuat video untuk dijadikan guide pembakaran Al Qur’an.</p>
<p>Dunia  Islam tidak hanya kali ini dihadapkan kepada upaya atau tindakan  pelecehan dan pelanggaran hak-hak mereka sebagai muslim. 1,3 miliar  muslim lebih dimuka bumi ini, kerap menyaksikan sikap durjana yang  menjadi nilai  inheren dari  imperialisme yang  diemban oleh AS dan sekutunya. Darah mereka tumpah di Iraq, di  Afghanistan, di Palestina, di Yaman dan lainya, infrastruktur mereka  hancur porak poranda dan menyisakan puing-puing dan derita. Sekedar  mengingatkan; pelecehan, penghinaan, dan pelanggaran serius terhadap  hak-hak asasi manusia sebagai muslim tidak hanya dalam bentuk pelecehan  al Qur’an yang dilakukan serdadu AS di penjara Guantanamo-Kuba atau  kartun Nabi dari Denmark, atau seperti yang akan dilakukan oleh pendeta  Terry (11 September 2010).</p>
<p>Tapi  apapun faktanya, kali ini perlu kita uji logika-logika yang dibangun  oleh pendeta Terry begitu pula orang-orang yang mengiyakan gagasan  sinting ini. Perlu kita ajukan beberapa pertanyaan; apa hubungan  peristiwa 11 september 2001 dengan Al Qur’an? Kenapa al Qur’an harus  menjadi subyek yang bertanggung jawab dari tragedi kemanusiaan? Dan  bagaimana sikap Barat dan penguasa negeri kaum muslimin seperti halnya  Indonesia?</p>
<p><strong>Logika dengkul Sang Pendeta </strong></p>
<p>Wajar  sekali kalau reaksi keras; kemarahan dan celaan muncul dari kalangan  muslim. Di kalangan orang salibis sendiri melahirkan kecaman keras  terhadap rencana tindakan pendeta Terry  Jones. Sebagian besar melihat gagasan pendeta Terry  dibangun  diatas logika yang sangat prematur bahkan logika dengkul  (irrasionalitas). Sebuah rencana yang lebih tepat dikatakan;  kebencianlah yang menjadi dasar bangunan logikanya. Demikian mudahnya  pendeta Jones menjustifikasi orang muslim yang menjadi pelaku dari  tragedi 11/9. Dan orang muslim melakukan tindakan “terorisme” dalam  tragedi 11/9 itu sumber inspirasinya adalah kitab Al Qur’an. Oleh karena  itu, dalam logika pendeta Jones peringatan 11/9 adalah momentum tepat  untuk menjelaskan kepada dunia bahwa Islam dan al Qur’anlah sumber dari  segala bencana, karenanya perlu di lawan dan dikumandangkan tentang  masalah ini.</p>
<p>Logika pendeta Jones sangat “sinting”,  yang lebih tampak adalah kebencian didalam dada mereka terhadap Islam  dan kaum muslimin, kalau mau jujur ini adalah potret yang mewakili  sentimen mayoritas yang silent masyarakat Amerika terhadap Islam. Jika  kembali menoleh kebelakang;  tragedi 11/9/2001 dengan  runtuhnya gedung kembar WTC, AS melakukan invansi ke Afghanistan dibawah  spirit “kristus” seorang presiden paranoid George W Bush. Tentu dengan  tuduhan; rezim yang berkuasa di Afghanistan adalah teroris dan berada  dibalik runtuhnya WTC. Kemudian dilanjutkan oleh Bush ke Iraq  dengan dalih kurang lebih sama; negara teroris yang berpotensi  membahayakan dengan senjata kimia pemusnah massalnya. Hingga sampai  detik ini, belum ada satupun alasan yang dipakai Bush kemudian bisa  dipertanggung jawabkan di hadapan publik dunia. Dalam penyelidikan  terbuka dan akuntable, tidak ada satu bukti bahwa tergedi runtuhnya WTC  ada kaitanya dengan kelompok al Qoida, pemerintahan Afghanistan waktu  itu dan demikian juga yang kedua pada kasus Iraq. Semua akal-akalan Bush  untuk membenarkan tindakan terorisnya atas dunia Islam khususnya  Afghanistan dan Iraq.</p>
<p>Tapi  apa yang dilakukan Bush telah mampu menyihir masyarakat Amerika, dan  mengendapkan sentimen serius dalam jiwa kaum kristiani mayoritas di AS.  Tuduhan; Islam dengan kitab sucinya al Qur’an adalah sumber  tindakan-tindakan “terorisme” yang mengancam peradaban barat  Amerika.Sekalipun disisi lain, juga menjadikan sadar sebagian anggota  masyarakat tentang kejahatan dan rekayasa pemerintahan Bush. Yang  akhirnya berbondong-bondong memeluk Islam, cukup interest untuk mengenal  Islam dan mengkonsulidasikan dalam ruang publik masyarakat Amerika.  Maka tuduhan Pendeta Jones  sangat mengada-ada, dan sangat berbahaya yang telah melampui semua logika dan kepekaan masyarakat dunia.</p>
<p>Dari realitas “konspirasi” seorang pendeta Jones membuat kesimpulan yang  sinting, menjadikan kitab suci menjadi tempat pertanggungjawaban atas  kejahatan manusia. Sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan sikap  umat Islam, dalam rentang waktu yang tidak sebentar menghadapi kondisi penuh pelanggaran terhadap harkat dan martabat mereka sebagai muslim yang dilakukan secara masif  oleh negara imperialis AS dan sekutunya.Tapi orang-orang muslim belum pernah merespon tindakan brutal AS dengan semboyan  perang “crusade” (perang salib) seperti yang dilontarkan dari mulut  ponggahnya G.W.Bush (Presiden AS sebelum Obama) dalam bentuk tindakan  seperti rencana pendata Terry Jones, belum terdengar kabar dan adanya  bukti gerakan pembakaran Injil oleh masyarakat Islam dimanapun mereka  berada.</p>
<p><strong>Bagaimana sikap masyarakat Barat?</strong></p>
<p>Beberapa  pendeta Kristen menolak ide gila dari pendeta Jones, demikian pula DK  PBB mengecam karena hal tersebut dianggap pelanggaran hak dan bukan  kebebasan berekspresi. Tapi itu tidak menyurutkan langkat Jones, seperti  halnya tulisan yang sangat kasar selalu terpampang didepan gereja Dove  World Outreach Center :”Islam is of the devil (Islam adalah dari  iblis)”, dimana Jones menjadi pendeta di gereja tersebut. Dan sikap  sinting Jones makin mendapat angin, dengan adanya rencana pembangunan  Rumah Cordoba atau Park 51 (yang akan menjadi pusat kegiatan Islam)  termasuk rencana pembangunan masjid, ditanah luas yang berjarak  dua blok  kearah utara dari tempat yang disebut “ground zero”. Dewan kota New York sudah menyetujui dan walikotanya Michail Blommberg mendukung.Tapi  akhirnya tertunda karena terjadi tarik ulur kepentingan para politisi  baik dari kubu Demokrat begitu juga kubu Republik.</p>
<p>Sekalipun pembangunan itu sesuai dengan amandemen Pertama Konstitusi Amerika, yaitu soal kebebasan beragama, namun sentimen mayoritas masyarakat New York dan  di representasikan oleh para politisinya menunjukkan paradoks demokrasi  yang dianut oleh AS. Sejak awal propaganda media barat menjadikan salah  paham, karena sesungguhnya komunitas muslim tidak membangun masjid dan  semisalnya di ”ground zero”, tapi di tanah luas yang  jaraknya dua blok dari “ground Zero” jarak yang lumayan jauh. Dengan  berpikir obyektif, dalam ruang demokrasi tidak ada pelanggaran atas  hak-hak orang kritiani oleh orang muslim. Kemudian bagaimana itu juga  bisa dijadikan alasan pembenaran sekolompok orang kristen dibawah  pendeta Terry Jones  hendak melakukan pelanggaran serius terhadap harkat martabat orang muslim sedunia?.</p>
<p>Jika Obama konsisten dengan pernyataannya  di Taman Balai Kota Columbus Ohio: ”Mereka punya hak yang sama  melaksanakan kewajiban keyakinan mereka” dalam kesempatan berbeda ketika  berbuka bersama dengan pemuka muslim di New York; ”mereka punya hak  seperti warga negara lain, dengan keyakinan yang lain”. Sebuah bentuk  dukungan Obama terhadap komunitas muslim, sekalipun kemudian di ralat  oleh juru bicara gedung putih (Robert Gibbs); ”presiden tidak mengurus  soal kebijakan tingkat lokal (New york)”.</p>
<p>Dan  akhirnya juga melahirkan kecaman dari kubu Republik di Senat dan  Konggres, dalam pandangan mereka persoalnya bukan masalah keyakinan tapi  masalah keamanan.Dan hingga saat ini juga tidak ada suara atau kritik  resmi dari Vatikan (Paus). Sekali lagi disana kita dapatkan sebuah  tuduhan yang sangat stereotif terhadap Islam. Komunitas Islam menjadi  ancaman bagi Amerika dan masa depannya. Dan seorang Obama akhirnya tidak  mudah untuk menghentikan segala bentuk provokasi anti-Islam yang  berkembang di masyarakat Amerika termasuk rencana pendeta Terry Jones.</p>
<p>Ruang  demokrasi, menampilkan sikap hipokrit barat terhadap dunia Islam. Dan  dengan dalih kebebasan umat Islam berulang kali mendulang penghinaan  oleh komunitas barat kafir. Dan sangat niscaya rencana Terry Jones  terjadi, mengingat selama ini pelaku-pelaku penghinaan terhadap  komunitas muslim juga aman-aman saja bahkan dilindungi oleh  negara-negara barat dengan alasan kebebasan ekspresi dan demokrasi.</p>
<p><strong>Implikasi lokal dan Peran penguasa Indonesia?</strong></p>
<p>Semua  membayangkan dan menduga, jika pembakaran al Qur’an ini terjadi maka  ini akan menjadi krisis serius di dunia Islam, perang antar agama dan  semisalnya. Atau ada dugaan sebaliknya, tidak memberikan efek apa-apa  kecuali riak-riak kecil dalam bentuk demo yang berisi cacian dan  makian.Tapi itu semua sporadis dan tentatif berlangsung hanya dalam  beberapa waktu saja, akan hilang seiring dengan belitan problem-problem  berikutnya yang antri untuk menghantam umat  Islam.Mulai dari soal ekonomi, hingga krisis politik. Atau umat Islam  khususnya di Indonesia sebagian besar akan membisu dan memaklumi, dengan  bersikap sangat “toleran” (efuisme lemahnya iman) dan dianggap elegan  kalau tidak terpancing atau merespon dengan tindakan-tindakan kekerasan  dan balas dendam kepada komunitas kristen di Indonesia.</p>
<p>Langsung  atau  tidak, komunitas non-muslim di Indonesia merasa kawatir, was-was, dan  cemas. Tidak bisa menerka lebih jauh apa yang akan dihadapi jika  peringatan 11/9 di AS itu betul-betul dalam bentuk pelecehan dan  penistaan terhadap al Qur’an (dengan membakarnya). Dalam konteks  psikologi seperti ini, wajar kalau kemudian pihak gereja dan aktifisnya,  begitu pula kelompok yang mengatas namakan gerakan pluralisme roadshow  keberbagai pihak yang dianggap bisa mereduksi langkah-langkah destruktif  dan <em>unpredictible</em> dari komunitas muslim di Indonesia.</p>
<p>Karena cemas dan kawatir yang menjadi dasar sesungguhnya dari pendekatan yang dilakukan oleh non-muslim,  dengan  berbagai strategi dan menggunakan berbagai komunitas dan elemen untuk  menyumbat resiko tak terkendali nantinya. Misal; dengan sumbangan al  Qur’an dari gereja, atau dialog lintas agama. Atau himbauan dan bahkan  turut mengecam tindakan pendeta sinting Terry Jones. Ini semua lipstik  untuk mendulang empati dan mengkebiri kesadaran umat Islam atas tiap  jengkal pelecehan dan penghinaan atas diri mereka.</p>
<p>Satu  sisi yang tidak berbeda dalam konteks ini, pemerintah terbiasa dengan  strateginya akibat mandul politik luar negerinya. Tidak berusaha keras  untuk menekan pemerintahan AS di bawah Obama yang sudah gembar-gembor  cukup respek terhadap dunia Islam. Agar menghentikan kebebasan  berekspresi yang diluar batas akal dan nurani manusia dari sekolompok  orang kristinai dibawah kendali pendeta Terry Jones.</p>
<p>Tapi sebaliknya, pemerintah dengan gerakan moderatisasinya  berusaha membungkam reaksi umat Islam. Di tanamkan sikap toleran,  moderat, dan menganggap semua itu bukan perkara serius yang perlu  ditanggapi. Bahkan umat yang  baik itu berdiam diri atas  tindakan penghinaan diluar batas itu. Disini sering kita melihat sikap  aneh penguasa negeri Islam terasuk Indonesia. Kenapa tidak mengamputasi  sumber penyakit? Tapi sebaliknya memaksa dengan halus kepada umat Islam  untuk menerima dan menganggap biasa terhadap penyakit tersebut. Wajar  kalau kemudian umat ini kehilangan haibahnya (wibawa dan kehormatanya),  dibawah kendali pemimpin yang tidak mengerti bagaimana berkhikmat untuk  agamanya.  Bisa jadi “ka’bah kiblat umat Islam itu di bombardir” penguasa juga  akan diam seribu bahasa, dan akan lebih sibuk membungkan reaksi umat  Islam dibandingkan dia menghukum orang yang telah menghinakan umat  Islam.</p>
<p>Presiden Susilo BY yang pernah mengatakan <em>“I love the United States, with all its faults. I consider it my second country.”</em> barangkali pada kasus ini tidak terlalu “bebal” dan menunggu berfikir  “matang-matang” untuk merespon isu dan peka terhadap aspirasi umat Islam  di Indonesia. Dan SBY bisa meminta kepada Obama sebagai presiden dari  negara keduanya SBY agar menghentikan ide sinting pendeta Terry Jones  dalam peringatan 11/9. Jika terlambat, maka “militansi” akan tersulut  demikian mudahnya, seperti tumpahan minyak ditengah terik matahari  begitu peka terhadap pemantik api. Jangan sampai semua terlambat, dan  para “pemadam kebakaran” yang dengan baju “moderat” dan “pluralisnya”  sia-sia dengan apa yang mereka lakukan. Karena realitas sosial umat  Islam; ada sebagian yang tidak solat dan lainya tapi akan bertaruh nyawa  jika kehinaan (seperti rencana pembakaran al Qur’an) ini terjadi.</p>
<p>Jangan  sampai presiden SBY di cap tukang ngibul membual dengan retorika yang  ambigu, seperti yang ditunjukkan dalam peringatan Nuzulul Qur’an di  Istana Negara 26/8/2010: ”setiap individu dinegeri ini memiliki  kemerdekaan beragama dan beribadah.Karena itu tidak boleh ada satupun yang  memaksakan kehendak, apalagi dengan kekerasan..”. Apa itu artinya  komunitas seperti Ahmadiyah dan semisalnya yang jelas-jelas menghina  umat Islam itu juga dibiarkan dan harus bebas? Atau bahkan dianggap  bagian dari keberagaman dan indahnya demokrasi? atau pelecehan dalam  bentuk lainya baik di dalam negeri atau oleh orang non-muslim diluar  negeri itu juga termasuk dinamika demokrasi dengan kebebasan  berpendapatnya?</p>
<p><strong>Ingatlah warning al Qur’an!</strong></p>
<p>Sikap  dasar yang dimiliki umat Islam dalam memandang hubungan dengan orang  non-muslim sangat jelas.Standar kebenaran untuk bersikap tertuang dalam  al Qur’an;</p>
<p>“Orang-orang  Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti  agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk  (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka  setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi  pelindung dan penolong bagimu”.(QS. Al Baqarah: 120)</p>
<p>Begitu juga dipertegas lagi tentang posisi mereka dan hakikat sikap mereka:</p>
<p>“Hai  orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman  kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak  henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa  yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa  yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh  telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu  memahaminya”(QS.Al Imran:118)</p>
<p>Hari  ini umat Islam terus menerus menemukan relevansi kebenaran dari  ayat-ayat diatas dalam ruang demokrasi yang menghegemoni hampir seluruh  negeri kaum muslimin.</p>
<p>Umat  Islam mendapat penghinaan nyaris tanpa perlawanan, karena sikap  hipokrit (munafik) Barat. Dan suatu ketika, siapa yang akan disalahkan  jika bendungan kesabaran umat ini sudah di titik kulminasinya…Bisa jadi  umat bisu seperti yang dikehendaki oleh orang kafir dan munafikin, atau  sebaliknya akan bangkit dalam berbagai rupa, ini semua niscaya.Dan  inilah buah simalakama demokrasi!.Wallahu a’lam bisshowab (<a href="http://syariahpublications.com/" target="_blank">www.syariahpublications.com</a>)</p>
<p>Sumber : <a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/08/28/agenda-sinting-peringatan-11-september-dan-hipokritnya-barat/" target="_blank">www.hizbut-tahrir.or.id</a></p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=2605&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2010/08/28/agenda-sinting-peringatan-11-september-dan-hipokritnya-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>65 Tahun Indonesia Merdeka: Kata Siapa?</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2010/08/19/65-tahun-indonesia-merdeka-kata-siapa/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2010/08/19/65-tahun-indonesia-merdeka-kata-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 13:52:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=2537</guid>
		<description><![CDATA[Oleh :Harits Abu Ulya, Ketua Lajnah Siyasiyah DPP-HTI Dengan usia kemerdekaan yang cukup matang, patut kiranya kita ajukan soal berikut; apakah para pemimpin dan pemangku pemerintahan telah mampu merealisasikan cita-cita dari kemerdekaan tersebut? Sudahkah rakyat dan bangsa ini benar-benar merdeka dengan arti sesungguhnya?, jika penjajahan fisik sudah berakhir, apakah penjajahan ekonomi, politik, hukum dan budaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><em>Oleh :Harits Abu Ulya, Ketua Lajnah Siyasiyah DPP-HTI</em></strong></p>
<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/08/sbypidato.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2538" title="sbypidato" src="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/08/sbypidato-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Dengan usia kemerdekaan  yang cukup matang, patut kiranya kita ajukan  soal berikut; apakah para pemimpin dan pemangku pemerintahan telah  mampu merealisasikan cita-cita dari kemerdekaan tersebut? <span id="more-2537"></span></p>
<p>Sudahkah rakyat dan bangsa ini benar-benar merdeka dengan arti  sesungguhnya?, jika penjajahan fisik sudah berakhir, apakah penjajahan  ekonomi, politik, hukum dan budaya juga sudah berakhir di negeri ini?.  Setiap 17 Agustus upacara pengibaran bendera dilakukan sebagai simbol  kemerdekaan, namun fakta nasib rakyat negeri ini belum berubah  signifikan. Nasib mereka makin merana, seperti makin lusuhnya bendera  sang saka.</p>
<p>Seharusnya dengan rentang waktu setengah abad lebih (65th), sebagai  bangsa merdeka idealnya telah banyak meraih impian anak-anak  negeri.Karena potensi dan energi untuk itu dimiliki oleh bangsa  ini.Namun lagi-lagi fakta berbicara lain, bahwa Indonesia belum  “merdeka” dari keterjajahan politik, ekonomi, hukum dan budaya.</p>
<p>Indonesia belum “merdeka” dari kemiskinan, kebodohan, kerusakan  moral, busng lapar, malnutrisi dan keterbelakangan. Perlu di ingat dari  237 juta jiwa lebih ini yang berpijak di atas tanah air ini adalah  mayoritas muslim (87%), artinya jika belum merdeka secara “hakiki” maka  merekalah yang mayoritas mengalami keterjajahan.</p>
<p>Pandangan diatas tentu tidak mengada-ada, sebagai contoh dalam sebuah  jajak pendapat yang dilakukan harian Kompas (16/8/2010); masyarakat  menilai banyak aspek dan kondisi makin buruk saja pada saat ini. Semisal  pada aspek keadilan hukum (59,3% menyatakan semakin buruk, 13,4%:tetap,  21,6%:semakin baik),keadilan ekonomi (60,7%:semakin buruk,  15,1%:tetap,21,1%:semakin baik).</p>
<p>Dan angka yang menunjukkan rendahnya kebanggaan terhadap bangsa dan  tanah airnya cukup tinggi (29,8%:semakin buruk). Ketika bicara pada  aspek peran negara, apakah sudah memadai atau belum dalam menciptakan  keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam berbagai bidang paling  krusial, kesimpulanya peran negara tidak memadai.</p>
<p>Peran negara dalam bidang Ekonomi (tidak memadai:75,7%,), politik  (tidak memadai:53,5%), hukum (tidak memadai:72,7%), pendidikan (tidak  memadai:46,9%), kesehatan (tidak memadai:48,4%).Dan pandangan masyarakat  tentang kemerdekaan, terlihat jelas bahwa Indonesia belum merdeka baik  menyangkut aspek ekonomi (67,5%:menyatakan belum merdeka),  politik  (48,9%;menyatakan belum merdeka),  budaya (37,1%:belum merdeka).</p>
<p>Tentu pandangan dan persepsi masyarakat (sampling di atas) tidak  mengada-ada,  rasanya cukup mewakili pandangan mayoritas rakyat  Indonesia. Karena fakta empirik mereka merasakan dan meraba atau bahkan  menjadi obyek penderita dari keterjajahan di era ”merdeka” saat ini.  Seakan layak diartikulasikan dalam sebuah pertanyaan retorik; Indonesia  merdeka, kata siapa?.</p>
<p>Dalam rentang waktu 65 tahun, di Indonesia masih menyuguhkan potret  terkini dari kehidupan rakyatnya yang masih banyak memprihatinkan. Dari  data BPS yang dibacakan presiden SBY (16/8), jumlah penduduk Indonesia  2010: 237.556.363 jiwa dan yang masuk katagori miskin lebih dari 100  juta penduduk dengan ukuran pendapatan 2 dolar AS/hari, bukan sekitar  31,02 juta (sekitar 13,33%) seperti yang dirilis oleh BPS.Dan sebagian  kemiskinan itu sebaranya ada di 183 kabupaten terkatogori tertinggal  (79%:kawasan Indonesia timur, 30%:kawasan barat Indonesia).</p>
<p>Bahkan ditengah hiruk pikuknya perayaan di halaman Istana Merdeka,  nun jauh di perbatasan Kaltim-Malasyia, ada 255 desa diperbatasan  terisolir dengan kehidupan memprihatinkan dan tingkat kesejahteraan  mereka sangat rendah, sangat paradoks. Badan Pusat Statistik (BPS)  mengaku tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2009, mencapai 8,96  juta orang atau 7,87 persen dari total angkatan kerja sebanyak 113,83  juta orang. Jumlah tersebut menurun 7,87 persen dibandingkan posisi  Februari 2009, sebanyak 9,26 juta atau turun 8,39 juta dibandingkan  Agustus tahun lalu yang  mencapai 9,39 juta.Fakta saat ini  di tahun  2010 tidak ada penurunan angka yang signifikan, bahkan dalam pidato  kenegaraan Presiden SBY hanya menggambarkan tentang apa yang akan  dikerjakan ke depan layaknya kampanye.</p>
<p>Namun tidak menjelaskan mengapa target periode pertama masa jabatan  tidak tercapai.Yaitu (target) kemiskinan menjadi 8,2 % dan (target)  angka pengangguran menjadi 5,1 % pada tahun 2009. Contoh, di ibukota  Jakarta saja, lebih dari 73 ribu sarjana jadi pengangguran dan dari  jenjang SMK menyumbang angka pengangguran lebih tinggi lagi.Jika mereka  mendapatkan pekerjaan maka yang banyak di sektor buruh (82%) dan itupun  tidak dilindungi kontrak.</p>
<p>Pidato kenegaraan jelang hari kemerdekaan menjadi tak berarti, karena  hanya menjadi ajang “memuji” keberhasilan semu penguasa dan politik  pencitraan. Berbusa-busa cerita espektasi RAPBN-2011 dan nota keuangan,  dengan memaparkan asumsi makro dalam RAPBN 2011; pertumbuhan ekonomi  Indonesia: 6,3%, nilai tukar Rupiah: Rp 9.300 per dolar AS, inflasi:  5,3%, SBI 3 bulan: 6,5%, harga minyak: US$ 80 per barel, lifting minyak:  970.000 barel per hari (pidato kenegaraan Presiden SBY 16/8).</p>
<p>Bahkan rencana menaikkan kembali gaji pegawai negeri sipil, Tentara  Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara RI serta pensiunan  masing-masing 10 persen. Kenaikan akan mulai dilakukan pada tahun  anggaran 2011.</p>
<p>Tentu bagi presiden itu sah-sah saja, tapi yang tidak bisa di ingkari  adalah potret kemiskinan rakyat dan keterjajahan mereka di tanah airnya  sendiri. Rakyat dihadapkan kenaikan harga yang makin tidak terkendali,  baik bahan pokok(sembako), pupuk pertanian, biaya pendidikan dan  kesehatan yang tinggi, hingga kenaikan TDL juga mendongkrok kenaikan  kebutuhan-kebutuhan sekunder lainya.</p>
<p>Jika para pengusaha(industri) diminta tidak perlu kawatir dengan  kenaikan TDL 15% yang efektifberlaku awal 2011, tentu hal ini menjadi  absurt karena akhirnya rakyat kecil juga yang cemas dan menanggung efek  dominonya. Yang tidak ketinggalan perlu diingat oleh masyarakat, APBN  yang 70% sumbernya adalah dari pajak tapi sebagian besar tidak kembali  untuk kesejahteraan rakyat. Karena sebagian di rampok oleh para  koruptor, sebagian lagi melalui kebijakan yang tidak pro-rakyat  menjadikan APBN tidak memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan.</p>
<p>Bisa di bandingkan, bagaimana sikap penguasa menghadapi kasus Bank  Century yang sigap mengucurkan Rp 6,7 triuliun (yang akhirnya di rampok  juga) tapi begitu abai untuk menyelamatkan korban lumpur Lapindo, atau  tega menurunkan subsidi baik disektor pendidikan (turun 1,5 triliun),  pertanian, kesehatan dan BBM, subsidi 2011 sebesar  Rp 41 triliun, turun  Rp 14,1 triliun (25,6%) dibanding tahun 2010, Rp 55,1 triliun. Dan yang  terbaru pemerintah rencana melepaskan harga gas kepasar, setelah rakyat  sebelumnya digiring untuk mengikuti kebijakan konversi dari minyak ke  gas oleh pemerintah.</p>
<p>Merdeka akhirnya menjadi sebatas retorika, hanya dinikmati orang  partai yang punya akses dijabatan publik serta orang-orang yang berada  seputar kekuasaan dengan logistik yang cukup mereka menguras kekayaan  negara dan menggunakan untuk berpesta pora di arena politik.Rasanya  wajar, jika beberapa daerah menuntut otonomi daerah, hingga referendum  untuk menjadi negara bagian (federal) bahkan menuntut  kemerdekaan.Sebagai contoh kasus, Papua yang terus bergejolak hingga  sekarang adalah potret kegagalan otonomi khusus yang tidak  terimplementasi dengan baik.</p>
<p>Kalau seorang presiden SBY, di pidato kenegaraan pertama Presiden  Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam masa bhakti Kabinet Indonesia  Bersatu II ini juga mengklaim keberhasilan pemerintah dalam melaksanakan  perubahan demokrasi yang fundamental. Indonesia diam-diam sedang  berevolusi. Telah melaksanakan proses desentralisasi yang sangat  ekstensif. Menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara langsung di  seluruh Indonesia, kini, seluruh Gubernur, Bupati, Walikota di Indonesia  telah dipilih langsung oleh rakyat. &#8220;Pelaksanaan demokrasi langsung ini  mengubah banyak hal.</p>
<p>Kini, rakyatlah yang berdaulat, bukan lagi sekelompok orang yang  mengatasnamakan rakyat,&#8221; ucap SBY.Hasilnya, peta politik Indonesia telah  berubah secara fundamental kata SBY di hadapan seluruh anggota DPD dan  DPR RI di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin 16 Agustus 2010. Ini pernyataan  “jauh panggang dari api”, artinya klaim keberhasilan berdemokrasi tidak  berbanding lurus dengan tingkat keadilan dan kesejahteraan yang didapat  oleh rakyat. Rakyat berdaulat itu ilusi demokrasi, menjadi gubernur  gajinya Cuma sekitar 8 juta, walikota sekitar 6 juta kemudian ketika  seorang  hendak merebut kursi kekuasaan ongkos politik yang mereka  keluarkan hingga mencapai ratusan miliar.</p>
<p>Kemudian ketika terpilih dituntut untuk menciptakan pemerintahan yang  clear dan clean, budaya politik yang bejat menjadikan “clear dan clean”  menjadi mimpi disiang bolong. Kekuasan akan mengabdi kepada segelintir  orang (oligarki kekuasaan), rakyat tetap terpinggirkan nasibnya. Tapi  rakyat selalu dijadikan tumbal dan alasan pembangunan, padahal itu  adalah penipuan dan inilah fakta budaya politik Indonesia yang dibangun  diatas  struktur politik dan substansi politik demokrasi-sekuler.</p>
<p>Di tahun 2010 saja,SBY sudah meneken izin pemeriksaan 150 kepala  daerah yang tersangkut kasus korupsi.Dalam kurun 2009-2014 Indonesia  sudah dan akan melakukan 503 pemilu  memperebutkan 19.433 kursi. Yakni  sekali pemilihan presiden dan wapres, kemudian 4 kali pemilu legislatif,  32 kali pemilihan gubernur dan wagub,466 kali pemilihan bupati/walikota  dan wakilnya.Kita bisa bayangkan, berapa dana yang dihamburkan? Dan  sejauh ini perubahan apa yang didapatkan oleh rakyat?.Inilah paradoks  demokrasi.</p>
<p><strong>Rakyat terjajah penguasanya sendiri?</strong></p>
<p>Dari beberapa gambaran diatas, jika mau jujur akar masalahnya adalah  pada sistem kehidupan yang dipakai oleh Indonesia. 65 tahun merdeka  dengan mengadopsi demokrasi-sekuler, dengan bentuk pemerintahan  presidensil kadang parlementer, menjadikan Indonesia menjadi negara  merdeka yang tidak berdaulat atas negerinya sendiri. Karena pada  akhirnya “demokrasi” menjadi topeng imperialisme baru terjadi begitu  masif dilakukan bangsa barat (AS dan sekutunya) terhadap Indonesia.</p>
<p>Para pemimpinnya mabuk dengan doktrin demokrasi, globalisasi dan  liberalisasi. Tanpa sadar, dogma-dogma yang dijadikan “topeng”  penjajahan gaya baru itu menyebabkan lahirnya kebijakan-kebijakan yang  membuat kemerdekaan tak berarti untuk anak negeri. UU KHUP masih warisan  penjajah, UU pengelolaan SDA yang liberal, UU kelistrikan, UU  pendidikan, kesehatan dan banyak lagi yang lain tidak begitu berpihak  dan berorentasi kepada kepentingan rakyat.  Dengan kekuatan lobi dan  jejaring serta dominasi sain teknologinya, bangsa imperialis  mengkooptasi semua potensi yang ada diperut bumi negeri tercinta ini  mengoyak dan menyedot semua isi.</p>
<p>Kita bisa saksikan; berapa kebijakan (regulasi) yang pro-imperialis  menjadi sebab rakyat masih dalam kotak kemiskinan. Indonesia menjadi  terjajah kembali oleh negara-negara imperialis dan dibantu oleh para  pengkhianat negeri. Para komprador lokal yang terdiri dari para  penguasa, politikus, intelektual yang lebih loyal kepada kepentingan  Asing karena syahwat kekuasaan dan kebutuhan pragmatisnya.Wajar rakyat  seperti “ayam mati dilumbung padi”, sengsara dinegerinya sendiri dan  Indonesia dengan julukan “zamrud katulistiwa, negeri yang subur” tidak  begitu berarti bagi anak negeri.</p>
<p><strong>Kembali kepada kemerdekaan hakiki: Islam</strong></p>
<p>Dari aspek ekonomi, jelas kita masih dijajah. Kebijakan ekonomi  merujuk  Kapitalisme Barat. Ketergantungan ekonomi kepada negara-negara  kapitalis Barat juga luar biasa. Utang luar negeri yang terus bertambah  hampir 2.000 triliun dan menjadi beban yang diwariskan dari generasi ke  generasi. Aspek politik, juga masih dijajah. Buktinya, sistem politik  yang kita anut, yakni demokrasi, lagi-lagi berasal dari negara kapitalis  penjajah.</p>
<p>Tragisnya, demokrasi menjadi alat bagi penjajah Barat untuk menjamin  kepentingan-kepentingannya. Hukum kita masih didominasi oleh hukum-hukum  kolonial. Fakta kemiskinan menjadi penyakit umum rakyat; busung lapar  dan gizi buruk terjadi di mana-mana. Negara juga belum berhasil  membebaskan rakyatnya dari kebodohan. Rakyat juga masih belum aman.  Pembunuhan, penganiyaan, dan kriminalitas menjadi menu harian rakyat  Indonesia. Bukan hanya tidak aman dari sesama, rakyat juga tidak aman  dari penguasa mereka.</p>
<p>Hubungan rakyat dan penguasa bagaikan hubungan antarmusuh. Tanah  rakyat digusur atas nama pembangunan. Pedagang kaki lima digusur di  sana-sini dengan alasan penertiban. Pengusaha tidak aman dengan  banyaknya kutipan liar dan kewajiban suap di sana-sini. Para aktifis  Islam juga tidak aman menyerukan kebenaran Islam; mereka bisa diculik  kapan saja dan dituduh sebagai teroris.</p>
<p>Karena itu, kunci agar kita benar-benar mampu melepaskan diri  penjajahan ada dua: pertama; melepaskan diri dari sistem kapitalis dalam  segala bidan, kedua; jangan percaya pada penguasa dan politisi yang  menjadi kaki tangan negara-negara kapitalis. Dan tidak sekadar  melepaskan diri dari sistem kapitalis. Sebagai solusinya, kita harus  menerapkan aturan-aturan Islam dalam seluruh kehidupan kita. Hanya  dengan syariat Islamlah kita dapat lepas dari aturan-aturan penjajahan.  Hanya dengan syariat Islam pula kita bisa meraih tujuan-tujuan  bernegara.</p>
<p>Syariat Islam yang akan diterapkan oleh Khilafah Islam akan menjamin  kesejahteraan rakyat karena kebijakan politik ekonomi Islam adalah  menjamin kebutuhan pokok setiap individu rakyat. Lebih dari kebutuhan  pokok (primer), negara juga akan memberikan kemudahan kepada rakyat  untuk mendapatkan kebutuhan sekunder dan tersier. Negara juga akan  menjamin kebutuhan vital bersama rakyat seperti kesehatan gratis,  pendidikan gratis, dan kemudahan transportasi.</p>
<p>Khilafah Islam juga akan menjamin keamanan rakyat dengan menerapkan  hukum yang tegas. Dan capaian semua berdiri tegak diatas sebuah ideologi  yang sesuai fitrah manusia, menentramkan jiwa dan memuaskan akal.  Menjadikan setiap hamba menghamba kepada Sang Maha Pencipta hamba, bukan  menjadi budak sesama hamba, maka akhirnya menjadi rahmatan lil ‘alamin  dengan tegaknya ideologi tersebut dalam realitas kehidupan bermasyarakat  dan bernegara.Wallahu a’lam bisshowab</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.eramuslim.com/berita/analisa/65-tahun-indonesia-merdeka-kata-siapa.htm" target="_blank">www.eramuslim.com</a></p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=2537&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2010/08/19/65-tahun-indonesia-merdeka-kata-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jubir HTI : Pidato SBY , Tidak Mencerminkan Seorang Presiden</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2010/08/18/jubir-hti-pidato-sby-tidak-mencerminkan-seorang-presiden/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2010/08/18/jubir-hti-pidato-sby-tidak-mencerminkan-seorang-presiden/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 20:51:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[pidato sby]]></category>
		<category><![CDATA[sby]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=2523</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta,-Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 Agustus lalu terus menuai kritik. Banyak pengamat menilai bahwa pidato tersebut hanya pencitraan dan tidak menyentuh permasalahan utama yang dihadapi rakyat. Bahkan Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto menilai SBY itu berpidato tidak seperti layaknya seorang presiden berpidato. Tetapi tidak lebih seperti seorang pengamat yang sedang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/08/miy.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2524" title="miy" src="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/08/miy-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Jakarta,-Pidato  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 Agustus lalu terus menuai  kritik. Banyak pengamat menilai bahwa pidato tersebut hanya pencitraan  dan tidak menyentuh permasalahan utama yang dihadapi rakyat. Bahkan  Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto menilai  SBY itu berpidato tidak seperti layaknya seorang presiden berpidato.  Tetapi tidak lebih seperti seorang pengamat yang sedang menyampaikan  hasil amatannya.  <span id="more-2523"></span></p>
<p>Ismail  mengingatkan bahwa SBY itu seorang presiden. Ia bukan seorang pengamat  politik, bukan seorang anggota DPR, juga bukan rakyat biasa. Dia adalah  seseorang yang ditangannya ada kewenangan dan kewajiban. Jadi semestinya  pidatonya itu mencerminkan seorang presiden.</p>
<p>“Tapi  saya melihat pidatonya itu baru mencerminkan dia sebagai seorang  pengamat,dia potret masalah-masalah yang ada tetapi tidak terlihat  langkah dia sebagai seorang presiden,” ujarnya kepada mediaumat.com,  Selasa (17/8) petang di Jakarta.</p>
<p>Dia  hanya mengatakan tahu banyak pilkada bermasalah, demokrasi mahal, ada  ini ada itu, tetapi apa tindakan dia sebagai seorang presiden? “Saya  ingin mengatakan daripada dia berpidato seperti itu lebih baik dia diam  tetapi banyak melakukan berbagai hal yang diperlukan oleh rakyat  banyak!” tegasnya. Misalnya, menerapkan kebijakan praktis soal gas  sehingga rakyat tidak diteror lagi oleh ledakan gas; menstabilkan  harga-harga agar tidak naik terus.</p>
<p>SBY  pun terlalu membesar-besarkan sesuatu yang kecil. SBY menganggap  pluralitas terancam, terorisme mengancam. Coba adakan jajak pendapat,  tanya rakyat, apa yang sebenarnya paling menakutkan mereka? Bukan  pluralisme dan bukan terorisme. Soalnya terorisme itu mengancam apa? itu  hanya klaim dari para pejabat, khususnya dari kepolisian. Setelah bom  Rizt Carlton kan tidak ada lagi. Bom itu pun relatif kecil ya. Artinya  ada masalah lain yang lebih besar yang luput dari perhatian SBY.</p>
<p>Demoralisasi  masyarakat misalnya. Itu lebih bahaya lagi dari terorisme. Banyak  masyarakat yang putus asa sehingga bunuh diri. Itu kan harus diketahui  akar penyebabnya? Itu semua kan terkait erat dengan kebijakan ekonomi  yang berakibat menyengsarakan rakyat, ditambah lagi minimnya edukasi  keimanan sehingga membuat rakyat rentan stress dan mengambil jalan  pintas dengan bunuh diri.</p>
<p>Jumlah  korban bunuh diri ini lebih banyak daripada korban bom. Jadi sebenarnya  bahaya mana?“Sehingga saya bependapat, sebagai pengamat pun SBY juga  gagal menjadi pengamat yang baik untuk mengidentifikasi masalah negara  ini!” ungkapnya.</p>
<p>Minoritas Tindas Mayoritas</p>
<p>Ismail  pun menyinggung soal toleransi antar umat beragama. Ketika pelanggaran  itu menimpa umat mayoritas dianggap tidak ada masalah tetapi umat  minoritas selalu membesar-besarkan masalah yang menimpanya. Padahal  kalau ditelisik, sebenarnya kesalahan bermula pada umat minoritas itu  sendiri.</p>
<p>Hebohnya  Jemaah Kristen HKBP di Bekasi, itu sebenarnya kasus kecil yang  dibesar-besarkan. Itukan problem mereka sendiri. Problem administratif  sebenarnya. Tetapi seolah-olah dianggap sebagai problem penindasan,  agama mayoriyas terhadap minoritas. Mereka tidak memenuhi syarat untuk  mendirikan gereja. Tetapi tetap mendirikan tempat ibadah, sehingga kan  menjadi ilegal, warga setempat jelas saja tidak terima. Kemudian  dibesar-besarkan seakan-akan umat yang mayoritas yang bersalah dan tidak  toleransi.</p>
<p>Padahal  banyak sekali diskriminasi yang ditimpakan kepada umat Islam. Lihatlah  umat Islam di Bali, betapa sulitnya umat Islam mendirikan masjid di  sana. Umat Islam tidak boleh adzan. Begitu juga umat Islam di NTT, di  Papua, nasibnya juga sama. Tapi itu tidak diekspos, jadi seolah-olah  yang dijadikan masalah kerukunan itu ketika ada orang non Muslim itu  yang punya masalah, kemudian dicaplah orang Islam sebagai tidak toleran.  Tetapi giliran umat Islam yang punya masalah tidak dianggap sebagai  problem kerukunan antar umat beragama. “Nah, presiden juga lupa  menyinggung masalah ini,” ungkap Ismail.</p>
<p>Itu  baru sedikit bermasalah dengan umat Islam, itupan karena kesalahan umat  Kristen sendiri yang tidak memenuhi syarat administratif mendirikan  gereja. Sudah dihebohkan. Lha umat Islam sendiri malah sudah ditembagi  oleh pemerintah! Kasus baru-baru ini saja di Cawang itu kan ditembak,  dan polisi tidak tahu siapa mereka yang ditembak. Kalau tidak tahu siapa  mereka itu, mengapa ditembak? Kalau sudah tahu mati, mengapa kemudian  polisi tidak tahu siapa yang ditembak itu? Itukan sebenarnya masalah.  Tapi SBY tidak pernah menyinggung-nyinggung ini. Seolah-olah absah kalau  orang ditembak begitu saja, dengan cap teroris kemudian dianggap  selesai.</p>
<p>“Intinya  SBY itu berpidato tidak seperti layaknya seorang presiden berpidato,  mutu pidatonya sangat mengecewakan, dianggap sebagai pengamat pun  pengamatannya saja sudah keliru.” pungkasnya.[] joko prasetyo</p>
<p>Sumber : <a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/08/17/jubir-hti-pidato-sby-tidak-mencerminkan-seorang-presiden/" target="_blank">www.hizbut-tahrir.or.id</a></p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=2523&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2010/08/18/jubir-hti-pidato-sby-tidak-mencerminkan-seorang-presiden/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seruan Toleransi dan Pluralisme yang Menyesatkan !</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2010/08/18/seruan-toleransi-dan-pluralisme-yang-menyesatkan/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2010/08/18/seruan-toleransi-dan-pluralisme-yang-menyesatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 20:47:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=2520</guid>
		<description><![CDATA[Kalaulah menjalankan syariah Islam yang kaffah (menyeluruh) dianggap hak umat Islam Indonesia yang mayoritas , justru pemerintah yang didukung oleh elit minoritas liberal-sekuler telah menghambat hak utama umat Islam ini. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menekankan perlunya toleransi keagamaan sementara meningkatnya seruan kepadanya agar mengambil tindakan tegas terhadap golongan Islam radikal, yang terus menyerang golongan minoritas. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kalaulah  menjalankan syariah Islam yang kaffah (menyeluruh) dianggap hak umat  Islam Indonesia yang mayoritas , justru pemerintah yang didukung oleh  elit minoritas liberal-sekuler telah menghambat hak utama umat Islam  ini. <span id="more-2520"></span></em></p>
<p>Presiden  Susilo Bambang Yudhoyono menekankan perlunya toleransi keagamaan  sementara meningkatnya seruan kepadanya agar mengambil tindakan tegas  terhadap golongan Islam radikal, yang terus menyerang golongan  minoritas. Dalam pesan kemerdekaannya, Presiden SBY menekankan perlunya  toleransi keagamaan sementara meningkatnya seruan kepadanya agar  mengambil tindakan tegas terhadap golongan Islam radikal, yang terus  menyerang golongan minoritas.</p>
<p>Dalam  pidato penting di depan parlemen pada malam menjelang Peringatan HUT  Kemerdekaan RI, Presiden SBY menyerukan kepada rakyat Indonesia agar  menghayati kehidupan harmonis sejati dalam masyarakat pluralistis.SBY  menghendaki pembangunan kehidupan demokratis dan adil dan menekankan  perlunya memelihara dan memperkuat persaudaraan, harmoni dan toleransi  sebagai bangsa.(VOA ; Senin, 16 Agustus 2010)</p>
<p>Sehari  sebelumnya, ribuan orang dari Jemaat Gereja Huria Kristen Batak  Protestan, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Perhimpunan  Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Wahid Institut, dan elemen  organisasi masyarakat lain berunjuk rasa di Jalan Medan Merdeka Barat,  Jakarta Pusat, Ahad (15/8). Mereka menagih janji pemerintah tentang  kebebasan beragama.</p>
<p>Tampak  sebuah gerakan yang sistematis belakangan ini yang membangun opini  bahwa di Indonesia tidak ada kebebasan beragama, golongan Islam radikal  menyerang golongan minoritas, gereja dibakar, gereja dirubuhkan . Opini  kemudian disertai dengan pernyataan bahwa pluralism di Indonesia  terancam, Pancasila terancam, dan berujung pada NKRI terancam. Siapa  yang mengancam ? Kelompok-kelompok Islam radikal yang memperjuangkan  syariah.</p>
<p>Jelas  ada penyesatan politik luar biasa dibalik ini semua. Benarkah di  Indonesia tidak ada kebebasan beragama ? Benarkah di Indonesia  pembangunan gereja terhambat ? Kenyataannya tidaklah seperti itu.  Menurut Kepala Badan Litbang Departemen Agama, Atho Mudzhar pertumbuhan  tempat ibadah yang terjadi sejak 1977 hingga 2004 justru meningkat.  Pertumbuhan rumah ibadah Kristen justru lebih besar dibandingkan dengan  masjid. Rumah ibadah umat Islam, pada periode itu meningkat 64,22  persen, Kristen Protestan 131,38 persen, Kristen Katolik meningkat  hingga 152 persen (Republika: 18 Februari 2006)</p>
<p>Laporan Majalah Time juga berbicara lain, dalam tulisan yang berjudul Christianity’s Surge in Indonesia (<a href="http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1982223,00.html">http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1982223,00.html</a>)  majalah itu menunjukkan gelora peribadahan pemeluk kristen di  Indonesia. “Banyak yang mengira Indonesia adalah sebuah negeri Muslim,  tetapi lihatlah orang-orang ini ” kata pendeta David Nugroho. Dia  membanggakan jemaat gerejanya yang berkembang , sekarang  berjumlah 400 orang , naik dari 30 orang saat didirikan pada tahun 1967.  “Kami tidak takut untuk menunjukkan iman kami .”,ujar Pendeta David</p>
<p>Dalam  laporan yang ditulis Hannach Beech (26/04/2010) itu gelora pertumbuhan  kristen di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari ledakan penganut kristen  di Asia. Jumlah umat Kristen Asia meledak menjadi 351 juta  pengikut  pada tahun 2005, naik dari 101 juta di tahun 1970 (merujuk kepada the  Pew Forum on Religion and Public Life yang berbasis Washington, D.C. )</p>
<p>Masih menurut laporan TIME, sensus  penduduk tahun 2000 jumlah penduduk kristen hanya  10%  dari penduduk Indonesia. Sesuatu yang tidak dipercaya oleh  pemimpin-pemimpin kristiani. Bukti sederhananya, di Tamenggung pada  tahun 1960 tidak ada gereja Evangelical sama sekali. Namun sekarang  terdapat lebih dari 40 gereja Evangelical.</p>
<p>Di ibukota Jakarta sekarang dibangun‘megachurches’  gereja megah yang  baru, seperti layaknya Texas (yang dikenal banyak terdapat gereja) dengan menara yang menjulang tinggi ke langit .Penganut kristen lain ramai-ramai beribadah  di  gereja-gereja tidak resmi di hotel-hotel dan mall , bersaing dengan  para pengunjung yang meningkat di akhir pekan. Patung Yesus Kristus  tertinggi dibangun pada tahun 2007, di kota Manado di Indonesia timur.  Sementara TV kabel Indonesia menyiarkan chanel yang mendakwahkan Kristen 24-jam terus menerus.<br />
Melarang Beribadah ?</p>
<p>Disamping  itu tentu sangat keliru menyimpulkan ketika pembangunan sebuah gereja  dihambat berarti tidak ada kebebasan beragama. Umat Islam selama ini  tidaklah mempersoalan hak umat Kristen untuk beribadah. Ajaran Islam  juga memberikan hak kepada agama lain seperti Kristen untuk beribadah  sebebas-bebasnya. Islam melarang pemaksaan untuk memeluk ajaran Islam  apalagi menghancurkan tempat-tempat ibadah umat non muslim. Dalam  sejarah Khilafah Islam , umat kristen hidup berdampngan secara harmonis  dibawah naungan syariah Islam.</p>
<p>Yang  dipersoalkan umat Islam selama ini adalah pembangunan gereja yang  melanggar aturan. Seperti membangun gereja di tempat pemukiman yang  mayoritas muslim sementara yang beragama kristen disana sedikit. Apalagi  sudah banyak terjadi gereja dijadikan basis kristenisasi untuk  memurtadkan penduduk sekitar yang muslim.</p>
<p>Dalam  kasus Bekasi yang kemudian menjadi pemicu unjukrasa bentrok diawali  ketika pihak kristen menggunakan mempergunakan tempat yang semestinya  tidak diperuntukkan bagi peribadahan. Pantas warga di sekitarnya tak  berkenan. Karenanya rumah ibadah itu kemudian disegel oleh Pemkot  Bekasi.Jemaat tersebut mengadakan ibadah di lahan kosong seluas 2.300  meter persegi di kawasan Pondok Timur Indah, Bekasi, pada Ahad (8/8/2010). Warga sekitar pun tak berkenan. Mereka membubarkan acara tersebut. Wargapun diprovokasi hingga menyebabkan bentrok.</p>
<p>Pemerintah  Kota Bekasi sudah menyiapkan tempat gedung untuk ibadah. Tapi para  jemaat sendiri yang menolak. Di Bekasi sendiri berdiri tiga bangunan  ilegal yang dijadikan sebagai tempat ibadah. Di antaranya, Gereja HKBP  Pondok Timur Indah di Kecamatan Mustika Sari, Gereja Gelilea Galaxi di  Kecamatan Bekasi Selatan, Gereja Vila Indah Permai (VIP) di Kecamatan  Bekasi Utara.Rencana pendirian gereja juga seringkali dengan cara menipu  warga.</p>
<p>Panitia pembanguna Gereja Kristen Indonesia  (GKI) Yasmin Bogor memalsukan tandangan tangan warga. Anehnya IMB  keluar padahal tidakada satu wargapun yang menandatanganinya. Padahal  berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) dua menteri pembangunan  fasilitas sosial wajib memiliki 60 hingga 90 tanda tangan warga.</p>
<p>Cerita  lain, pada November 2009 Satuan Polisi Pamong Praja membongkar lima  gereja di Desa Bencongan, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang. Lima  bangunan gereja yang dibongkar adalah Gereja Kristen Protestan Indonesia  (GKPI), Huria Gereja Batak Protestan (HKBP), Gereja Pantekosta Haleluya  Indonesia (GPHI), Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan Gereja Pantekosta  Indonesia (GPI). Mengapa gereja-gereja itu dibongkar? Berdasarkan  keterangan pejabat setempat, pembangunan lima gereja yang berdiri di  lahan seluas 110 hektar milik Sekretariat Negara (Sekneg) itu menyalahi  aturan karena tidak mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB).  Sebelumnya, tiga kali peringatan sudah dikeluarkan Pemda Tangerang,  namun pihak Kristiani tetap tak peduli.</p>
<p>Penyesatan Politik Sistematis</p>
<p>Fakta-fakta  seperti ini sering tidak diungkap, jadi memang ada kesengajaan untuk  membangun opini bahwa di Indonesia tidak ada kebebasan beragama. Di sisi  lain, sangat jarang diblow-up oleh media massa terutama media  internasional, bagaimana sulitnya umat Islam mendirikan masjid di  tempat-tempat yang mayoritas penduduknya non muslim seperti di daerah  Papua, Bali, atau Timor Timur (saat masih bergabung dengan Indonesia).</p>
<p>Isu  pembangunan gereja ini kemudian dipolitisasi oleh kelompok-kelompok  liberal untuk mengkampanyekan ide sesat mereka tentang pluralisme oleh  sudah difatwakan haram oleh MUI. Alasan melindungi pluralisme inilah  yang digunakan untuk membenarkan kelompok-kelompok sesat yang menyimpang  dari Islam. Disisi lain menuntut ormas-ormas Islam yang mereka cap  radikal dibubarkan. Alasan menjaga Pluralisme juga digunakan membenarkan  pembangunan gereja-gereja tanpa izin . Dengan alasan pluralisme ini  digunakan oleh pihak kristen untuk membenarkan kegiatan misionaris  mereka memurtadkan umat Islam. Semua ini menunjukkan memang ide  pluralisme sangat berbahaya bagi umat Islam.</p>
<p>Pihak  Kristen sendiri sudah sejak lama menolak larangan menyebarkan agama  kristen pada umat lain termasuk umat Islam. Beberapa tokoh Islam seperti  H.M. Rasjidi dan M. Natsir pernah mengusulkan agar pemerintahmembuat  peraturan yang pada intinya melarang penyiaran agama lain kepada orang  yang sudah beragama tertentu. Namun kalangan Kristen seperti T.B.  Simatupang menentang usul itu, karena menurut mereka hal itu  bertentangan dengan sifat-dasar agama Kristen sebagai agama misioner,  maupun dengan kebebasan beragama (termasuk beralih agama) yang dijamin  oleh Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia (HAM) maupun  Undang-Undang Dasar 1945 (Jan S Aritonang; interfidei.or.id/pdf/DS19113)</p>
<p>Tidak  hanya itu, isu pembangunan gereja ini juga digunakan kelompok sekuler  liberal untuk melakukan stigmatisasi terhadap kelompok-kelompok Islam  yang mereka cap radikal dan ingin menegakkan syariah Islam. Tidak heran  kalau mereka yang selama ini memang getol menyerang syariah Islam  seperti orang-orang yang tergabung dalam Wahid Institute dan Jaringan  Islam Liberal (JIL) sangat aktif berperan .</p>
<p>Logika  minoritas yang ditindas oleh mayoritas juga sangat menyesatkan. Umat  Islam memang mayoritas dari segi jumlah , namun umat Islam di Indonesia  justru menjadi korban dari elit-elit minoritas sekuler baik  secara ekonomi maupun politik. Dengan kebijakan kapitalisme elit-elit  minoritas ini menyengsarakan rakyat Indonesia yang mayoritas muslim.  Kalau kita jujur, siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dengan  kebijakan kapatalis-Liberal ini ? Jelas bukan mayoritas umat Islam.</p>
<p>Kita juga mempertanyakan , kenapa kelompok liberal-sekuler yang mengklaim mendukung HAM diam seribu bahasa saat terjadi  pembantaian terhadap umat Islam Palestina, Irak dan Afghanistan,  termasuk diam terhadap pembantaian umat Islam di Ambon dan Poso. Mereka  juga diam terhadap ketika Aktifis-aktifis dan ulama umat Islam juga diperlakukan semena-mena atas nama perang melawan terorisme ala Amerika. Terakhir,  kita ingin mengatakan kalaulah menjalankan syariah Islam yang kaffah  (menyeluruh) dianggap hak umat Islam Indonesia yang mayoritas , justru  pemerintah yang didukung oleh elit minoritas liberal-sekuler telah  menghambat hak utama mayoritas umat Islam ini. (Farid Wadjdi)</p>
<p>Sumber : <a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/08/17/seruan-toleransi-dan-pluralisme-yang-menyesatkan/" target="_blank">www.hizbut-tahrir.or.id</a></p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=2520&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2010/08/18/seruan-toleransi-dan-pluralisme-yang-menyesatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sikap Ambigu Presiden SBY Soal “Terorisme”, Aneh!</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2010/08/13/sikap-ambigu-presiden-sby-soal-%e2%80%9cterorisme%e2%80%9d-aneh/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2010/08/13/sikap-ambigu-presiden-sby-soal-%e2%80%9cterorisme%e2%80%9d-aneh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 03:35:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=2433</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Harits Abu Ulya (Ketua Lajnah Siyasiah DPP-HTI) Akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono angkat bicara soal terorisme, sebelumnya lewat  jubir presiden Julian A Pasha menyatakan bahwa presiden SBY sudah mengetahui perihal penangkapan Abu Bakar Ba’asyir melalui Kapolri di hari Senen (9/8). Plus tepisan kalau penangkapan tersebut bukan intruksi dari SBY. Kemudian saat Presiden SBY rapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Oleh: Harits Abu Ulya (Ketua Lajnah Siyasiah DPP-HTI)</strong></p>
<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/08/sby-tunjuk-tangan.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2434" title="sby-tunjuk-tangan" src="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/08/sby-tunjuk-tangan-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono angkat bicara soal  terorisme, sebelumnya lewat  jubir presiden Julian A Pasha menyatakan  bahwa presiden SBY sudah mengetahui perihal penangkapan Abu Bakar  Ba’asyir melalui Kapolri di hari Senen (9/8). Plus tepisan kalau  penangkapan tersebut bukan intruksi dari SBY. <span id="more-2433"></span>Kemudian saat Presiden SBY  rapat kabinet di Sekretariat Negara mengingatkan kasus terorisme tidak  bisa dikaitkan dengan agama maupun politik. Ia menegaskan terorisme  merupakan kejahatan yang terkait dengan hukum. “Saya tak pernah membawa  terorisme ke dalam arena politik, karena bukan politik. Juga tidak  membawa terorisme ke arena agama, karena terorisme bukan ajaran agama,”  kata SBY di Gedung Sekretariat Negara, komplek Istana Negara, Jakarta,  Selasa (10/8).</p>
<p>Dan SBY mempercayakan kepada penegak hukum untuk menangani dengan  cara tepat,profesional, akuntabel, dan dapat dijelaskan kepada publik.  Bahkan menambahkan bahwa masalah ini sensitif dan sering melahirkan  salah paham diantara masyarakat terhadap apa yang dilakukan penegak  hukum.</p>
<p>Rasanya kelewat wajar kalau sebagian orang mengkritik sikap SBY,  ambigu bahkan ada yang katakan lebay. Dalam kasus terorisme, masih  terekam beberapa jejak sikap SBY yang ditampilkan dihadapan publik yang  menunjukkan ambiguitasnya. Menjelang Pemilu Presiden di tahun 2009  silam,SBY mengomentari peristiwa bom di JW Marriott dan The Ritz  Carlton, 17 Juli 2009. SBY mengatakan secara eksplisit, dirinya termasuk  salah satu target incaran penembakan oleh kelompok yang ingin  menggagalkan pemerintahan yang demokratis. “Berdasarkan laporan  intelijen, ada upaya yang sistematis menggagalkan kelangsungan  pemerintahan yang demokratis ini,” ungkap SBY merespon tragedi   pengeboman di kawasan Mega Kuningan 17 Juli 2009. Hal yang sama sebelum  penangkapan orang-orang yang diduga teroris dan kemudian disusul  penangkapan ustad ABB, SBY juga mengeluh menyatakan dirinya menjadi  sasaran kelompok teroris. “Saya dapat laporan tadi malam dari jajaran  pengamanan, ada di antara anak bangsa yang punya niat tidak baik yang  sekarang ada di sekitar Ciwidey,” ujarnya, Sabtu (8/8).</p>
<p>Di tahun 2010, tepatnya di bulan Mei presiden SBY juga mengeluarkan  pernyataan terkait kasus terorisme juga. Dalam keterangan persnya di  Bandara Halim Perdanakusumah, Senin (17/5/2010) sebelum bertolak ke  Singapura dan Malaysia Presiden SBY menegaskan tujuan dari para teroris  adalah mendirikan negara Islam. Padahal, menurut SBY, perdebatan tentang  pendirian negara Islam sudah rampung dalam sejarah Indonesia. Aksi  teroris juga bergeser dari target asing ke pemerintah. Ciri lain,  menurut Presiden, para teroris menolak kehidupan berdemokrasi yang ada  di negeri ini. Padahal, demokrasi adalah sebuah pilihan atau hasil dari  sebuah reformasi. Karena itu menurut presiden keinginan mendirikan  negara Islam dan sikap anti demokrasi tidak bisa diterima rakyat  Indonesia.</p>
<p>Di satu sisi kita memang bisa menyaksikan keberanian pihak Polri luar  biasa untuk menangkap kesekian kalinya ustad ABB, sebagian pihak  menganggap tentu langkah ini dengan pertimbangan matang dan tidak  gegabah. Terutama ketika Polri merasa memiliki bukti (data) yang  meyakinkan untuk kembali menjerat ustad ABB.Dan menjadi beban moral yang  sangat besar kiranya kalau kali ini mengulangi kegagalan, tidak bisa  membuktikan didepan pengadilan melalui penuntut kejaksaan terbaiknya  bahwa ustad ABB terbukti seperti yang disangkakan. Jika mampu untuk itu,  tidak menutup kemungkinan ustad ABB akan dikenakan hukuman penjara  seumur hidup atau hukuman mati. Dijangkauan pasal berlapis UU Terorisme.  Yakni, pasal 14 jo pasal 7, 9, 11, dan atau pasal 11 dan atau pasal 15  jo pasal 7, 9, 11, dan atau pasal 13 huruf a, huruf b, huruf c UU No 15  Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Ancaman  maksimalnya hukuman mati.Jika ini sukses, maka bisa dipastikan  pemerintah AS, Australia, Singapura dan sekutu  AS lainya mengulum  senyum dan memberi warning kalau tugas kontra-terorisme tidak boleh  berhenti sampai disitu.</p>
<p>Di sisi lain yang tidak bisa di abaikan, bahwa selama ini narasi  tentang terorisme datangnya dari sepihak (polri).Lebih khusus datang  dari Den88, dan wabil khusus lagi di sana ada satgas anti teroris di  luar “struktur” yang dikendalikan oleh  Gories Mere sekalipun saat ini  dia ada di BNN (Badan Narkotika Nasional).Dan di sinyalir karena  persahatan Gories Mere dengan  Karni Ilyas (TV One) yang menyebabkan  dalam isu terorisme TV yang satu ini masuk barisan terdepan untuk news  update berita.Oleh karena itu, pada konteks ini meniscayakan  penanganan  kasus terorisme ini diduga  sarat rekayasa, seperti pada kasus-kasus  besar yang menghantam institusi polri.Misalkan pada kasus rekening  gendut beberapa jendral polri, century gate, markus, dan semisalnya.Maka  kalau sudah seperti ini, yang salah bisa benar dan sebaliknya serta  dalih tuduhanpun bisa direka-reka berdasarkan paradigma subyektif yang  dimiliki polri dalam melihat kasus terorisme ini. Lebih-lebih jika  kontra-terorisme adalah proyek yang berkelindan didalamnya kepentingan  asing dan dijadikan ajang menunjukkan “prestasi” dan mencari dana atau  langkah pengalihan isu oleh para “komprador” asing dan kelompok  opurtunis lokal.</p>
<p>Oleh karena itu perlu kiranya SBY menjawab pertanyaan-pertanyaan  berikut, sekiranya betul bahwa isu terorisme adalah murni kejahatan dan  masuk diranah hukum. Dan terorisme bukan persoalan politik, juga bukan  masalah agama.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pertama;</strong> kalau ada pernyataan penangkapan ustad ABB  bukan intruksi SBY sebagai presiden, maka artinya ada distorsi dalam  penegakan hukum. Aneh jika Presiden menyatakan terkejut dengan  penangkapan ABB, padahal Densus berada di bawah kendali Polri dan  Kapolri bertanggung jawab langsung kepada presiden. Jadi Densus bekerja  untuk siapa?,Sementara dari tahun 2003-2009 Polri sudah menangkap lebih  dari 500 orang dalam kasus terorisme. Dan dimasa pemerintahan SBY banyak  orang mati sekitar 40 orang dieksekusi dengan cara “ekstra judicial  killing”. Dan minim sekali suara yang berteriak untuk mengatakan ini  adalah “kedzaliman” atau pelanggaran HAM. Para penggiat HAM juga  setengah hati, menyikapi soal korban proyek kontra-terorisme ini.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kedua</strong>; bukankah kontra-terorisme telah SBY adopsi  menjadi salah satu prioritas 100 hari kerja pemerintahannya? Diupayakan  lahirnya blueprint penanganan secara koprehensif, yang terbaru dengan  dibentuknya BNPT(Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) melalui  Peraturan Presiden no 46 tahun 2010 yang SBY tanda tangani 16 Juli lalu.  Sekaligus ini bukti implementasi komitmen SBY yang pernah dibicarakan  bersama Obama presiden AS tentang  terorisme. Kalau sudah seperti ini,  apakah sebagai presiden tidak tahu menahu bagaimana langkah demi  langkah, tahapan demi tahapan yang akan dioperasikan institusi terkait  yang notabene-nya semua dibawah kendali presiden? Bahkan kita yakin,  target-target antara dan puncak target dari proyek kontra-terorisme SBY  juga mengetahui. J ika tidak, maka SBY itu presiden atau anak buah  siapa?</p>
<p><strong>Ketiga</strong>; jika presiden SBY menyatakan kasus terorisme  tidak ada relevansinya dengan persoalan politik atau tidak akan  menggeret ke ranah politik. Lantas, kenapa juga membicarakan tentang  motif “negara Islam” dan terancamnya “demokrasi” dalam konteks ini?  Kelompok yang dicap teroris hendak mendirikan negara Islam, dan SBY  sendiri memberikan prespektifnya bahwa wacana negara Islam bagi  Indonesia sudah menjadi sejarah masa lalu? Begitu juga, tentang ancaman  kelompok tersebut terhadap kelangsungan demokrasi, atau di sesi lain  SBY  menempatkan dirinya sebagai obyek yang terancam dan pernah  mengkaitkan kelompok terorisme terhadap kelangsungan pemilu di tahun  2009. Ambigu bukan?atau mungkin ada tafsiran lain tentang politik versi  presiden SBY?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Keempat;</strong> kalau SBY menjelaskan kasus ini adalah  kejahatan dan tidak terkait dengan agama.Maka ada pertanyaan penting,  kenapa SBY tidak pernah menegur insan media yang sedemikian rupa  membangun opini dan persepsi masyarakat secara kontinyu dan simultan  yang  menstigmatisasi Islam dengan teroris? Contoh terbaru Upaya  membangun stigma negatif terhadap Islam. Salah satunya tampak dari  pemberitaan detik.com dengan judul : <em>Penggerebekan Teroris di Bandung, Ditemukan Lembaran Kertas Arab Gundul Soal Hijrah dan Jihad</em>.  Detik.com  (8/8) melaporkan dalam mobil milik Fahri, yang ditangkap  Densus 88 karena diduga teroris, ditemukan ceceran kertas berisi tulisan  arab gundul, antara lain soal kumpulan fatwa Ibnu Taimiyyah soal jihad,  hijrah, dan dakwah. Lebih lanjut dilaporkan, ceceran kertas itu ada  yang berupa tulisan tangan dan berupa print out, dengan beragam ukuran.  Semua berisi tulisan arab gundul. Terdapat empat lembar kertas print out  arab gundul merupakan kumpulan fatwa Ibnu Taimiyyah soal jihad, hijrah,  dan dakwah.Hal ini merupakan upaya membangun citra negatif terhadap  syariah Islam. Contoh lain, mantan PM Inggris Tony Blair, di hadapan  Konggres Partai Buruh pernah menyatakan Islam sebagai ideologi iblis  (BBC News, 16 Juli 2005) dengan ciri-ciri : (1) ingin mengeliminasi  Israel ; (2) menjadikan syariat Islam sebagai sumber hukum ; (3)  menegakkan khilafah ; (4) bertentang dengan nilai-nilai liberal.Hal  senada direkomendasikan Cheryl Benard. Usulannya ada beberapa ide yang  harus terus menerus diangkat untuk menjelekkan citra Islam : prihal  demokrasi dan HAM, poligami, sanksi kriminal, keadilan Islam, minoritas,  pakaian wanita, dan kebolehan suami untuk memukul istri. (Civil  democratic Islam, partners , resources, and strategies, the Rand  Corporation )</p>
<p>Dan apakah presiden SBY tidak pernah merasa adanya fakta pengkambing  hitaman Islam dan kaum muslimin dalam persoalan ini? seharusnya SBY  sadar, betapa umat Islam di Indonesia nyaris tidak bisa memberikan  pembelaan, bahkan menerima kekalahan (apologis) dengan istilah teroris  itu yang identik dengan; orang berjenggot, celana cingkrang, gamis,  cadar, jidat hitam, orang yang sering aktif kemasjid,  pengajian-pengajian kecil (usroh/halqoh/liqo’), pesantren, atau aktifis  yang mengusung penegakkan syariat dalam koridor negara, atau ketika  menempatkan AS adalah musuh Islam.Ini peran media, jelas-jelas  mengkaitkan agama dengan isu teroris.Lebih jauh, kalau mau jujur,  bukankah ketika pihak penegak hukum dan lebih khusus Den88 atau satgas  anti teror lainya ketika melakukan pemetaan (maping) tentang ancaman  baik dalam kontek global atau lokal (Indonesia) maka kesimpulanya adalah  Islam sebagai ancaman?lebih spesifik Islam Ideologis, atau  gerakan-gerakan dan kelompok-kelompok yang mengusung Islam sebagai  ideologi. Lantas bagaimana bisa SBY mengatakan bahwa perkara terorisme  tidak terkait agama? Sangat aneh bukan?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kelima</strong>; di institusi yang terkait dengan proyek  kontra-terorisme dibawah kementerian PolHukam terlihat paradigma yang  dibangun ketika berbicara tentang terorisme selalu dikaitkan dengan  pemahaman agama yang di anggap radikal dan fundamentalis. Karenanya  perlu langkah-lengkah de-radikalisasi dengan beberapa strategi yang  softh. Misalkan dengan mengarusutamakan tokoh-tokoh Islam moderat,  menggalakkan interfaith dialog (dialog antar iman), diterbitkannya  buku-buku yang moderat dan merubah kurikulum pesantren atau sekolah,  masih banyak strategi lainya yang semuanya dianggap bisa mempertahankan  format Indonesia yang pluralis, liberal, demokratis yang berdiri diatas  ideologi kapitalis-sekuler. Maka bagaimana  SBY menjelaskan ini semua?  Rakyat semua ingat, sikap yang ditampilkan SBY dihadapan publik selama  ini adalah mengedepankan dialog dalam menyelesaikan persoalan lantas  bagaimana dengan persoalan teroris? Beranikah SBY dialog dan debat  terbuka dengan kelompok-kelompok yang di cap radikal dan fundamentalis  untuk bicara problem kenegaraan dan politik secara fair dalam rangka  mencari solusi terbaik untuk Indonesia? Sehingga SBY dan jajaran  dibawahnya tidak selalu su’udzan dengan apa yang diperjuangkan oleh  kelompok tersebut.</p>
<p>Sekali lagi, wajar kalau akhirnya presiden SBY dianggap sangat ambigu  dalam kasus “terorisme” ini atau bahkan terkesan mau “cuci tangan”.  Semoga semua pemimpin institusi yang terlibat proyek kontra-terorisme  itu kalau mereka orang muslim, maka masih tersisa iman dan Islamnya,  hingga sadar tidak ada satupun perkataan yang keluar dari mulut mereka  kecuali ada dua Malaikat yang mencatatnya dan hisab Allah SWT adalah  seadil-adil hisab.umat Islam Indonesia butuh pemimpin yang bisa  melindungi agama dan harga dirinya,dan bukan sebaliknya; pemimpin yang  jadi “hamba” dari penguasa negara-negara kafir imperialis dan mendzalimi  umatnya. <strong><em>Wallahu a’lam bisshowab.[]</em></strong></p>
<p><strong><em>Sumber : </em></strong><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2010/08/12/sikap-ambigu-presiden-sby-soal-terorisme-aneh/" target="_blank">www.hizbut-tahrir.or.id</a><strong><em><br />
</em></strong></p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=2433&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2010/08/13/sikap-ambigu-presiden-sby-soal-%e2%80%9cterorisme%e2%80%9d-aneh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemberitaan Detik.com Tentang Terorisme, Stigma Negatif Ajaran Islam</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2010/08/08/pemberitaan-detik-com-tentang-terorisme-stigma-negatif-ajaran-islam/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2010/08/08/pemberitaan-detik-com-tentang-terorisme-stigma-negatif-ajaran-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 12:16:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=2337</guid>
		<description><![CDATA[Upaya membangun stigma negatif terhadap Islam, sangat terasa dalam isu perang melawan terorisme yang dipimpin Amerika Serikat. Salah satunya tampak dari pemberitaan detik.com dengan judul : Penggerebekan Teroris di Bandung, Ditemukan Lembaran Kertas Arab Gundul Soal Hijrah dan Jihad. Detik.com melaporkan dalam mobil milik Fahri, yang ditangkap Densus 88 karena diduga teroris, ditemukan ceceran kertas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Upaya membangun stigma negatif terhadap Islam, sangat terasa dalam isu perang melawan terorisme yang dipimpin Amerika Serikat. Salah satunya tampak dari pemberitaan detik.com dengan judul : <em>Penggerebekan Teroris di Bandung, Ditemukan Lembaran Kertas Arab Gundul Soal Hijrah dan Jihad</em>.  Detik.com melaporkan dalam mobil milik Fahri, yang ditangkap Densus 88  karena diduga teroris, ditemukan ceceran kertas berisi tulisan arab  gundul, antara lain soal kumpulan fatwa Ibnu Taimiyyah soal jihad,  hijrah, dan dakwah.  <span id="more-2337"></span></p>
<p>Lebih  lanjut dilaporkan, ceceran kertas itu ada yang berupa tulisan tangan  dan berupa print out, dengan beragam ukuran. Semua berisi tulisan arab  gundul. Terdapat empat lembar kertas print out arab gundul merupakan  kumpulan fatwa Ibnu Taimiyyah soal jihad, hijrah, dan dakwah</p>
<p>Upaya  mengkaitkan terorisme dengan ajaran syariah Islam yang mulia seperti  jihad,hijrah, dan dakwah memang gencar dilakukan. Padahal Ibnu Taimiyyah  adalah salah satu ulama yang ‘alim dan faqih terkemuka. Demikian juga  ajaran jihad dan dakwah adalah kewajiban yang diperintahkan Allah SWT .</p>
<p>Hal  ini merupakan upaya membangun citra negatif terhadap syariah Islam.  Mantan PM Inggris Tony Blair, di hadapan Konggres Partai Buruh pernah  menyatakan Islam sebagai ideologi iblis (BBC News, 16 Juli 2005) dengan ciri-ciri :  (1)  ingin mengeliminasi Israel ; (2) menjadikan syariat Islam sebagai  sumber hukum ; (3) menegakkan khilafah ; (4) bertentang dengan  nilai-nilai liberal.</p>
<p>Hal senada direkomendasikan Cheryl Benard. Usulannya ada beberapa ide yang harus terus menerus diangkat untuk menjelekkan  citra Islam : prihal demokrasi dan HAM, poligami, sanksi kriminal,  keadilan Islam, minoritas, pakaian wanita, dan kebolehan suami untuk  memukul istri. (Civil democratic Islam, partners , resources, and strategies, the Rand Corporation )</p>
<p>Barat  tampaknya sadar benar bahwa tegaknya syariah Islam akan mengancam  penjajahan kapitalisme. Mereka juga sadar, umat Islam sangat merindukan syariah Islam sebagai solusi terhadap persoalan kehidupan umat Islam saat ini. Lebih-lebih lagi tegaknya syariah Islam merupakan kewajiban setiap muslim.</p>
<p>Entah  dengan maksud apa detik.com memberitakan hal ini. Padahal tidak ada  hubungan antara Ibnu Taimiyyah , ajaran jihad, dakwah dan hijrah dengan  isu terorisme.  Sangat disayangkan kalau media seperti detik.com  terjebak dalam ‘game’ perang melawan terorisme ini yang diarahkan menjadi perang terhadap umat islam dan syariah Islam. (mediaumat.com)</p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=2337&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2010/08/08/pemberitaan-detik-com-tentang-terorisme-stigma-negatif-ajaran-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ashabiyah dan Mental Terjajah Muslim Indonesia</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2010/07/07/ashabiyah-dan-mental-terjajah-muslim-indonesia/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2010/07/07/ashabiyah-dan-mental-terjajah-muslim-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 09:23:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Cina]]></category>
		<category><![CDATA[felix]]></category>
		<category><![CDATA[felix siaw]]></category>
		<category><![CDATA[keturunan]]></category>
		<category><![CDATA[rasialisme]]></category>
		<category><![CDATA[tionghoa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=2104</guid>
		<description><![CDATA[Curhat Cina-Muslim-Indonesia Oleh : Felix Siaw SyariahPublications.Com &#8212; Nama saya Felix Y. Siauw, kelahiran Palembang 26 tahun yang lalu, dan setidaknya dalam jangka waktu yang lebih dari ¼ abad itu saya sudah merasakan banyak sekali kesulitan dan kebahagiaan hidup. Setidaknya ada 4 momen paling bahagia bagi saya, yaitu tahun 2002 ketika saya memutuskan untuk mengganti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Curhat Cina-Muslim-Indonesia</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Oleh : Felix Siaw</strong></p>
<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/07/felix_siaw.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-2105" title="felix_siaw" src="http://syariahpublications.com/wp-content/uploads/2010/07/felix_siaw-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><a href="http://syariahpublications.com/" target="_blank">SyariahPublications.Com</a> &#8212; Nama saya Felix Y. Siauw, kelahiran Palembang 26 tahun yang lalu, dan setidaknya dalam jangka waktu yang lebih dari ¼ abad itu saya sudah merasakan banyak sekali kesulitan dan kebahagiaan hidup. Setidaknya ada 4 momen paling bahagia bagi saya, yaitu tahun 2002 ketika saya memutuskan untuk mengganti keyakinan dengan mengakui Allah swt. sebagai satu-satunya Tuhan dan sesembahan. Tahun 2006 ketika saya menikahi seorang muslimah yang kelak memberikan saya 2 momen bahagia lagi; kelahiran Alila Shaffiya asy-Syarifah pada tahun 2008 dan Shifr Muhammad al-Fatih 1453 pada tahun 2010.<span id="more-2104"></span></p>
<p>Dari nama yang saya publish, sebagian besar pasti memahami bahwasanya saya tergolong etnis Cina. Dan inilah salahsatu sebab kenapa saya menulis tulisan ini, disamping alasan utamanya adalah karena kewajiban mendakwahkan Islam dan pemikiran-pemikirannya ke seluruh dunia. Ini adalah sebuah curahan hati dan aduan serta penjelasan dari seorang Ayah, Muslim-“Cina”. Walaupun banyak kasus lain yang saya alami berkaitan dengan ide bid’ah nasionalisme yang diwariskan Belanda dan Barat, saya akan sedikit memfokuskan pada satu kisah yang baru saja saya alami.</p>
<p>Berawal ketika Istri saya yang melahirkan anak keduanya di RS. Budi Kemuliaan Jakarta Pusat, setelah itu seperti biasa, atas nama pribadi ada beberapa karyawan yang menawarkan jasa pembuatan akte kelahiran putra saya. Dan kami pun menyambut baik tawaran yang dibandrol dengan harga Rp. 100.000. Tak berapa lama, setelah karyawan tadi melihat fisik saya, lalu dia bertanya pada istri:</p>
<p>“Bu, bapaknya muslim bukan? keturunan ya?”<br />
“Muslim kok, emang kenapa mbak?” Jawab istri saya santai,<br />
“Nikahnya pake cara Islam kan?, karena kalo nikahnya beda agama susah ngurusnya bu, dan beda juga biayanya..”<br />
“Ya Islam lah, bedanya apa mbak”, sedikit terintimidasi, Istri saya tetap berusaha santai<br />
“Kalo pribumi 100.000 kalo keturunan 250.000”</p>
<p>Setelah memberitahu saya perihal percakapan ini, dengan agak kesal saya pun mencoba membuktikan perkataan istri saya tadi. Ternyata benar, ada diskriminasi kepengurusan akte kelahiran, dan dokumen yang diperlukan pun lebih daripada yang biasanya. Walau saya desak dengan berbagai dalil, termasuk dengan dalil bahwa penghapusan istilah WNI Keturunan sudah dilakukan, tetap saja tidak ada penjelasan yang memadai kepada saya. Bertambah kekesalan saya, maka saya memutuskan untuk mengurus sendiri akte kelahiran anak kedua saya. Bukan masalah uang, ini masalah ide kufur yang tidak perlu diberikan ruang toleransi.</p>
<p>Langkah pertama adalah melakukan browsing ke Internet ke alamat  Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil ; <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;5fc38B4GvaCf-7E7FamF-o-5NUA&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://www.kependudukancapil.go.id/index.php/produk-a-layanan/akta-kelahiran" target="_blank">http://www.kependudukancapil.go.id/index.php/produk-a-layanan/akta-kelahiran</a>, dan disitu saya mendapatkan informasi bahwa pembuatan akte kelahiran biayanya gratis s/d Rp. 5000. Dan syaratnya: Surat Keterangan Lahir, KK, KTP Orangtua, dan Surat Pengantar RT/RW yang dilegalkan Kelurahan. Ternyata setelah saya datang pada hari Rabu, 07 Juli 2010, petugas malah meminta akte kelahiran untuk dikonfirmasi apakah saya warga keturunan atau bukan. Dan sekali lagi saya katakan bahwa urusan keturunan sudah tidak ada, semua yang dilahirkan di tanah Indonesia adalah WNI. Dan setelah itu akhirnya saya tetap diminta membayar Rp. 70.000, sebelum membayar saya menanyakan bukti pembayarannya, sedikit gagap petugas menyatakan bahwa lembar bukti penyerahan dokumen sudah dianggap menjadi bukti pembayaran (nanti coba kita liat ya). Dan yang paling menyakitkan, ditulis lagi dalam keterangan permintaan akte kelahiran bahwa anak saya termasuk Stbld. 1917.</p>
<p><strong>Lalu dengan serius saya tanyakan: “Masih berlaku tuh stbld?”<br />
“Oh masih pak, semuanya harus ditulis begitu”<br />
“Oh gitu, kirain jaman belanda aja pake stbld!” sindiran dari saya yang tampaknya tidak dipahami petugas bersangkutan.</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Ok, cukup cerita pendahuluan saya, sekarang kita masuk ke pokok pembahasan.</strong></span></p>
<p>1. Inilah budaya pegawai negeri Indonesia yang jauh dari kesan profesional dan korup, birokrasi yang terbiasa tidak jujur dan selalu mencari kesempatan atas minimnya data yang mereka beri kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan. Sehingga seolah-olah masyarakat yang harus membayar mereka karena pelayanan itu, padahal pelayanan mereka sudah dibayar oleh negara. Sampai setelah saya membayar Rp. 70.000 itu, saya tidak mengetahui kemana uang ini dialokasikan, dan parahnya yang menerima uang ini adalah muslim. Saya terima kalau yang melakukan korupsi ini bila bukan muslim, tapi pelakunya sekali lagi adalah muslim, yang seharusnya menjadi pekerja yang paling jujur karena aqidahnya memerintahkan begitu</p>
<p>2. Budaya rasialis dan nasionalisme kampungan rupanya masih menjadi mental ummat Islam saat ini. Mereka membedakan antara pribumi dan keturunan. Tanpa mereka ketahui bahwa cara ini adalah strategi utama belanda dalam melakukan politik divide et impera dan menghancurkan sendi ekonomi dan masyarakat.</p>
<p>Politik rasialis ini dimulai ketika VOC dan Pemerintah Belanda membagi kelompok masyarakat menjadi Inlander (pribumi) dan Vreemde Oosterlinge (Orang Timur Asing, termasuk Cina, Arab dan India)(lihat <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;5fc38eQhjD0X6ykI93J0osniMbQ&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://www.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/3523" target="_blank">http://www.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/3523</a>), lalu memberikan akses ekonomi kepada Vreemde Oosterlinge terutama orang Cina sehingga pecahlah permusuhan dan kebencian antara Inlander dan Vreemde Oosterlinge (lihat Buku Api Sejarah, Ahmad Mansur Suryanegara).</p>
<p>Politik rasialis ini bahkan dimulai semenjak awal pencatatan akta kelahiran dengan membedakan antara Inlander dan Vreemde Oosterlinge, antara agama penjajah Belanda Kristen dan Katolik serta Islam. Lihat saja akte kelahiran Anda yang muslim pribumi akan mendapatkan kode Stbld. 1920, sedangakan yang nasrani pribumi mendapatkan kode Stbld. 1933, warga keturunan dari timur (Cina, Arab, India, dan lainnya) dengan Stbld. 1917 (lihat <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;5fc38FanVenHEAtdtdVZLw6esFQ&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://www.jasaumum.com/akteKelahiran.htm" target="_blank">http://www.jasaumum.com/akteKelahiran.htm</a>). Akta kelahiran inilah yang menjadi dasar dalam perbedaan perilaku penjajah Belanda dalam masalah pendidikan, pekerjaan dan status sosial.</p>
<p>Sayangnya (baca: bodohnya), pemerintah Indonesia justru mengadopsi Stbld. (Staatsblad, artinya Peraturan Pemerintah Belanda) menjadi aturan dalam pencatatan kelahiran yang otomatis dari awal sudah membedakan membuat rasial penduduknya berdasarkan cara penjajah Belanda membedakannya. Jadi ketahuan sekali bahwa negara kita secara hukum dan ekonomi masih terjajah dan samasekali belum merdeka. Nah, wajar kan kalau kita liat konflik horizontal maupun vertikal atas nama etnis masih terjadi di negeri ini? karena memang dari awal pemerintah Indonesia sudah meniatkannya. Membebek penjajah Belanda. Dan hampir sebagian besar hukum kita adalah adopsi Belanda.</p>
<p><strong>Belum puas rupanya dijajah 350 tahun?!</strong></p>
<p>Inilah ikatan-ikatan yang merusak dan terbukti menimbulkan perpecahan dan konflik yang tak berkesudahan. Ikatan yang muncul dari pemikiran yang dangkal dan sempit. Ikatan etnisitas, kekauman dan juga termasuk ikatan nasionalisme kampungan. Ikatan inilah yang menyebabkan muslim Indonesia tidak memperdulikan muslim Palestina hanya karena dibatasi oleh garis-garis khayal batas negara. Ikatan ini juga yang memenangkan penjajah Belanda ketika membelah ummat Islam Indonesia atas nama etnis. Dan ikatan ini pula yang menyebabkan Arab Saudi, Yordan, Turki, Mesir, Irak, Iran dan semua negara muslim saat ini terpecah belah padahal dahulunya mereka adalah satu kekuatan. Inilah sebuah ikatan palsu yang harus dimusnahkan: fanatisme golongan, bangsa dan semacamnya yang kita kenal dengan kata ashabiyah.</p>
<p>Padahal Rasulullah dengan sangat jelas telah mewanti-wanti agar kita jangan membedakan diri berdasarkan sesuatu yang tidak pernah dipilih manusia atau bagian dari qadar Allah.</p>
<blockquote><p>إن الله لا ينظر إلى صوركم ولا إلى أجسامكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وإلى أعمالكم</p>
<p>Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada wajah kalian dan tidak pula kepada bentuk tubuh kalian, akan tetapi Allah melihat qalbu (akal dan hati) kalian dan perbuatan kalian (HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurrairah)</p></blockquote>
<p>Maka benarlah dalam aturan kewarganegaraan Daulah Madinah ketika Rasulullah saw. menjadi kepala negara, beliau saw. hanya membedakan 2 jenis penduduk; muslim dan kafir. Begitu pula yang dilaksanakan Khulafaur Rasyidin setelah beliau dan Khalifah-khalifah setelah mereka sampai runtuhnya Daulah Khilafah Islam Utsmaniyah tahun 1924. Artinya pembedaan kewarganegraan adalah berdasarkan pengakuannya atas Islam, bukan yang lain seperti fanatisme golongan atau bangsa.</p>
<p>Juga larangan sempurna dari Rasulullah atas sikap fanatisme golongan, bangsa dan semacamnya yang dirangkum dalam larangan ashabiyah</p>
<blockquote><p>ومن قاتل تحت راية عمّيّة يغضب لعصبة، أو يدعو إلى عصبة، أو ينصر عصبة، فقتل، فقتلة جاهليّة<br />
Siapa saja yang berperang di bawah panji kebodohan marah kerena suku, atau menyeru kepada suku atau membela suku lalu terbunuh maka ia terbunuh secara jahiliyah (HR Muslim)</p>
<p>ليس منا من دعا إلى عصبية، وليس منا من قاتل على عصبية، وليس منا من مات على عصبية<br />
Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada ashabiyah, bukan pula dari golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah, dan tidak juga termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah (HR Abu Dawud)</p></blockquote>
<p>Tidak ada keistimewaan khusus karena warna kulit, karena jenis dan karena tanah air. Dan tidak halal seorang muslim merasa fanatik (ta&#8217;ashub) karena warna kulitnya melebihi kulit orang lain, karena golongannya melebihi golongan lain dan karena daerahnya melebihi daerah orang lain. Pribumi ataupun keturunan. Bahkan Islam menaruh ikatan semacam ini dalam posisi yang paling rendah karena pemikiran semacam ini adalah batil.</p>
<p>Tapi inilah kondisi masyarakat dan ummat, mereka mempunyai cap tertentu bagi etnis tertentu, dan akhirnya bukan melihat karena ketakwaannya tetapi karena bentuk wajahnya. Hanya karena seseorang berwajah Arab lantas setiap bertemu tangannya dicium, karena persangkaan bahwa arab identik dengan Islam (ironis). Hanya karena seseorang berwajah Cina lantas diidentikkan dengan kafir? (lebih ironis), lebih aneh lagi kalau ketemu bule semuanya serba senang, sumringah dan berjalan menunduk (kacau).</p>
<p>Inilah mental-mental terjajah, mental yang sangat ridha dan bangga kepada negara yang menjajahnya tapi lupa sama sekali dengan Tuhan yang menciptakan dirinya dan memberinya kenikmatan. Padahal kita semua sebagai muslim tidak diseru kecuali berpegang pada aqidah yang satu, ikatan yang satu, perintah yang satu dan kepemimpinan yang satu. Tauhid dalam segala bidang.</p>
<blockquote><p>وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا<br />
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (QS ali Imraan [3]: 103)</p></blockquote>
<p>Seandainya saja Rasulullah masih ada, maka tentu dia akan menghapuskan segala macam diskriminasi dan rasialisme yang diwariskan dunia Barat kepada kaum muslim. Seandainya saja Umar bin Khattab masih ada, maka pastilah beliau sendiri yang akan menghunus pedangnya untuk memenggal penyeru ashabiyah. Tapi mereka telah tiada, namun bukan tanpa warisan. Rasulullah menyiapkan sebuah sistem buat ummatnya agar ummatnya dapat bersatu padu dan kuat dalam satu kepemimpinan di seluruh dunia. Insya Allah saat Khilafah Islam tegak satu saat nanti, Khalifah lah yang akan mengomando kaum muslim membunuh ashabiyah. (<a href="http://syariahpublications.com/" target="_blank">www.syariahpublications.com</a>)</p>
<p>Sumber : http://www.facebook.com/notes/felix-siauw/curhat-cina-muslim-indonesia-tentang-ashabiyah-dan-mental-terjajah-muslim-indone/10150200361920284</p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=2104&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2010/07/07/ashabiyah-dan-mental-terjajah-muslim-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Solusi Palestina Berharap kepada PBB &amp; OKI, Indonesia Tidak Pernah Belajar dari Fakta (Mengkritisi Statemen SBY)</title>
		<link>http://syariahpublications.com/2010/06/04/solusi-palestina-berharap-kepada-pbb-oki-indonesia-tidak-pernah-belajar-dari-fakta-mengkritisi-statemen-sby/</link>
		<comments>http://syariahpublications.com/2010/06/04/solusi-palestina-berharap-kepada-pbb-oki-indonesia-tidak-pernah-belajar-dari-fakta-mengkritisi-statemen-sby/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 03:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[gaza]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[OKI]]></category>
		<category><![CDATA[palestina]]></category>
		<category><![CDATA[PBB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syariahpublications.com/?p=1928</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:Lajnah Siyasiyah DPP-HTI Penyerangan brutal militer Israel terhadap kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang menewaskan lebih dari puluhan orang mendapat reaksi dari seluruh dunia. Seluruh dunia mengutuk dan mengecam penyerbuan itu. Nikaragua bersikap dengan memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Turki menarik dubesnya dari Tel Aviv. Sebagian besar pejabat dari seluruh negara mengecam serangan itu. Tak terkecuali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Oleh:Lajnah  Siyasiyah DPP-HTI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Penyerangan brutal  militer Israel terhadap kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang menewaskan  lebih dari puluhan orang mendapat reaksi dari seluruh dunia. Seluruh  dunia mengutuk dan mengecam penyerbuan itu. Nikaragua  bersikap dengan memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Turki  menarik dubesnya dari Tel Aviv. Sebagian besar pejabat dari  seluruh negara mengecam serangan itu.<span id="more-1928"></span></p>
<p>Tak terkecuali  pemerintah Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  menyampaikan kepada para wartawan di Istana Negara selasa 2/6/10: “Saudara-saudara,  langkah diplomasi kita ke depan adalah kita mendesak PBB <em>to  take action </em>yang pasti, <em>firmed</em>, tegas,  terhadap insiden ini. Indonesia juga akan menggalang dukungan  internasional untuk menghentikan permukiman baru di Gaza yang justru  menimbulkan permasalahan baru,” ujar Presiden kepada para wartawan.</p>
<p>Selain itu, kata Presiden,  Indonesia juga mendorong negara-negara lain untuk meminta Israel  menghentikan segala  aktivitas militernya dan kembali ke  perundingan yang pada intinya bertujuan memberikan kemerdekaan kepada  Palestina. “Indonesia siap untuk terlibat aktif dalam perundingan bagi  kemerdekaan Palestina,” katanya.</p>
<p>Selain itu, lanjutnya,  jika perundingan berjalan konklusif, Indonesia siap terlibat dalam <em>peace-keeping  mission </em>di Palestina. Sebagai salah satu pemimpin dunia,  Presiden menyerukan kepada pemimpin dunia lainnya, termasuk Sekjen PBB,  agar serius dalam menangani persoalan di Palestina. “Sebab, Indonesia  punya pendapat bahwa perdamaian dunia dipengaruhi situasi politik di  Timur Tengah, utamanya di Palestina,” katanya (Kompas.com, 2/6/10).</p>
<p>Dino Patti Djalal Juru  Bicara Kepresidenan Bidang Hubungan Luar Negeri dalam konferensi pers  (1/6/10), menuturkan bahwa Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa  (PBB) telah melakukan sidang darurat untuk membahas masalah penyerangan  Israel terhadap konvoi kapal kemanusiaan yang membawa 10.000 barang  bantuan untuk rakyat Palestina di Jalur Gaza. Dewan Keamanan PBB pun  telah mengeluarkan pernyataan mengutuk aksi Israel yang menelan korban  setidaknya 10 korban jiwa dan banyak lagi yang cedera. “Dewan Keamanan  PBB menyerukan adanya penyelidikan, investigasi langsung,” ujarnya.</p>
<p>Menurut Dino, Presiden  Yudhoyono merasa cukup puas dengan adanya seruan Dewan Keamanan PBB  tersebut dan menyerukan agar para sukarelawan dan kapal-kapal  kemanusiaan yang ditahan Israel segera dibebaskan. Dino menjelaskan,  Dewan Hak Asasi Manusia PBB juga telah setuju mengadakan debat mendesak  atau <em>urgent debate</em> guna membahas serangan Israel  terhadap konvoi kapal kemanusiaan di perairan internasional.</p>
<p>“<em>Urgent  debate</em> ini selain didorong oleh Indonesia yang diwakili oleh  Dubes PBB di Jenewa juga didukung oleh Mesir dan negara-negara anggota  OKI,” ujarnya. Debat darurat yang diselenggarakan pada hari Selasa pukul  15.00 waktu Jenewa atau Selasa malam WIB itu akan mendorong diadakannya  resolusi dari Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB mengenai serangan  Israel.</p>
<p>Terkait  serangan  Israel terhadap kapal kemanusiaan itu, Indonesia sebagai Wakil Ketua  Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mendorong Dewan HAM  mengeluarkan resolusi yang tepat. Pemerintah Indonesia juga telah  mengeluarkan pernyataan yang keras terkait penyerangan militer itu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tidak Boleh Bergeser dari Masalah Utama</strong></p>
<p>Semua pihak ramai-ramai  menyerukan pembebasan semua aktifis kemanusiaan yang ditahan oleh  Israel. Pemerintah Indonesia yang dua orang dari 12 orang  yang ikut dalam aksi kemanusiaan itu tertembak dan sisanya ditahan juga  memfokuskan perhatian untuk memulangkan mereka. Presiden  Susilo Bambang Yudhoyono tengah mempertimbangkan untuk membentuk satuan  tugas guna memperkuat Kedubes RI di Amman, Jordania, dalam usaha  penyelamatan 12 warga negara Indonesia yang ditahan Pemerintah Israel.</p>
<p>Upaya menyelematkan  pada aktifis kemanusiaan itu adalah sesuatu yang sangat penting. Semua  pihak harus berupaya sekuat tenaga untuk itu. Namun upaya  itu atau masalah tahanan tidak boleh berubah justru menjadi masalah  utama dalam konteks ini.  Masalah itu sampainya bantuan  kemanusiaan ke penduduk Gaza tidak boleh terabaikan dan justru  dimanfaatkan oleh Israel. Begitu pula masalah itu tidak  boleh menutupi masalah serbuan brutal itu sendiri dan tindakan tegas  yang harus dijatuhkan terhadap Israel.</p>
<p>Masalah yang harus  menjadi fokus adalah tindakan apa yang harus dilakukan terhadap entitas   Zionis Israel. Upaya yag dilakukan saat ini oleh  berbagai pemerinta termasuk pemerintah negeri ini adalah meminta DK PBB  untuk mengambil tindakan meminjam ucapan Presiden adalah tindakan yang  pasti, <em>firmed</em>, tegas, terhadap insiden ini. Juga  menuntut dilakukannya investigasi menyeluruh, langsung dan kredibel.  Dan DK PBB seperti diungkapkan Dino Patti Djalal dalam  konferensi pers diatas juga menyerukan dilakukannya investigasi  langsung. Selanjutnya banya pihak menuntut agar DK PBB  memproses dan mengeluarkan resolusi dan menjatuhkan sanksi terhadap  entitas Zionis Israel. Efektifkah semua itu?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Belajar dari Pengalaman</strong></p>
<p>Sejarah memberikan  pelajaran berharga kepada kita. Keluarnya resolusi PBB  ditentukan oleh sikap negara pemilik hak Veto terutama AS. Selama  ini banyak resolusi terhadap Israel yang kandas karena diveto AS  termasuk resolusi terhadap Israel atas invasi ke Gaza yang menewaskan  lebih dari 1300 orang termasuk banyak diantaranya wanita, anak-anak dan  orang tua. Sementara dalam kontek kejahatan  yang sekarang, AS yang merupakan konco akrab Israel itu hanya  mengeluarkan pernyataan basa-basi mengutuknya dan mengecam Israel dengan  nada halus. Tercatat sejak tahun 1972 sampai tahun 2009,  sudah lebih dari 68 resolusi PBB yang berhubungan dengan eksistensi  israel di palestina diveto amerika. Ini belum termasuk resolusi setelah  tahun tersebut plus resolusi terakhir saat israel melancarkan agresinya  di gaza. Jadi kembali menyerahkan dan mengharap PBB  mengeluarkan resolusi atas kejahatan Israel termasuk di dalamnya  tindakan tegas, maka itu adalah sia-sia dan seakan main-main saja,  selama AS masih terus mengangkangi keputusan PBB dengan hak vetonya.</p>
<p>Bahkan jika pun  resolusi itu berhasil dikeluarkan oleh PBB, apakah akan efektif menindak  Israel atas kejahatannya itu? Lagi-lagi sejarah  menunjukkan bahwa resolusi PBB itu seakan hanya efektif diberlakukan  terhadap negeri-negeri islam namun melempem dan tumbul terhadap Israel.  Sejak berdirinya Israel sudah melanggar lebih dari 85 resolusi  PBB, namun tidak ada satuun tindakan tegas dijatuhkan terhadap Israel.  Maka lagi-lagi sejarah dengan gamblang mengatakan resolusi PBB  tidak akan berart apa-apa. Karena itu menggantungkan  tindakan tegas dan hukuman terhadap Israel kepada PBB dengan resolusinya  adalah sia-sia. Kenyataan itu sudah diketahui oleh semua  orang. Para penguasa dan politisi pasti sangat mengetahui  kenyataan itu. Lalu kenapa sesuatu yang sudah jelas tidak  efktif itu masih saja diupayakan dan dijadikan sandaran harapan?</p>
<p>Hal yang sama ketika  mengharapkan dilakukannya investigasi independen dan kredibel terhadap  serbuan Israel atas kapal kemanusiaan itu. Pertanyaannya,  akankah itu bisa melahirkan tindakan tegas terhadap Israel? Perlu  diingat tahun 2009 lalu terjadi invasi Gaza oleh Israel, invasi yang  lebih brutal menewaskan lebih dari 1400 orang dan banyak diantaranya  wanita, anak-anak dan orang tua, dan melukai lebih dari 5000 orang.  Setelah itu dilakukan investigasi oleh sebuah komite yang  diketuai oleh Goldstones dan menghasilkan laporan dan rekomendasi yang  dikenal Goldstone Report. Goldstone Report benar-benar  membuktikan Israel melakukan pembunuhan dan pemerkosaan terhadap  korban-korban yang tak bersalah. Namun toh laporan itu  ditolak oleh pemerintah Amerika dan dicegah untuk diajukan ke Dewan  Keamanan PBB dan Pengadilan Internasional. Akhirnya  investigasi dan laporan itupun menjadi lembaran kertas tidak berguna.  Maka sejarah kembali mengatakan dengan keras dan tegas bahwa  investigasi meski dilakukan atas perintah DK PBB sekalipun tidak akan  melahirkan tindakan tegas terhadap Israel. Hasilnya pun  sering kali kandas dan jika pun keluar maka tidak akan digubris oleh  Israel. Pasalnya puluhan resolusi PBB yang  sifatnya lebih mengikat dan lebih kuat saja dilanggar dan tak digubris  oleh Israel apalagi semua rekomendasi dan keputusan yang lebih rendah  dan lebih lemah. Lagi-lagi jalan ini hanyalah sia-sia.</p>
<p>Sama sia-sianya menyeru  negara-negara OKI untuk berkumpul dan mengambil tindakan terhadap  Israel. Pada juli 2006 resolusi 57 negara anggota OKI  kepada PBB tentang kecaman terhadap yahudi israel yang disetujui oleh DK  PBB, diveto oleh AS. Artinya 57 negara menghadapi satu negara AS pun  tidak mampu. Negara-negara OKI bukanya tidak memiliki kekuatan riil atau  kekuatan militer yang cukup untuk menindak Israel. Namun  yang ada adalah tidak adanya kemauan untuk menggunakan kekuatan itu  dalam menindak Israel. Paling banter yang bisa dihasilkan  oleh OKI hanyalah kecaman dan kutukan, tidak lebih. Tentu  saja semuanya akan tak digubris oleh Israel. Begitu pula  segala upaya diplomasi melalui lembaga-lembaga lainnya.</p>
<p>Sejarah puluhan tahun  telah membuktikan, segala upaya diplomasi selalu gagal dalam menindak  dan menghukum Israel. Serangan Israel terhadap kapal  kemanusiaan dan aktifis di atasnya membuktikan bahwa Israel sama sekali  tidak mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan. Juga  menunjukkan bahwa satu-satunya bahasa yang dipahami oleh Israel adalah  bahasa perang. Karenanya hanya bahasa perang sajalah yang  akan bisa diperhatikan oleh Israel.</p>
<p>Maka jalan satu-satunya  untuk menindak tegas Israel adalah dengan memobilisasi tentara dan  senjata untuk mengepung Israel dan menghancurkannya serta menghukum para  pemimpin dan siapa saja yang telah melakukan kejahatan kemanusiaan  terhadap kaum muslim khususnya penduduk Palestina. Negeri-negeri  Islam sejatinya memiliki kekuatan militer dan persenjataan yang lebih  dari mencukupi untuk melakukan itu. Yang belum ada di  negeri kaum muslim adalah seorang penguasa mukhlis yang mau memobilisasi  militer dan persenjataannya untuk melakukan itu. Karena  itu kaum muslim harus berjuang keras mewujudkan pemimpin mukhlis itu  yaitu dengan membaiat seorang khalifah yang rasyid dan mukhlis. Khalifah  akan menggerakkan tentara dan memobilisasi persenjataan dalam rangka  jihad membela islam dan kaum muslim, membela penduduk Palestina dan  siapapun dari kekejaman dan kebrutalan Israel dan mencabutnya entitas  zionis itu sejak dari akarnya.(LS)</p>
<img src="http://syariahpublications.com/?ak_action=api_record_view&id=1928&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syariahpublications.com/2010/06/04/solusi-palestina-berharap-kepada-pbb-oki-indonesia-tidak-pernah-belajar-dari-fakta-mengkritisi-statemen-sby/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
